Misi Perjalanan Tanpa Protokol

#Unen-Unen #bloggerjawa

#Unen-Unen
#bloggerjawa

Kita bisa menjelma menjadi singkong yang kalo di olah, wujudnya bisa menjadi makanan jenis apa saja. Setiap kali apa yang kita bahas, tak pernah ada habisnya. Dari satu topik, pindak ke topik lain, mengalir tanpa pernah ada protokoler. Iyah, begitulah esensi dari sebuah pertemanan, kekerabatan yang kompak bisa menghasilkan sebuah pembahasan panjang, yang gak pernah ada puas-puasnya untuk di ceritakan.

Saat mau kumpul, kita pun tanpa ada rencana.

Hari jumat sore kemarin, sebuah kabar pesan singkat nyamber di bbm gue. Setelah membuka kunci, dan mengecek pesan. Di dalam sana, berisi sebaris kalimat yang mampu membuat mata gue berbinar. “Kang, besok senin aku wawancara kerja di Sby, di Jalan Ambengan. Kowe weroh jalan iki ora?”. Oiya, sampai sini mungkin ada yang mengira tuh sms datang dari cewek. Tapi di lihat dari kata, “Kang’ berti pengirimnya cowok.

Bener, pengirimnya adalah wasyu Pido dari Malang sana. Setelah beberapa bulan dia kelar menyelesaikan study keperawatanya di Universitas Brawijaya, sekarang sudah saatnya dia menempuh hidup baru (maksudnya bukan nikah mudah nyet). Bertanggung jawab penuh dengan dirinya sendiri, dan keluarganya di desa sana. Gue hanya bisa membantu apa yang bisa gue berikan. “Weroh banget, gampang-gampang. Suroboyo ki latarku loh, Su,” balas gue, kayak kena pengaruh nyangkem’nya Inu.

Pada suatu senja, sebelum datangnya gelap malam. Gue ngobrol dengan’nya lewat pesan pendek. Begitu ngobrol penuh pecicilan, akhirnya kami pun membuat keputusan konyol. Mengingat besok Sabtu paginya, Inu persiapan wisuda dari kampusnya di IAIN – Tulung Agung. Keputusan pertama: 1). Kami punya niatan memberi kejutan buat nongol di wisudanya Inu. Keputusan ke dua: 2). “Shek,-shek, kang tak pikire yoh?.” kalimat ini yang tercetus dari mulutnya Pido yang berbau ambigu.

Sekitar dua jam berlalu.

Adzan isyak berkumadang dari toak belakang rumah.

Sebuah pesan pendek masuk lagi dari orang yang sama. “Okeh.., kang, aku budal ke Surabaya sekarang loh. Besok paginya kita berangkat ke Tulung Agung.”

Gayung bersambut jamban. Gue pun hanya bisa memberi tawaran. “Gak mau naik kereto opo? Nanti gue jemput nek stasiun gubeng, Kang.”

“Gak-gak. Gak usah. Aku butuh motor buwat besok senin. Nanti jemput aku di depan Royall yoh?’

Sebenarnya sudah sering kami merencanakan ke berbagai tempat buat pergi rame-rame, tapi niat itu, tinggal niat yang di kunyah tanpa di telan. Gak pernah ada, kata pelaksanaan. Tapi kali ini beda banget. Memang, sebuah pertemanan bisa afdol ketika nge-jadwalin acara dadakan tapi bisa berjalan bareng-bareng. Dari sini, bisa di lihat, seberapa kuat kebersamaan itu di ciptakan. Iyah, karena ini misi kejutan, gue dan Pido pun, gak ngasih kabar kalo mau datang ke acara wisudanya.

Perjalanan pun di mulai.

Jam 10 malam, pido ngasih kabar kalo sudah sampai di depan mall royal plaza. Karena besok sore hendak balik lagi, gue hanya menyiapkan beberapa helai baju dan kancut. Kelar mindahin barang-barang bawa’an ke tas ransel tua gue, buru-buru gue nyamperin Pido yang udah nunggu sampek ngoyot. Sepanjang jalan dari rumah kontrakan, gue ngegas kencen-kenceng. Iyah, gue kasihan aja, kalo sampai Pido nunggu terus keluar jenggotnya. Gak lama, hanya butuh lima belas menit gue sampai di sana.

