Kejutan dari Mempertahankan Sebuah Keyakinan

#Nyangkem #BloggerJawa

#Nyangkem
#BloggerJawa

Gue paling gak demen sama seseorang yang bermental rentenir. Apa-apa harus perhitungan banget, dan serba penuh kalkulasi demi sekantung duwit. Semisal keadaan’nya lagi seret pemasukan kadang masih bisa memaklumi sih, ya. Tapi saat pandangan mata gue menyapa halaman rumah yang penuh simbol-simbol kemewahan dunia, terus masih suka gebuk se-enak-udel sama anak kos. Itu sih hidupnya nyembah materi.

Cerita ini gue dapet sekitar satu tahun yang lalu dari Inu. Dia cerita ke gue sewaktu lagi main ke kos temennya untuk mengerjakan tugas kelompok. Namanya juga mahasiswa, setiap kali ada tugas kelompok dari seorang dosen, di sanalah leptop menemukan peran dan fungsinya untuk digunakan sebagai pengganti mesin ketik. Inu ini, sahabat semenjaak kami di satukan oleh ruang kelas yang sama sewaktu kita di SMP…,

Karena sahabatan yang gak pernah kadaluwarsa, tiap kali ada apa-apa, dia selalu cerita ke gue…’

“Kang, aku kemarin sore main ke kosnya Nova.’ katanya lewat terlfon, ‘Ibu kosnya, masak Allah.., perhitungan banget loh!’ itonasi suaranya mulai melambung.

Mendapati cerita yang seru dan punya ‘nilai jual’ untuk di tulis, gue pun langsung nyerocos penuh antusias, “Perhitungan piye loh, Ndol?” sekali lagi, Ndol adalah nama panggilan dari sebutan Bendol untuk Inu yang biasanya gue pakek untuk manggil dia.

Cerita itu pun akhirnya di mulai…, “Mosok toh kang, baru aeh aku nyalain leptop buat ngetik makalah. Terus ibu kosnya nyamperin dan bilang, ‘Mas Nova, ini nanti temennya yang baru datang, kan nambah leptop toh. Berarti bayarnya dobel loh. Jadi nambah lagi 30 ribu.’

Gue pun masih gak percaya di zaman penuh empati kayak gini masih ada orang yang kayak barusan. “Lha tenan opo piye, kang?”.

“Demi, allah kang.’ dia pun mencoba meyakinkan gue dengan menyebut nama Tuhan, “Besok-besok, wes moh tenan aku kalo di ajakin kelompok kan lagi di kosnya.’

Kali ini gue percaya, karena dia seorang cowok moderat yang taat beribadah, gak mungkin tuhan di jadikan tameng untuk mengelabui gue.

Gue pun mencoba memberi petuah bijaksana.

“Yowes seng sabar kang. Anggap wae infaq, biar jadi pahala, iya toh?

Tapi petuah gue mental sewaktu kalimat ampuh tercetus dari mulutnya.

“INFAQ GUNDOLMU SUU. Infak kok ngasihnya ke orang yang berada,’ saat itulah gue ketawa pringas-pringis ngebayangin bibirnya Inu yang monyong saat intonasi suaranya meninggi. Ah, kadang kalo kita lebih bijaksana, masalah memang punya sisi lain yang bisa di tertawakan untuk bisa dinikmati.

Atas pengalaman dari Inu ini, gue jadikan modal untuk berburu rumah ke dua (baca: ngekos) untuk adek gue si Kati. Sekali lagi, Kati adalah nama lain sebutan untuk adek gue, Sandra. Sebelum berangkat mencari kos seminggu yang lalu, gue pun memasang daftar urut kriteria calon kos-kos’san yang manusiawi untuk ukuran bocah yang pernah dibesaran di kampung halaman. Gue bersama kakak pertama, sebut saja Jumani. Memutuskan budget untuk sewa kos tiap bulanya..

