Niat Baik Yang Tertimpa Musibah

notedcupu of art

notedcupu of art

Buat gue, mudik ke kampung halaman di Trenggalek-Panggul itu, sekaligus ladang mencari pahala. Ada beberapa teman di kampung gue, tiap kali gue mudik, sebagian dari mereka, selalu nitip barang yang gak di jual di kampung halaman. Sebagai manusia yang hidup di lingkaran sosial masyarakat. Gue pun dengan senang hati membantu mereka, asalkan jangan nyuruh gue buat beli’in pembalut.

Nenek-nenek di panti jompo pun tahu, membantu orang itu mulia banget. Tapi gue yakin, gak banyak yang tahu, kalo menolong orang itu, kadang jalannya gak selalu lempeng. Tuhan memang menguji, seberapa ihklas kita ngebantu orang lain dengan menurunkan masalah sewaktu di tengah jalan…, Nah sebagai alat ukur tes ujian ke ihklasan, gue seharian kemarin ngalamin kejadian ini…, sempurna.

Gue belum paham, apakah tes ujian ke ihklasan kemarin gue lulus apa ndak?. Soalnya yang menguji gue Gusti Allah, bukan sejenis Guru yang bisa di ketahui lewat hasil rapot. Pokoknya seharian kemarin itu kepala gue tertunduk lesu, wajah penuh kecemasan yang di susul dengan tetesan air mata, lalu mikir, “Kok bisa kayak gini sih?”.

Sesampainya di dalam kamar jam 11 malam, gue hanya bisa meratapi yang sudah terjadi. Peristiwa itu bermula dari sini..,

Sabtu siang kemarin gue mau nepatin janji, buat beli’in sinar gitar Impor pesanan Mas Reli, karena gue gak pernah doyan jalan sendirian keliling ke berbagai toko alat musik. Maka jadilah, dengan niat yang sama, gue bantu juga Si Ucup belanja kebutuhan lebaran, keliling distro di beberapa tempat, di Surabaya. Bener, sekalaian Ucup, gue jadikan sebagai teman ngobrol, biar ndak garing.

Semula berjalan masih aman-aman aja. Gue menjemput Ucup dari rumahnya, di komplek perumahan Semolowaru. Lalu kita berangkat bareng dengan berboncengan dalam satu motor. Pertama, kami pergi ke atm untuk mengambil beberapa lembar uang yang sesuai dengan kebutuhan. Setelah di rasa cukup, gue mengambil kemudi lagi, tujuan berikutnya kami adalah pergi ke toko musik yang ada di sebelah kampus gue, jalan Menur Pumpungan.

Sampai di toko musik, gue memarkirkan kendaraan gue dengan rapi. Helm berstempel Kai kanjeng, tetap gue bawa masuk ke dalam toko. Lazimnya pembeli pada umumnya, gue di dalam toko itu menanyakan senar gitar nilon impor sesuai pesanan Mas Reli. Tapi setelah beberapa menit gue dan kasir melakukan tanya jawab, perseida’an di toko itu hanya ada senar nilon buatan lokal. Setelah berkomunikasi dengan Mas Reli lewat telfon, keputusan pun di ambil, “Cari toko gitar yang lain aja?” ucapnya dari kampung halaman

Gue pun setuju.

Lalu kami pun keluar dari toko itu, pamit dengan penuh tata krama, sambil mengaturkan permintaan maaf karena gak jadi beli. Berikutnya kami datangi toko alat musik yang lain, yang lebih gede lagi di jalan Kertajaya. Di toko ini, menyediakaan semua perlengkapan alat musik. Setelah berjalan melewati lantai satu, kami naik tangga lagi, melihat-lihat komponen alat-alat musik yang di jual terpisah. Pada suatu rak di pojok sana, yap, gue pun menemukan senar gitar yang gue maksud. Tapi setelah gue cek, harganya bikin kepala berkedut-kedut.

Sesuai arahan dari yang punya hajat, Mas Reli pun menolak harga yang kemahalan itu. Kami pun gagal membeli, lalu merencanakan ke toko lain, yang entah dimana lagi ada toko musik di Surabaya, karena pengetahuan gue soal ini masih seadanya. Saat kami balik ke lokasi parkir. Kendaraan masih tetap aman meski pun tanpa ada petugas pakir yang biasanya muncul begitu saja. Kelar di toko musik tadi, kamu pun nyamperin distro gede di belakang Mall Grand City. Kali ini gantian, gue yang nganterin Ucup milih-milih baju kebutuhan untuk lebaran.