Di depan royal plaza, seorang anak muda memakai peci hitam ala cak nun, sedang nge-gembel di emperan jalan. Di atas motornya udah penuh dengan beberapa tas padat berisi pakaian. Di stang kemudi sebelah kiri, meng-gantung tas kamera, sepulang dari tugas di Jakarta beberapa hari yang lalu. Wajahnya berpeluh keringat, sinar lampu jalanan yang menyapa dahinya membuat keningnya berkaca-kaca, hem…, ada yang trenyuh dalam dada gue. Satu tawaran riang, tercetus dari mulut gue. “Kluwen toh, Suuuuu?”

“Ho’oh. Kang. Kluwen pol banget. Uurung mangan mau dari Malang?.”

“Yowes kita berangkat ke warung langganan ku yoh, jangan malam-malam entar malah ndak dapet kunci. Bisa remuk kita!.’

Sewaktu jalan, gue pun menuntun tuh anak dari depan. Perjalanan itu pun berujung pada sebua warung makan. Gak mewah-mewah banget kok, sampai di keputih, warung langganan sambel ulek gue sudah tutup. Entah sejak dari jam berapa, gue kurang tahu. Pilihan ke dua pun jatuh pada masakan yang sama, dengan prestasi sambal paling cemen. Di warung inilah kami mengisi perut untuk energi besok harinya. Rencananya memang kami harus berangkat subuh.

Sebagai cowok yang perutnya buncit, gue pun hanya habis satu porsi. Pido yang lapernya kayak mas-mas tukang ledeng, habis dua piring nasi putih. Untuk urusan makan, dia emang jago, mungkin kalo ada alat medis yang lebih canggih lagi, barang kali setelah di teliti, ususnya panjang sampek jempol kaki (ampun Syuu, aku ojo di sutik). Gak kerasa, selesai makan dan di susul beberapa obrolan ringan, membuat waktu semakin gelap. Ujung-ujungnya, kami pun sampai rumah sekitar jam 11 malam.

Bencana dimulai dari sini.

Yang Maha Kuasa emang maha jaim. Ngerti aja, kalo gue doyan nulis, makanya di kasih jalan cerita yang ruwet. Ya Tuhan, sampai depan pintu, gue gedor-gedor sebanyak tiga kali, tetap sepi, gak ada yang bangun. Pak lek dan Bu Lek sudah molor di kamarnya. Tahu dari mana? Iyah, gue ngintip dari lubang kunci (wah, dasar hobi tukang ngintip kowe bang? Ora urus). Pemandangan di dalam rumah gelap gulita. Harapan kami untuk numpang istirahat di lantai dua rumah Pak Lek kian redup di telan malam.

Gue dan Pido pun melakukan beberapa jenis usaha. “Pak Loek, TOLONG BUKAKNO PINTUNE.’ teriak gue sambil meninju pintu, ‘Duaaaar-Duuuuaaaar-Duuuaaaar’. Setelah satu kali,

Dua kali,

Tiga kali.

Hasilnya masih tetap sama.

Gak ada jawaban. Kami pun melakukan cara lain. Gue mulai mikir lagi, mustahil banget kan, mengharapkan hasil yang lebih dengan cara yang sama. Aha, ide berikutnya di jalankan, gue miskol tuh nomernya Pak Lek, setelah satu menit, terdengar bunyi deringan telfon dari dalam sana. Kabar baiknya telfon itu bunyi keras. Kabar gak enaknya, telfon itu tergeletak di atas kulkas. Bangke banget bisa di dengar oleh orang yang tertidur di dalam ruangan yang kedap udara. Wedus tenan, gue mulai lemes.

“Piye kang. Koyoke kita bakal tidur di emperan iki?’ tanya gue ke pido, terus duduk ngelesot di depan pintu.