Batas garis atas 300 ribu/bulan

Karena keluarga kami bukan ‘golongan’ macam Budhe Ayin, yang mampu beli kamar ‘kos-kosan’ ditengah-tengah lingkungan napi dengan perabotan macam kulkas dan AC, beserta tempat nyalon di dalam lapas dengan duwit yang entah berantah asalnya. Kami pun memilih untuk apa adanya. Melalui musyawarah yang singkat, padat dan pendek. Kami memutuskan untuk mencari kamar kos yang punya halaman gede, plus ada pohon yang tumbuh subur, supaya udaranya sejuk..

Perburuan pun dimulai…,

Pagi-pagi sekitaran jam 7-an, kami ngacir dari rumah kontrakan ke Unesa yang berlokasi di lidah wetan sana. Dengan memakai amplikasi canggih waze, yang ada di ponsel gue. Akhirnya kami bisa mencari jalan terbososan supaya cepet nyampek. Setelah beberapa kali motor gue melewati jalan-jalan sempit, dibekas lokalisasi doli. Akhirnya kami nyampek di jalan besar, HR. Muhamad. Saat waktu terus bergerak maju, puluhan menit kemudian, kami dihadapkan pada sebuah gang gede: lidah wetan gang 07. 

Motor kami merambat pelan sepajang gang. Setelah belok kanan, lokasi kos pertama dua lantai dengan pagar kayak di nusa kambangan, memancing perhatian kami. Gue pun, berhenti di depan kos tersebut. Di pagar besinya, ada kertas ukuran gede yang di laminating berbunyi “Sewa Kos Putri’. Iyap, itu berarti kamarnya masih ada yang kosong. Gue pun tertarik untuk melihat-lihatnya. Mata gue menyapu halaman dalam, isinya penuh oleh kedaraan penghuni kost..

Iseng-iseng, Mas Jum, tanya sama seseorang yang berada di sebelah kami, yang lagi nyapu jalan,

“Bu-bu. Nuhun Sewu ya. Ibu yang punya kos ini?” tanya mas Jum seperti mas-mas jawa kebanyakan. Medok.

Ibu Penyapu ini, menghentikan aktivitasnya. Lalu badan’nya tegak berdiri. “Oh, bukan Mas. Saya tetangga sini loh. Tuh rumah saya yang bercat putih,’ jawabnya sambil nunjuk sebuah rumah yang di maskud.

“Kalo kos di sini, biayanya berapaan ya, Bu?” Mas jum mengorek keterangan sambil senyum-senyum.

“Wah, lumayan mahal Mas. Kalo yang ini kena 500ribu/bulan.”

Gue geleng-geleng kepala. Lalu kami bergegas pergi, dan gue mengucap pamit, layaknya budaya jawa yang gue punya, “Monggo, Bu?” Dengan aksen jawa penuh cengkok dangdut, ibu-ibu penyapu membalas dengan senyum yang ndak kalah sumringah dari pada Mas Jum, “Oh, enggeh, Mas. Mongghuo’. Kos persinggahan pertama pun, kami coret dari daftar pencarian. Gue tahu, dari biaya emang standarnya sampai segitu. Tapi dengan kriteria yang kami punya.

Gue mau ngebukti’in kalo di kota gede macam Surabaya ini, masih ada orang ramah di segala aspek, plus nyewain kos-kosan yang menyediakan halaman depan yang gak sekedar buat parkir doang. Mungkin ada yang punya pertanya’an kayak gini: ‘Kayaknya mustahil ya?. Buat gue, gak ada yang mustahil selama gue masih bernyawa. Di dalam diri gue punya keyakinan kuat. Nyari aja terus, urusan hasil biar Gusti Allah yang ngasih.

Sesaat keluar dari gang kos pertama barusan. Motor metik tua gue berjalan pelan. Sepanjang jalan, entah di gang berapa, panorama kiri dan kanan jalan, ada banyak sekali pagar rumah yang ngasih pengunguman lewat kertas berbunyi, “Menerima Kos Putri’. Ada banyak, ada yang khusus tempat kos dengan tipe dua lantai. Ada juga sebuah rumah yang sebagian kamarnya di sewakan. Kami pun berhenti di depan pada sebuah kos dengan pagar besi yang menjulang tinggi. Setela selesai gue intip ke dalam, lahan parkirnya menyatu dengan tempat masak: pawon.

