Tentang Gerakan Cinta Negeri Movement #SeedForLife

hasuu

Semua terjadi begitu ajaib. Empat tahun yang lalu, pada suatu malam, gue terjebak di depan panggung konser acara dies natalis ‘Gugur Gunung’ kampus  ITS. Gue dan beberapa teman, datang rame-rame ke acara konser, untuk melihat aksi panggung Arman Maulana, yang doyan nelen mikropon. Sumpah, inilah pengalaman pertama kali gue melihat konser secara live. Waktu itu, pengetahuan gue tentang dunia ‘musisi’ masih cekak. Sekitar tiga puluh menit sebelum gigi tampil, di panggung, sudah ada band lokal yang siap ngisi acara.

Lalu terdengarlah sebuah irama…, gebukan dram, genjrengan gitar dan betotan bas telah bersendandung dengan indah mengiringi suara mayor sang vokalis. Ingatan gue masih samar-samar, waktu itu lirik lagunya.., ‘My Black Valentaine…’ enggak nyangka, baru denger sebentar, gue udah jatuh hati sama ini lagu. Teriakan pembawa acara membawa petunjuk baru, kabarnya Band-lokal-keren yang sedang main barusan, namanya Applles In The Wonderland…,

Terus terang, sepulang dari acara konser itu, di dalam kamar gue bukak leptop, lalu menyalakan internet. Apa yang terjadi? Tindakan tak terpuji telah gue lakukan dengan hina: men-download lagu tersebut secara bajakan di salah satu situs online. Segampang itukah menikmati karya tanpa harus membeli? Iyah, gue akui dengan jujur. Sampai lagu itu, bertahan dua tahun di ponsel gue. Dan gue apal banget sama liriknya.

Sekarang, kejadian itu telah terlewat. Dunia seni membawa manusia menemukan ke ajaiban’nya sendiri. Semesta telah berkonspirasi dengan sangat cantik, hingga terjadi serba kebetulan. Seminggu yang lalu, teman se-gank gue dulu di zaman sekolah D3, ngasih kabar lewat bbm. “Eh, Cupuh. Kowe kan rajin nge-blogg. Bisa bantuin gue, ora?”

Gue mulai penasaran, “Bantuin opo, toh? Iso-iso,” dialog ini akhirnya memakai bahasa jawa.

“Bikinin, kayak iklan gitu di postingan?” balasnya,

“Nge-enderose, maksud mu?”

“Nah, itu….’ Lalu gue jelaskan dengan detail lagi. “Kalo di dalam dunia digital, itu namanya advertorial, Gisul. Gitu!’

Karena hal ini terlalu panjang jika di bahas di dalam chat bbm, kita memutuskan untuk mengambil langkah baru, bertemu bareng-bareng dengan pengagas komunitas, Gerakan Cinta Negeri Movement #SeedForLife’ di kafe herlijk, Jalan Menur. Nah, intinya, gue di ajak untuk ambil bagian dalam gerakan isu lingkungan ini. Nah, tugas gue sebagai blogger penunggu tanah jawa, di perbantukan sebagai pembuat konten di zaman internet. Gayung bersambut Jamban.

Pertemuan pertama tiba dengan sangat gampang. Malam itu, sepulang kami kerja, gue dan Malah udah nyampe duluan di kafe lantai dua itu. Setelah kita duduk dalam satu lingkaran meja, denger-denger gosipnya, pembuat gerakan ini adalah anak muda personil band lokal kota Surabaya – yang juga, temen dekatnya si Mala. Setelah gue bertanya-tanya dengan mimik, ‘Siapa, toh wonge iki?’ Mala mengeluarkan jawaban…., “Drumernya, itu loh, Apples In The Wonderland…’

Gue kaget,  ‘Sumpah, Maaaaaallll?”

“Serius, Boedi!’ ucap Mala yang melihat ke tempat parkir, “Tuh…, tuh.., orangnya datang loh,’ kepala gue mendongak ke lantai bawah, tempat parkir. “Itu orangnya pake koas putih?’

“Bener, itu anaknya.”

