Berdiam Untuk Tertawa Belakangangan

#Piye?. #Kenapa? #BloggerJawa

#Piye?. #Kenapa?
#BloggerJawa

Saat jalanan menjadi area parkir yang sangat luas untuk sebuah kemacetan, hidup di kota pun, akan terasa membosankan. Tidak hanya Jakarta, kota-kota lain mulai mengalami hal yang sama. Pertumbuan kendaraan secara cepat, bisa menyalip pelebaran jalan. Gak bisa dihindari, di saat keadaan jalanan terisi penuh sesak kendaraan bermotor, karakter seorang pengemudi, bisa di baca dari seberapa sering jempolnya mencet tombol klakson.

Marni adalah guru SD yang multi-tasking. Sambil berangkat kerja, tiap hari dia nganterin anaknya berangkat sekolah. Saat aktivitasnya baru beranjak pagi, Marni mengendarai mobil timor keluaran zaman kompeni. Ke dua tangan’nya emang super canggih: menyopir dan berdandan makek maskara dalam waktu yang bersamaan. Begitu keadaan jalanan longgar, dia manfaatin buat menghias bibirnya dengan lipstik warna kuning. Tapi suasana berubah saat tiba di lampu merah pertama. Ketika lalu lintas yang udah ganti lampu hijau, dan kendaraan di depan’nya gak segera bergerak maju.., Marni mengklakson satu kali.

Din…, “Duh, ayuk jalan, aku buru-buru nih?” ucap Marni.

Berhubung mobil di depan’nya yang nyopir budhe-budhe yang lagi dandan. Keadaan masih tetap sama.

Marni mengklakson dua kali. Din.., din…, “Duh, rempong amat tuh orang. Ciyukkk, cepet cukkk!’’ Nada suaranya mulai gerundelan.

Mobil di depan’nya baru saja mulai menyalan start’ter. Asap tebal bewarna hitam jelaga keluar dari cerobong knalpotnya. Marni mulai sewot, dia memencet klakson sebanyak tiga kali.., din.., din.., diiiiiiinnnnnnnnnn…, “ASUUUUU SAMPEAN, HOEEE…. NDANG MLAKUO SUUUUU.’ teriak marni sambil memegang alat pengeras suara, bernama toak.

Iyap, Marni adalah bekas aktivis, yang semasa kuliah dulu, tiap sebulan sekali dia melakukan orasi bersama teman-teman segakn’nya di depan istana presiden, buat menyuarakan tuntutan yang sama: menurunkan harga bedak dan minyak fanbo. Setelah kejadian seperti ini, gue baru nyadar. Kadang gue bisa ngebaca sifat seseorang di lihat dari seberapa sering dia memakai klakson. Saat semua berjalan dengan sehat, jalanan sepi, arus kendaraan lancar. Kadang hidup gue kehilangan tantangan. Mood bisa bosen. Hidup di negeri ini, yang apa-apa kadang gak tertib, memang harus punya cara untuk menikmatinya.

Ada banyak hal. Bukan urusan tentang emosi dan klakson mobil. Dalam perjalanan’nya, kita mahkluk yang kaya cerita dalam setiap apa yang kita kerjakan dan kita lewati. He’eh, yang tejadi di dunia nyata, bisa juga terjadi di dunia maya. Zaman telah berganti, hape jadoel esia hidayah telah musnah di ganti zaman’nya Smartphon (ya mungkin ada hape goblokpon, ada hape smartpon). Internet telah menjadi laboratorium raksasa, yang di dalamnya berisi temuan-temuan baru. Dan temuan-temuan baru itu, bagian terkecilnya ada di lini masa media sosial.

Pada akhir bulan ini, hari jum’at malam kemarin, gue dan Pido makan bareng di rumah makan bebek bakar Sumberejo, yang lokasinya dibelakang terminal Beratang, Surabaya. Di saat sela-sela menunggu pesanan yang datang, kami membahas banyak hal. Seperti yang sudah-sudah, obrolan kami mengalir tanpa rencana. Oh.., iya, ada satu pertanya’an, yang biasanya gue sampekin ke dia, sekarang jadi inget. Gue mengajukan pertanyaan cukup misterius kepadanya.

“Do–Do, hampir setaun toh, kamu pacaran sama si dia?’ tanya gue, menoleh ke arahnya. “Tapi yang buat gue salut banget, kowe itu beda dari anak-anak kebanyakan, di media sosial.’

“Beda kenopo, toh Kang?” dia mulai antusias, dengan aksen medoknya. Lalu meletak’kan hape smartpohn’nya di atas meja makan lesehan.