Lalu kami pun terus berpindah.

Setelah sekian lama mencari. Sekian banyak kami berpindah dari gang yang satu ke yang lain. Entah sudah berapa banyak kos-kos yang sudah kami lewati dan kami melengos begitu saja. Beberapa di antara masih sama dengan model kebanyakan. Ada satu tempat yang membuat kami tertarik pada ujung gang di seberang sana. Setelah kami periksa, halaman depan’nya masih penuh lahan kosong. Dan mungkin ini alasan yang tepat untuk di cancel, setelah di sebelahnya ada pintu masuk pemakaman umum. Horor.

Begitu kami putar balik, pada sebuah perempatan kanan jalan. Aha, gue dapet feeling yang pas, ketika mata gue menyapa lahan parkir yang luas, beserta beberapa pot bunga yang hijau tertata rapi di depan halaman. Saat gue cek pagar depannya, tulisan yang sama seperti kebanyakan masih tertempel: “Menerima Kos Putri’. Gue pun bergegas bertanya-tanya, pada seseorang penjaga toko kelontong yang kebetulan berada di satu lokasi yang sama. Mungkin pemiliknya.

Ibu penjaga toko itu menjawab, “Masih kosong dua kamar Mas. Lho kok adek’nya gak di ajak mas?” ibu-ibu ini mencoba memberi keterangan.

“Anaknya masih di rumah Bu. Masih nunggu ijazahnya keluar. Akhir Agustus ini baru mau balik.’ jawab gue.

“OH…..,’ kepala mantuk-mantuk kayak burung Beo. “Disini murah kok Mas, per bulan hanya 400.” ucapnya sudah memberi harga sebelum kami bertanya.

Gue pun memuji, “Halamannya luas ya Bu. Asri pisan. Jarang-jarang ada yang seperti ini.”

“Oh, iya Mas pasti. Tapi anak-anak yang kos di sini, setelah habis satu semester banyakan yang pindah Mas. Padahal di sini tuh murah loh mas dari pada yang lain. Paling kalo nambah mejikom, bayar 35 ribu Mas. Terus, kalo bawa leptop bayar lagi 35 ribu. Belum kipas, dan lain’nya. Pokoknya nambah apa gitu, ya harus bayar lah mas.”

Gue menelan ludah. Dalam hati gue ngomong, ‘PANTES ANAK KOSNYA PADA BUYAR!’

“Masnya, mau pilih kamar di lantai satu apa dua?” ibu ini menawari pilihan.

Mas Jum mengeluarkan kalimat penolakan yang halus. ‘Oh, bentar ya bu. Kami simpen aja dulu nomernya. Nanti kalo adek saya tertarik saya hubungi lagi besok.’ buat yang pernah ngalamin gimana rasanya berburu kos, beginilah cara kami menolak dengan cara yang halus.

Setelah gue mencatat nomer henfon untuk sekedar basa-basi. Kami berpamitan. Gue jadi ngebayangin, jika hal ini di alami oleh Sahrini sewaktu dia awal-awal merantau ke Jakarta, yang doyan dandan makek hair-dryer habis mandi. Mungkin shok berat, ketemu calon ibu kos kayak barusan. Terus dia bakal ngeluarin singgle baru: ‘Mundur-Mundur-Kabur’. Tapi ada satu hal yang gue tahu dari kejadian ini. Dongeng dari Inu, tentang ibu kos yang suka ngelindes dompet anak kos ternyata benar-benar ada. Barusan fakta itu ada di depan mata dan kepala gue. Bener, orang seperti itu gak hanya ada di satu tempat.

