Dari Orang Bodoh Untuk Jiwa yang Merdeka

edisi Hut #RI70 (Nasionalisme =Migunanisme) Notedcupu.com

edisi Hut #RI70 (Nasionalisme =Migunanisme) Notedcupu.com

Pada saat di SMA dua bocah ini punya bakat banget jadi cowok yang paling brengsek di kelas. Akal sehatnya mungkin sudah ringsek, sampai-sampai nakalnya sudah tembus di ubun-ubun. Aturan jenis apa pun, bakal dilanggar tanpa takut dosa. Gue dan Inu, menjadi tersangka penipuan jam matematika di SMA 1 Panggul. Setiap ibu Nurul, guru matematika kami masuk kelas, lalu mengucapkan, “Baik anak-anak, pelajaran kemarin sudah sampai mana, yoh?”. Belum sampai Ibu guru duduk, kami berdua pun menanggapinya dengan enteng, “Maaf Bu, sudah jam 12 iki, kami mau izin sholat ke mushola.’

Terus ngeloyor membanting pintu kelas dari luar. Bruk…!

Dengan memakai alasan yang jitu, apa yang kami rencanakan pun berjalan mulus. Memakai motor smesh tua gue yang bau anyir ketiak kambing, kami meluncur ke Masjid Njoso — yang halaman depan’nya merupakan tempat sejarah persinggahan Jendral Sudirman di masa perang gerilya. Sebagai anak sekolahan, perilaku kami jelas di luar nilai luhur para pendiri bangsa. Kabur dari lingkungan sekolahan lalu nongkrong di halaman masjid sampai sore. Itu artinya tindakan kami melenceng dari tata krama: cocok di sebut sebagai bocah sableng.

Gue jadi mikir, jika kejadian ini gue lakukan tempoe doloe. Pasti kami sudah di garuk satpol PP. Terus di buang di pulau Digol, lalu di jebloskan ke dalam penjara rengasdengklok bareng Pak Lek Soekarno dan Pakde Mohamad Hatta. Mau aja sih, kalo tiap hari dikasih makan menu nasi padang (geragas kowe bang-bang?. Kenyeh). Dan…, salah satu hal yang sering kami lakukan sewaktu lesehan di teras depan masjid. Gue sering memposisikan Inu sebagai staff pribadi gue. Setelah dia selesai menyalakan rokok, lalu gue tepuk pundaknya,

Tunggu, untuk anak-anak pada zaman sekarang, jangan pernah nyoba merokok sewaktu memakai seragam sekolahan. Bener gue gak mau, tempat sekolah untuk belajar banyak orang, jadi kena beban jelek akibat ulang kita sendiri. Cukup cerita ini saja yang jadi pelajaran atas bocah sableng pada masa itu.

“Ndol, tanganmu nganggur toh, kene pijetono akuh. Engko gantian, lima menitan waeh?’ suruh gue, yang memang waktu itu panggilan Inu punya julukan nama Bendol. Sampai sekarang gue belum tahu, kenapa nih anak dipanggil Bendol. Padahal kepalanya enggak pelontos kayak pentol korek api.

Inu yang saat itu masih aktif ikut pelatihan bela diri karate, ndak terima gue perlakukan layaknya budak. Lalu dia mengeluarkan tenaga dalam, lengan kanan gue di tinju, “Huk…., jleb. Masih berani nyuruh-nyuruh aku, kowe?” katanya sambil pasang kuda-kuda kayak orang mau tanding tinju. Bibirnya masih monyong lagi, “Berani tenan opo?”

Gue nyerah. Dia memang jago pukul dan bakat jadi preman pasar gobes tanah abang. “Ampun, Ndol. Ampun. Tega banget kowe, mosok aku kok aniaya terus?”

Lalu dia tertawa renyah, terus bilang, “Piye kang, wes kroso yo?,” gue meraba bekasnya, terus ngejawab. “Lumayan wes enek kemajuan, Kang.” Gue juga belum paham sampai saat ini, entah kenapa pada saat itu gue terima saja lengan gue di pakai layaknya bantal sasak tinju. Buat yang hidup pada zaman itu, pasti ngerti, beginilah cara kami main becandaan bareng melupakan waktu.