“Gini…, ehmm, ngene-ngene,’ Gue mulai serius, membicarakan temuan baru, “Kamu pacaran sama si dia, udah lama toh? Nah, yang tau paling cuma gue dan temen-temen deket. Teman-temanmu yang lain mana ada yang tau kamu punya pacar Do, lha wong kamu gak pernah pasang foto sama pacarmu di Dp BBm. Gak pernah up-load foto berdua di facebook. Gak pernah pasang bio alay, yang nulis nama si pacar di twitter. Dan segala tetek bengek pokoknya lah. Coba aku tak denger opo alasanmu?’ gue menyandarkan bahu ke tembok, siap-siap dengerin jawaban’nya.

Pido alisnya mulai menyungging. Wajahnya pelan-pelan menjadi kaku, dua bahasa tubuh yang mengisyaratkan datangnya sebuah keseriusan. “Yowes, aku jawab kang. Ngene-ngene. Pertama: buat apa toh kang-kang, pasang foto-foto yang gak perlu, di media sosial? Toh ndek sana, banyak yang lihat, itu bukan ruang pribadi milik kita. Itu ruangnya banyak orang. Aku gak nyaman pasang foto sama dia di media sosial aaappppp….’

Gue memotong pembicara’an. “Terus-terus? Wah seru iki?” komentar gue sambil bertumpang dagu.

“Seru sih seru, tapi ojo nyerocos dulu…, Suuu.’ katanya, lalu meminta izin melanjutkan ceritanya, yang gue jawab dengan anggukan kepala. “Buat apa, aku ngelakuin hal yang gak nyaman buat aku pribadi dan buat si dia, kang?. Iya toh?,’ gue mengagukan kepala lagi, setuju dengan apa yang Pido sampaikan. “Kedua: udah gak zamanya lagi, tingkat polah kita kayak bocah SMA. Kalo pasang foto mesra, terus di posting di media sosial, dari sana, orang bisa menilai seberapa jauh kedewasa’an kita?”

Gue langsung mengangkat jempol tangan kanan ke udara. “Setuju-setuju Kang. Bisa-bisa orang banyak, menilai kita cuma sekedar pamer doang kan? Kalo pamer kan…., ehmm,’ gue mikir sejenak, lalu gue ingat pesan wejangan dari Mbah Kiai Mustofa Bisri (baca: Gus Mus) beberapa waktu yang lalu, “Sama aja, kalo kita pamer, kita mempertontonkan kekurangan kita di mata banyak orang. Piye, Do. Masuk akal kan?.”

“Sippp, masuk akal kang. Masuk akal banget. Nilaimu ada pada perilakumu. Termasuk perilaku jempolmu dalam gunain media sosial. Kowe emang gampang konek, Koaaangg!’

“Ha-ha-haaaaa, waasyyuu tenan yoh-yoh,’ jawab gue, sambil menyunggingkan senyum. Begitulah cara kami mengisi indahnya kebersamaan.

Beberapa detik kemudian, pesanan datang di atas meja. Pandangan kami terfokus, pada kudapan empat porsi bebek bakar, yang siap untuk di santap. Setelah mas-mas pelayan pergi, sebuah pemandangan gak sengaja menyapa mata kami. ‘Kang lihaten sebentar toh, tuh cewek di depan kita, edaaannn…, celananya bagian belakangnya kendor. Sampek kelihatan gitu,” gue hanya bisa tertawa geli, sama seperti saat menertawai Marni ketika memakai klakson mobil. Tentang sebuah hal absurd, tentang tingkah polah manusia yang bisa dibaca secara kasat mata.

Lalu kita tertawa untuk hal-hal yang sepantasnya patut untuk di tertawakan. Akhirnya, meski pun dalam keadaan ketidak-sengaja’an, demi menjaga nafsu makan agar tetap terjaga, kita duduk lesehan menghadap ke arah kasir. Dengan satu sentuhan gerakan, barang kali orang bisa menilai, tentang keluar dari pakem yang orang banyak menyebutnya, ‘Mata keranjang..’ Astaga, ternyata, Iyah, beginilah cara kami untuk terus memperbaiki diri.

#Nyangkem.com #notedcupu.com

#Nyangkem.com #notedcupu.com

 

 

 

 

 

Iklan

10 thoughts on “Berdiam Untuk Tertawa Belakangangan

  1. fasyaulia berkata:

    Waktu punya pacar, ga pernah nulis nama pacar di bio. Tapi kadang ngepost foto di ig bareng pacar. Tapi itupun kadang2 aja kalau lagi pengen. Foto profile line/wa juga lebih banyak sendiri nya daripada sama pacar. Ini apasih malah curhat -___- eh bang, kok tema nya kiyuuuut sih pinky gini hahahahahaha gemashhhh ><

Monggo pinarak?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s