Misi Rahasia di Atas Secangkir Kopi

#BloggerBahasaJawa

#BloggerBahasaJawa

Pada hari minggu kemarin gue mengalami terapi sakit jiwa. Tidak bisa mengelak, kota bisa jadi penjara untuk manusia. Makanya, gue setuju kalo ada yang bilang, ‘Kota adalah penjara untuk pikiran dan hati, larilah ke gunung untuk sebuah pembebasan.’ Jika di selami lebih dalam, sebenarnya artinya lebih luas. Gak terbatas ke gunung, bisa ke alam terbuka, bisa sawah, bisa juga ke pantai. Iyah, gue tahu, dalam prosesnya kita jadi Musafir. Setiap perpindahan kecil itu, bisa di sebut hijrah. Hijrah keluar kota mencari apa yang perlu di butuhkan.

Hari sabtu dini hari kemarin, gue hijrah dari Surabaya pindah ke Sudarjo bagian ujung. Rute petanya panjang, masuk terus sampai melewati jembatan di atas toll mengarah ke kota Malang. Gue di depan sebagai sopir, setelah, melewati gapuro gede ucapan selamat datang, kami melewati jalanan aspal yang berlubang. Pada sebuah ujung gang buntu, kami berhenti. Sampai juga kita pada sebuah desa di pinggir sawah (emboh opo desone, lali Dus). Iyap, di desa itu Inu membawa gue main ke rumah Pak Leknya.

Setelah kita baru masuk rumah, terus melewati tangga untuk naik ke lantai dua, Inu bilang dengan enteng, “Suroboyo ki latarku loh, Su. Hem.., ‘ bibirnya monyong, ‘Makanya kita gak nyasar?’ katanya sambil menoleh ke arah gue.

Gue malah balik tanya. “Lha seng jadi sopir mau sopo, jajale? Lambemu kok sokor nyangkem, toh Kang?’

“Ora, kang. Ora. Damai wes. Daamaai’ Inu pegang kaki gue. “Engko tak pijeti sikelmu yo kang?.’ dia merayu kayak mas-mas over dosis korban pil viagra. Lalu melanjutkan, “Neng gantian limang mentian waeh. Okeh?’

Gue mundur, agak sewot gue jawab, “Ndassssmu, kuwi!’ lalu gue berlalu masuk ke dalam kamar mandi.

Setelah saling tidak bertemu habis lebaran kemarin, jam dua dini hari, kelar sembahyang isyak gue ngobrol panjang dengan tuh bocah moderat yang mejelma menjadi orang biasa. Di ruang kayak mushola lantai dua itu, kami tiduran di atas sajadah. Kita ngebahas tentang acara besok, yang akan main ke kantor TVRI. Enggak-nggak, jangan salah sangka dulu. Kami ke sana, gak maen goyang ‘cuci-cuci-jemur-jemur’. Tapi ada urusan untuk datang di acara pengajian’nya Emha ainun najib, dan Kiai Kanjeng.

Begitu kami selesai ngebahas tentang misi ‘rahasia’ ke esokan harinya. Inu mulutnya menguap lebar kayak kuda nil nelen maskara (iyah, walau pun gue juga belum pernah melihat Kuda nil keracunan maskara). “Huaaah, ngantuk Kang. Aku turu sheek yoh?”

“Huh, payah kowe iki, Nu. Bencong taman lawang aeh pulang subuh. Mosok jam segini mau merem?” gue membuang muka, menghadap ke tembok.

Dia gak ngejawab apa-apa. Gye tengok, mukanya sudah tertutup oleh pecih dengan corak putih tulang, dan atasnya warna merah yang melingkar segede telor ceplok. Jika ada orang yang jarang melihat pecih jenis ini, mungkin dia sudah di anggap habis menerima hibah topi sinderklas, yang di potong atasnya. Beberapa menit kemudian, dengkuran suaranya sudah menusuk sepasang telinga gue. “Errrkk.., ngokk…, ngokk..’ Sebenarnya pengen gue kentutin nih bocah, tapi gue takut kuwalat kena azab ilahi.

Saat pagi datang.

Saat kesunyian malam berubah mejadi rame. Saat suadara-saudara’nya hendak berangkat piknik ke Malang dan Batu. Kami bergegas menyiapkan berbagai macam barang-barang, mungkin oleh-oleh, yang akan di bawa ke sana. Setelah mobil dan seorang sopir datang di depan rumah. Beberapa barang bawa’an itu, kami masuk kan ke bagasi mobil bagian belakang. Setelah semuanya pergi, keadaan rumah kembali sunyi dan sepi seperti malam hari.