Cerita tentang ‘Penanaman dan Pelemparan Biji Buah Pake Ketapel’ di pegunungan wilayah Jawa Timur itu, bermula dari pertemuan ini. Sebelum kita ngobrolin tentang topic utama yang akan, kita bahas. Kami semua pada setuju kalo, kota-kota yang pernah kita datangi dulu sudah beda banget. Makusdnya gini.., Mas Fatik mulai mengajukan pertanyaan, “Boed, Malang, terus Batu, itu, udah gak dingin kayak dulu lagi, loh!” tanya mas fatick, penggagas gerakan ‘Cinta Negeri Movement’.

Gue dan Mala, juga punya kampung halaman, kita pun setuju dengan apa yang terjadi sekarang.

“Iya sama, Mas. Trenggalek juga, gak dingin kayak dulu.”

“Manusia, banyak yang merusak alam, kan?’ ucap Mala setelah menghabiskan segelas es teh di depan’nya, lalu.., kami manggut-manggut, kompak.

Nah, dari diskusi kecil ini, kita jadi punya banyak keseimpulan yang sama. Pertama: 1). Bumi itu sabar dan murah hati, dia di ijak, di ludahi, di kencingi, di bor…, jika dia sudah rusak, kita tidak punya apa-apa lagi. Mau dimana, kita tinggal?’. Kedua: 2). Manusia akan menyadari gak ada gunanya pegang duwit sekarung di saat pohon terakhir di bumi di tebang. Kami setuju, penyanggah kehidupan di alam semesta ini adalah, Pohon. Setelah tahu keadaan yang sebenarnya, makanya kami bergerak bareng-bareng, untuk memperbaiki apa yang sudah rusak.

Gerakan ini, biar punya nama, dan biar manggilnya gampang. Akhirnya, kami kasih nama dengan: Gerakan Cinta Negeri Movement’. Di mana, anggotanya masih sekitar 10 orang anak muda. Untuk ngasih teladan kepada masyarakat, kami juga sudah empat kali ini, menyebar bibit pohon buat nangka dan durian, ke pegunungan Cangar, Gunung Panderma, Terawas, dan kembali ke Cangar dengan spote yang berbeda dari sebelumnya. Gerakan ini, sudah berjalan sejak tanggal 1 November yang lalu. Setiap kali kita naik gunung, kita nyebar dan nanam biji sebanyak 5.000 biji buah dibeberapa titik yang kami anggap layak untuk di tanami dan sudah empat kali kami naik gunung. Jadi,  totalnya ada berapa biji buah?. Silahkan teman-teman hitung sendiri.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Selain melempar biji buah pake ketapel, “Gerakan Cinta Negeri Movement’ juga menanam biji buah ini. Tempatnya? Di tempat, di mana kita berdiri sewaktu ngelempar biji pake ketapel. Dengan cara inilah, saat kami balik lagi ke gunung, bisa mengetahui biji yang kita lempar bisa tumbuh. Dan kenapa harus biji buah, nangka dan durian?. Pertama, dari pada biji di garuk pertugas kebersihan ke tong sampah, mendingan kita ambil, kita balik kan ke habitat’nya. Ke dua, sewaktu biji yang kita tanam ini nanti bisa berbuah, akan mengembalikan ekosistem alam. Karena akarnya bisa menyangga tanah, daun’nya bisa mendaur ulang gas beracun C02 menjadi oksigen. Buahnya bisa ngasih makan hewan di alam. Maka, ekosistem akan kembali pulih, dan alam akan terjaga.

Sebelum ke esokan harinya, Mas Fatik dan kawan-kawan, berangkat ke gunung Cangar lagi. Tadi malam jam sekitar jam tujuh, kita sempatkan untuk bertemu ngobrolin banyak hal di Pintu Rumah Kafe di Jalan Srikana, belakang kampus Unair B. Nah, untuk bahan tulisan di sini, gue dapet oleh-oleh dari mas Fatik. Di kasih file berupa foto, dan dokumentasi video, sewaktu teman-teman berada di gunung, untuk menaman biji buah, dan melemparnya pake ketapel.  