Meski pun perilaku kami jauh dari kata bijaksana. Tapi gak secara total moral kami ambruk kayak pejabat yang doyan korupsi. Meski pun nama kita di sekolahan sangat populer sebagai, benih-benih calon kriminal. Tapi kami punya sisi lain yang tidak diketahui banyak orang. Gue yakin, sejahat apa pun perilaku manusia, di dalam hatinya masih ada setetes embun kebaikan yang mampu menyegarkan mata.

Hal yang rutin kami lakukan setelah membuka pagar kayu Masjid Njoso, lalu melihat sebuah pemandangan, teras depan penuh dengan debu. Dan berbagai kotoran, yang dibawa oleh angin dari area persawahan di samping masjid. Membuat kami untuk turun tangan. Setelah kami melepaskan sepatu, Inu menoleh ke gue, “Kang, bersihin yuk, kuwi sapune di pojokan,” katanya.

“Kotor tenan Kang. Yuk-yuk,’ balas gue, kemudian kami bergegas menjadi pendekar. Dua orang cowok berseragam SMA bolos membawa pentungan sapu. Gue yakin, jika anak-anak STM yang biasanya hobi main pentung-pentungan antar sekolahan sebelah di jalanan, terus berpindah melakukan hal yang sama layaknya kami, tempoe doloe, mungkin masjid se-Indonesia gak butuh mas-mas office boy. (emang masjid ada opis boy-nya ya?).

Kebandelan kami dalam bentuk lain masih banyak. Tapi dari sekian banyak cerita benih-benih calon kriminal, tukang tipu, tukang loncat pagar. Bahkan sampai nilep makanan di kantin tanpa bayar pun sudah hal biasa. Yang lebih ekstrim, ada cerita lain yang sepertinya akan gue sampaikan pada lain waktu. Tapi ini sisi yang bisa kami ambil dari masa itu. Sesuai dengan keadaan hari ini untuk kami renungkan bersama.

Ritual bolos kayak gini, tetap kami lestarikan.

Sampai motor gue turun mesin. Sampai kami lulus SMA.

Ketika waktu terus bergerak maju. Persahabatan kami terpisah oleh jarak. Bersamaan dengan impian masing-masing yang berseberangan jalan. Gue melanjutkan kuliah di Surabaya, lalu Inu tidak jadi masuk UGM meneruskan jejak bapaknya menjadi calon polisi hutan. Dan memilih kuliah di kota Tulung Agung. Pada saat itulah, benih-benih kesablengan mulai sirna. Waktu terus berproses membentuk karakter kami yang baru.

Perantuan telah mengantarkan kami pada bidang yang berbeda, tapi masih dalam satu paham cita-cita yang sama. Inu di sana belajar banyak hal, yang gue tahu, dalam ceritanya sewaktu kamu sering kasih kabar melalui telfon, dia pernah menjadi pemimpin organisasi besar di kampusnya sesuai karate yang dia peragakan di teras Masjid Njoso. Lain’nya, dia hingga bergabung dalam komunitas maiyah untuk Padang Mbulan di #Jombang, mencari ilmu lewat seorang tokoh besar nasional, Emha Ainun Najib.

Noted ini terlalu pendek untuk menceritakan kisah yang panjang. Sampai pada suatu waktu, kami tetap saling bertemu disela-sela liburan. Sampai detik ini. Sampai #noted ini selesai di ketik. Pada suatu malam, lebaran 2015 hari ke empat, seperti biasa gue main di rumahnya ngobrol banyak hal bersama teman-teman segank kami di masa SMA. Malam ini, hanya dua anak manusia yang datang, Wandeh dan Obos. Pido yang biasanya hadir, absen lantaran ada kerabat jauhnya dari kota yang datang ke rumah.