Sepagi itu, saat embun belum mengering di pucuk daun padi. Gue menabrak pakem. Maksudnya, gue yang biasanya jarang minum kopi di pagi hari, dengan suka rela, gue menerima tawaran buat ngopi bareng. Kami pun akhirnya membagi tugas, Inu yang ngaduk kopi di dapur. Gue yang ngambil salon ‘simbada’ dari lantai dua ke, bawah. Setelah semuanya beres, kopi sudah siap, dan salon sudah berteman dengan mesin ketik. Kami memulai membuka berkas lama di masa lalu. File-file rekaman-rekaman vidio di zaman dulu di buka. Iyah, kami riset kecil-kecilan.

Di ruang tengah itu, kami duduk bareng, nyimak hal-hal baru yang belum kebaca sambil meniup-niup asap kopi yang masih panas.

Tak lama kemudian, ada hembusan angin kemarau yang datang. Ada yang menggerak kan korden jendela depan sampai melambai-lambai melayang ke udara. Seperti sebuah hati yang saling terhubung. Seperti ada isyarat yang datang mengajak duduk berbicara. Benar juga, sebuah janji untuk bertemu dari seorang ‘mas-mas jawa asal yogya’, yang kebetulan di Surabaya, datang ngasih kabar. Kami diem sebentar memandangi pesan undangan, melonggo, lalu membalas janji itu lewat pesan pendek. Astaga.., ini, kesempatan yang langka yang tidak di miliki banyak orang.

“Eh kapan?. Sore waeh, opo mari asyar mampir hotel ‘anu’? Iyoh?’ Tulisnya lewat pesan pendek, bbm.

Kami bahagia ndak karuan.

“Hotel ‘anu’ ngendi toh mas?” Mari asyar yoh?. Yoooh. Okeh. Sore waeh.’

“Iyoh, Pangsoed. Bener Hotel ‘anu’!’ balasnya.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Lalu gue, inu dan ‘mas-mas yogya’ ini, kompak untuk bertemu sore hari. Dalam ceritanya ‘mas-mas yogya’ ini, akrab banget. Persis seperti gaya guyonan-guyonan Bapaknya yang biasanya gue dengar selama ini. ‘Mas Yogya’ ini cerita sekarang lagi selow, tidur-tiduran di kamar hotel di jalan Jendral Sudirman. Seperti angin kemarau yang datang lalu pergi. Suasana santai itu pun, berpindah menjadi penuh kegiatan. Mas-mas yogya ini, ngasih kabar kalo ada acara di Jatim Expo, bedah buku Tjokroamnoto. Kami pun berniat nyamperin ke sana.

Kebetulan, tokoh yang dibedah dalam buku ini, beberapa minggu yang lalu sempat gue telusuri gaya mendidiknya dari berbagai sumber. Iyah lumayan, gue punya bahan semisal bedah buku ini berlangsung dan syukur gue bisa nyambung. Beberapa jam kemudian, gue dan inu merapikan semua perlengkapan tempat file-file dan salon, kembali ke tempat asalnya. Semuanya siap, tas ransel sudah berisi sesuai kebutuhan. Setelah jaket kami sudah melekat di badan, dan motor metik tua gue sudah menyala. Gue ngegas sebagai sopir, inu di belakang. Tapi kali ini Inu gak bilang “Suroboyo latarku’ lagi.

Sekitar tiga puluh menit kami sudah sampai di sana. ‘Mas Yogya’ ngabari kalo sudah ada di sebuah ruang acara. Ketika kami sampai di depan JX pintu masuk, suasana lagi rame oleh Bapak-bapak yang keluar masuk membawa batu akik. Yang ada di Surabaya pasti tahu, di dalam sana sedang ada acara pameran batu akik. Kami bingung dimana acaranya?. Dan pesan pendek masuk lagi, kalo acaranya ada di ruang sebelah, mini audtitorium. Setelah gue sampai sana, bener, di depan meja registrasi sudah rame mas-mas yang pakek peci hitam sedang antri untuk masuk.

Saat mengikuti acara, bedak buku sejarah yang identik dengan materi berat yang berhubungan dengan tanggal, bulan, dan tahun peristiwa, kemarin bisa di kemas dengan cara yang seru. Tahu dari mana? Bisa di lihat dari kacang-kacang goreng di atas piring. Tandanya, kalo cemilan itu masih utuh, berarti para tamu sedang menyimak menikmati. Klise sih, tapi faktannya begitu. Biasanya orang kalo sedang fokus pada apa yang di dengar dan di lihat, mereka bisa berubah menjadi benda hidup yang tidak bergerak. Kecuali bernapas.

