Terapi Untuk Sembuh Dari Negeri Yang Idiot

#Notedcupu(dot)com edisi HUT RI ke-70

#Notedcupu(dot)com edisi HUT RI ke-70

Beberapa bulan yang lalu, lupa gue di bulan apa, seperti biasa idiot kadang kambuh. Gue meluangkan waktu sejam aktif di twitter sebelum tidur. Gue skrol lini masa ke bawah terus sampek dasar jurang. Nah, di sana gue bertemu acara hebat. Akun-nya mata najwa yang sedang ngetwit episodnya bakal ngewawancara pemain film Tjokroaminoto. Lalu gue mikir, sambil garuk-garuk pantat Kuda, “Nih, simbah, siapa ya, kok asing banget di telinga gue?.’

Karena penasaran, dan untuk mengobati rasa antusiasme gue yang mulai meracuni. Malam itu gue putuskan untuk bertamu ke rumah eyang Google sambil ngebawa sesajen. Setelah mengetuk pintu rumahnya dengan memasukan kata kunci, “TJOKROAMINOTO”, akhirnya gue di persilahkan masuk ke dalam rumahnya. Ya ampun, setelah membaca hasil penelurusan, gue baru menyadari pada saat itu, bahwa: gue ketinggalan cerita sejarah.

Kebangetan?. Gak apa-apa, terlambat tahu masih cakep dari pada mendo.

Berangkat dari itu semua, gue dapet banyak sekali pengalaman baru yang gue pelajari secara otodidak. Semua tahu, tiap kita di sekolah pasti punya guru yang membuat kita jadi manusia sampai detik ini. Entah manusia macam apa pun, yang penting berguna untuk orang lain. Dari hal ini, gue dapet korelasi baru, dalam sekala gue tentunya, kalo di setiap guru ada gurunya lagi di atas sana. Jika di telusuri, gue yakin ora ono habisnya.

Penyebabnya, di balik tokoh hebat negeri ini, seperti Ir. Soekarno, Kartosoewiryo, dan masih banyak lagi, ternyata gurunya eyang Tjokroaminoto. Dan gue yakin, Eyang Tjokroaminoto juga punya guru, dan seterusnya. Sampai bertemu pada satu benang merah yang sama: pemimpin lahir di eranya masing-masing sesuai kebutuhan keadaan masyarakatnya.

He’eh!. Baiklah, sebelum berlanjut membaca ini, mumpung bulan Agustus, menjelang perayaan hari kemerdekaan tanah air tercinta yang ke-70 tahun. Monggo kita bersyukur, sekaligus mengheningkan cipta selama lima menit. Kepada para bapak guru bangsa yang telah pergi meninggalkan kita dengan memberikan warisan ilmu pengetahuan yang luar biasa kaya. Lahul…, al-fatihah.

Selesai. Mbahmu, jangan di sangka gue guru agama loh.

Satu hal yang membuat gue tercenung dari ajaran eyang Tjokroaminoto, dan masih sangat nyambung dengan keadaan kita sekarang. Bahwa, “Jika kalian ingin menjadi pemimpin besar. Menulisnya seperti wartawan, dan bicaralah seperti urator,’ ucap eyang Tjokroaminoto kepada anak didiknya, Soekarno, pada suatu sumber yang gue baca.

Dari ajaran itu, gue langsung mencari tahu. Apa ya, maksud dari pola mendidik yang dilakukan oleh eyang Tjokroamonoto kepada calon-calon pemimpin setelahnya. Oh, iyah, yah, gue baru ngeh. Dengan menulis menjadikan seseorang menjadi guru. Guru kepada dirinya sendiri, lalu guru kepada orang lain, seletah dirinya selesai belajar. Gue tahu, seorang penulis harus punya banyak bahan di kepalanya, untuk melahirkan gagasan’nya dalam sebuah karya. Puncaknya, karyanya bisa dinikmati banyak orang. Proses ini dinamakan mendidik, yang dilakukan oleh orang terdidik.

Oh itu, ya. Paham, sampai sini pikiran gue mulai terang.

