Omelan Pedas di Bulan Agustus

#Notedcupu(dot)com edisi HUT RI ke-70

#Notedcupu(dot)com edisi HUT RI ke-70

Jam tiga menjelang sore pada pertengahan bulan Agustus tahun lalu. Gue membuka pintu kamar tengah sambil ngucek-ngucek mata. Saat pandangan gue melihat ruang tamu, di atas meja ada dua kopi panas yang masih berasap. Dan satu batang rokok cerutu yang masih menyala di atas jepitan asbak. Gue masih suka menghirup bau harum kopi. Tapi asap rokoknya, membuat gue melengos, lalu pergi ke belakang. Saat hendak masuk ke dalam kamar mandi untuk cuci muka, gue tanya sama ibuk yang sedang memasak.

“Sopo toh mbok tamune, kok enek kopi loro nek duwor mejo?” ucap gue, penasaran.

Ibu yang saat itu sedang lesehan di lantai dapur mengiris rempah-rempah, kepalanya mendongak. Lalu menjawab, “Koncone bapakmu, Pak Narto kepala sekolah,’ kata ibuk. “Kae wonge nek kandang buri, delok wedus pesenane, Nang,’ lanjut ibuk, yang langsung gue jawab, “Oh..!”

Lalu gue masuk ke kamar mandi.

Dari dalam jendela kamar mandi yang kecil, kepala gue mengintip ke ruang garasi tengah, “Tajir tenan yo, mbok?’ ucap gue. “Pak Narto ke sini numpak mobil putih kui toh, mbok?” naluri gue penuh selidik kayak wartawan infotaiment lagi ngejar Sahrini pasang kutek kukuk di planet Pluto.

Mulut gue mulai keranjingan untuk bergosip. Tapi semangat gue untuk ngobrol dengan ibuk sirna, setelah ibuk balik bertanya, “Lha mobile putih kui, jenenge opo Tajir ngono, Nang?”. Gue mendengus, lesu. Keterbatasan akses sumber pengetahuan, membuat ibuk kurang update istilah keren anak muda. Gue langsung nyamperin ibuk di lantai, lalu duduk didepan’nya dengan pose unyu mendekati spesies Cheribel.

“Huuuuussstt, kumat ngawure, mobile kui jenenge Katana mbok. KA-TA-NA…!‘ kata gue mencoba ngejelasin, sambil garuk-garuk kepala. ‘Tajir kui artine orang kaya mbok,’ ucap gue lagi, dengan bibir manyun seraya memberi #Kul-Mbok. Kuliah untuk simbok.

“Oh…, ngonoh,’ balas ibuk singkat, terus berhenti mengiris rempah-rempah. “Yo, maklum to nang-nang, mbokmu cuma lulusan SD, jadi maklumono lek ora pinter, ’ balasnya memberi penuturan khas pandangan orang zaman kompeni.

Alis gue naik.

Gue mangambil posisi bersila. Dada gue membusung, menolak atas pernyataan yang salah kaprah, ‘Sakjane iki ora ono wong kurang pinter loh mbok, enek’e wong males. Wong pinter kan mergo luweh ngerti disek. Coba sampean rajin cari tahu, pasti ngerti-ngerti dewe.” gue mencoba ngejelasin dengan gaya bahasa yang mudah ditangkap untuk ukuran orang tua.

“Yo, yo, yo, mudeng mbokmu wisan,’ katanya, ‘Wes mbokmu tak masak, Cah Bagus. Kok ajak gosip aeh, kui engko ora sido masak. Iso-iso wong sak omah malah kenek busung lapar,’ lanjutnya mencoba melucu. Tapi setelah gue tangkap, kok ya malah garing banget.

Orang tua gue, sepasang manusia yang beda senyawa. Bagaikan minyak dengan air. Yang berbeda satu sama lain, tapi tetap bisa berdampingan menjadi satu karena bisa saling mengisi. Ibu gue, seseorang yang sangat santai dalam urusan banyak hal. Sementara, bapak seseorang yang punya daya juang karena dibesarkan oleh kehidupan jalanan. Untunglah dari rumah mereka, dapat hidayah baru, pernikahan merupakan dunia berbagi dan saling mengerti.