Tapi…, kejanggalan kecil mulai terlihat setelah Ucup tidak menemukan baju dari setiap gantungan yang tertata rapi. Setelah memilih-milih gantungan baju di berbagai sudut ruangan. Hasilnya pun masih tetap sama. Belum ada yang cocok. Hingga pada suatu pilihan di menit-menit akhir, akhirnya Ucup menemukan baju yang sesuai dengan seleranya. Namun sayang setelah keluar dari kamar pas, baju itu pun harus dibalik’kan ke tempat asalnya karena badan’nya Ucup yang terlalu besar. Ucup pun merasa kena diskirminasi di toko distro itu.

Gak ada yang cocok kami pun melanjutkan ke toko lain. Di parkiran gue pun tanya eyang google, dengan kata kunci “Toko Alat Musik Surabaya’, lalu hasilnya muncul dengan alamat yang tidak jauh dari lokasi gue sekarang. Dari arah belakang, ada seorang bapak tua berkumis tebal yang datang mendekat, lalu dia pun bilang, “Dua ribu bang?” Bener, tukang parkir yang biasanya gak terlihat sewaktu kita datang, bisa dengan sangat ajaib menampakan diri sewaktu kami mau balik.

Sebelum melanjutkan perjalanan lagi, kami pun sempat berdiskusi sebentar “Makanya diet, Cup, diet,’ kata gue memberikan wejangan, ‘Punya badan gede kayak upil Dinasaurus gitu, bajunya mana ada yang jual, Cup. Jadi kayak kena diskirminasi ya tiap kali masuk toko. Keroso oraaaa.., ?”

Ucup masih mencerna omongan gue, lalu berucap dengan pasrah, ‘Ho’oh, Bang. Kalo makan dikit terus kurus, takut orang susah, kalo makan banyak malah kena ke gendutan. Terus gimana bang?” jawabnya sambil mengambil motor gue di parkiran.

“Mangano lombok sekilo Cup, entar kalo wes mencret pasti kurus. Jahit baju sendiri wae lah,” balas gue, “Tuh sarungmu kasih aja ke penjahit, suruh di buatin baju,” lalu kami tertawa lebar.

Kami pun melanjutkan perjalanan ke toko dari saran eyang google tadi. Baru sempat beberapa meter jalan ke arah jalan Kusuma Bangsa, tiba-tiba ada ledakan kenceng dari arah belakang. Dugaan bahwa itu kentutnya Ucup bisa di bantah, setelah motor gue jalan, ban belakangnya goyang-goyang gak karuan. Setir kemudi pun susah gue kendalikan. Setelah kami turun, untuk melihat keadaan. Apes banget, ban motor belakang gue bledos.

Berbekal muka memelas kayak ekpresi wajah Sahrini kehilangan tusuk kondenya, gue pun balik lagi ke Bapak Berkumis tebal untuk menanyakan lokasi tambal ban terdekat. Dari keterangan resminya, dia pun ngasih tahu kalo tukang tambal ban deket dari arah sini. “Kamu nanti keluar dari jalan ini, di depan sana, sebelah kanan sudah ada tukang tambal ban, Nak?”

Gue mangut-manggut. “Enggeh-enggeh, matur nuhun Pak.” kata gue, lalu bergegas menuju lokasi tambal ban.

Di sana gue menemukan seorang bapak tambal ban yang di maskud. Lalu menyerahkan motor metik gue untuk segera di benahi. Setelah beberapa menit melakukan operasi ban belakang, bapak tambal ban ini layaknya dokter ngasih peryantaan yang mengejutkan. “Ban motormu harus ganti semua, luar dalam kena. Dan gak bisa ke pakek, kalo tetep di pakek, ini nanti ban dalamnya bakal bocor lagi, Mas. Jadi harus beli dua-duanya, terus di ganti yang baru.’

Gue awalnya agak kurang percaya dengan hasil analisanya, karena baru seminggu yang lalu ban motor belakang gue baru saja di ganti. Dan ini baru seminggu udah minta ganti lagi. “Ban motormu yang luar itu masih baru ya, tapi gak bisa di pakek, kawat penghubung di pinggir ini, putus Mas, makanya ini yang bikin masalah kenapa ban kamu bledos,’ katanya sambil menunjuk ke arah dua pasang ban itu.

Pasrah wes, pasrah!.

