Sumber Mata Air di Dalam Rumah yang Sama

#Notedcupu(dot)com

#Notedcupu(dot)com

Di dunia ini, wanita adalah mahkluk yang paling klenik dari pada cowok. Memang sudah kodratnya cewek punya sisi feminim yang bahkan sampek kencing jongkok pun, cowok gak bisa memahaminya. Hal yang paling nyeleneh, sering gue temui sewaktu di toilet umum, atau pun di toilet kampus, ngelihat seorang cewek ngacir ke kamar mandi sambil ngebawa rombongan gank’nya.

 Kenapa pipis harus bawa rombongan?. Aneh ya! Ho’oh, aneh.

Mungkin jika ada seorang pria kawe mata keranjang, ikutan gank mereka, terus sekalian masuk nganterin sampek ke dalam toilet, bisa-bisa mukanya kena tabok pakek pembalut. Terus kepalanya kena tempeleng dibagian jidat, lalu kena semprot, “Dasar otak cabul low, setan!” Hiiii, serem. Okeh, berhenti, ini hasil imajenasi katrok gue yang bertujuan sebagai hiburan. He-he-he-he. Kecuali orang yang gak waras, yang melakukan’nya.

Yang paling nyeleneh dari itu, ada, bahkan sering kali gue twit di lini masa twiter, bahwa: cewek rutin pergi ke salon, minim sebulan sekali, biasanya kalo udah di salon, hal yang sering gue temukan: cukur alis. Setelah ngaca dan ngerti alisnya ilang, eh tuh cewek ngambil pensil terus nyoretin bekas alisnya, dengan ngegambar alis tanduk rusa. Tahu gitu kenapa tadi di cukur alisnya, mbak?. Ya, ampun….,

Gue cuma bisa geleng-geleng kepala. Yang ngalamin kejadian ini, tolong tanyakan pada diri sendiri di depan cermin. Cantik mana alis alami hasil ke ajaiban Gusti Allah, atau buatan tangan manusia?. Gue bukan kok mau, ngeledek mahkluk feminim yang suka nyangkok alis sih, tapi mensyukuri karunia yang ada sekarang, gak semua manusia bisa. Hal yang di ubah lalu bertabrakan dengan pakem, biasanya akan tampak lebih jelek.

He-he-he, Mbahmu. Beneran loh.

Bisa jadi di luar sana, lebih banyak hal feminim, yang lebih nyeleneh, yang belum mampu gue jamah. Okeh, kurang berimbang banget ngobrolin sisi feminim cewek, tanpa ngebahas sisi maskulin cowok. Gue gak mau, obrolan ini menjadi populer karena nampol satu pihak. Sementara cowok, punya sisi maskulin, yang juga sebagian cewek, gak bisa memahami secara bijaksana.

Wah, wah, wah, yang paling sering gue temukan polanya hampir seperti ini. Entah siapa yang keras kepala, jika cowok ngambekan dengan pacarnya, karena yang salah si ceweknya, biasanya tuh cowok akan menghilang sebentar, entah pergi kemana, lalu meninggalkan henfon genggam’nya di atas meja kamar. Yup bener, cowok kalo lagi ngambek, butuh waktu buat menyendiri dulu, lalu akan pulang di saat hatinya sudah tenang.  

Dari semua peristiwa-peristiwa yang gue ceritakan tadi. Sebenarnya gejalanya sudah terlihat sejak kita masih kecil. Okeh, gue setuju, ingatan manusia sekalanya berbeda-beda, tapi setidaknya mengenal masa kecil bisa menyegarkan ingatan, bisa awet muda lantaran bisa berjumpa kembali dengan masa tempoe dulu. Di desa, ada filosofi jawa, berteman gak harus dengan yang ada secara fisik. Tapi berteman juga bisa secara…, aahhh.., itu lo, kalo kamu tiba-tiba tersenyum sendiri ke ingat masa lalu, itu tandanya kamu sedang berteman dengan kenangan.