Gue kira, siapa pun bisa menjalankan model mengajar seperti ini. Soalnya yang punya tanggung jawab besar, yaitu pendidik. Khususnya yang langsung bersentuhan langsung dengan siswa-siswa, maupun mahasiswa di kelas-kelas. Dalam gedung sekolahan, maupun gedung kampus. Orang yang gak buta huruf tahu, tanggung jawab penuh untuk mendidik secara formal, lebih banyak dilakukan oleh guru. Lha wong zaman sekarang, sekolahan itu hampir dimana-mana masuk pagi, pulang sore.

Dari sini kita mulai terang. Dalam keseharian seorang anak, yang tentu, calon-calon pemimpin bangsa berikutnya diberbagai bidang. Waktunya setiap hari habis di ruang-ruang kelas. Makanya, gue selalu ceriwis kepada teman-teman yang kuliah di fakultas pendidikan, guru punya tanggung jawab penuh sepanjang hayat untuk terus belajar. Sebentar, ini persoalan serius loh, lebih penting dari sekerdar ujian nasional.

Belajar kan sumber utamanya dari buku. Buku itu dihasilnya dari sebuah proses panjang seorang penulis.

Menulis itu, melibatkan banyak hal. Mulai dari pengamatan, reportase, penelitian, wawancara, dan masih banyak lagi, ada yang mau nambahin?. Boleh-boleh. Yang kalo dirangkum menjadi satu, muaranya menjadi satu kebersamaan. Apa? Membaca. Bener. Sebuah tulisan bisa melintasi segala zaman. Maka prosesnya pun penuh dedikasi, meluangkan waktu nyaman untuk berbagi. Menyebar ilmu pengetahuan untuk orang banyak.

Yang menjadi bencana, ketika seorang guru, mandek belajar. Merasa illmunya cukup. Merasa ilmunya paling tinggi, dan jumawa. Mungkin bahasa kasarnya, malas membaca. Ada orang seperti ini?. Ada, serius. Mbok yo jangan begitu toh. Kasihan anak-anak di sekolah-sekolahan, maupun di kampus-kampus. Makanya, saat kapan hari menteri pendidikan, tanya kepada seluruh jajaran kepala dinas seluruh Indonesia di kantor kementrian, “Siapa yang sudah membaca bukunya Ki Hajar Dewantara, Taman belajar Siswa?.

Semua hadirin bengong. Gak ada yang angkat tangan.

Sudah-sudah, jangan saling tunjuk hidung sana sini. Gue pun tahu kabar ini, langsung geram, jengkel, marah. Semua menjadi satu: ngguateli. Sampai sini gue kok yakin banget. Pasti banyak, guru-guru yang malas membaca. Pantes kapan hari itu juga. Pak Menteri pendidikan. Mewajib kan seluruh sekolahan berlangganan koran. Minimal dua biji setiap hari. Meski pun gue bukan guru secara resmi, gue kok ya kesentil petuah Buya Hamka itu, “Kalo hidup sekedar hidup, babi hutan juga hidup. Kalo bekerja sekedar bekerja, kera juga bekerja”.

#BuyaHamka

#BuyaHamka

Untunglah, orang tua gue kok ya bukan PNS sebagai guru. Seandainya saja guru, pasti bapak dan ibuk, sudah gue semprot habis-habisan, “Jangan makan gaji buta, Pak, Mbok!’.

Apa lagi, sampai tega-teganya malas membaca buku karangan di Hajar Dewantara. Namanya orang tua, kalo salah ya perlu ditegur. Sebentar-sebentar, orang tua yang perlu dihormati, menurut gue, gak hanya orang yang melahirkan kita loh. Bapak-bapak pendiri bangsa ini, juga bisa membikin penduduk negeri ini kuwalat. Termasuk pendidikan di negeri ini yang sekarang kuwalat, lantaran mengabaikan ajaran biliau-biliau itu.

Terutama, ajaran yang sudah melenceng dari cita-cita luhur para pemimpin bangsa. Gue bener-bener curiga sekarang, permasalahan pendidikan di negeri ini tak pernah ada habisnya. Entah itu dimulai dari pemerintahan. Entah itu dimulai dari lingkungan sekolahan. Misalnya tawuran antar siswa. Terus ada lagi yang lebih nyeleneh, setelah pengunguman kelulusan, ada anak-anak sekolahan yang mau pesta bikini’an.