Pido yang duduk dia atas motor menjawab, “Coba lanjut terus aja di miskol kang. Terus gedor lagi yang kenceng!” jawabnya, lalu matanya berkedip-kedip kayak jablai kegatelan.

Sekarang gue mencoba cara baru. Jendela di atas pintu, gue buka, terus gue teriak kenceng sama kayak tadi “Pak Loekkk Laawange bukak’no,’ teriakan itu berulang kali gue cetuskan dengan napas ngos-ngosan, namun, semakin sering, semakin gak ada hasil bagaikan lolongan tupai di tengah hutan rimba. Suara teriakan gue musnah di telan kegelapan malam. Entah ada angin apa, Pido pun jongkok di depan pintu, lalu bilang, “kamu naiko Kang, masuk lewat jendela. Piye?

Aaaha.., masuk akal. Gayung bersambut janda. Kaki gue menginjak pundaknya pido. Lalu kaki kiri menyusul dengan cara yang sama, akhirnya separuh badan gue nyangkut di atas jendela pintu. Sampai sini gue mandek sebentar. Mampus, Ini gimana gue turun’nya, masak gue turun pakek kepala. Bisa benjot nih kepala. Berutung, tubuh kecil gue mampu menggerakan badan untuk miring ke kanan. Kepala gue nempel ke tembok, sementara kaki kanan mulai gue tarik ke dalam. Lalu menyusul kaki kiri. Ciamik, setelah melakukan usaha ekstra, gue bisa mendarat dengan selamat. Gue pun membuka tuh pintu dari dalam, yang langsung di teriaki oleh pido,

“Rupamu koyo wedus. Deloken celonomu,’ katanya, lalu nunjuk celana gue, “Ha-ha-ha, koyo kenek endut nek sawah!’

Gue pun melihat celana, lalu geleng-geleng kepala,”Wah, sialan. ternyata aku bakat jadi maling yo, Suuuu?’

Pido tertawa kepingkel-pingkel, “Wuaha-ha-ha-ha,’

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Perjalanan yang gak lempeng ini pun, akhirnya berakhir dengan cerita yang konyol. Sekonyol apa yang barusan terjadi, namun kami punya cara untuk menikmatinya menjadi sebuah senyuman untuk bisa di tertawai bareng-bareng. Mungkin ini, satu resep kami, mengusir kebosanan saat dunia kadang gak bisa di ajak bersahabat. Malam yang melelahkan berujung pada kepasrahan di antara sepertiga malam, badan kami pun roboh di atas tempat tidur yang sama.

Perjalanan yang sesunggunya  di mulai.

Omongan bulek yang tanya, ‘Kamu tadi malam masuk lewat mana?” yang gue jawab seadanya, “Lewat rumae budhe, Lek’ menjadi percakapan gue sebelum berangkat. Sengaja kami berangkat subuh naik motor, supaya nyampek Tulung Agung gak siang-siang banget. Apa yang kami prediksi berjalan sesuai rumus kalkulasi matematika. Perjalanan hanya membutuhkan waktu tiga jam, lima belas menit. Jika ada yang tanya, kok cepet banget? Barang kali ini yang bisa gue kasih, kami naik motor di atas tarikan gas yang selalu di atas kecepatan 80 km/jam.

Makanya sampek Tulung Agung masih pagi, jam 8 lebih lima belas menit. Wujud kami yang sewaktu berangkat masih rapi, dengan muka masih seger-segernya, sekarang berganti menjadi compang-camping. Dan ada dua hal yang membuat perjalanan ini berkesan. 1), Kami kelaperan di jalanan, 2), Muka gue dan Pido menjadi ‘pintu sampah’ bekas pembuangan asap kendaraan bermotor. Mungkin ini semacam artefak dalam wujud benih-benih panu. Namun, dua hal tadi, membuat kami bahagia, setelah Pido mengeluarkan ajakan sumringah, “Kita cari warung makan lodho, di jalan A. Ahmad Yani yuk kang?”.

“Eamange kowe opo ngerti daerah sini?’ gue balik bertanya.

