Ekspedisi #SeedForLife ke Puncak Pulau N’jorok

Foto: Tunjung {notedcupu.com}

Foto: Tunjung {notedcupu.com}

Cerita ini gue tulis di kampung halaman. Maka alangkah lebih baiknya, dalam menulis #noted ini, menyesuaikan dengan suasana yang ada di desa. Hal-hal yang ada di dalam cerita ini, di tulis dengan apa adanya. Nah, sebagai blogger yang berasal dari desa terdalam di kota Trenggalek. Yang sudah sering kali, sewaktu menulis di ibu kota, memakai perwujudan anak gaul dengan nama ‘gue’. Tapi kali ini beda, aku kembali menjadi mas-mas jawa. Biar gak kuwalat, aku pakai bahasa asli dari sana. Setuju, ora?.

Enggak seperti biasanya, awal bulan February, aku pulang membawa beberapa peralatan canggih. Sepagi itu, setelah kami turun dari mobil, ada camera gede di ransel tangan kanan. Seperti rombongan yang baru saja pulang dari pengungsian, barang-barang ini menjadi menu wajib untuk dibawa. Tas ransel di punggungku juga ada mini camera kecil, yang akan kami pakai buat take gambar besok harinya. Baru sampai depan rumah, mas fatik, teman dari kota – yang juga penggagas komunitas cinta negeri, membuat adegan spontan, “Gila, iki ini keren,’ dia berdecak kagum, “Boed, beli, tanah di sini masih murah enggak, aku pengen punya rumah di sini?”. lalu pandangnya terlempar ke segala arah.

Aku memasang muka lesu, namun, dingin’nya udara pegunungan mampu mengusir rasa letih akibat mabuk darat selama delapan jam perjalanan. Entah kenapa, suasana desa memang bisa menyihir mood untuk kembali bersemangat. Aku kembali mengangkat tas ransel, dan tas kancut. Lalu dengan gaya primordial, aku komentari pertanya’an mas Fatik, “Ono mas, tanah kuburan masih murah. Gelem ora?’ aku nyengir kuda, lalu berjalan terhuyung masuk rumah.

Namun, orang kota yang masuk desa ini, masih takjub dengan pegunungan di samping rumah.

Ke indahan alam di kampung halamanku memang juara, ketenangan suasananya yang jauh dari keramaian kota menawarkan keadamian. Ibarat singkong yang bisa di olah dalam berbagai varian jenis makanan, bagiku, Kota Panggul punya paket lengkap pemandangan alam, yang enggak di punyai daerah mana pun. Barang kali, Tuhan memang sengaja bermurah hati menciptakan tempat tinggal, yang super mewah ini, agar kita tak henti-hentinya ngucapin rasa syukur, karena kita mahkluk beruntung yang bisa lahir di desa.

Dari 250 juta lebih penduduk Indonesia, enggak banyak yang tahu, kalo kampung halamanku punya banyak wahana wisata. Berhubung sekarang zaman digital, maka seluruh agenda selama perjalanan kita abadikan dalam bentuk video dokumenter dan foto. Karena aku berfikir, video bisa menjadi media kampanye paling mujarab, untuk mereka yang enggak doyan membaca. Agenda ini bisa berjalan lancar, karena peran serta dari mas-mas jawa yang nyambung di ajak ngobrol. Ngomongin berbagai topik dan isu. Intinya, kami punya keresahan yang sama, untuk menjaga tempat tinggal kita agar tetap hijau lestari.

Cibok bersambut jamban. Sabtu siang sehabis aku dan mas fatik sarapan dengan tempe goreng sebaskom, mendadak Pido sudah nyampe di rumah. Sebentar…, bagi yang belum tahu, sosok tadi, dia adalah anak moderat yang di perebutkan budhe-budhe di kampung halaman. Entah diperebutkan sebagai apa!. Agenda siang ini, kumpul-kumpul sama mas-mas jawa yang sudah menunggu di Pantai Konang. Mas Rely, guru yang merangkap sebagai aktivis gaek, multi fungsi ini, sebagai jembatan penghubung antara rombongan komunitas #SeedForlife dan teman-teman komunitas di Panggul.