Lebaran hari ke tujuh kemarin, adik gue si bungsu, nama resminya Leri, masih kelas satu SD, malam-malam sekitar bakda isyak, ngambek terus ngurung diri di dalam kamar tengah. Tangan’nya yang terampil, lalu menguncinya dari dalam. Dasar bocah, gue yang waktu itu, baru tiba di rumah karena kelar nganterin teman se-angkatam yang dari kota, main ke pantai Pacitan, langsung menanyakan ke ibuk, apa penyebabnya.

“Adikmu Leri kui, ancen mbeler kok, lha mbok’mu arep buwoh, arep becek, lha mosok mau ikut?,’ kata ibuk dengan aksen medok, sambil tangan’nya megang biskuit Kong Guan, ‘Terus tak, seneni?’ lanjut ibuk duduk di atas sofa ruang keluarga.

Gue yang duduk di samping ibuk langsung menoleh ke arahnya “Seneni piye toh, mbok, kok sampek Leri nesu model mutung ngono kui mau?” gue balik tanya.

Tangan kanan Ibuk membuka tutup Kong Guan, lalu yang muncul malah rengginang, “Wes gede kok kintel bokong aeh, opo hora isin Ler?’ cerita ibuk, sambil ngunyah rengginang, “Lha cuma gitu tok lo, lha mosok langsung nesu, terus melayu nang kamar. Bablas ngunci!”

Gue pun mencoba memberikan, saran, “Loh wayae di kei duwit aeh no, mbok, ben ora nesu?’

Ibuk langsung cus menjawab dengan kenceng, “Angger nesu di kei duwet, betah piro duite. Karepmu, mbokmu iki tukang nyitak duwit opo?. Garai tuman.” lalu meletak’kan biskuit asli tapi palsu itu kembali ke atas meja, yang langsung di susul tawa lepas Sandra dan Dina, “Ha-ha-ha.. Ancen cah nyeng, mbok abang kui,” sautnya kompak.

Karena kamar tengah, merupakan milik Sandra dan Dina, yang malam itu tubuh mereka masih bau comberan. Akhirnya mereka berdua pun bergegas, berdiri di depan pitu. Sandra di sebelah kanan yang siap untuk mengetok pintu, sementara Dina, mengintip dari celah bawa pintu. Mengecek keadaan leri di dalam sana.

“Iki lo cae nek buri lawang pas, Dra?” ucap Dina sambil jongkok melihat ke dalam kamar.

“Oh, berarti urung turu Lerine.’ kata Sandra, “Bukak Ler, mbak mau ngambil baju di lemari low, aku karo Dina urong ados iki low,’ teriaknya, sambil mengetok pintu, “Tok…, tok.., tok…,’

Pintu terus bergerak-gerak kayak kena gempa, karena tekanan dari luar. Sementara, Leri masih tetap di posisi yang tadi. Tiduran dibalik pintu. Sekarang giliran gue yang mengintip dari celah pintu, bagian bawah, jempol kakinya gerak-gerak, kelihatan’nya dia di dalam sana sedang asyik mainan dengan dunianya’nya.

Sekarang giliran Dina yang turun tangan, kali ini strategi baru di terapkan. Dengan cahaya lampu yang terang di dalam kamar sana, Dina pun teriak kenceng melalui celah pintu bagian bawah, menirukan suara Mas-Mas Bokir pas lagi ngejar Kuntilanak maling jemuran, “Ler, hadiiiii, enek pocong nek bawah kasur lo.., Ih…, ih…., Hi-hi-hi,”

Hening.

Sandra pun angkat suara, “Kalo niat nakut-nakutin, sekriing depan di mati’in, blokkkk.., GOBLOK. Lho wong terang gini, mana Leri takut, yang ada malah setannya yang takut sama Lery. Dasar gombek,’ saut sandra kesel, lalu menyebut nama panggilan Dina, “GOMBEK!’

Leri pun masih tetap independen dengan pendirianya. Mutung. Kali ini gue yang turun tangan. Gue mengeser posisi mereka berdua, dibelakang gue. “Minggiro kabeh!’ lalu gue jongkok, setelah mata gue melihat ke dalam, Leri sudah naik ke atas kasur. Karena takut dia bablas tidur duluan, buru-buru gue ngeluarin dompet. Lalu mengambil uang kertas lima ribuan, lima lembar.