‘Hemmm,’ katanya bergumam, ‘Aku kemarin lakyo di sini toh dua bulan, wong kerja praktek di RS ‘Anu’ itu loh?’ katanya.

‘Oh, iya gue lupa. Sory-sory, Suuu!’.

Hanya dalam hitungan menit, setelah kami belok kanan, di pinggir jalan itu sebuah warung beratapkan asbes dengan spanduk berbunyi ‘Ayam Lodho Mbak Suprih’ berpenampakan dengan ciamik, sampai memancing rasa lapar. Buru-buru kami duduk persis di depan mbak Suprih yang jualan. Gue gak mau, makan di tempat tanpa melihat proses hasil racikannya. Ini cara terbaik menikmati kuliner, dengan cara proses pembuatannya. Seperti yang sudah-sudah, gue memesan satu porsi, dan Piro habis dua porsi dengan segelas teh hangat jumbo. Doyan opo rakus iki jenenge?.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Di tengah-tengah kami menyeruput teh hangat, pesan pendek blackberry mesengger masuk dari Putri, oooiiiya Putri itu adeknya Inu yang kebetulan ikut menghadiri pelantikan kakaknya yang bakal dapet gelar sarjanah muda. Dia ngabari kalo wisudanya sudah berlangsung sejak pagi tadi, jam 8-an. Setelah gue tanya tentang selesainya acara, pesan itu pun centang doang tak terjawab. Sampek sini gue menduga, hp-nya dia lagi ngedrop.

Kami pun mencoba bersikap santai. Rasa ayam lodho dan segelas teh hangat ini emang juara. Setelah selesai makan, energi kami pulih kembali. Gue kaget, setelah Pido ngebayar ke mbak’nya yang jualan, ternyata harganya murah, seporasi lodho ayam yang di pincuk dalam daun pisang cuma kena bandrol 10 ribu. Gue jadi mikir, kalo gue jualan beginian di Surabaya selama satu tahun, bisa jadi gue bakal masuk tivi dengan judul ‘Tukang Lodoh Ayam’ Naik Haji. Iyah, gak cuma tukang bubur, seng iso naik haji?.

Setelah sejam kami nongkrong di warung ini, kami bergegas ke kampusnya inu, IAIN – Tulung Agung. Sampai sana, ketika kami memarkiran motor di area tamu VIP, kami langsung muter-muter, melihat prosesi tempat wisuda berlangsung. Dari suara sound di sebelah kami, mbak-mbak di dalam sana sedang membacakan para wisudawan dan wisudaati yang akan naik ke panggung, bersalaman dengan Pak Rektor.

Gue dan Pido, hanya berdiri gak jelas di depan pintu masuk wisuda.

Haris sudah beranjak siang, dan matahari semakin terik. Jam 11, gue dan Pido keleseotan dan nge-gembel di emperan gedung rektorat. Kalo gue pegang kecrekan, bisa jadi gue di kasih koin recehan tiap ada orang yang lewat. Untuk membunuh waktu, kami pun ngobrol-ngobrol sampek berbusa-busa. Pido bercerita tentang pengalamanya dari main ke Jakarta kemarin sebagai pembicara di kampus gede sono. Gue pun tanya, “Dapet bayar kan, Suuuuu?”

“Iyah, dapetlah. Gak banyak, tapi lumayan, Kang.” katanya, sambil menyemprot-nyemprotkan cairan di dalam botol ke rambutnya. Bisa gue tebak, mungkin ini jenis minyak rambut dengan varian baru. Ah, gue katrok untuk urusan beginian.

Terlalu ngemper di depan gedung rektor membuat kami bosan. Berhubung gak ada ruang tunggu yang nyaman, jam 11 siang, kami berpindah pergi ke mushola di pom bensin sebelah kampus. Semacam perut yang sangat pengertian, baru saja gue melepaskan sepatu, perut gue mules meminta bertemu dengan jamban jongkok. Barang kali ini efek makan enak tadi pagi, lodho pedas. Perut gue agak cemen saat harus menggiling makanan santan bercampur biji cabe.

