Lebaran yang Sepi di Kampung yang Rame

Notedcupu.com of art

Notedcupu.com of art

Gue sering berulang kali, ceriwis di lini masa twitter, lewat akun pribadi gue @cupunoted, lakukan dua hal ini selagi muda. Membaca dan menulis, memang secara singkat hasilnya belum bisa dinikmati untuk sekarang, tapi mempelajari ke duanya secara bersamaan, kelak dikemudian hari tidak akan pernah ada kata menyesal.

Semua tahu, hidup ini serba singkat, kita hanya mampir untuk belajar dan berbagi. Belajar dari apa pun, bisa dari cerita mulut ke mulut, atau dari sobekan koran dibungkusan nasi padang yang biasanya kita makan. Juga dari berbagai macam apa pun, termasuk yang sedang kamu baca ini. He-he-he-he. Mbahmu!. Gue lagi serius lo, becandaan’nya entaran aja.

Gusti Allah itu memang pengertian banget. Gue tuh beruntung, atau mungkin sudah garisnya dari sana?. Ehm.., Tuhan selalu ngasih bahan cerita yang gak pernah kering untuk dibahas. Makanya setiap kali gue mudik lebaran. Sampai di kampung halaman, gue selalu kumpul dengan teman-teman yang punya kesepahaman yang sama. Lalu saling menggerak’kan satu sama lain dan memberi teladan.

Belakangan ini, semakin ke sana, kumpulan teman-teman bukan hanya gank yang biasanya kami berlima, tapi udah nambah beberapa manusia. Padepokan Inu yang setiap tahun kami gunakan kumpulan dan renungan, tahun ini selalu ada orang baru yang datang setiap harinya. Jadi kalo ada orang yang bilang, lebaran ini sepi, gue kurang srek. Gue masih bisa merasakan suasana lebaran ini masih tetap ramai kayak tahun lalu. Mungkin yang bilang lebaran ini sepi, berasal dari teriakan orang yang tidak punya siapa-siapa di dunia ini.

Okeh-okeh, mungkin gue setuju.

Kalo lebaran ini sepi karena sebab lesunya pertumbuhan ekonomi nasional yang berimbas langsung pada masyarakat pedesa’an. Tapi tunggu dulu, coba deh kepalamu menengok sebentar ke bahu-bahu jalan, hingar bingar pasar dan supermaktet menjuk’kan bahwa menjelang dan sesudah lebaran, kita tidak pernah mengenal krisis ekonomi. Belanja bukan kebutuhkan lagi, tapi sudah menjadi tradisi. Kejadian ini kayak orang yang gak punya pekerjaan tapi berani menikah.

Okeh-okeh, gue juga gak akan memprotes perihal sepinya lebaran tahun ini. Tapi persiapan lebaran yang kami siapkan, sudah ramai jauh-jauh hari saat teman-teman di kampung halaman dan di perantauan, beberapa hari sebelum lebaran sedang asyik ngobrol di lini masa twitter, mau bikin video branding untuk kota Panggul, lalu setelah jadi akan di siarkan lewat youtube.

Tapi setelah ngobrol panjang lebar sewaktu kumpul di jalan Tengger.., Astaga..!

setelah ngobrol acara rutin makan-makan

setelah ngobrol acara rutin makan-makan

Di putuskan, ide ini kurang okeh, mengingat kota ini sudah populer dengan aikon’nya sebagai daerah wisata alam. Ada pantai Pelang diseberang selatan sana, yang membawa nama kota Panggul begitu populer dikalangan ribuan bahkan ratusan netizen se-antero jagad negeri. Malah, belakangan pantai Konang yang gak di siapin sebagai daerah wisata, justru lebih bisa di banggakan karena mampu bermain cantik, memikat wisatawan lokal untuk bermain ke sana tanpa adanya pungutan karcis masuk.

Begitulah ramainya kegiatan ekonomi akar rumput.

Belum lagi, rencana kami untuk membentuk komunitas miniatur maiyah kecil, yang kami adakan setiap malam menjelang lebaran dan sesudah lebaran ini. Sedikit-sedikit sudah mulai terlihat hasilnya, obrolan kami yang membahas beberapa isu, baik isu lokal, mau pun isu nasional, telah memikat orang-orang baru untuk datang bersila takzim. Lalu asyik saling membagikan isi kepala masing-masing sesuai bidang ke ilmuan’nya.., iyah, pada dasarnya gerakan komunitas ini muncul secara organik, saat kami yang hanya lima orang, yang rutin mengikui jama’ah maiyah di kota perantauannya masing-masing.

Gue di #BangBangWetan Surabaya, Inu di Padang Bulan Jombang, Pido dan Mas Zul, Mas Titis di Obor Illahi Malang, Mas Relly yang aktif memantau dari Panggul lewat live striming…, lalu teman-teman yang biasanya kumpul tanpa pernah mengikuti maiyahnya Cak Nun dan Kiai Kanjeng, jadi tertular ikut menikmati, melihat secara terang bagaimana agama islam yang ramah, yang bekerja untuk kemanusiaan. Mudah-mudahan, kelak nanti komunitas organik ini terus tumbuh dan berkembang, hingga bisa mengadakan kajian rutin setiap bulan, yang bisa di hadiri langsung oleh Cak Nun beserta Kiai Kanjeng dan Dab Sabrang.

