Mati Yang Hanya Mendapat Karangan Bunga

#CoverLengkap #CintaKesandungGunung #CKG #tagar #cupunoted

#CoverLengkap #CintaKesandungGunung\ #CKG #tagar #cupunoted

Di luar sana, saat embun pagi belum mengering, saat ayunan kaki pertama kali melangkah keluar rumah. Kita menghadapi ritme yang sama: bekerja. Semenjak gue lulus kuliah de tiga, terus kerja sampai sekarang, lanjut sekolah lagi, gue masih berada di pola seperti itu. Impian ini masih tetap bernyawa, dan terus berjalan. Gue harap, dengan terus menulis, gue akan menjadi orang yang merdeka, dan bebas semau-maunya mengatur jadwal…,

Rasional kita sama. Kehidupan ini sangat pendek, jika mengerjakan hal-hal yang gak kita cintai. Apalah makna hidup yang sekedar mampir make sarung, apalah makna hidup saat agama gak sebatal sedangkal gerakan. Ehem, asyik ya?. #BenerinSarung. Apa lagi sepanjang hayat ini, kita punya tanggung jawab yang sama. Sama-sama hidup di bumi, ngais rezeki untuk gak sekedar bertahan hidup.

Ada cerita dari pusat sejarah kehidupan masyarakat jawa. Orang jawa memang harus punya rasionalitas. Makanya di jawa ada satu pandangan hidup yang sangat populer, ‘makan gak makan asal kumpul’. Gue gak akan nerjemanin apa yang terkandung dalam filosofi yang di kenal di masyarakat jawa tadi. Pada tahu kan ya, makanya itu ada cerita sejarah kenapa Raden Mas Dorojatun dulu di sekolahkan ke Universitas Leiden, Belanda.

Gue sebagai anak desa, nilai-nilai itu masih gue pegang hingga sekarang. Sampai gue berpindah dari desa ke kota. Sampai gue mendengar celotekan, dari teman kantor, “Cupu, Omongan elo medok amat,’ yang biasanya gue jawab, ya inilah gue, apa adanya. Gue gak mau menghianati, apa yang gue punya, tentang gue yang di besarkan di kampong halaman. Sampai pada suatu masa, celotehan itu berganti. Kalimat ini sekarang yang mampir ke telinga gue, “Enak ya, punya kampong halamaan. Ajakin gue main ke rumah elo dong, Cup!.’ Dan biasanya, gue akan menjawab dengan antusias dan menyunggingkan senyum, “Yukkkk..!’

Semua sekarang menjadi serba terbalik. Ini apakah semacam kode dari yang di atas. Menuntut hati dan pikiran untuk lebih seirama dan peka. Sebagaimana keajaiban alam yang menuntun kupu-kupu hinggap di korden jendela rumah. Iyap, tentang kode membaca tanda-tanda dari Tuhan Yang Maha Ajaib.

Entah kenapa., gusti Allah mendekatkan gue dengan keberuntungan-keberuntungan. Lucu juga jalan hidup bergulir seperti ini, mungkin itu kejutan supaya ada cerita buat di tulis. Ehm. Semuanya serba terbalik. Duh Gusti Maha besar.

Nah, dua tahun yang lalu, gue berlajar penuh tentang dunia pajak sesuai latar belakang pendidikan gue. Jadi anak pajak, rasanya kurang afdol, tanpa membaca buku ‘Saksi Kunci’. Sama seperti sebuah nama Mus (tanpa) Dalifah. Ini bukan semacam d’javu, apa yang gue pelajari, beberapa bulan kemudian setelah habis membaca buku ini, text halamanya berwujud dalam realita yang gue hadapi di depan mata. Apa yang di kerjakan oleh tokoh pertama dalam buku itu, Vincent, gue mengalami dalam dunia pekerjaan gue sebagai pengatur tax perusahaan…,

Hidayah itu datang. Gue mikir, kerja gak sekedar nyari duwit. Ada prinsip yang gak boleh di langgar. Idealisme ini masih hidup, dan gue ceritakan semuanya di buku #CintaKesandungGunung, tentang di kecewakan oleh atasan, yang awal bulan ini akan terbit. Prinsip itu tentang kehormatan yang bernama kejujuran. Akhirnya gue berhenti dari posisi itu, dan menjauh dari dunia pajak. Bener juga kalo ada istilah, orang bersih belum teruji, jika tuh orang belum di dekatkan dengan lumpur yang ada di sawah.