Karena gue gak punya pehamanan soal itu, gue pun setuju aja apa yang di sarankan bapak tambal ban ini. “Yowes Pak, ganti wae semuanya.” ucap gue sambil berlalu untuk meminta izin sebentar dengan Ucup, lalu pergi mengambil uang lagi di mesin atm yang ada di seberang jalan sana. Setelah membuka pintu ruangan, gue memasukan kartu atm gue. Beberapa detik gue tunggu, ternyata kartunya masuk separu. Gue dorong lagi ke dalam, malah bablas tanpa ada keterangan di mesin layar atm. Gue baru menyadari saat itu, ternyata kartu atm gue ketelen dalam mesin. Gue lalu menyebut nama sang pencipta.., berusaha sabar dengan yang menjengkelkan.

“YA .., ALLAH….!”

Gue pun balik lagi ke lokasi tambal ban. Menceritakan ke Ucup kejadian yang baru saja gue alami. Lewat obrolan ini gue pun meminta pertolongan Ucup, semisal nanti biayanya kurang, gue izin sebentar nge-pakek duwitnya Ucup dulu. Karena gue gak terbiasa menyediakan duwit nganggur di dompet. Sebagai seorang teman, Ucup pun dengan senang hati meminjami gue duwit, “Pakek aja duit ku dulu, entar gantinya gampang lahh,’ balasnya di antara obrolan kami.

Kelar memperbaiki keadaan motor yang rewel, ternyata waktu udah hampir sore. Dan bener, setelah semuanya rampung, ternyata biayanya di luar duga’an, gue masih tetap tenang dan berusaha percaya sepenuhnya dengan Pak Tambal ban ini, biarlah ongkos yang gue keluarkan, itung-itung sedekah ngasih THR ke bapak ini karena penghasilan’nya gak bisa di tebak, saat jalanan kadang begitu keras. Selesai dari lokasi tambal ban, kami pun memutuskan untuk pulang. Gue balik lagi mengembalikan Ucup ke habitatnya.

Sore kemarin, gue pun memutuskan untuk bertahan di rumah Paman, daerah kampus ITS. Menjelang waktu berbuka puasa, gue pun ngobrol sebentar dengan Mas Reli lewat telfon, ngebahas sinar gitar pesenan’nya yang belum dapet sesuai standart’nya. Setelah berdiskusi kecil, keputusan pun di ambil, dia menurunkan kriteria, dengan menghargai memakai produk buatan lokal. Dan gue harus balik lagi ke toko musik pertama tadi, yang berlokasi di sebelah kampus gue.

Ketika sembahyang taraweh sudah terlewati, gue pun bergegas makek helm ‘Kai Kanjeng’ yang biasanya menjadi teman di setiap gue kemana pun. Sampai sana, keadaan toko masih sangat ramai. Di sebelah kanan parkiran ada penjual nasi goreng, lalu di sebelah kiri ada penjual nasi padang. Karena sebentar doang, gue pun meletak’kan helm gue di atas spion motor. Baru sekitar tiga menitan gue bayar di kasir, lalu balik ke parkiran. Helm ‘Kai Kanjeng’ gue sudah gak ada.

 Gue mulai curiga. Lalu masuk lagi, tanya ke kasir, “Mas, helmu kok ora enek, nandi iki?” tanya gue mulai emosi.

“Lha emboh mas, aku yo ora weroh. Mau sih, ada pengendara jupiter yang turun di sebelah motor mas, terus berjalan ke motor mas, tau-tau aku lihat lagi udah ngegas kenceng, gak tau ngapain!”

“LHA MATAMU, NYAPO MAU ORANG NGOMONG CUK?’ saat itulah emosi gue meledak. Dan saat itulah gue menyadari, helm yang selama ini gue jaga penuh karena punya nilai sejarah yang teramat panjang di ambil orang dengan kasar. Melihat kasir yang gak negur orang yang nyuri, gue mulai ngamuk dengan kepalan tangan yang siap mengantam siapa saja, rahang gue mulai gemertak.

“JANCUK OPO, LEK BUTUH DUWIT NGOMONG CUK, TAK KEI ORA USAH NYOLONG’ gue semakin meluapkan emosi, yang gue tunjukkan ke mas-mas kasir. Gue ngamuk, karena melihat kejatan yang terjadi di depan matanya di biarkan berlangsung begitu saja. Dan makian ini adalah wujud protes gue atas tindakah kejahatan. Gak!. Gue gak suudzon, dengan mas-mas kasir ini dengan berbagai kemungkinan yang mencurigakan.