“Lha…., mas Rely’ne hopo shek ngajar, kang?’ tanya pido, sehabis nyamperin obos – seorang wartawan infotaimen di Panggul – untuk di ajak bergabung bareng. Karena obos adalah teman gank kami semasa di SMA.

“Isek, isek, tapi diluk engkas wes pulang, katane!,’ sambil nyetir motor, aku menyodorkan layar henfon ke depan mukanya Pido. “Hooo.., sip-sip, sip,’ jawabnya.

‘Wah.., bakal…, rame tenan iki. Papang sama konco-konco podo teko, toh?’ Mas fatik enggak kalah semangat.

Waktu begitu cepat bergerak maju. Jarak rumah ku dengan pantai konang, lumayan dekat, selang berkendara motor lima belas menit kami sudah sampai. Saat kami tiba di pinggir pantai, tempat yang biasanya kami pakai untuk nongkrong. Ternyata, mereka pada belum datang. Telfon ku berdering, Mas Rely ngasih kabar, kalo kita di suruh menunggu sebentar. “Woek…., aku masih ngajar, tiga puluh menit lagi selesai. Shek-shek, Papang sama Rio tak telfone, ben mrono duluan.’ Kami berempat, manggut-manggut kompak, menunggu sambil memesan ikan tuna bakar sambal kecap.

Kota kecil yang maha luas ini, terlalu pendek untuk di jelajahi dengan kurun waktu dua hari, dua malam. Makanan penuh nutrisi itu, habis dalam waktu sekejap. Empat orang dengan empat ikan tuna besar berlumuran sambal kecap, dan sewakul nasi, sepertinya mampu membuat perut kami menjorok maju. Aku masih belum paham, geragas dengan kerasukan setan kuli bangunan memang susah dibedakan. Pak Guru kesenian itu datang, lalu kami di salami satu-persatu. Hingga tedengar suara yang beda, ‘Relly, Mas?’

“Fatik, mas, teman’nya, Blogger Cup(uh)?’ lalu mas Rely duduk di dongkrak, berhadapan dengan mas fatik.

Alam yang tenang ini seolah-olah berbicara. Pertemuan ini di luar kebetulan, mas-mas jawa yang ada di pertemuan ini, berkumpul dengan sangat ajaib. Dengan misi yang sama, turun tangan untuk bareng-bareng merawat lingkungan hidup, tentang alam, desa, dan kita yang telah sadar sebagai penjaganya. Aku yakin, nasip repulik ini di jaga oleh anak muda yang masih punya idealisme. Obrolan di sabtu siang ini, mengalir penuh makna, saling tukar pengetahuan untuk sama-sama menggerak’kan. Suasana semakin hangat, ketika kami mendengar cerita Mas Adit yang baru pulang dari SM3T, di Pulau NTT sana.


“Di sana kui, banyak kang, hutan yang di keramatkan oleh masyarakat sekitar, biar tetap terjaga,’ ceritanya, lalu kami mendengarnya dengan senang hati. Mas Papang dan Rio, yang hampir datang di waktu yang bersamaan. Ikut duduk, telinganya doyan menyimak layaknya mendengar dongeng seorang Bapak Guru — yang kaya akan sumber pengetahuan berbasis literature. Lalu Mas Jawa dengan rambut di ore, ala almarhum aktor legendaris Benyamin, Papang. Dengan meriah menanggapi,

‘Hoora, bedo karo kene yoh cah?,’ sautnya, sambil membenarkan topi anyamannya, yang penceng terhempas angin pantai.

Maksud’te, piye toh mas?’ saut ku, belum paham.