Setidaknya mengamini harapan ini, bisa menghidupkan kota ini dari belenggu hal-hal buruk yang menimpa masyarakatnya. Belenggu macam apa pun itu. Lalu menumbuhkan budaya masyarakat jawa yang guyup rukun. Termasuk menyebar rasa empati dan simpati jelas lebih keren, dari pada menyebar rasa kebencian, biar gak ada orang yang merasa kesepian dan hidup sendirian di muka bumi ini. Asyik ya?

Quote Of The Day

Quote Of The Day

*NB: Sugeng riayeden manTeman pembaca notedcupu.com. Ngateraken sedaya kelepatan. Salim

Iklan

18 thoughts on “Lebaran yang Sepi di Kampung yang Rame

  1. kekekenanga berkata:

    Minal Aidin Bang Cupuhhh…. setelah disibukkan sama keramaian Lebaran bersama keluarga besar, mulai kerja dengan kerjaan yg menggunung krn lama ditinggal cuti plus jadi panitia habiha kantor, akupun belum posting tulisan baru #apasih #jadicurhat

    Aku setuju kl ada yang bilang lebaran sepi krn mereka nggak ada sanak saudara, kalau aku pribadi meski nggak mudi tapi lebaran selalu heboh dan rame 😀

    Kadang iri sama yang bisa mudik, tapi seneng juga karena nggak harus ngeburu tiket atau bermacet2an hehehee…

    • Bang Cup(uh) berkata:

      Minal aidzin juga Put. Wohhhhh. Tambah kendut kau, setelah lebaraannn. Hahahaba.

      Kantormu mulai masuk kerja kapan?. Bagussss, sibukaan diriii, dr pada bengong gak ngapai ngapain.

      Ya, sudah kamu mudik ke Trenggalek waeh. Nanti tak ajakin main ke pantai. Hahahaha

  2. Gara berkata:

    Selamat hari raya Lebaran Bang Cupuh, minal aidin wal faidzin mohon maaf lahir batin. Mohon saya dimaafkan kalau ada komentar saya yang mungkin membuat hati panas atau dongkol, dan/atau membuat Masnya tersinggung. Semoga setelah dimaafkan nanti, saya bisa lebih bebas lagi komentar di sini *loh? :haha*.

    Pertamanya saya bingung Kota Panggul itu di mana, terus barusan lihat berita di TV kalau ada kejadian orang terseret arus di Pantai Pelang, itu ternyata di Trenggalek ya Mas :hehe. Bagaimana perkembangan kejadian di pantai itu? Mudah-mudahan mereka cepat ditemukan, ya.

    Semangat buat komunitasnya, semoga bisa tumbuh dan berkembang dengan baik ya :)). Menyebarkan sesuatu yang positif dan baik pasti akan berbuah kebaikan juga, salut dengan kalian semua yang tetap menggaungkan kebaikan Ramadhan meski bulannya sendiri telah lewat :)).

    • Bang Cup(uh) berkata:

      Selamat lebaraan juga Gar. Wah, sama-sama, kita mulai dr nol lagi nyok. Mbahmu, ora ono komentarmu seng sadis, malah seneng aku kritikmu biar ada yang ngoreksi klo salah. *tsaaah. Karyaku tanpa kamu dan teman2 yang lain, bagaikan ambilan tanpa uwi uwi, sepihhhh.

      Iyo, pantai pelang, kampungku, lima belas menit sampek dr rumah ke pantai. Ancennn top kmu gar, weroh aeh beritaaane nek kampung ku. Hahahaa

      Benerrr, ayo nyebar kebaikan. Semangaaat.

      • Gara berkata:

        Baiklah, baiklah, terima kasih kembali yo Mas :hehe. Sip, kalau begitu saya izin komentar terus ya :haha.
        Semangat!

  3. diar berkata:

    Quotenya keren Bang Cupuhh.. hehe… Saya juga suka membaca dan menulis, setujuuuuhhhhhhh… Hasil itu relatif… hehehehehehehe 🙂

  4. Dita berkata:

    apa sihh ni aku dipaksa mampir ke sini
    Themes-nya samaan pula pake warna pink, pria macam apa kamu? 😛
    *sungkem* *maaf lahir batin lagi*

    • Bang Cup(uh) berkata:

      Beneh-beneh, tapi keren oraa toh?. hehee. aku laki-laki perkasa tapi jiwa ke ibuan. ENggeng Dit, sungkem di terima, lahir batinn juga. ENdi sangune, JALOK!. hahaha

  5. arip berkata:

    Setuju sama kakak, dua kegiatan mulia: membaca dan menulis, kudu banget dilakuin sama anak muda macam aku.
    Dan butuh juga yg namanya kelompok diskusi yg tatap2an langsung yes.

Monggo pinarak?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s