Di teras depan rumahnya, beralaskan karpet tebal warna abu-abu tua. Obrolan kami mengalir tanpa henti, sepanjang malam, mulai dari hal biasa tentang apa yang harus kami kerjakan untuk kota ini, bersumbangih bersama-sama. Sampai hal yang bersifat biasa, tentang pergolakan anak muda yang penuh dengan jiwa yang ‘sudah selesai dengan dirinya’.

Saat dingin mulai menyergap, dan dua sahabat tadi sudah tertidur pulas, kami rebahan bersebalahan bersandarkan bantal. Inu matanya menerawang ke udara, lalu mengucapkan satu hal yang lumayan penting, “Nabung Kang yuk, kita main jauh ke ‘sana,’ sambil belajar hal. Petualang-petualang?”

Gue penasaran, “Kemana emangnya, Kang?”

“Adalah, westo kita nabung dari sekarang aja!” ajaknya, kalem.

 Aha, sebenarnya gue sudah nyambung apa yang di sampaikan, “Ayuk, siapa takut. Tapi, kita yo harus lihat keadaan juga toh nanti. Kita gak ngerti, skenario gusti Allah ke depan kayak apa?.’ balas gue, mencoba memberi opsi lain.

Dia geleng-geleng kepala. “Kang,’ katanya, memanggil gue, “Selepas lulus sarjanahku, aku tertarik untuk bekerja di industri media?” akunya agak personal.

Gue menarik selimut. Suhu dingin pegunungan kota Panggul mulai membungkus seluruh tubuh. Gue balas dengan becanda’an, “Jadi, mas-mas O.B gelem?”

 “Ndasmu, kuwi Suuuu,” jawabnya, khas dengan bibir monyongnya. Lalu gue ketawa ceki-kikan.

Bagi yang belum tahu tentang model obrolan kami. Mungkin kedengaran’nya agak terasa kasar. Tapi, beginilah cara kami memancing senyum untuk tertawa bersama, penuh kebahagiaan. Tapi akan terasa sangat lain hasilnya, sewaktu gue di panggil bapak, “Ndang pulango, Lhe waktune nyembeleh kambing,’ terus gue jawab, ‘Iyoo, Suuu’. Bisa-bisa sampai rumah, leher gue di kalungin golok, lalu nama gue sudah di coret dari kartu keluarga.

Semakin menjelang dini hari, ada yang membawa obrolan ini semakin serius. Beberapa angin berdesir di telinga sebelah kiri gue. Gue nengok, kampret ternyata gas buang dari bolongan hidung Inu yang segede lubang semut, membentuk uap. “Oh, wedos, menyingkir dari kupengku,” celoteh gue, membuang muka. “Ha-ha-ha-ha,’ dia tertawa. Lalu beberapa detik kemudian, hal penting muncul menghangatkan suasana.

Kang, seperti yang sering kita bahas sebelum-sebelumnyas” katanya, lalu duduk, di sebelah gue

Gue masih terbungkus dengan selimut, suhu dingin membuat gue tidak bisa berbuat apa-apa. Gue mengucap pelan, “Iyoh, piye-piye. Terus?”

“Apik yo Kang. di Jakarta ada TIM untuk #KenduriCinta, di Surabaya ada gedung kesenian Cak Durasim, maupun balai pemuda #Bbw. Di Jogya, ada Gedung Budaya,” ucapnya memberi informasi yang entah macam journalist yang habis riset untuk bertemu dengan narasumbernya.

“Terus, kang?” gue mengejar ujung maksudnya.

“Tujuan hidup kita sama,’ dia berhenti sejenak, matanya menerawang tajam ke arah kiblat, lalu melanjutkan. “Kita sekarang uwes ngerti. Kalo sudah ngerti itu tugas kita Kang. Maupun teman-teman yang lain Kang. Kita sudah tahu apa makna hidup yang sesunguhnya. Kita bersumbangsih untuk masyarakat, lewat apa pun Kang, termasuk lewat budaya.”

