Mencari Cinta Untuk Anugerah Terindah

#BloggerTrenggalek

#BloggerTrenggalek

Dunia ini memang fana. Apa yang pernah kita akrapi, di lain waktu akan menjadi orang asing, yang kembali ke masa awal, tidak saling kenal lagi. Di sesi-sesi gue mendengarkan curhatan, di atas meja sebuah kafe, Gue dan Gedi sama-sama membahas apa yang kita raih selama setahun ini. Lalu, di antara lalu-lalang pasangan yang melewati pintu masuk, kita jadi berandai-andai: “Apa yang sebenarnya terjadi, jika saat ini gue masih dengan dia?”ucap Gedi pelan, yang tanpa ada jawaban dari gue. Suasana berubah menjadi hening.  

Empat tahun yang lalu, pertama kali gue akrab dengan Gedi, bermula terjadi di kafe ini. Gue hanya berusaha nyisihin waktu buat dengerin segala keluh kesahnya tentang cinta. Tapi sekarang, di saat Gedi butuh bimbingan,  gue labih banyak nyumbang masukan. Kita sama-sama tidak tahu, orang-orang asing yang pernah kita lihat di dalam kafe ini, ada kemungkinan calon pacar berikutnya, atau bisa jadi, jodoh kita yang masih bersama dengan orang lain. Yang sekarang sedang berada di waktu yang salah

Ingatan yang berjalan sendirian itu kembali siuman, setelah ‘orang asing’ mbak-mbak pelayan dengan pipi lesungnya yang ramah, menyapa kami dengan sangat anggun, ‘Permisi, mbak-mas, ini pesanan’nya, sudah datang!’ baru saja meletakan minuman yang kami pesan, mbak-mbak pelayan ini balik bertanya, “Enggak sekalian pesen makananya ya, mas, buat, Mbaknya ini loh?”

Eeehmmm, ‘gue bergumam sebentar, ‘Anaknya lagi diet kok mbak. ‘

Si mbak-mbak pelayan hanya senyum-senyum…’

‘Nanti aja deh mbak, kita belum laper kok!’

“Okeee.., nanti kalo pesen lagi, panggil aku ya, Mas!’

Karena pelayan’nya ramah, gue penasaran untuk tahu, lalu gue bilang,“Namanya siapa, mbak?”

“Anggun. Nama lengkapnya Anggun Larasaty, Mas.’ Jawabnya sambil berjalan, menjauh, pergi kea rah dapur kafe.

Gedi ngelindes kaki kanan gue dengan sandal hight hell-nya, karena berat badanya imbang dengan berat paha kaki kananya, maka… hingga terdengar bunyi ‘kraaaak’ dan gue susul dengan jeritan kencang, ‘Aduhhh  weduss tenan’. Saat itu lah, kode untuk kembali ke topic utama menjadi serius. Gue adalah laki-laki yang suka mengagumi wanita sebagai cipta’an tuhan yang paling sempurna. Sementara Gedi adalah alarm, yang bisa ngasih pagar buat gue agar enggak sampai menjadi laki-laki mata keranjang.  

Dua gelas Krein Beri jus kita mencair. Sama seperti obrolan kami yang mulai mengalir apa adanya. “Tadi nyampek mana, Ged. Lali akuh….?”

 ”IiIhhh kumat nyebelin…,’ Gedi mengigit bibirnya, ‘Dengerin tauk…, apa yang terjadi sekarang, jika gue masih bertahan sama dia, sampai saat ini?’

            “Hasilnya kan?, Yah sama, sama.”

            “Sama gimana, Cupuh?”

“Satu tahun yang lalu, dengan satu tahun yang sekarang, jika dia sebagai pembimbing kamu, tapi usahanya masih main-main gak ada perjuangan sama sekali. Ya, hasilnya sama, Ged. Gak ada banyak yang berubah. Hasilnya gak akan kemana-mana,’ gue mengaduk-ngaduk sendok di dalam kren beri jus yang gue pesan. Tapi setelah gue minum, rasanya masih tetap hambar… sehambar tentang perjalanan mencari cinta untuk anugerah terindah.

“Terus…, terusss?,” alisnya Gedi mulai meruncing, tanda dia adalah pendengar yang baik.

“Gue yakin…., gak ada pencapaian hebat, Geed. Dia masih tetap menjadi se’seorang yang biasa saja. Demikian juga elo Ged. Teorinya kan gini, cinta itu dua pasangan anak manusia, yang sama-sama ngasih pengaruh, ngasih teladan, untuk berjuang bareng-bareng. Kalo berjuang sendirian, itu namanya gerak jalan, Ged. Misal, orang yang sekarang lagi deketin elo, si ‘Anu’ tuh… yang mau ngediri’in yayasan untuk peduli lingkungan. Rasakan deh aura positifnya pas lagi deket, ngerasa banget kan?. Err…,tapi hikmahnya, setelah kejadian gagal nikah itu, kowe ora gampangan baperan toh, sekarang… he-he-he’. Gue menyelipkan bahan candaan biar gak garing.

Detik terasa lambat. Ada sorot mata yang mengambang, ada sedotan krein beri jus yang masih menempel di katup bibirnya Gedi. Tangan kanan gue mengibas-ngibas persis di depan mukanya,  “Hehhhh…., Ged… kowe ngelamun opo?.