Gue masuk’kan tuh duwit lewat celah bawah pintu, “Ler bukak, Ler, iki low duwite pek’en. 25 ribu lo. Besok bisa buat beli mainan bongkar pasang. “Ler, ambil Ler, mayan lo lima lembar,’ kata gue pelan, sambil terus menggerak-gerakkan tuh duwit di bawah pintu. Macam bocah yang punya bakat jual mahal, dua menitan berlalu duwit gue pun gak pernah di samber.

Gagal total.

Gue pun mengeluarkan duwit kertas warna merah yang gambarnya dua pahlawan nasional sedang pakek peci. Iyah bener, seratus ribuan. Sandra dan dina masih di belakang gue, sambil leyehan di depan tivi. Sementara ibuk, memantau upaya gue dari atas kursi sofa ruang tamu. Cara ke dua pun di mulai….,

“Ler, seratus ribu lo ler?’ kata gue, memasukan tuh duwit dari bawah pintu lagi, “Arep opo emoh?. Yakin gak mau, cuma bukak pintu doang dapet 100 ribu Ler. Besok bisa buat beli pentolnya Markop sak rombonge,’ Ucap gue, yang masih terus berusaha dengan upaya penyuapan

“Ler..’ Satu menit berlalu, “Ler…” dua menit, “Oh, dasar jual mahal kowe,’ bendera merah putih pun gue kibarkan. Nyerah.

“Ha-ha-ha-haa,’ tawa Sandra, “Ora mempan, ora mempan bang.’ Gombek ikut menimpali.

Gue pun melihat Sandra, “Gimana Dra, nyerah?” dia langsung manggut-manggut, terus nutupin mukaknya pakek bonekah Doraemon warna pink. Lalu gue menoleh lagi ke arah Dina, “Piyeee..” tanya gue sambil menurunkan bahu. “Wes, bang, wes pasrah, gak usah mandi akuh.’ Saat segenap usaha sudah di kerahkan, dan hasilnya masih stuk di tengah jalan. Bapak yang malam itu pulang, setelah menghadiri undangan tetangga yang lagi kirim doa. Tahu banget, suasana rumah yang lagi rame.

Setelah menurunkan peci di kepalanya, dan menaruh oleh-oleh di atas meja ruang tamu. Bapak tanya, “Leri kemana? Kok gak kelihatan?’ dengan sangat nyambung, Sandra langsung menjawab, “Tuh, Pak, dia ngurung diri di kamar.”

Bapak berjalan ke arah pintu, lalu mengetok dari luar, sama seperti yang di lakukan Sandra, “Ler, ayok main sama Bapak, kae wes enek pasar malam nek Panggul, ndang bukak pintunya, terus budal delok mrono. Ler…,’ bapak masih memanggil-manggil nama anak bungsunya ini. “Ler….,” kini gantian suara ketokan pintu dan nama panggilan berpadu. “LER…., TOTOKK.., LER.., TOK…’ yang malah mirip abang-abang penjual bakso keliling.

Gue Sama Leri, sewaktu nyanyi gundul-gundul pacul

Gue Sama Leri, sewaktu nyanyi gundul-gundul pacul

 Di saat ketokan pintu dan teriakan, yang udah puluhan kali menggema, Bapak pun nyerah juga. “Yowes, bene, ben turu dewean. Engko lak metu-metu dewe, pas tangi…, Jarno waeh’ ucap bapak, lalu duduk di sebelah ibuk, terus menyalakan rokok kreteknya. Klepas-klepus, “Oh, wedus tenan, ambune, rokokmu ra enak Pak, kono metuo kono, lek ngerokok ojo nek jero,’ usir gue karena alergi asap rokok, lalu bapak pergi ke teras depan sambil ngebawa asbak.