“Komunitas ‘padepokan maiyah kecil’ kita sudah terbangun,’ spontan gue mengucap ini, lalu darah gue mulai berdesir sampai ke ujung ubun-ubun. Kemudian ada tenaga baru yang masuk, ada energi dari alam yang gue tangkap, ada yang sesuatu yang masuk. Sampai badan gue terasa hangat bagaikan tersulut api.

Jujur, sampai noted ini belum selesai gue ketik. Gue merasa bahagia dengan pertumbuhan kesadaran kami, seirama. Yang jauh dari cerita nyeleneh kami semasa SMA. Dari #Noted ini, kita bisa belajar hidup cuma perkara memperjuangkan apa yang kami yakini benar, selebihnya untuk mencari teman seperjuangan. Lebih-lebih bisa saling memberi teladan, seperti apa yang tersampaikan oleh lagu film Gie, ‘Aku orang malam yang menentang kemenangan oleh pedang.’

#PituturJawa #Nyangkem #Notedcupu.com

#PituturJawa #Nyangkem #Notedcupu.com

Obrolan malam ini, akhirnya menemui ujung setelah sebuah suara tarkim terdengar dari toak mushola sebelah rumah. Kami berdua pun, bergegas untuk melakukan sembahyang seperti biasanya. Gue duduk di teras depan, Inu masuk rumah, ganti pakaian. Saat pintu kembali dibuka, gue terkejut. Dini hari itu, dia memakai pakaian gamis lengkap. Plus, sebuah peci ciri khas #Maiyah. Sampai di mushola, puluhan bapak-bapak memakai sarung, dan ibu-ibu bermukena sudah ada di sana.

Setelah muka kami basah oleh air wudhu, seseorang bapak bilang, “Inu, ayo ndang koyo biasane.” Lalu dia melangkah pelan ke sebuah tempat soft paling depan. Dini hari itu, kenangan kami semasa SMA di Masjid Njoso datang dengan realita yang berbeda. Saat ini, dia sudah dipercaya oleh masyarakat sebagai pemimpin.

Pada fase yang sama, tapi di realita yang lain. Semasa kami di satu sekolahan, gue dengan Pido tidak banyak cerita. Gue ada di kelas IPS sedangkan Pido di kelas IPA. Sampai saat ini, pasti banyak yang tahu, kalo anak IPA sejak zaman penjajahan Belanda terkenal dengan banyak diemnya. Datang pagi, pulang pun sore, tetap setia berada di dalam kelas. Sedangkan gue, datang pagi pulang pun ‘sak-karep-karepku-dewe’.

Di sekolah…, Pido namanya lebih populer dari pada gue dan Inu. Satu hal yang gue tahu kabarnya, dia di idolan cewek-cewek cakep. Dan satu hal lagi yang gue tahu, tentang gank gue: dibenci cewek-cewek karena kami, mungkin amit-amit. Terkenal dengan sebutan Muk-Man: Muka Preman. Semenjak gue di SMA, bibit investigatif gue sebenarnya sudah terlihat. Bakat ini gue tahu setelah mendengar sebuah kabar gak penting, kalo Pido mutusin ceweknya tanpa alasan yang jelas.

Ingatan gue tentang persahabatan ini pun samar-samar. Yang gue tahu, Inu lah perantara kenapa gue bisa saling akrab dengan Pido. Sampai pada suatu garis keseimpulan. Waktulah yang berperan, mengantarkan kami untuk terus bersama. Kami pun akhirnya lulus dan berbeda kampus. Pido melanjutkan belajar di salah satu kampus negeri terbesar di Jawa Timur. Semasa kuliah pun, saat liburan datang, kami sering bertemu dan nongkrong di padepokan rumahnya Inu.

Ceritanya pun sering mampir ke telinga gue. Dia pernah ikut berdemonstrasi ke kedung DPR di Jakarta, untuk menuntut pengesahan Rancangan Undang-Undang Keperawatan. Sewaktu Pido berorasi di depan gedung negara Grahadi, Surabaya, gara-gara itu gue inget, betapa ngeyelnya apa yang dia yakini tentang perjuangan. Dan saat itu gue menjalankan tugas, sebagai program internship Repoter di media yang sangat gue banggakan.