“Di keramatne…, kuwi,’ ujung rokoknya menyala, ada jeda sejenak, sebelum asap rokok itu menghilang di sapu angin, ‘Sama halnya kalo di sini, tempat danyangan. Misal ada sumber air gede, terus di pagari pake tembok, di sekitarnya tanami bunga sembojo, terus di kasih telur ayam jawa, kasih dupa. Pokoknya biar enggak di jamah masyarakat. Kan kesannya mistis dan klenik, toh?. Itu Ilmu warisan mbah kita zaman dulu loh, yang masih bisa di pakai zaman sekarang, sob!,’

Kami semua setuju, “Ada benarnya juga, tuh mas,’ saut Pido, geleng-geleng kepala, “Ampoh tenan, wong zaman biyen!”

Capek ngobrol sampai rahang terasa pegal, oleh mereka berdua, Papang Dan Rio, kami semua di ajak melewati sungai gede, berjalan di atas jembatan beton yang ragat’nya menghabiskan satu milyar lebih. Aku ingat, jembatan ini dulu sewaktu aku masih zaman SMP, masih sebetas jembatan apa adanya. Jembatan besi yang hanya bisa di naiki, oleh satu kendaraan sepedah motor. Tapi sekarang, zaman telah berumur tua, sungai gede mulai menunjukkan murkanya. Alam berkembang, dibarengi dengan anak-anak muda yang mampu menjaganya. Seimbang.

Rio dan Papang sudah kayak mas-mas, pemandu turis di pulau Zimbawe, mereka berdua memandu kami dengan hati-hati. Setelah melewati semak belukar, jalan berlumpur, dan satu kali loncatan kecil, kami tiba di bawa jembatan beton bernama – jembatan Sanggung.

“Nah, ini pembibitan mangrove yang aku omongin tadi mas?” Rio mencoba menjelaskan, kepada mas fatik.

“Jumlah’e, piro ki mas?’ tanya mas fatik sambil menunjuk penangkaran mangrove yang ada di bawahnya.

Papang pun ikut menjawab, “Sitik sikan, mas. Palingi 90-an biji,’

“Owalah, ini toh mas, yang kemarin rame masuk liputannya Jawa Pos?’ sergahku, dengan dana tinggi dan pengen tahu, yang kebetulan seminggu yang lalu mereka berdua masuk koran Jawa Pos tentang pelestarian hutan mangrove di Pantai Konang, desa Nglebeng. Nah, sebagai pelengkap atas narasi ini, aku tampilkan video drone, hasil liputan dapur karya. Dari desa tercinta, kami segenap Mas-Mas Pangggul, berterimakasih atas pembuatan karya monumental ini.

Hari ke dua setelah berada di kampung halaman, kami masih terus aktif mencari lokasi wisata yang layak di kunjungi. Kami mencari informasi dari berbagai sumber, baik dari keterangan masyarakat, mau pun, dari sumber-sumber yang telah ada di internet, namun kurang di ekspos ke banyak orang. Hasilnya pun mencengangkan, ada lokasi yang enggak kami ekspos, namun demi menjaga keperawanan dan para penghuni satwa langka yang ada di dalamnya, terpaksa kami simpan rapat-rapat. Biarkan alam berkembang secara alami.

Kampung halaman, di kota kecil Panggul, memang banyak menyimpan kekaya’an alam yang masih tersembunyi. Setelah selesai kami mengambil gambar pada suatu danau, siang itu jam 11 siang, kami di hadang gujan gerimis. Jalan licin, karena aspal sudah mengelupas dan menyisakan lubang-lubang besar segede pantat kuda. Namun dibalik itu semua, kami masih bisa menikmati hidangan alam, hijaunya pohon di sekeliling jalan. Dengan hanya tiga orang anggota #SeedForlife. Sewaktu perjalanan turun gunung, mata yang sering jelalatan membawa petunjuk, kami menemukan air terjun di Desa Tanggkil.

Setelah selesai menonton video atau gambar air terjun tangkil tadi, pasti akan ada pertanyaan, bagaimana jalannya ke sana dari kota Panggul? Jauh enggak?. Sebagai jawaban’nya, sekitar tiga puluh menit sampai ke lokasi, jika di tempuh menggunakan sepedah motor, mengingat jalan menuju kesana, cukup menantang. Maka, kami menyarankan untuk pakai motor kros: tikungan tajam, jalan berlubang dan menanjak, akan muda di lewati oleh ‘ban drakula’.