Seperti seorang Journalist yang memburu sumber berita. Semangat gue untuk mencari rumah ke dua pun semakin hebat. Saat hari semakin terang, dan sinar matahari mulai terik. Kami pun berniat nyamperin warung sederhana, di ujung gang sana. Sekitar lima meter sebelum kami tiba di warung tersebut, ternyata ada kos putri yang masih kosong. Gue pun cuma lihat-lihat doang dengan kepala yang celingukan penuh mencurigakan.

Baru saja kami berhenti di pinggir warung. Seorang Bapak Berkumis Tipis, dengan rambut yang mulai tumbuh uban, menyapa kami dengan senyum, “Kelihatan’nya lagi nyari kosan ya, Mas?”

Setelah gue buka helm. Gue jawab, “Iya Pak. Tadi sudah muter-muter, ya tapi belum ada yang cocok Pak. Biasa lah Pak, buat cewek, jadi nyari yang cocok.’

“Hayo masuk sini dulu.’ kami pun berjalan masuk ke warung. ‘Mau minum apa?” tuh bapak menawari.

“Es jeruk aja deh, Pak. Dua,’ saut Mas Jum.

“Ibu, es jeruk dingin dua ya?” pesannya kepada mbok-mbok pemilik warung.

Tanpa basa-basi lagi, bapak ini tahu maksud kami.

“Oh, mau nyari kos buat adek’nya ya, Mas?’

‘Enggeh Pak.’ gue mengangguk.

“Kamar kos bapak masih banyak yang kosong. Cukup 300/bulan aja mas. Nanti listrik, air, semuanya yang bayar bapak saja. Rumahnya sampean mana toh, asli Surabaya?.’ katanya memberi penjelasan.

Kami pun larut dalam obrolan di dalam warung ini. Gue menangkap, bapak Berkumis Tipis ini sangat baik, meski pun baru saja bertemu pertama kali. Layaknya seseorang yang sudah akrab, gue ngejelasin asal daerah gue, yang memang bukan lahir di kota ini. “Trenggalek-Panggul’. Beberapa ceritanya, salah satu anak kosnya juga ada seorang mahasiswa dari daerah yang sama dengan gue. Setelah ngobrol seputar dunia perantauan dari sumber yang tepat, akhirnya pada suatu kesempatan bapak berkumis ini bilang, “Lihat saja dulu, kosnya bapak. Itu, yang kamu lirik tadi kosnya, barang kali cocok?”

Gue pun meninggalkan warung.

Saat kaki mengayun pelan sampai di depan rumahnya. Dan melihat-lihat, apa yang ada di dalam sana. Kamar kosnya di lantai dua, sementara lantai bawah digunakan sebagai tempat tinggal. Tempat parkir pun, bergabung dengan ruang tamu. Gue kurang srek, karena terlalu sempit untuk di tinggali dalam waktu yang lumayan lama. Sehari, dua hari, masih mending. Tapi saat hari sibuk tiba, saat semua anak kos lalu lalang keluar masuk, akan terasa membosankan karena terbatasnya ruang untuk bergerak. Beginilah cara kami mengasah empati.

Seperti yang sudah-sudah, kami pun berpamitan, karena kami punya dua alasan. Pertama alasan lingkungan yang gak aman, karena sering terjadi kemalingan motor. Ke dua, udah gak suka aja sama tuh parkiran. Sempit. Yah, meski pun Bapak kosnya kelihatan baik banget, dan gak suka nginjek leher anak kos semaunya, membuat gue trenyuh juga. Andai saja tuh Bapak punya anak perempuan cakep mirip Rose Dowsen, gue rela di angkat jadi menantunya (Tolong Pak Penghulu.., Tolong).

Karena tenaga sudah kembang kempis. Dan panas mulai menghilangkan kerumanan sekelompok bocah kejar-kejaran di sepanjang gang. Ada yang harus di akhiri pencarian ini. Siang itu, kami putuskan untuk break dan di lanjutkan esok harinya. Motor pun, mencoba masuk di gang baru yang belum pernah kami lewati. Beberapa deret rumah pribadi yang di komersialkan sebagai tempat kos pun kami lalui begitu saja.