Selesai semua ngebahas materi yang ada. Tahu-tahu waktu sudah sore. Gue dan Inu berjalan menunggu di depan pintu masuk. Saat semua tamu undangan selesai foto-foto di atas podium tempat bedah buku, ‘mas-mas yogya ini’ berjalan ke luar. Gue memakai topi dan kaca mata seperti biasanya, sebagai bentuk penyamaran. Inu berada di sebelah gue. Beberapa wartawan menyodorkan alat perekam ke salah satu sumber, tokoh nasional.

Gue mendongak ke arahnya, karena memang badannya tinggi. “Duh wes sore Mas. Mari magrip opo piye toh?’ tanya gue ke ‘mas-mas yogya’.

Terus, ‘Mas-mas Yogya’ ini melangkah masuk ke sebuah mobil jemputan warna hitam, “Lek mari magrip, yo ora nuntut waktune loh.’ matanya tertumbuk pada jam yang ada di lengannya, lalu melanjutkan, ‘Saiki waeh, yo, ndang budal nang hotel ‘anu’. Tak tunggu nek kono?.’

“Yoh, mas. Manut!”

Pintu mobil di bukak separuh, “Yowes tak tunggu. Ndang budal?’

‘Sip-sip, Mas.’ inu dan gue menjawab kompak. Dengan pemandangan rambutnya yang di ikat, kepalanya sedikit mendongak ke luar, tangan’nya melambaikan ke luar.

Dari sini gue mulai bingung, karena belum pernah sama sekali mendengar nama hotel ini di jalan besar yang di maksud. Gue langsung tanya lewat telfon, ke temen gue tentang lokasi hotel ini perisisnya disebelah mana. Iyah, temen gue ini seorang pekerja lapangan bagian penagian, yang bekerja pada sebuah bank yang bekantor di Surabaya kota. Dan gue kira, dia bisa membantu gue yang sedang kebingungan. Tapi.., justru kalimat ini yang tercetus dari mulutnya, “Wah, ngendi kui, ora weroh hotele akuh.’

Kelar sembahyang asyar, kami pun mencari lokasi itu di amplikasi waze yang gue punya. Setelah memasuk’kan alamat yang di tuju, beserta nama hotelnya, astaga. Jawaban yang intinya sama kembali ngegampar mata gue. Kami pun segera bergerak ke alamat yang di tuju. Motor kami membelah jalan tengah kota. Hari semakin senja, kemacetan mulai mengintai jalanan. Setelah meliuk-liuk kan setir kemudi dan belok kanan, akhirnya sampai juga di jalan besar Jendral Soedirman. Motor kami bergerak pelan. Inu betugas menoleh ke kanan. Sementara gue ngecek memeriksa ke kiri jalan.

Hotel ‘Anu’,

Hotel ‘Anu,

Hotel ‘Anu’,

Setelah tiga kali ngomong dalam hati, sampai beberapa kali, masi belum ketemu.

Kami berhenti di depan halte, di sana ada bapak-bapak rombongan petugas keberisihan taman kota yang sedang berdinas. Inu turun dari motor dan maju untuk bertanya. Mereka berhadap-hadapan, saling cuap-cuap. Setelah selesai ngobrol, dan beberapa anggukan kepala untuk bilang, ‘Monggo’, inu balik lagi nyamperin gue, ‘Piye, kang?’ tanya gue,

“Wah, bapaknya, ndak tahu kang. Duh, piye iki?’

‘Yowes melaku meneh waeh, goleki dewe?’

Kami berjalan lagi, dan minggir di seberang jalan. Hal yang sama kami lakukan dalam waktu yang beramaan. Kepala menoleh ke kanan dan ke kiri, kompak. Mungkin kalo ada orang yang melihat, tentang kami senja sore itu di Jalan besar Jendral Soedirman, kami bisa di curigai sedang seorang cowok penyakitan, yang sedang nyari klinik penyembuh kan encok leher. Iyah, walau pun, gue gak tahu seumur-umur belum ada penyakit encok leher. Sekitar sepeluh menit berikutnya, pada suatu post, gue gantian yang tanya sama bapak satpam di pinggir jalan.

“Asallamu’alakum Pak. Permisi mau tanya, hotel ‘Anu’ itu di sebelah mana nggeh Pak?. Dari tadi nyari gak ketemu ini Pak,’

Dari balik jendela post satpam, matanya menatap gue, “Wangalaikum’salam.., Mas. lha itu, di sebelahmu Mas. Tuh yang ada parkiran dengan banyak pohonnya’.

Gue lepas kaca mata. Pandangan gue menyapu pintu masuk hotel tersebut di seberang kanan jalan.

‘Ya ampun Pak,’ gue ngelus dada. “Pantes di cari ndak ketemu. Lha wong gak ada pelakatnya begitu. Duh…, duh.., duh,’ gue geleng-geleng kepala. Lalu gue pamitan.

