Mencari Pemimpin Di Zaman Prihatin

#NotedJancuk

#NotedJancuk [notedcupu.com]

Sebentar lagi pemilu, kita akan sama-sama milih calon pemimpin dengan cara yang sama: nyoblos. Tapi soal pilihan, kita di hadapkan pada pandangan yang berbeda. Perbedaan ini yang mengantarkan kita pada satu hal yang patut dibanggakan. Menghormati atas pilihan masing-masing. Tapi jika pada suatu masa, orang yang gue pilih jadi wakil kita, lalu apa yang di kerjakan, malah nambah persoalan bukan ngasih jawaban. Sudah selayaknya gue berbela sungkawa, ngelus dada, lalu berbisik, “Ada yang salah dengan hatinya’

Di tahun ini, gue belum mengajukan diri sebagai calon Bupati Trenggalek. Maklum lah, deg-degan aja sih,  gue kan laki-laki, entar pas jadi Bupati, terus blusukan jenguk pasar-pasar masyarakat, di panggil.., ‘Pak Bu(pati)… duh harga ketumbarnya naik, terus piye toh iki?’ kan wagu banget dengernya. Tahu kan, royalti buku gue belum turun, gue gak punya modal buat kampanye. Duwit dari royalti, kena audit kan jelas, dananya kampanye bukan dari sumber gelap.

 Shek-shek, kita serius.., dulu…

Tinggal menunggu hitungan hari, sebentar lagi kita rame-rame nyoblos. Gue punya pandangan: misal gak ada calon kepala daerah (baca: calon bupati, etc) yang menurut gue layak untuk di pilih, gue bakal golput. Bukan gue apatis sih, mungkin prinsip ini, layak untuk di pertahankan. Iyoh toh?. Mendingan golput, dari pada milih orang yang gak pantas buat jadi calon pemimpin. Ending-nya, malah memilih orang yang salah, efeknya juga menimbulkan masalah. Setuju?.

            Pernah pada suatu waktu, ada cerita yang membuat dada gue sesak.

Kampung halaman gue, termasuk daerah yang kurang mendapatlan sentuhan dari seorang tangan pemimpin. Padahal dari periode ke periode mengalami skema yang sama: pemilu – kampanye – coblosan. Tapi setelah pergantian pemimpin, dari periode ke periode, hasilnya stuck: gak ngaruh apa-apa buat masyarakat. Nah, jadi ada cerita yang pernah nyamber sepasang telinga gue. Kira-kira dua tahun yang lalu, gue sempet ngobrol sama kepala biro tempat dimana gue belajar nulis. ‘Bang Sun, ini, Bupati di kampong halaman kita, gak masuk nominasi, opo?”

Gue tanya serius, karena waktu itu, media tempat gue belajar menulis baru saja, menurunkan laporan tentang kepala daerah berprestasi. Gue deg-degan menunggu respon’nya. Ada detik yang melambat. Ada jeda sejenak, sebelum jawaban itu muncul, kepalanya menoleh ke gue. Dahinya berkernyit hebat, astaga.., Pak Biro itu mengeluarkan jawaban yang cukup nusuk, “Errr.., masih jauh, lha wong prestasinya aja di bawah rata-rata kepala daerah, Cupuuuuuhhhh…!!!!!!.

Duh gusti..,

Gue mengusap-ngusap rambut depan yang udah mirip poni kuda jingkrak. Tindakan ini, sebagai tanda untuk berekpresi atas kesedihan yang penuh dengan ungkapan bela sungkawa. Jawaban gue datar, dan hambar, seperti harapan yang berjalan dalam lorong gelap, ‘Pantes, dari dulu gini-gini aja.’ Bisa jadi jawaban ini cukup sepele, tapi jika di dengarkan dengan tulus, akan cukup menyakitkan bagi mereka yang terlibat. Setiap pemimpin selalu ngasih cerita yang beda, akan tiba pada masanya, yang di kenang adalah yang lebih dari sekedar sumbangsih.

Kita hidup di negeri yang penuh dengan orang-orang hebat pada zamannya. Barang kali, apa yang pernah di tulis Buya Hamda dulu, masih nyambung dengan keadaan sekarang. Sudah waktunya kita pulang, menghormati warisan ilmu pemikiran orang-orang hebat zaman dulu. Lalu menerapkanya, seperti apa yang tertuang dalam petuah legendaris, ’Kalau hidup sekedar hidup, babi di hutan juga hidup. Kalau bekerja sekedar bekerja, kera juga bisa,”

Jangan-jangan, kita sekelompok masyarakat, yang terus di siksa oleh rasa penyesalan karena tidak punya kriteria, atau bahasa keren’nya parameter, untuk memilih calon pemimpin yang mumpuni. Yang duduk di kursi, lagi-lagi manusia jenis itu-itu lagi. Itu-itu kan banyak jenisnya. Ada, itu belum pensiun, eh, sudah masuk bui karena korupsi. Itu.., belum pensiun, tapi kerjanya, gak berbuat apa-apa. Berangkat kerja, duduk di ruangan, lalu sore pulang?.  Kekurangan apa lagi, yang hendak di pertontonkan di hadapan masyarakat.