Baru sampai tengah-tengah jalan, ada yang menarik perhatian gue. Sebuah tempat khusus kamar kos. Yang di lindungi oleh pagar besi, lalu di atasnya tertata rapi kawat berduri yang memanjang dari ujung barat sampai ujung timur: dekat pintu masuk. Gue berhenti, lalu mengintip ke dalam. Astaga.., istimewa, halaman di dalamnya luas banget. Beberapa petak area pun terpisah. Ada yang khusus tempat parkiran, ada yang khusus untuk tempat buat nongkrong di bawah pohon mangga.

Nah, ini yang gue cari!.

Buru-buru gue telfon tuh nomer. Baru satu kali nada sambung, di seberang sana terdengar suara serak seorang Ibu pemilik kos ini, “Hallo…, hallo.., saya mau mencari kos Bu untuk adik saya.”

“Iyah, hallo, Mas.’ Ibu itu menjawab, ‘Wah, kebetulan masih ada. Dan tinggal satu kamar yang masih kosong.’

Gue pun langsung menanyakan alamat Ibu kos ini untuk langsung bertanya-tanya keadaan kosnya. Sekitar limas belas menit kemudian, Ibu suara serak ini pun, menghampiri kami di depan kosnya. Dari arah pintu masuk gang, seorang perempuan memakai kerudung abu-abu tua mendekat, ‘Ini masnya yang telfon barusan ya?’ ucapnya sambil mengajak berjabat tangan.

Gue pun menjabatnya dengan erat, ‘Oh, iya bu. Bener, saya orangnya.’

‘Monggo, masuk mas. Sampean lihat-lihat aja dulu. Kosnya ya seperti ini loh. Ndak bagus-bagus banget?” ucapnya sambil mulai menerangkan keadaan kosnya.

“Enggeh Bu,’ gue mengucap salam, ‘Wah, ini lebih bagus lagi bu dari lain’nya.’ gue mulai bilang apa adanya.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Lalu kami ngobrol banyak. Ibu itu ngejelasin kalo di komplek kosnya yang dua lantai dengan sembilan kamar itu, belum pernah ada kejadian apa-apa. Aman. Suaranya yang kalem mengingatkan gue sama simbok di kampung halaman sana. Setelah gue dan mas Jum di persilahkan masuk, kamarnya luas banget, ada 4 x 5 meter persegi. Duh gusti.., beruntung banget. Di dalamnya sudah ada lemari pakaian yang masih bagus. Dan sebuah mejikom yang terletak di atas meja.

“Pakai aja nanti, bilangin ke adeknya, gak apa-apa, Mas. Terserah Masnya, nanti mau nambahin uang berapa?’

Alis gue naik. Pipi gue mulai mengembang. “Oh, enggeh bu. Enggeh. Oiya, per bulannya berapa nggeh bu?’

“180 ribu. Masnya keberatan ndak?.’

Gue manggut-manggut setuju. Seketika itu, kami pun langsung membayarnya kontan selama satu semester. Di saat kami menghitung duwit untuk mengecek jumlahnya supaya pas. Mendadak Ibu Kerudung Abu-abu ini, ngasih pilihan lagi, “Mau bayar sebulan aja dulu juga gak apa-apa kok mas.’ Setelah uang terasa genap. Gue menyerahkan tuh duwit, pindah ke tangannya. Kami membayarnya lunas. Mata gue berbinar, mulai berembun. Gue terharu dengan jiwa keramahanya. Pada saat itu juga, gue mau bilang kalimat ini benar-benar ampuh, “Saat keyakinan di pegang kuat-kuat untuk sebuah spiritual, gue percaya Yang Maha Kuasa itu hadir.’