Tentang kota yang memang sering kali menjadi penjara untuk sebuah pikiran dan hati memang benar adanya. Saat berada pada jalan yang searah yang terbagi dua jalur, gue dan inu baru menyadari telah berada di jalur kiri. Wedus tenan, keribetan belum selesai. Dengan terpaksa kami harus putar balik dan membuang-buang waktu. Bagi yang mengalami situasi seperi ini, waktu sangat berharga dari apa pun. Tapi semangat untuk bertemu dengan ‘mas-mas yogya ini’ jauh lebih tinggi dari pada sebuah keribetan.

Rasa senang mulai datang setelah kami berhasil melewati gerbang pintu masuk hotel yang kami cari. Berutung, sampai di parkiran hotel, cahaya sore belum begitu gelap. Gue memberi tahu sama ‘mas-mas yogya ini’, kalo kami sudah sampai di area parkiran. Rasa bahagia muncul seiring jawaban yang kami terima dengan sempurna, tuh ‘mas-masa yogya’ bilang, “Kowe masuko waeh, tak tunggu nek restoran bawah yoh.?’.  

Karena kami belum pernah kenal keadaan hotel itu, gue tanya sama bapak petugas kebersihan di lapangan parkir, “Restonya di sebelah mana ya, Pak?”

Bapak ini meletak’kan sapunya. “Lha itu, udah kelihatan kursinya. Buka pintunya tinggal masuk kok, Mas.’ katanya ramah, sambil tangan’nya nunjuk ke arah restoran.

Kami menguak pintu restoran hotel itu. Pelan-pelan kaki kami berjalan kompak bergegas masuk ke dalam, menuju pada sebuah meja dengan kursi dua set yang masing kosong. Ndak jauh dari tempat kita duduk, di sebelah kanan sekitar jarak dua meter, ada seorang tokoh hebat yang biasanya kami banggakan, Emha Ninun Najib, beserta dua orang teman’nya duduk dalam satu lingkaran meja.

Gue mengucap salam, dan berjabat, tangan, “Mas, ya allah, ora weroh gone aku. Mau muter-muter peng pindo, sampek takok uwong barang!.’ lalu gue duduk berhadap-hadapan dengan mas ini.

Inu juga bilang, “Iyoh, Mas. Ndak tahu tempate, lha ora enek pelakate kok, he-he-he,’ katanya lalu duduk di sebelah ‘mas-mas yogya ini’.

“Yooooh, podo. Opo meneh akuh.’ balasnya, “Yowes podo lingguh kono kabeh. Pesen kopi opo kowe?. Iki mangane pisan sekalian, nyoh?’ katanya, lalu menyodorkan sebuah buku menu yang lumayan tebal. Gue membuka buku menunya, di dalam sana tersusun rapi daftar makanan yang lumayan banyak. Tapi keadaan perut belum begitu tenang karena efek was-was di jalanan barusan. Dengan sebab nafsu makan yang keburu pergi, gue memesan menu seadanya.

“Kopi shek waeh mas, Sab,’ Balas gue.

Gue melemparkan buku menu itu, pindah ke tangan inu. Dia hanya meletak’kan begitu saja, ‘Podo, kopi waeh aku tunggalan, Mas Sab,’

Wajah kami sumringah.

Mungkin ini keajaiban kecil yang terjadi setelah kepercayaan naik satu peringkat ketika di amalkan. Pintu-pintu lain terbuka dengan sendirinya, tanpa sempat kita duga dari mana asalnya.

Saat kopi sudah datang di atas sebuah meja, obrolan pun di mulai mengalir. Gue dan Inu, oleh ‘mas-mas yogya ini’ yang punya nama lengkap ‘Sabrang Mowo Damar Panuluh’ atau yang punya nama keren lain di sepasang telinga banyak masyarakat, ‘Noe Letto.’ Iyah, kami di kasih PR untuk sebuah misi yang panjang untuk Maiyah. Sepanjang kopi senja yang mulai berpindah dari panas ke dingin di antara hembusan udara kosong, di dalam ruang yang sunyi. Semakin larut ke dalam, pembahasan semakin serius dan menancing penasaran.

Dan kamu yang baca, pasti penasaran juga?. Iyo ora?.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Iklan

6 thoughts on “Misi Rahasia di Atas Secangkir Kopi

    • Bang Cup(uh) berkata:

      Udahhh tahu panjang, kenapaaa masih di bacaaaaaaaaa?. Hayooo.

      Tadinya mau nulis pendek, tapi takutnya kurang lengkap. Takut jeleekkk.

      Kamu aus?.
      Ya udah, abang beli galon dulu yaah.

Monggo pinarak?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s