Kepada Seseorang Yang Merantau Ke Kota

#JogjaRadiDiDolSyu

#JogjaRadiDiDolSyu

Orang-orang yang pergi merantau. Orang yang mungkin beruntung. Beruntung, karena semakin jauh meninggalkan kampung halaman, akan semakin bisa membuat perbandingkan. Meninggalkan desa, tempat dimana kita dilahirkan, bisa jadi membuat jarak dengan kedamaian di masa lalu. Kepergian saat ini, sudah waktunya memandang hidup dari jarak jauh, agar hidup ini tumbuh dalam dua sisi yang saling melengkapi.

Orang jawa bilang, sewaktu masih di desa, sering kali punya angan-angan, enakan urep nek kutho. ‘Golek duwet penak,’ dan sederet alasan kere, bagi mereka yang belum mengalami dan menjalani keadaan aslinya. Sama halnya, orang kota juga bilang, ‘Hidup di desa enak, tenang karena jauh dari keramaian kota,’ alasan kere yang juga sudah akrab di telinga banyak orang. Maka Tuhan menciptakan hijrah, bagian dari perpindahan mahkluknya yang masih hidup di bumi, untuk membuka mata hati.

Tentang ketentraman seperti apa yang seharusnya kita butuhkan agar hidup lebih damai?. Di ibu kota, lihatlah…, ada orang yang memilih untuk punya uang sekarung, lalu menumpuknya untuk membeli private jet. Ada orang yang membeli rumah gedong besar, di komplek perumahan mewah dengan pagar tinggi menjulang. Atau ada lagi, orang punya mobil dengan mesin kuda jingkrak tapi gak punya lahan kosong buat parkir?. Maka Tuhan menciptakan alam lain, bahwa kemegahan ini adalah pinjaman.

Merantau sesungguhnya adalah proses bermakna menemukan jati diri. Kita sejatinya sedang mencari-cari, atas nama perantauan ini, Tuhan mengirimkan dan mempertemukan pengalaman baru, yang sebelum-sebelumnya belum pernah kita hadapi. Jika hidup ini adalah fana dan serba misterius layaknya jodoh dan rezeki, maka memprediksi adalah sebuah jawabannya. Bahwa seseorang yang merantau, dia yang berdiri di tengah lingkaran ketakutan dan kepastian.

Dua hal yang akan selalu abadi. Ketakutan atas kerasnya sebuah perjuangan, atau kepastian tentang hari esok yang membuat kita bisa lebih hidup. Maka Tuhan, menciptakan harapan, agar kita rajin bersyukur.

Perantauan memberi ruang yang seluas-luasnya, untuk lebih punya rasa percaya diri, bahwa anak-anak desa bisa membusungkan dada. Ada waktu dimana, ketika kita pulang kerja, setelah senja itu pergi — di musim hujan misalnya — mataku tersibak melihat anak-anak kota berlarian menendang bola di atas jalan raya beraspal. Pagarnya berupa bangunan beton. Apakah mereka bisa bahagi?. Bisa.

Sama seperti waktu aku kecil dulu. Tapi ada bedanya?. Nikmatnya yang berbeda. Kita berbeda dalam topografi lingkungan. Desaku masih punya segalanya untuk menikmati masa kecil secara sepenuhnya. Kaki ku masih bisa merasakan enaknya jalan di atas rumput teki, dan menendang bola di antara kubangan lumpur yang becek, di tengah lapangan. Maka, Tuhan Maha Pemurah, melahirkan kita di tempat yang kaya raya.

Perantauan membuat pikiran kita tumbuh menjadi lebih waras. Buah dari bermukim di ibu kota. Kita tahu keadaan yang bukan sekedar sawang sinawang. Rumah padat penduduk, gedung tinggi menjulang dimana-mana. Mewah secara kasat mata? iya, benar sekali, tapi itu kamuflase besar yang perlu di renungkan kebenaran’nya.

Ada kawasan elit perumahan, ada rumah reot dan kumuh di pinggir rell kereta. Jika hidup patokannya bahagia guyup rukun antar tetangga, apa yang di harapkan dari situasi semacam itu?. Kesepian, hidup bagaikan tidak punya siapa-siapa. Ada rumah yang berkerangkeng oleh pagar besi, seolah tidak butuh tetangga. Ada juga rumah biasa-biasa saja, tapi menjadi rumah bagi siapa saja mau numpang untuk merantau. Inilah gambaran manusia Indonesia sesungguhnya, guyup rukun. Mahkluk sosial, yang tidak pernah terjebak dalam kasta sosial.

Perantauan membuat kita di didik menjadi seorang guru. Kita tahu, cerita anak-anak desa jauh dari bencana ekologi. Di ibu kota, keseimbangan alam sudah keluar dari batas-batas normal. Air tanah menghilang, daerah resapan punah tertutup pembangunan dengan dalih ekonomi. Banjir menggenang kadang bukan hal tabu. Sering kali, di musim kemarau, musibah datang. Ketika ada korsleting listrik di satu rumah, langsung menjalar kemana-mana.