Dari kejadian-kejadian yang berwujud dalam peristiwa, kita semua bisa menilai. Karakter, seorang pemimpin, tidak hanya di lihat dari perilakunya saja. Tapi dari apa yang di pilihnya saat di beri kesempatan. Coba lihat sekarang, tersangka korupsi yang di tayangin di layar TV, yang di tangkap oleh KPK. Hem.., kok ya, bisa enak-enaknya ngomong santun, ‘Saya di jebak’, ‘Korban konsiprasi lah,’ dan dibarengi beberapa mulut komat-kamit merapal doa. Lengkap pake peci hitam di atas kepala. Lalu tangan kanan, dada melambai-lambai di depan kamera, kayak gak terjadi apa-apa.

Pejabat-pejabat yang doyan korupsi modusnya mencari pulihan, gara-gara kampanye di jadikan ajang transaksi jual-beli, suara. Dana kampanye juga ada banyak macamnya. Di antaranya, termasuk dana kampanye, serangan fajar, yang menyuap setiap suara dengan amplop berisi puluhan ribu.  Bahkan ratusan ribu. Uang amplop, mengetuk pintu rumah warga, bagi siapa yang berminat. Kejadian ini membuat kita bercermin, bahwa, untuk membangun integritas butuh jalan panjang. Skemanya: integritas mengasilkkan reputasi, lalu reputasi menghasilkan kepercayaan. Untuk mencapai kepercayaan, cukup nampang doang dibaliho?. Jancuk!.

Sudah saatnya, kita selesaikan silang-sengkarut ini. Kita berhak untuk tahu memilih orang yang pantas untuk di pilih. Sudah selayaknya kita memulai, kapan kita bergerak maju, dan kapan kita membuang muka dengan orang-orang tamak. Setelah gue banyak tahu apa yang terjadi, masing-masing dari kita punya sikap untuk bersuara. Karena sebagian dari kita, punya pedoman yang sama, memaknai apa yang terkadung dalam selarik kutipan ini: ‘Rajulun Laa Yadri, Wa La yadri Annahu Laa Yadri (orang yang tidak tahu, dan tidak tahu bahwa mereka tidak tahu, maka tinggalkanlah dia).

            Realitanya…,

Setelah gue mengumpulkan bahan buat menulis noted pendek ini, gue nyadar banyak orang-orang yang menjadi parasit. Dan tidak mau meninggalkan pemimpin di kelompoknya demi mendapatkan pembagian jatah bernama upeti. Kegaduhan hari ini yang rame dari senayan, menjadi sempel bahwa, jangan-jangan kita kekurangan cadangan pemimpin. Atau, kita yang salah milih orang?. Kelak jika kita enggak bisa berbuat banyak tentang perubahan. Iyah,  gue yakin banget, ada tangan lain yang akan bekerja merubah keadaan. Gue percaya, kita akan menyaksikan pengalaman-pengalaman, luar biasa dari mereka, yang pernah tergelincir dari ‘rell’ Allah, dan atas kasih sayang-NYA, di angkat kembali ke jalan yang benar.

Lalu pintu-pintu keajaiban akan terbuka.  

Dari hati gue yang paling dalam, jika kita peduli, kita mudah untuk bergendengan tangan. Karena kita sama-sama mencintai kebenaran. Sadar atau tidak, kita akan menemui kesepahaman yang sama. Hidup ini sangat pendek, jika bukan mengabdi pada kemanusiaan, apa lagi yang tersisa dari keluhuran manusia. Maka gue percaya, memilih pemimpin adalah tentang proses mencari. Membangunkan orang-orang yang bisa ngasih teladan. Mencari orang yang bisa mengayomi dengan segala kerendahan hatinya. Karena mengayomi menawarkan bijaksana.., seperti apa yang tertuang dalam.., pesan…, ‘Rajulun Yadri, Wa Yadri, Annahu Yadri,’ (Orang yang tahu, dan tahu bawha dirinya tahu, maka ikutilah dia…,)

Jika kepalamu mengangguk, gue mau bilang, ‘matur nuhun’, berarti kita seirama.

Iklan

3 thoughts on “Mencari Pemimpin Di Zaman Prihatin

  1. Gara berkata:

    Kayaknya kita mesti jujur kalau tidak ada pemimpin yang terbaik (baca: ideal) dengan kondisi kita sekarang; tapi saya pernah dengar kalau kita mesti memilih yang terbaik dari pemimpin-pemimpin yang tidak ideal itu. Namun harapan saya, semoga kita yang sudah banyak melihat contoh yang tidak baik, banyak melihat pemimpin yang tidak ideal itu mau belajar, minimal kita tidak jadi seperti mereka, meski tidak semua orang akan menjadi pemimpin. Mengubah orang lain, apalagi orang banyak, memang susah, tapi minimal kita bisa mengubah diri sendiri dulu, kan?

      • Gara berkata:

        Kemarin nggak ada pemilihan di tempat tinggalku, Mas :hehe. Pemilihan sih ada di kampung halaman tapi bagaimana mau ikut, kan di rantauan :)).

Ngecuprus?. Boleh. Untuk pempermudah kolom komentar, langsung aja klik logo akun media sosial di pojok kanan bawah, biar gue bisa ngelihat siapa aja yang nyimak notedcupu gue. Semuanya akan gue baca kok, terserah mau komen apa, gak tatakrama bakal gue hapus. Matur Nuhun.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s