Kalo saja kami tidak bisa memanfaat’kan keadaan, mungkin gue dan Pido bisa menjadi mahkluk terkutuk, yang gampang ngeluh. Semua tahu, menunggu sangat berhadap-hadapan dengan resiko. Ada dua kemungkinan yang bisa terjadi, kedatangan, dan kepergian. Sebelum memlilih untuk perginya sebuah kejutan, gue ngasih kabar ke Inu kalo kami sudah di dekat kampus’nya pakek pesan singkat, bbm.

Pido badan’nya mulai sempoyongan, di atas ubin mushola, kami terlentang di ruangan rest area, sebelah mushola. Giliran badan gue yang mulai kesemutan, lalu rebahan di sebelahnya. Sebelum kami istirahat, pesan yang tadi gue ketik bertuliskan..,

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

“Kang, aku gak jadi ngasih kejutan. Tak tunggu-tunggu acara wisudamu kok belum selesai toh. Ohh, iya, aku wes nek Tulung Agung loh, sekarang nek mushola sebelah kampusmu. Lesehan di sini. Kalo acarane wes selesai mampir ke sini yoh. Tak tunggu. Batreiku BB– mau ngedrop. Di sini gak ada ces-cesan.” pesan ini akhirnya gue kirim.

Bersamaan dengan itu, punggung dan mata kami sudah lelah meminta untuk di istirahatkan. Detik dan menit terus bergulir. Sejam berlalu, Inu masih belum juga menampak’kan batang hidungnya. Pesan singkat bbm gue, sama sekali belum juga di baca. Yah, sudah pasrah. Pido nyolek pundak gue, untuk berpamitan ke belakang karena belet, “Kang aku ngising shek yoh?’ katanya sambil tangan’nya memegang perut.

“Yoh, ngisingo.” jawab gue singkat. Setengah agak sadar,

Saat mata gue hendak terpejam kembali, ada seseorang berjubah menggerak-gerak’kan kaki gue. Mata gue masih samar-samar. Kesadaran gue masih hilang separuh. Ketika pandangan mata gue terbelalak tajam, Inu sudah duduk di sebelah gue, lalu mengerakan bahu gue untuk membangun’kan, “Kang, tangioo. Ya allah, sepurane nunggu suwii Kang. Wah, aku terharu kamu datang juga ke wisudaku.” dia mengulurkan tangan’nya untuk meminta berjabat tangan. “Matur nuwun yo kang?” matanya mulai berkaca-kaca.

Udara menjadi pekat. Pikiran gue kosong, dada gue sesak.

Gue mulai tersenyum untuk mengusir rasa haru. “Iyoh kang. Sama-sama. Gak jadi kejutan ini, wong kelamaan nunggu toh.” gue garuk-garuk kepala yang sebenarnya gak gatal. “Aku kan sudah bilang toh, kalo repot gak usah datang ke sini. Dewean opo?’. Katanya, lalu matanya tertumbuk tas kecil di sebelah gue, dia tahu benda kecil ini bukan milik gue, “Endi Pido?.

“BOCAHE NGISING, KANG. KEWAREKEN LODHO..!.”

Lalu kami tertawa untuk sebuah misi tanpa protokoler. Tertawa bareng-bareng sungguh membawa kita kompak untuk bisa merasakan hal yang sama. Rasa tentang arti pertemanan berubah menjadi sedekat persaudara’an dan kekeluarga’an. Semoga menjadi sarjanah yang mabrur kang.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Iklan

8 thoughts on “Misi Perjalanan Tanpa Protokol

  1. kekekenanga berkata:

    hahhaha.. aku mau ikutan terharu tapi nggak paham wkwkkw..
    Intinya aku tau kl kamu itu berbakat jadi maling.. hhmm harus hati2 nih ngunci jendela rumah :(.
    Persahabatan yg tulus itu mmng indah yah dan jarang bgt dijaman sekarang masih ada yg tulus nya pake banget, 90% masih ada pamrihnya 😦

Monggo pinarak?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s