Kepadatan’nya melebihi daya tampung tata ruang. Untuk itu, bumi memberi tempat tinggal, agar kita bisa mengambil yang ada di ‘perutnya’ secara secukupnya. Maka di desa tidak ada pemadam kebakaran. Kami miskin kejadian seperti ini, karena di desa yang terjadi, asap yang menyambar di hidung adalah, hasil kebarakan damen kering di tengah sawah oleh Petani di masa peralihan masa tanam.

Tuhan menuntun anak desa untuk merantau, dengan maksud membuka mata hati, memperlihatkan betapa kayanya bisa terlahir di desa. Nilai-nilai tentang hidup di desa, jarang kita temukan di tempat perantauan. Yang tersisa hari ini, wajah asli Indonesia sekarang adalah desanya. Tempat dimana penduduknya, benar-benar hidup neriman, mencukupi segala kebutuhan hidupnya langsung dari alam di sekitarnya.

Setiap gang-gang rumah antar tetangga, masih cukup lapang untuk di tanami tanaman kebutuhan pokok. Tentang lahan kosong dibelakang rumah, orang desa menyebutnya leboh, ada bahan sayuran tanpa harus membuka dompet. Daun kates dan daun singkong boleh di ambil siapa saja, bagi siapa yang mau. Peristiwa kedermawanan’nya meneduhkan hati. Pohon salam, yang tumbuh liar di depan rumah, daun’nya bisa menjadi bumbu masakan yang enak. Tidak heran, dulu penjajah datang merampok hasil bumi.

Anak-anak seumuranku dulu, bisa berlari dengan leluasa, tanpa harus memakai sendal jepit. Tidak ada halaman rumah yang di tutupi oleh beton, yang ada, halaman rumah berisi polibek dengan tanaman cabe rawit. Asuransi mereka, bukan dari industri modern, berasal dari nilai keluhuran yang ada sejak zaman dahulu kala. Ketika ada tetangga yang gregesi, tetangga sekampung rame-rame menjenguk dengan membawa macam oleh-oleh tangan dan amplop.

Maka di dalam merantau, ada perpindahan yang terjadi. Kita menemukan tempat baru, kediaman baru, orang-orang baru, yang entah datang dari belahan bumi yang mana. Berbeda secara latar belakang, namun berkumpul di habitat yang sama. Bahwa, kita seolah manusia yang hidup hanya memenuhi satu kebutuhan, urusan perut, dan kata-kata kemapanan lain’nya. Sementara kebahagian lain, ada yang enggak bisa kita dapatkan di ibu kota.

Desa memang tempat yang tidak sempurna untuk di tempati oleh kita yang menginginkan hidup modern. Tapi apa yang ada di sana, standar hidup yang di pakai, sungguh penuh kejujuran dan apa adanya. Kampung halaman yang masih ada sekarang, layak untuk di perjuangkan dan di pertahankan. Ada rasa dimana, semakin jauh meninggalkan desa, rasa cinta terhadap kampung halaman akan semakin dahsyat.

Itu sebabnya tuhan menciptakan kenangan asyik masa kecil, agar kita, merindukannya di saat sudah besar. Dan nostalgia bagian dari cara mensyukuri hidup ini, sejatinya kita anak Indonesia yang paling beruntung. Kenangan masa kecil, hanya bisa kita temukan ketika kita pulang di sana, menetap di sana, di desa. Bertemu dengan generasi, setelah kita, maka jarak dengan masa lalu akan semakin dekat. Hati ini bertanya: “Lalu, kapan pulang?’ Secepatnya, setelah semuanya tumbuh dengan matang.

Iklan

14 thoughts on “Kepada Seseorang Yang Merantau Ke Kota

  1. gegekrisopras berkata:

    Aku perantau dari pulau Jawa, kedua orangtuaku pun perantau dari pulau Sumatera. Ada kenangan tersendiri yang indah, masa lalu yang tak tergantikan walau kami merantau sejauh apapun.

    Sekali waktu pernah pulang ke kampung halaman orangtuaku. Pemandangan, suasana, dan kehidupannya benar-benar indah 🙂

  2. nbsusanto berkata:

    “Lalu, kapan pulang?” atau sejenisnya semacam apakah bisa pulang di tanggal merah..
    jleb banget mas kalo dapat sms dari orang di rumah.. ternyata begini ya rasanya merantau, menumbuhkan rasa cinta yang semakin dalam pada kampung halaman.. padahal dulu pas masih di desa kalo ada waktu senggang yang ada ya trus starter motor dan dolan.. sekarang ada kesempatan pulang dan nggak ada kegiatan pun tetep mending di rumah saja..

    bener, kabeh ki wang sinawang mas.. dulu pas masih di jogja pengen pendapatan yang lebih gedhe walau sebenernya di jogja sudah cukup untuk hidup.. insya Allah nanti setelah tabungan kiranya cukup pengen balik di desa saja, bikin usaha yang siapa tau bisa membantu tetangga kampung..

    #sambil muter “Dalang Poer – Pojok Ndesa”

Monggo pinarak?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s