Tujuh jam berlalu. Saat semua penghuni rumah sudah terlelap tidur dan berlinang air liur. Jam dua dini hari, gue masih menikmati membaca buku Don Tapscott — yang setebal asap rokok, sewaktu gue beli sebelum mudik. Ketika gue sibuk mencoret-coret halaman yang penting menggunakan stabilo, bersamaan dengan itu, terdengar bunyi berisik dari kamar Leri. Gue yang lagi lesehan di depan tivi ruang keluarga, menatap fokus pintu yang terus bergerak-gerak.

Iyap, secara tiba-tiba dengan sendirinya, Leri keluar dari dalam kamar memasang muka cemberut, plus rambutnya yang acak-acakan mirip kuntilanak lagi di kejar-kejar masa. Sambil ngebawa guling dia ngibrit ke kamar Bapak dan Ibuk. Ndusel di sana sampai pagi menjelang. Kemana pun Bapak berada, di situlah Leri bisa di temukan. Seorang bocah yang sedang hangat-hangatnya butuh asupan kasih sayang dari kedua orang tua.

Astaga, gue lalu menimpuk mukak sendiri pakek buku yang gue baca tadi. Dengan tiba-tiba ada yang datang dari masa lalu. Ada masa dimana, gue mengalami kejadian yang sama dengan malam ini. Meski pun terjadi di mesin waktu yang berbeda 18 tahun yang lalu. Pada saat itu sewaktu rumah belum punya kamar mandi, pagi-pagi di hari Sabtu, di kamar mandi umumnya Pak Moden, gue nangis kejer saat perminta’an gue yang hendak ikut acara anteer manten di tolak oleh Ibuk.

Sebagai bocah yang bisanya cuma ngelakukan hal cemen, gue gak berhenti merengek, akhirnya permintaan gue di setuji oleh ibuk. Masalah pun dimulai dari sini.., sewaktu pas ngelepasin celana pendek buat mandi. Di mulai dari membuka resleting, tiba-tiba, kulit titit gue yang belum di sunat nyangkut di resleting sampek berdarah. Lalu gue teriak kenceng.., “SIMBOK MANUK’KU KEJEPIT, IYOHHH..,’ saat itulah tangis gue meledak lebih kenceng, hingga ibuk pun melarikan gue ke Puskesmas terdekat.

Setelah melalui proses yang panjang penyelamatan sebuah manuk. Untunglah kulit depan titik gue gak jadi di amputasi (baca: sunat). Dua tangis manusia dibawah rumah yang sama akhirnya menemui cahaya terang. Tolong di catet, seorang anak tak pernah jadi sumber masalah, bila seorang anak bermasalah, sumbernya bisa jadi orang dewasa yang tak mampu menjaga tumbuh kembangnya.

Mungkin ini sisi feminim Leri, yang sewaktu besar nanti, ketika dia tumbuh menjadi seorang perempuan dewasa, sifat ngambeknya pengen di pedulikan akan tetap ada, sepanjang masa. Bisa jadi, gaya feminim mau pun gaya maskulin, macam ke toilet rame-rame, karena di masa kecil kekurangan asupan kasih sayang. Setuju?. Iyah, namanya juga orang banyak, ada yang sependapat ada yang tidak. Iyow ora?.

pitutur of the day

pitutur of the day

Iklan

14 thoughts on “Sumber Mata Air di Dalam Rumah yang Sama

  1. itsmearni berkata:

    Hihihi ngikik-ngikik saya baca postingan ini
    Pertama : Saya bukan tipe perempuam semacam awal postingan, sejak dulu ke toilet ya sendiri kecuali memang sedang sama-sam pengen pipis bareng teman
    Saya juga bukan tipe yang suka berlama-lama di salon. Dalam setaun paling banyak 2 kali ke salon, itupun hanya potong rambut
    Kedua : ah Leriiii gadia kecil yang udah pinter ngambek. Saya tak ingat dulu saya pernah begitu gak ya
    Ketiga : soal kulit kejepit restleting. Wuaaaaaaaaa kebayang histerisnya tangisanmu hahahaha

  2. Diyanti Rahmad berkata:

    kikik… Gue kok kayak pernah ngalamin hal yg sama kayak Leri yak? Sok jual mahal dan butuh waktu untuk menepi 😀

Monggo pinarak?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s