Satu-persatu, halaman buku yang gue lalui kepingan ceritanya membentuk cerita nyata. Ada cerita di buku ‘Indonesia Bagian dari Desa Saya’ karangan Emha Ainun Najib, yang menuntun gue dengan pekerjaan baru. Dan pekerjaan ini, bertemu orang-orang kaya di pelosok kota Surabaya. Masuk dari kampong ke kampong. Ke perumahan mewah-mewah milik konglomerat. Menemui mereka, gue gak akan akan cerita detail tentang pekerjaan di bank yang gue gue cintai ini. Mereka semua berkeluh kesah, telinga gue bagaikan pintu air di manggarai…, menerima berbagai macam sampah. Menerima cerita baik dan buruk, tentang keadaan warga kota.

Pekerjaan ini, menuntun gue untuk semakin yakin, miniatur Indonesia itu ada di desa. Iyah, wujud asli Indonesia ada di desa. Gue semakin bangga lahir di desa, dan pada suatu waktunya, setelah buku pertama rampung, gue akan memulai cerita baru. Mengetik tentang temuan-temuan yang serba ajaib. Biarkan gue untuk terus tumbuh, membentuk karya baru, karena, setelah kita tiada, karangan bunga yang ada di depan rumah akan menjadi sampah. Dan karya ini akan tetap hidup…, sepanjang masa.

NB: Sorry telat ngeposting nyet, leptop gue masih dalam perbaikan dua minggu ini. terus ngetiknya minjem leptop orang.

penampakan: Dua Minggu ini leptop rewel.

penampakan: Dua Minggu ini leptop rewel.

 

Iklan

11 thoughts on “Mati Yang Hanya Mendapat Karangan Bunga

  1. erhilpoo berkata:

    “Jika mengerjakan hal hal yang gak kita cintai, apalah makna hidup yang sekedar mampir make sarung”… Sesuatu yang di kerjakan tak sepenuh hati dan rasa ikhlas akan mengkhasilkan sesuatu yang tak maksimal… Keyen bang cupuh postingannya

  2. Gara berkata:

    Iya sih, kalau kita hidup memang harus punya makna bagi orang lain, ketimbang hidup cuma untuk diri sendiri yang itu juga belum tentu membuat orang lain bahagia atau tidak :hehe. Jadi memang kita mesti hidup sepenuh-penuhnya supaya di akhir nanti tidak ada penyesalan yang tertinggal. Hm, saya jadi berpikir setelah baca tulisan ini… sudahkah saya melakukan sesuatu yang saya cintai, yang membuat saya bisa merasa hidup sebenar-benar hidup? :hehe.

    • Bang Cup(uh) berkata:

      Maap kan gar, kalo abis naca nih noted elo jd mikir. Bahkan kepikiran. Serius, gue ngapresiasi banget tiap ada anak yang meluangkan waktunya membaca noted gak gak.jelasss ini. Hehehehe.

      Eh, komen elo sellau panjang. Seneng bacanyaaa suuu.

      • Gara berkata:

        Saya juga selalu jadi berpikir setiap selesai membaca postinganmu Mas :haha. Soalnya ngena banget gitu dengan situasi sehari-hari :hehe.

  3. Dana Amari Pratiwi berkata:

    Bang!! keren! entah kenapa setelah baca ini, gue jadi mikir.mungkin benar. Gue harus pindah kerja. Sesuai keinginan dan hobi. Aih gak nyambung. Tapi biar aja wkwkwkwk sukses. gue tunggu buku lo bang!

  4. kekekenanga berkata:

    aakkk kok hanyut gitu yah mbacanya 😦
    Alhamdulillah Gusti Allah masih kasih umur yang panjang supaya gw bisa lanjutin hidup dengan meninggalkan makna buat org lain 🙂

    Jadi, gw udah bermakna buat lo belum Bang? :p

    • Bang Cup(uh) berkata:

      Kalo lo hanyut, gue mau jd orang yang nulungin pertama kali. #modusYowBen.

      Gue seneng, klo apa yang gue tulis bisa ngasih pengaruh.

      Belum, masakin gue nasi padang, lo baruuuu bermakna buat perut gue. Maap becanda. Buahaha

Monggo pinarak?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s