Berdiri Dengan Satu Sudut Pandang

#BloggerDesa

#BloggerDesa

Dua minggu ini, banyak yang harus gue kerjakan. Mulai dari urusan pindah kantor, sampai urusan pengerja’an tahap final buku #CintaKesandungGunung, dan lain sebagainya. Gue kehabisan waktu dibeberapa post kegiatan, hingga harus mengorbankan satu cerita di forum ini untuk minggu yang lalu. Okeh, gue gak akan ngebahas apa yang gue kerjakan, ada yang lebih seru dari hal itu…, ada satu hal yang lebih penting untuk di sampaikan. Harapan’nya, segala keresahan ini bisa memberi efek samping.

Di kampung halaman gue, anak-anak yang kuliah di jurusan keguruan dan kesehatan menjadi tren. Kalo bisa dikira-kira, tren ini berlangsung semenjak gue masih polos semasa sekolah SMA sampai sekarang. Tapi yang perlu diketahui, hidup mengikuti tren itu capek, gue mikir, efek sampingnya sekarang banyak banget generasi pengekor, bukan generasi menciptakan peluang. Belum juga selesai mengikuti tren ini, muncul tren lain. Hayooo, mau sampek kapan?.

Masing mending kalo kampusnya punya reputasi okeh di masyarakat, lha kalo kampusnya apa adanya, asal ngelulusin mahasiswanya dengan memberi label sarjanah?. Duh-duh-duh. hem…, kayak segampang memperoleh predikat ulamak.

Beberapa waktu yang lalu, gue sharing serius sama teman-teman komunitas maiyah kecil di Panggul. Intinya, apa yang gue tahu, dan gue pelajari, dengan senang hati gue ceritakan kepada teman-teman di sana. Gue memang mewakaf’kan energi gue untuk terus belajar. Gue dapet bahan, sepanjang yang gue telusuri semenjak gue awal-awal kuliah sampai sekarang, pemda lagi kesereten dana APBD, makanya gak pernah ngebuka lowongan pegawai negeri sipil.

Duh Gusti Moho Kuaos…,

Gue cuma kasihan, sama temen-temen lain, yang orientasinya setelah lulus kuliah ngebet banget jadi PNS. Okeh, sebentar, gak ada yang salah punya harapan untuk menjadi abdi negara. Tapi saat berangkatnya dari niat untuk memperoleh jabatan abdi negara dengan berpatokan gaji gede, gue yakin, saat ditunjuk untuk melakukan pengabdian, malah gak ada yang mau berangkat. Lha wong saat menjadi guru honoroer di sekolah-sekolah, ada seorang guru, gajinya di iurkan dari guru-guru yang sudah berstatus PNS kok.

Iyah, sekolah memang bukan organiasi pencari laba. Kalo pengen dapet gaji, gede, jangan ngarep menjadi guru honorer, mau pun sejenisnya.

Gue bangga banget, sama temen-temen yang punya semangat tinggi untuk mengabdi atas nama panggilan kemanusiaan. Baik di Indonesia Mengajar, dan sejenisnya di luar sana, termasuk tenaga honorer, atau apalah yang semacamnya.

Meski gaji yang di terimanya gak sebanding dengan nilai keluhuran hatinya. Tapi semangat berbaginya enggak bisa di rupiahkan. Barang kali, di kepalanya sudah tertanam kuat satu prinsip ciamik, hidup sekedar mampir untuk belajar dan berbagi. Temen gue, yang ngajar di salah satu sekolah dasar negeri, sebulan di kasih gaji 300 ribu. Bayangin deh, uang 300 ribu ini di kota Surabaya, cukup buat beli sego kucing. Coba, kalo jadi guru terus orientasinya langsung mengharapkan gaji gede berstatus PNS?. Mana ada yang mau berangkat ngajar sewaktu berada dalam situasi kayak di kampung halaman gue.

Di antara puluhan cerita yang gue denger langsung dari teman-teman se-angkatan tentang mereka yang berburu kursi PNS untuk di jadikan patokan keberhasilan, rata-rata yang gue denger mereka akhirnya ngambil jalan pintas, melakukan suap ke berbagai instansi untuk mendapatkan satu kursi, yah, iming-iming PNS dengan sederet kata sejahtera memang bisa membangun tembok berhalanya sendiri. Kayak cerita yang langsung nyamber di telinga gue sewaktu menjelang lebaran kemarin.

Seorang teman, yang juga ayahnya sahabat dekat bapak gue, sore-sore main ke rumah memakai mobil pribadinya bermerk kijang tua. Untuk bahan cerita di sini, supaya mudah di ingat, sebut saja namanya Ucup. Sebagai tambahan cerita singkat ini, dia lulusan kampus swasta yang kuliah di Malang sana, kampusnya menurut gue keren lah, gue pernah nemu datanya, kampusnya punya predikat kampus periset, dan masuk 12 besar kampus keren di tanah air.