#PituturJowo

#PituturJowo

Iklan

20 thoughts on “Kejutan dari Mempertahankan Sebuah Keyakinan

  1. Yukina Hawmie berkata:

    jadi ingat pengalaman sendiri setelah ‘dilabrak’ sama bapak kos gara-gara make magic com (padahal cuman dua hari makenya, dan kalo mau dibalas hitung-hitungan, itu kamar kos cuman saya tinggalin selama dua minggu dan saya bayarnya satu bulan iiih). kayaknya sih si bapak kos masuk ke dalam kamar kos. sialnya, saat itu pas magic com lagi nancap di listrik. jadinya bayar listrik lagi deh :)))

  2. Gara berkata:

    Maaas itu kosannya kok murah banget, kalau di Jakarta dengan kondisi kos bagus seperti itu mungkin harganya sudah setinggi langit… but thanks for sharing, saya jadi belajar banyak tentang kegigihan mencari kosan (tak boleh menyerah karena itu ujian Tuhan untuk masa depan rumah tinggal yang lebih baik), terus belajar dari ibu kos “culas”, jangan terlalu banyak perhitungan kalau soal kosan… bagaimanapun memberi atap bagi banyak orang pahalanya besar sekali, jadi sebisa mungkin jangan terlalu perhitungan ya… aaaak kepengin banget dapat kosan dengan harga dan suasana seperti itu :huhu.

  3. Desywe berkata:

    Aaaaaa enak banget 180 ada magic com-nya. Enak banget juga nambah bayar nggak dipas. Aku baru aja 3 mingguan jadi anak kost di Pasuruan. Bayarnya 150, murah sih, kamarnya juga luas kok, tapi… kamarnya bekas ruang tamu yg sebelahnya pas garasi mobil! Udah tvnya hitam putih, nggak ada dapurnya, eh tiap bawa alat elektronik harus nambah 20rb. Melas sekali hidupku, padahal temenku kerja ada yg dapet kost sebulan cuma 100, itu udah ada tvnya berwarna, dapur (yg tiap masak perbulan tambah 5rb) terus disiapin satu kulkas buat penghuni kost disitu dan tiap bawa barang elektronik nambahnya 10rb. Ah, tapi sudahlah. Mungkin ini jalanku, jalani aja dulu. Nanti kalau di kostnya temenku udah ada kamar kosong, secepat kilat aku akan pindah, hehe.

    • Bang Cup(uh) berkata:

      Waahh, di pasuruaaan yaaa, bukane kos di daerah situh murah muraaah. Hehehee. Syukuro aja dulu. Entar pindah aja kalo gak betaah.

      Ibu kos macam begitu gak cuma di satu tempat. Tapi banyak.hehehe.

      Matur nuhun, sudah nyimak motedcupu.com

  4. kekekenanga berkata:

    Hmm seumur hidup belum penah ngerasain muter2 nyari kos-kosan.
    Iyalah kan nggak pernah boleh ngekos, padahal jarak rumah ke kantor ajah harus pake pesawat jett *baca Planet Bekasi – Kota Jakarta*

    Emng ngeselin sih yah sama Ibu/Bapak kost yang kayanya nggak tau kondisi dompet mahasiswa yang tiap malem makan pop mie, paginya sarapan promag. Masih ajah ada tambahan2 biaya hufftttt..

    Kebayang bgt tiap ditagih, ngasihnya sambil manyun gtu hahhaa

    • Bang Cup(uh) berkata:

      Sebenernya gue tahu, kalo kamu itu, Ma…. (gak jadi dehhhhh). Wek. Tuh, bekasi mana ya?. Apanya Zimbawe, Put?. Hahaha. Gile. Ngantor pakek jet. Gue aja jalan kaki. Nebeng donggg.

      Gak ngekos, tapi komen yang bawah dalem banget. Kayak pernah ngalaamin. Gini nih, kalo jdi tempat curhat. Pasti tahu. Yaa kan?. Hahahaa

  5. Efenerr berkata:

    Salam kenal mas.

    Jadi ingat pas jaman kuliah dulu, cari kos yang semurah mungkin karena nda punya cukup uang. Btw cari kos kaya cari jodoh, kudu nemu yang pas.

Monggo pinarak?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s