Kaca mata minesnya yang kedodoran mulai melorot, kemudian dibalikan ke tempat semula. “Kamu… ngerti Cupuh, aku dulu, pacaran sama dia itu serius. Enggak buat main-main loh. Aku kira, dia itu udah pas banget buat aku. Aku lagi jenuh, dia selalu bisa bikin aku ketawa. Aku cerita, dia selalu ngedengerin. Aku minta saran, dia kasih masukan. Pas aku nangis, di tenangin juga. Eh…, tau…, taunya…,’ Gedi berhenti sejenak, seolah-olah ada kenangan yang mampir sebentar… tapi setelah satu tarikan napas, dia mulai ngomong lagi…, ‘Ya udah, aku sabar aja.’

Tangan kanan gue, mengepal keras-keras, lalu gue nyambung dengan apa yang Gedi maksud…, “Jadi maksudnya, Si Dia pergi kan, dengan cewek lain?”

Gedi masih belum ngomong apa-apa.

“Ged… minimal, kamu masih baikan toh sama dia, itu saja udah cukup buat ngesiksa dia dengan rasa penyesalan kok. Orang baik masak di tinggalin?’

Masih sepi…, hanya kepalanya yang mengangguk.

“Setujuh juga, sih. Gue juga udah gak dendam sama dia. Ngebahas yang lain aja yuk….. kan udah satu tahun juga, Cupuh. Aku sekarang juga sudah beda dari satu tahun yang lalu,”

Spontan… pandangan gue berselidik dengan sempurna. Gue melihat secara fisik, Gedi setahun yang lalu, dengan Gedi yang sekarang, memang banyak berubah. Pakaian yang dikenakan Gedi malam ini, sungguh sangat rapi, malah sekarang, dia suka memakai jilbab. Terus, karier’nya juga cukup istimewa. Bekerja di salah satu bank gede dengan posisi yang cukup mapan. Sisi sosialnya? Dia juga terlibat dalam gerakan anak muda untuk peduli efek rumah kaca.., “Dulu kamu dandan aja, feminim banget. Sekarang serba tertutup dari atas, sampe ke bawah. Di lihat rasanya jadi, enak gitu!.’

Bola matanya yang bulat, mampu membuat gue yakin, apa yang gue dengar ini sungguh-sungguh dari suara hati terdalamnya… “Gara-gara patah hati brengsek itu, gue tahu apa yang harus gue lakukan, Cupuh. Pandangan gue sama cinta, udah beda dari yang dulu. Dan perbedaan sekarang.., aku tahu, cowok yang seperti apa yang aku butuhkan..’ ada jeda sebentar, lalu gedi meniup lilin kecil yang ada di atas meja kami. “Mau tahu, enggak?”

Gue manggut-manggut, ’Mau-mau!”

“Hayoo…, tebak aja deh, tebak kalo bisa…” jawabnya jaim, lalu beranjak pergi ke kasir, menebus bill atas makanan yang kita pesan. Karena waktu sudah sangat larut malam, kami berjalan bareng turun tangga, setelah gue mengantarkan dia masuk ke mobilnya di area parkir. Gue bilang, “Oke, tunggu jawaban gue lima menit lagi di line, Ged…?’

Setelah dia balik duluan, gue membuka akun line pribadi gue, di sanalah gue mulai mengetik sebaris omongan yang belum tersampaikan…’’Cinta itu memang penuh warna, ya Ged. Makanya ada tentang ‘Siapa’ yang datang, ada tentang ‘Siapa’ yang pergi. Gak ada jaminan juga, yang sudah sampek level serius, bisa jadi jodohnya. Kalo cinta bisa jadi jaminan, mungkin kantor KUA bakal lebih banyak dari pada kantor penggadaian. Dan sekarang gue percaya… karena hubungan akan ada masa berantemnya, gue kira kamu bakal nyari calon pasangan yang lebih menghormati apa yang kamu suka. Jadi pilih calon pasangan yang kalem…’ setelah gue selesai menulis ini, gue mencet tombol send.

Pesan terkirim…

Baru saja gue menyalakan motor metik tua, untuk bergegas pulang, sebuah bunyi ‘ting-tung’ pesan line masuk dari akun bernama Gedi. Gue yakin, dia mengetik pesan ini di tengah perjalanan. Perlahan-lahan gue baca isinya, kata demi kata, lalu ada yang sesak dalam dada gue… di antara pesan pendek yang gue terima malam itu.., ‘Makasih ya, Cupuh, selama lebih dari setahun ini, aku sering gangguin waktumu, karena sungguh, ini gangguan terbaik buat kita sama-sama berkembang..’

Iklan

13 thoughts on “Mencari Cinta Untuk Anugerah Terindah

  1. Gara berkata:

    Duh maknyuss banget sih ini. Saya berasa ikut dalam pembicaraanmu dengan Gedi, Mas. Jujur ya, semua yang terjadi dalam hidup, susah atau senang itu bergantian, terus pasti ada maksudnya, entah menjadikan diri lebih baik, atau membuat kita lebih dewasa. Saya bersyukur kalau Gedi bisa jadi lebih baik setelah kejadian tidak menyenangkan itu–saya berharap kita semua bisa begitu ketika kita mengalami masalah serupa.

Monggo pinarak?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s