#PituturOfJawa

#PituturOfJawa

Sebagai profesi seorang penjagal hewan ternak di rumah. Membuat bapak gue mondar-mandir ke sana ke mari. Meladeni pesanan yang datang, mau pun, mengambil barang dagangan yang akan di jual oleh penduduk setempat. Keadaan itu, memaksa bapak untuk bertemu dengan orang-orang baru setiap hari. Berbagai latar belakang pendidikan. Dari mulai Pak Narto tadi, sampai bertemu dengan petani tulen.

Buet gue, bapak sudah menjadi teman nercerita yang menyenangkan. Setiap hari, ada saja yang dibahas, rasanya bahan obrolan kami tak pernah paceklik untuk dibahas. Kalo sudah duduk bareng lesehan di teras depan rumah, sambil menikmati kopi hangat. Tak ada rasa puas-puasnya untuk bercerita. Kadang-kadang kalo bapak berkomentar berita pemerintahan, terus ngawur karena di dapat dari obrolan…, entah dari temannya yang mana. Gue mencoba memperbaikinya dengan apa yang gue tahu.

Lebaran hari ke-empat kemarin, contohnya, teman-teman sejawat gue main ke rumah. Sungkeman bergilir, mulai dari ujung yang berada di Pantai Konang, kediaman Mas Reli. Lalu bergeser ke utara, rumahnya Inu, Mas Titis, Obos, rumah gue, terus Wandeh, terakhir, Asu Pido. Kebetulan, malam itu Pido anak UB nitip absen, karena malam’nya kita akan ngebes kem di rumahnya, yang kebetulan dibawah kaki Gunung Mbarang. Saat teman-teman mengetok pintu, bapak, yang malam itu ada di rumah menyambutnya dengan hangat.

Setelah rombongan kaum duafa ini selesai sungkeman sama bapak. Dengan sangat welcome, bapak membentangkan karpet merah untuk lesehan bersama di teras depan. “Ayo kabeh sini-sini, ajaken Boed, nanti kopinya menyusul,’ kata bapak, lalu duduk duluan memberi contoh. Bapak gue memang flamboyan kalo sama anak muda, jiwa petualangnya belum juga move on. Sebagai cowok yang prasojo. Gue pun, mengeluarkan jajanan dari dalam rumah. Yang langsung di saut sama Inu, salah satu toplesnya.

Sambil membuka toples, Inu bertanya sama bapak, “Piye, dodolane rame nopo mboten pasare, Pak,’ ucap ibnu dengak aksen bahasa jawa melipis.

Gue yang ada di sebelah inu, menyimak. Sementara disebelah gue, Obos dan Wandeh, giginya berisik kletak-kletuk ngunyah biji kuwaci. “Pasare sepi Nu, tapi seng tuku yo enek aeh. Dodolane ibune Boedi yo entek nyatane.” jawab bapak memberi gambaran keadaan pasar.

“Oh…., yo alhamdulillah lek laris Pak.’ balasnya.
“Lha kenopo kok sepi Pak” Inu bertanya lagi.

Gue masih bertumpang dagu. Bertindak sebagai pedengar. Obos dan Wandeh, masih seperti yang tadi, ngemil.

Mata bapak terlihat menerawang ke atas, punggungnya yang bersandar ke tembok langsung tegap. Pertanda ada hal penting yang harus segera disampaikan, “Negoro di pimpin Jokowi kok okeh wong podo sambat susah nek pasar. Lha…-’

Wandeh menyaut, memotong obrolan, “Lho toh, jagone boedi loh kui Pak,’ kata Wandeh becanda, sambil menujuk hidung gue.

Obos pun ikut terpancing obrolan ini. “Dek mben kae, Boedi kui kampanye lewat berbagai jaringan internet. Relawan Pak, relawan,’ maksudnya memberi penjelasan.

Obos yang biasanya gue bully, sewaktu kumpul bareng teman-teman, kini punya kesempatan untuk memojok’kan gue. “Ayo, boedi di W.O aeh. Nyatu iyoh Pak, wong-wong penumpangku yo okeh seng podo sambat. Dodolane okeh seng sepi,” Ucap obos, yang memang pekerja’an part-time-nya, sebagai sopir trayek sewa’an untuk rute Panggul-Trenggalek-Surabaya. Kebetulan, Pakdenya punya toko baju yang paling gede di kota ini. Mungkin saja, yang sambat ini Pakdenya.

Obrolan mulai rame.