Pengalaman jalanan yang berteman dengan ikat kepala beserta toak, membawanya pada jiwa yang sekarang. Membawanya pada sebuah pesan pendek yang datang dari teman-teman’nya di kampus UII Tanggerang. Malam itu lebaran hari ke tiga, di rumahnya Obos, dia memperlihatkan pesan persis di depan mata gue, “Tanggal 28 Agustus aku ke Jakarta, kang. Kamu mau ikut nemenin aku gambleh di sana, ora?. Ajaknya, berbisik pelan di telinga gue.

Mata gue memicing tajam, kening berkerut berlipat-lipat membaca undangan panjang. Dari pesan itu, gue menyadari dia sekarang telah dipercaya untuk berbicara di depan banyak orang. Lalu gue balas, “Lihat dulu kondisinya entar, kalo okeh, aku ikut Kang!’

Jika waktu telah bersepakat, calon-calon pemimpin pun siap lahir dari sebuah kota yang kecil: Panggul. Kesempatan untuk bertemu karena suansa libur lebaran, kami gunakan untuk ngobrol banyak hal. Tentang bersumbangsing kepada kampung halaman. Saat Inu sudah balik ke perantauan lebih dulu, semangat kami terus berpendar-pendar. Dengan satu tujuan, akhirnya kami dipertemukan pada impian yang sama.

Malam itu, sambil makan lontong di rumahnya, dia bilang, ‘Kang, setelah profesiku selesai, aku mau ngejar sekolah lebih jauh!”

 “Yang itu toh, yang kapan hari kita bahas?” tanya gue.

Saat kami duduk di atas kursi sofa, Pido menjawab dengan sigap. “Bener-bener. Kalo terbukalah niat, terbukalah jalan kang. Kita Man Saaara Ala Darbi Washala, yo…, yo.., yo…,” katanya, penuh bertenaga layaknya sedang teriak dalam toak.

“Aku juga niatnyo ngono kang. Yuk-yuk, Haaaaaajar,” lalu kami kompak mengamini.

Sekitar dua hari berikutnya, pada jam yang sama gue main ke rumahnya untuk berpamitan. Iyah, ke esokan paginya gue harus balik ke Surabaya. Gue kaget, di samping halaman rumahnya yang luas, sudah tertanam sekitar 50 taneman calon cabe rawit dalam bentuk polibek. Semuanya dikelilingi oleh pagar betis buatan dari anyaman bambu. Yes, obrolan beberapa waktu yang lalu mulai pelan-pelan di kerjakan. Dengan cara sederhana inilah, kami berharap orang-orang disekitar rumah bisa ikut bergerak maju.

Gue pun berpamitan. “Besok aku berangkat, Do!’ gue mengulurkan tangan.

Dia menjawab, “Hati-hati di jalan kawan.’ jabatnya erat.

Gue balik badan. Dini hari malam itu, gue naik motor sendirian melewati beberapa kaki bukit. Sepanjang perjalanan pulang, badan gue di hantam oleh arah angin yang berlawanan. Tubuh yang semula cemen, mampu menangkis serbuan suhu dingin yang kejam. Layaknya sebuah bendera merah putih pada suatu ujuang tiang. Ada yang telah merdeka di dalam dada kami. Ada yang telah selesai dengan dirinya masing-masing. Saat ini tujuan kami satu, semangat untuk mengabdi kepada kampung halaman.

#bloggerBosoJowo #BloggerSurabaya

#bloggerBosoJowo
#BloggerSurabaya

 

 

 

 

 

Iklan

18 thoughts on “Dari Orang Bodoh Untuk Jiwa yang Merdeka

  1. kekekenanga berkata:

    “Gue yakin, sejahat apa pun perilaku manusia, di dalam hatinya masih ada setetes embun kebaikan yang mampu menyegarkan mata”

    Gue suka kalimat lo Bang hahhaa, numben bener 😀

Monggo pinarak?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s