Tadi malam, gue menyamampaikan apa yang gue tahu..,

‘Dua hari yang lalu, sebelum gue tulis postingan ini. Gue dengerin berita seru di National Geograpik Indonesia, di dalam berita itu, ribuan penguin sedang melaku kan eksodus. Tuh kelompok penguin, hijrah dari gunung es kutup utara ke kutup selatan. Tempat mereka tinggal untuk mencari makan, telah mengalami perubahan suhu. Pinguin hewan yang doyan main adem-ademan, saat habitatnya berganti menjadi panas, gak mungkin mereka bisa bertahan hidup di area sauna.

Ada kerusakan alam yang membuat Pinguin ‘bendol desa’ rame-rame. Faktanya, perubahan iklim benar-benar terjadi tanpa bisa di rem. Semua itu berpulang pada satu sebab yang sama: tangan manusia yang merusak. Masih inget tentang kejadian gunung Kelud meletus tahun lalu?. Ada satu cerita, bintang disekitar gunung kelud, turun gunung rame-rame sebelum lahar panas menerjang, untuk menyelamatkan diri. Gue belum tahu, hewan-hewan rusa,  monyet, ayam alas, burung, etc, itu ngungsinya kemana. Artinya, hewan punya insting yang tajam, untuk membaca pergerakan alam yang akan terjadi.”

Duduk di sebelah gue, di asas sofa warna abu-abu tua, Mas fatik, ngasih pertanya’an, “Kalo kita peka, itu bisa menjadi tanda-tanda sebelum datangnya bencana alam kan?” katanya, dengan mimic muka yang sangat serius.

Gue terdiam sejenak, lalu merenung dalam-dalam, “Yupp…, bener banget, Mas. Bener.’ Jawab gue, sambil manggut-manggut.

“Ya, udah, aku besok pagi berangkat ke Cangar sama temen-temen, ya,’ katanya, lalu tangan kanan’nya masuk ke dalam tas ransel hitam, mengeluarkan biji buah durian seberat satu kilo dalam bungkusan pelastik warna merah, yang sudah siap di tanam dan di lempar pake ketapel.

“Ciamikkk, iki baru anak muda,’ gue tercenung melihat biji buah sebanyak itu.

“Kita harus jaga tempat tingggal kita. Untuk anak cucu kita,’ celoteh Mala. Lalu kami semua yang duduk di meja kafe, gue, Mala, Mas fatik, dan Pido beserta Sugeng yang baru saja gue kenalkan dengan mereka, semua setuju dengan apa yang telah di sumbasingkan. Karena hidup, terlalu pendek untuk tidak berbuat apa-apa.

Setelah membaca cerita ini, pasti kita semua nyadar, untuk melakukan sumbangsih tentang peduli kepada alam semesta, tidak harus menunggu harus jadi “Siapa” dulu, baru melakukan apa, kan?. Dalam ‘Gerakan Cinta negeri #Movement’ biaya masih kita tanggung sendiri-sendiri. Karena biji buahnya kita ambil secara gratisan. Sementara, untuk ketapel, kita buat secara sukarela dari setiap masing-masing anggota komunitas yang akan naik gunung. Oh, iya untuk teman-teman yang ada di Surabaya, bisa kok, langsung gabung bareng kita.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Untuk teman-teman di luar daerah, bisa melakukan hal yang sama.  Pokoknya, jaga bumi ini sebagaimana kita menjaga tempat tinggal, layaknya rumah.  

Dan catatan terakhir gue, tentang topik ini adalah.., banyak banget anak muda yang punya ide keren, dan kreatif yang bisa berguna bagi sesame untuk keluhuran manusia dan alam, tetapi sayang, cuma jadi wacana doang. Endingnyta, kalo memang sudah paham dan ngerti apa yang harus di lakukan, bergeraklah bareng-bareng, karena semangat dan peduli gampang menular.    

Iklan

2 thoughts on “Tentang Gerakan Cinta Negeri Movement #SeedForLife

Monggo pinarak?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s