Beberapa kerumunan orang mulai mendekat. Bapak penjual nasi goreng di sebelah gue tanya, “Ada apa Mas, ada apa Mas?”

“Helm’ku di curi orang Pak!” jawab gue dengan kesal. “Barusan, tak tinggal tiga menit mosok wes ora enek. Lek niat dodolan sekalian keamanane mbok ikut di jaga. Ben seng tuku kui gelem balek lagi ke sini. GUAAAATELLLL OPO!” gue ngumpat pakek bahasa Trenggalek’an.

“Bener Mas, ‘ katanya, “Owalah, ya ampun, berati mas-mas naik jupiter tadi yang nyuri Mas, dia pakek helm tertutup. Pantes tadi ngegas motornya sampek kenceng kayak gitu.” sautnya member penjelasan tambahan.

motor gue dan helm kiai kanjeng

motor gue dan helm ‘kiai kanjeng’

Mas-mas kasir pun belum ngomong apa-apa, mungkin takut karena emosi gue masih kenceng. Dia masuk ke toko, lalu meminjami gue helm, “Pakek aja ini dulu, Mas’ yang langsung gue balas, ”Abis lebaran aku balikin’ gue langsung balik karena harus kemas-kemas, buat mudik berangkat subuh yang udah janjian bareng Mas Zul.

Gue mulai heran dengan orang-orang di sekitar sini, yang jaraknya hanya beberapa langkah dari lokasi parkir gue, tapi diem aja ngelihat hal mencurigakan terjadi di depan matanya. Dari sini gue mulai belajar, kalo keramaian kadang bukan jaminan orang mau peduli. Hikmah yang lain, keramaian juga bukan jaminan perbuatan keji, yang megambil barang bukan haknya (mungkin karena kebutuhan menjelang lebaran) surut nyali untuk melakukan tindakan bodoh saat harus berhadapan dengan masa.  

Gue pulang sambil berdoa dengan sesunggukan di jalanan. Karena tidak mampu menjaga barang kenangan itu. Mudah-mudahan, meski pun kelihatan’nya sangat mustahil terjadi, tapi harapan gue, yang ngambil helm “Kiai Kanjeng’ kepalanya langsung teduh. Dan jika suatu saat dia ngebaca postingan ini di internet lewat gejed-nya, mau mengembalikan helm “Kiai Kanjeng’ itu kembali dan akan gue tukar dengan nilai uang yang dia butuhkan sesuai harga helm itu.

Benda itu sungguh sangat berharga buat gue.

Karena gue punya ikatan kuat dengan helm itu, iyah barang yang kini bagian dari sejarah tentang perjalanan hidup gue yang baru. Dari pemberian seseorang yang pernah ada di hidup gue, meski pun sekarang raganya telah pergi, yang kini ceritanya masih hidup dalam buku #CintaKesandungGunung. Tapi gue masih menjaga sepenuh hati barang dari pemberian’nya, hingga helm yang gue kasih stempel “Kiai Kanjeng’ itu mampu membawa gue lebih dekat lagi dengan sang pencipta. Itu alasan kuat kenapa gue mengharapan benda bersejarah itu kembali.

Hel Kiai Kanjeng

 Kiai Kanjeng

 

 

Iklan

14 thoughts on “Niat Baik Yang Tertimpa Musibah

  1. kekekenanga berkata:

    aduuhh sedih banget bacanya deh..
    mmng meskipun menurut org lain barang itu nggak seberapa, tapi kalau memiliki nilai sejarah sndiri bagi kita itu rasanya sedih banget ya 😦
    Wes sabar yah Bang Cupuh, dari semua kejadian yang kamu alami pasti ada hikmahnya, terlebih musibah ini terjadi saat kamu mau nolongin orang lain 🙂

  2. Thom Hickey berkata:

    Thanks for following The Immortal Jukebox. I hope you will enjoy the wide variety of music and find the writing entertaining. I welcome your comments. New posts are generally put up once a week. Regards and good luck with all your projects. Thom

    • Bang Cup(uh) berkata:

      Thanks also Thom.
      I’ve been to blogging. I’m a blogger from Indonesia.
      Incidentally I am now working on a book project Indie.
      Please prayer from there, yes.
      My warmest greetings.
      Keep writing, because writing is something to share with anyone. to build civilization.

Monggo pinarak?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s