Inu mengambil momentum, “Lho kandani kok, Panggah Jokowi loh!.’ ucapnya pecicilan, sambil menepuk pundak gue. Entah ada angin apa, bapak pun mengeluarkan pernyataan kontroversial. “Lha jatah pemimpin kok turun ke pasar-pasar bolak-balek, blusukan teko ngendi-ngendi. Lha terus jajarane seng ngebidangi kui, wong-wonge podo nandi kabeh?.’ ucap bapak, memberi kritik pedas.

Inu memasang muka serius. “Bener kui Pak. Memang biyen pas memimpin di Solo, terus di Jakarta hasilnya bagus. Tapi ini kok ya, duh.., duh..!” Inu geleng-geleng kepala tidak melanjutkan: duh-duh yang di maksud. “Mungkin yo kui, perlu di koreksi juga Pak. Enggeh-enggeh, leres omongane njenengan Pak.’

Obos dan Wandeh tertawa pringas-pringis, karena merasa berhasil memojok’kan gue. “Ora getun Boed salah pilih?” tanya obos, macam Najwa Sihap yang lagi ngewawancara narasumbernya. Belum sempat menjawab, Wandeh sudah tertawa selepas-lepasnya. “Ha-ha-ha-ha, untung aku wingi calon ku udu kui seng tak pilih,’ tangan’nya memegang perut, lalu geleng-geleng kepala, “Selamet-selamet!’

Inu mengrenyitkan dahi. Geli.

“Lhoh, wong aku biyen jagoin Pak Jokowi, ben besok-besok lek wes kepilih, ndak due probelm hukum yang bisa di manfatkan oleh pihak siapa pun kok.’ kata gue memberi alasan. “Aku milih tuh milih pemimpin, yang punya catatan bersih dari kasus opo-opo aeh.’ ucap gue memberi kode. “Ehm-ehm..’

Gue menoleh ke Obos, dan Wandeh. Mereka berdua bengong. Bapak gantian bertumpang dagu, mungkin tidak disangka-sangka ngobrolin topik yang dibahas malam ini lumayan, lumayan menguras pikiran dan tenaga. “Terus-terus, kalo soal krismon’nya sekarang bagaimana, kang?” tanya, Inu yang mulai resmi.

Gue mikir sebentar. Diem. Mengambil beberapa file dalam ingatan. Mencoba mencari jalan menjelaskan supaya mudah ditangkap oleh mereka-mereka yang bersekolah di luar bidang ekonomi. “Banyak faktor’ kata gue memberi pemanasan.

Lalu hening.

Gue mengambil duduk senyaman mungkin. Setelah satu tarikan nafas, gue mencoba menjelaskan, “Ngene loh, tuh lihat setidaknya krisis tidak mengenal orang yang mau belanja kebutuhlan lebaran toh. Toko-toko dan swalayan modern tetap ramai. Terus, penyebabnya banyak faktor. Bisa datang dari kasus hukum yang kemarin cukup membuat gaduh itu, soal kriminalisasi KPK. Sehingga investor kehilangan kepercayaan, efeknya rupiah sensitif. Bisa datang dari utang luar negeri yang berimbas pada DSR. Dan seterusnya, kalo di jelasne iki engko teko subuh. Lagiyan belum ada kajian resmi tentang krisis ini, dari berbagai lembaga kredibel.’

Gue berhenti sejenak, untuk mengambil air mineral. Setelah tenggorakan mulai basah, gue mulai ngomong lagi, “Pendapatan nasional negara kita ini, berasal dari konsumsi masyarakatnya yang 240 juta jiwa ini loh. Koreksi yo, kang? Kalo ndak salah sekitar 70% dari sektor konsumsi pada tahun 2011, aku belum cek di tahun 2014 kemarin. Termasuk kowe-kowe kui podo nyumbang pendapatan negara, kita ndak jadi pelaku yang sebenarnya. Kita jadi negara pasar, bukan pelaku,’ ucap gue, “Makanya kemarin pemerintah, mengeluarkan kebijakan fiskal, dengan menurunkan #Pendapatan-Tidak-Kena-Pajak, alias pendapatan 3 juta ke atas baru bisa kena Pajak Penghasilan. Biar konsumsi masyarakat naik, efeknya langsung pada pertumbuhan nasional,’ jelas gue ngos-ngosan.