Astaga. Kalau sudah begitu, maka jangan salah siapa yang menabur benih buruk, hasilnya juga akan buruk. Gue masih percaya tentang, hukum alam bekerja pada masanya. Hal apa pun kalau sudah ndak beres, efeknya panjang. Karena sudah melenceng jauh dari ajaran orang tua — bapak-bapak pendiri bangsa ini zaman dulu. Sampai-sampai Cak Nun itu, kemarin bilang seperti ini di acara #MaiyahYogya, sewaktu menghadiri ulang tahun Taman Siswa yang ke-90, Yogyakarta.

“Wahai bangsa Indonesia, ambil kembali apa yang sudah diberikan oleh Ki Hajar Dewantara. Disitulah konsep pendidikan yang sebenarnya. Kalau Indonesia mau bangkit, khususnya bidang pendidikan, ambilah kembali apa yang telah dibuang dari Ki Hajar Dewantara”. Padahal apa yang di sampaikan oleh Cak Nun ini, ada di buku #TamanSiswa, yang di negara kita guru-guru dan jajaran kepala dinas, gak mau membaca. Malah-malah filosofi dalam buku itu, kini di pakai di negara Finlandia, yang terkenal paling maju sistem pendidiannya se-antero bumi.

#LiniMasa On Notedcupu.com

#LiniMasa On Notedcupu.com

#LiniMasa On Notedcupu.com

#LiniMasa On Notedcupu.com

Filosofi dalam buku itu, “Kita harus mengembalikan sekolah menjadi taman tempat belajar yang menyenangan. Jangan sampai anak takut kembali ke sekolah,’ juga telah menyebar ke berbagai sudut-sudut kantor perusaha’an raksasa, seperti Google. Lihat saja di sana, kantor karyawan di model seperti taman. Para pekerjanya pun, juara untuk membuat prestasi yang sangat cantik. Belum lagi, mau pun di perusaha’an-perusaha’an lain, yang belum di ekspos oleh media.

Sekarang semua sudah terang. Kita ini bener-bener kuwalat sama bapak-bapak pendiri bangsa ini. Ajaran biliau dibuang jauh-jauh. Banyak yang bilang, sekolah harus berstandart ini, dan itu. Aah.., gue jadi ingat petuahnya Buya Hamka lagi…, lah wong orang luar sana parameternya memakai gagasan pahlawan kita kok. Akar permasalahan’nya sudah jelas. Hari ini, sudah waktunya negeri ini pulang kembali, menghargai gagasan-gagasan bapak-bapak pendiri bangsa ini. Dari Ki Hajar Dewantoro, maupun dari Eyang Tjokroaminoto.

Dan gue, akan tetap menjadi seorang pendidik agar tidak idiot. Menyebarkan apa yang gue tahu, melalui karya-karya yang gue tulis di dalam medium ini, sepanjang hayat. Setelah menulis ini, gue tersadar, gue mewarisi ajarakan Tjokroaminoto, dan Ki Hajar Dewantara. Mari pulang dan sambil mendengarkan lagu, ‘Cahaya Bulan ost Gie’ dan melantukan pekik, ‘Merdeka, Merdeka, dan Merdeka’.

notedcupu of art

notedcupu of art

 

 

 

Iklan

11 thoughts on “Terapi Untuk Sembuh Dari Negeri Yang Idiot

  1. Gara berkata:

    Dengan membaca postingan ini pun saya sudah mendapat pengetahuan baru. Sadar atau tidak, mungkin suatu hari nanti akan ada sedikit sari dari tulisan ini yang saya produksi kembali dalam tulisan saya :hehe. Btw, itu “mendo” dari “mendokusai” atau “tempe mendoan”? *eh*.

    Jadi, pada hakikatnya masalah bangsa ini untuk sederhananya bisa diselesaikan dengan hanya membaca ya Mas. Leluhur bangsa ini sudah menelurkan banyak karya hebat dengan filosofi yang sesuai dengan keadaan bangsa ini, tapi banyak orang tidak tahu karena tidak mau repot-repot mencari dan membacanya :)). Ya sudah, saya melanjutkan membacanya saja deh Mas :hehe.

  2. Kang Darsono berkata:

    Postingannya panjang banget…
    kayak lagi baca kitab klasik… hahaha…
    tapi bermutu… sumpeh lo? mbuehehe..

    Jadi sebenarnya persoalan bangsa ini apa yah?
    hihihihiy

Monggo pinarak?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s