Otomatis, kalo kampusnya punya prestasi, berarti orang-orang yang ada di dalamnya, termasuk mahasiswanya, pasti isi kepalanya tokcer. Tapi anggapan seperti itu kamuflase yang hanya bisa tertangkap oleh mata telanjang. Akhirnya, sore itu di teras depan rumah, gue dan Ucup ngobrol ringan sejenak. Satu pertanyaan pun gue cetuskan, untuk menelanjangi isi kepalanya, “Opo toh, Cup, harapanmu kok ngebet, bangeeettt jadi PNS?’

“Ngene loh, Boed, kalo aku nanti udah jadi PNS, kan aman toh masa tuaku. Aku bisa hidup dari gaji pensiunan,’ ucapnya, lalu menurunkan topi yang ada di kepalanya.

“Ohhhhh, ngono,’ gue jawab seadanya, sambil kepala geleng-geleng, “Okeh, kalo itu tujuanmu, ya monggo di kejar toh, Cup. Sebagai teman, aku hanya bisa mendoakan loh,”

“Iyah, tapi…, kalo ngajar sekarang dengan status guru tidak tetap, yo aku emoh toh!’

Dahi gue berkerut tebal.

“Yowes, jangan jadi guru dulu, nunggu tes-tesan wae kalo ada.” kata gue, “Sekarang bukak apa gitu, jualan?’

“Ho’oh, ini mau jualan’,

“Jualan opo?” tanya gue.

“Coba liat entar aja, kalo longgar, main aja ke rumah, Boed.’

Lalu obrolan sore itu, selesai tanpa ujung. Seperti hidup yang tidak pernah punya tujuan kemana akan di labuhkan untuk sebuah pendaratan demi jejak di bumi. Sampai sekarang kabar itu pun tak berbekas. Lenyap di telan angin senja pada suatu sore di perkampungan desa, tempat dimana kita sama-sama dibesarkan pada wilayah yang sama, berada di bawah kaki bukit kota Panggul, tapi berbeda dalam pemikiran karena dibesarkan oleh asam garam kehidupan. Dia pulang dengan bapaknya, yang kelar ngobrol dengan bapak gue di ruang tamu dalam rumah.

Setelah duduk-duduk di teras depan menikmati udara sore, seorang kakek tua bernama embah sati (nama yang pernah gue culik dalam buku #CKG), pulang dari berdinas sebagai petani tembakau di ladangnya. Wajahnya yang keriput terlihat sumringah, karena di ke dua bibirnya menjepit sebuah rokok bermerk ‘tingwe’ kepanjangan dari ‘ngelinting dewe’ yang dia hisap klepas-klepus, seraya menikmati hidup. Setibanya persis di depan gue, si embah ini, mandek sebentar,

Lalu menurunkan peci ayaman dari bambu, yang orang desa menyebutnya capel, terus tanya. “Hoo, Boedi toh, kapan muleh, Nang. Kok baru kelihatan?”

“Kemarin pagi, mbah.” kata gue lalu mengulurkan tangan untuk berjabat tangan. “Wes panen mbah, embakone?”.

“Urung, palingo yo sewulan engkas, panen. Kuwi pun kalo rezeki, wong saingan sama hama wereng yang makan daun’nya kok. Ya, gimana lagi toh, Nang, wong rezeki yang ngatur gusti Allah. Embah ini, bisanya cuma ngerawat dan menjaga, Nang?” katanya, mak jeleeeb. Seperti tamparan untuk sebuah satu sudut pandang. Lalu simbah ini, melangkah kan kaki lagi, pulang ke rumahnya, meninggal’kan asap rokok yang mengepul di depan mata gue. Pelan-pelan asap itu hilang di hempas oleh angin.

Baru saja, gue mau nyampekin satu hal, si embah sudah pergi. Apa yang gak saingan dalam hidup ini, mbah. Persaingan itu rill adanya. Yang khayalan adalah ketakutan kita untuk menghadapi persaingan itu. Ketakutan selalu berhubungan dengan khayalan pada sesuatu yang belum terjadi… bahwa kalo ndak panen tembakau kita pasti susah.., bahwa kalau tidak bekerja di perusahaan atau institusi ini, dan itu, kita bakal hidung sengsara. Terus-terus, apa gunanya kita takut pada khayalan yang belum terjadi, terjebak pada ketakuannya sendiri?

#Nyangkem

#Nyangkem

Iklan

6 thoughts on “Berdiri Dengan Satu Sudut Pandang

Monggo pinarak?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s