Wandeh dan Obos masih enggan bicara. Inu, manggut-manggut. Gue melihat bapak, wajahnya tampak telihat nyambung. Lalu alisnya naik, terus bilang, “Ndak sia-sia Le, kamu sekolah meninggal’kan kampung sekian lama.’ Ucapnya, lalu gantian pandangan’nya melihat, Inu, Obos, dan Wandeh. “Dengerin bapak. Kalian semua, jangan pernah mandek belajar,” katanya memberi petuah nasehat.

Wejangan itu, akhirnya mengisyarakat’kan obrolan malam itu harus segera di tutup. Inu melihat jam yang ada di henfon’nya. Teman-teman merespon baik pesan dari bapak, “Enggeh Pak, pasti-pasti.’ ucap Inu, sambil salaman dengan bapak. Lalu di susul Obos dan Wandeh.

‘Sampon jam 9 Pak. Cepet banget. Niki badhe tindak griyane Pido,’ kata Inu. Dengan satu anggukan kepala, pelan, Inu meminta izin, “Kulo badhe nyuwun pamit Pak.’ Lalu gue ikut berpamitan sekalian kalo malam itu gue akan pulang subuh, dini hari. ‘Pak aku kumpul nek mae Pido loh,’ ucap gue.

“Yowes, ngati-ngati, yo Le,’ balas bapak. “Engeh Pak, enggeh,’ jawab gue. Akhirnya kami kembali melanjutkan kunjungan yang terakhir pada malam itu. Sungkeman dengan orang tuanya Pido. Dan kembali memulai berbagi cerita tentang hidup, yang menolak kemenangan oleh pedang.

Motor pun melaju membelah jalan raya di bawah kaki bukit. Di sepanjang jalan, lebaran empat hari di kampung masih sangat rame. Motor dan mobil yang satu arah berlalu lalang tanpa jarak. Keada’an ramainya jalan bertolak belakang dengan efek, yang disampaikan bapak tadi.

Mungkin sepi.

Pesan itu menggantung kuat di kepala: “Jangan sampai mandek belajar,” gue ngebayangin rencana belajar gue dengan Inu, dan Pido, yang bakal meninggalkan kampung halaman lebih jauh lagi dari ini. Pada malam ini, ada satu hal yang gue rasakan. Hati terasa berat, dada mulai sesak. Bersamaan dengan itu, rasa cinta terhadap orang tua semakin besar.

#LongCok (LowonganNgacok) #BloggerSurabaya

#LongCok (LowonganNgacok)
#BloggerSurabaya

Iklan

24 thoughts on “Omelan Pedas di Bulan Agustus

  1. Diyanti Rahmad berkata:

    waw… keren, Mas. ndak sekedar omelan :p

    Lain kali, kalo mo nge notes lagi, bahasa jawanya ditranslate dong… haha… kulo ora mudeng…

  2. Raudatus Sholehah berkata:

    pada paragraf terakhir ada kalimat : “gue ngebayangin rencana belajar gue dengan Inu, dan Pido, yang bakal meninggalkan kampung halaman lebih jauh lagi dari ini.”
    kemana emang.e? merkurius? saturnus atau …
    haha

  3. Gara berkata:

    Kayaknya aku pengen banget yo nimbrung di obrolan kalian itu. Meski cuma jadi pendengar karena belum begitu fasih bahasa Jawa tapi saya lumayan mengerti kok :haha.
    Itu, kalau yang jadi presiden pasangan yang satu lagi juga belum ada jaminan toh ekonomi dan pasar kita tidak lesu. Buktinya, 17 tahun yang lalu ketika dia sempat “berkuasa”, tak bisa juga tuh menyelamatkan ekonomi kita dari penurunan (ini kesimpulan yang sangat dangkal tapi begitulah umpamanya ya). Tapi aku mau berterima kasih lho kepada dirimu yang sudah menjelaskan dengan bahasa yang sangat mudah dimengerti tentang kenaikan PTKP :hihi :peace.

    Iyo, kita memang mesti menuntut ilmu sejauh mungkin, tapi jangan lupa dengan kehangatan kampung seperti yang sudah diceritaken di sini, bagaimanapun itulah rumah kita. Begitu toh? :hihi.

  4. kekekenanga berkata:

    eeuuuwww… plis next posting ada versi terjemahan dibawahnya -_____-
    Liyerr euy bacanya, teu ngarti 😦

    Intinya gue nggak bisa ngisi lowongan walaupun gue feminim yah Bang 😀

Monggo pinarak?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s