Setelah tim #Ekspedisi #SeedForlife, sampai di kota, kami di sambut meriah, di rumah Mas Relly. Berbagai hidangan khas kota Panggul menunggu di atas tikar yang terbetang di ruang keluarga. Wedang bubuk deplok, menjadi minuman andalan, ketika kami becengkrama, untuk menyiapkan agenda berikutnya. Dengan satu kali sruputan, mampu membuat energi kami pulih kembali. Sambil menunggu Mas Papang datang, kami sholat berjamah dan memanjat doa, untuk hal-hal baik yang akan kami kerjakan.

Ketika semua logistik dan perlengkapan selesai di siapkan, hari itu, minggu tanggal 7 February, menjadi hari terpanjang dalam ekspedisi komunitas #GerakanCintaNegeri (baca: #SeedForLife), dan Mas Papang, relawan hutan mangrove dari kota tercinta, Panggul. Untuk sama-sama berkarya dan bersumbangih terhadap apa yang di pelajarinya. Dengan kompak, kami berangkat bareng menuju aikon maha dahsyat kota Pangul, berkunjung ke Pulau Njorok — yang lokasinya dibalik bukit Pantai Pelang.

Bisa jadi hari itu, hari terindah sepanjang kami berada di kampung halaman. Bisa jadi, hari itu, hari tergampang sepanjang kami masuk ke Pantai Pelang, karena sewaktu rombongan tiba di pos penjaga’an untuk pembelian tiket masuk area wisata. Kami di hadang oleh dua orang petugas, satu berkumis, satu berperut buncit. Lalu Mas Papang yang memakai topi koboi, turun menyapa bapak berkumis, “Pak, Papang. Mau izin, mau foto-foto ambil gambar iki,’ Mas Papang mengeluarkan senyum pamungkasnya.

“He-he-he.., jebas-jebus waeh sampean iki, Pang,’ katanya dengan akrab, lalu dengan aksen jawa, bapak berkumis ini menjawab dengan ramah, “Monggo, Mas Papang, silahkan masuk wae. Ingat yo Mas, temannya jangan di saranin mandi di pantai, loh.’ Kumisnya yang layu mengembang, dengan satu perhatian dia bilang lagi, “Bahayaaaaaa!’

Jadi, monggo saiksikan video berikut ini. 


Ujung dari penutup dari #Ekspedisi ini, bagi yang telah menyimak video dokumenter tentang bagaimana kami bergerak bareng-bareng, kami sepakat untuk memperbaiki keadaan alam yang telah rusak. Atas kejadian ini, kami berefleksi bahwa, kita bisa hidup tanpa emas, batu bara, tapi kita enggak bisa hidup tanpa air. Manusia, baru menyadari ketika pohon terahir di bumi ditebang, maka harta sebanyak apa pun tidak bisa menghasilkan udara. Maka alam semesta, air, pohon, adalah nyawa bagi kelangsungan kita hidup di bumi. Matur nuhun.

 

NB: Video dokumenternya berikutnya akan menyusul, cuah.

Iklan

6 thoughts on “Ekspedisi #SeedForLife ke Puncak Pulau N’jorok

  1. kekekenanga berkata:

    Paragraf terakhir wesss kereennn…

    Indonesia mmng indah asal selalu dijaga kebersihan dan kelestariannya yah Bang 🙂

    Eniweyy… baru balik kesini setelah puluhan juta tahun hahha..

      • sedo berkata:

        wkwkkwk, aku ra ono sulusi sing pasti mas, cuman bisasanya (kalo pantai yg dikelola) dibakarnya engga persis dipinggir pantai, tapi agak di dalam. Tapi bagus untuk pengelan pantai-nya, saya pernah ke trenggalek, cuman berkunjung ke karang gongso dan goa lowo, salam dari semarang

Monggo pinarak?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s