Oleh-Oleh dari Gunung Panderman

buntuuTerlahir di sebuah desa di kota kecil Panggul, membuat siapa saja akrab dengan kedamaian suasana desa. Ketenangan memang membawa pada ketentraman. Apa lagi jika kita sudah pindah, ada hal yang telah pergi. Andai saja, tempat perantauan di ibu kota ini masih punya ‘desa’, mungkin aku ndak perlu eksodus ke luar kota untuk bersemedi. Maksudnya bersemedi bukan bertapa bakar dupo. Tapi…, keramaian kota yang bising, membuat ide kadang jadi mampet. Ujung-ujungnya, aku bakal nge-posting di lini masa pake tagar #Buntu.

Kemenyan bersambut dupo. Ide untuk jalan-jalan pun seolah menjadi jawaban atas datangnya sebuah kebosanan. Tentang indahnya tempat baru, menjadi candu untuk kembali angkat koper, lalu ngacir ke tempat tujuan. Tempat tenang yang berada dalam wilayah kota, terpaksa aku hapus. Sudah waktunya, untuk menyusun karya baru, sudah waktunya tubuh ini diberi penghargaan, memanjakan’nya dengan melihat gunung kembar supaya pikiran jadi lebih adem.

Dari dulu, aku memang gak pernah suka pergi piknik ke pusat perbelanjaan, atau gedung-gedung mewah. Seperti ngelayap ke mall, atau, main ke wahana lain yang sejajar dengan bangunan modern. Njur piye meneh, lahir di desa membuatku tetap menjadi pria kuno-kuno jadul. Siksaan paling kejam ketika merantau ke kota, sering kangen melihat gunung. Karena kedamaian jiwa hanya bisa di temukan di tempat-tempat hening. Buat ku, piknik ke gunung jauh lebih mewah dari tempat manapun dibelahan bumi ini.

Aku bukan pejabat yang merangkap sebagai politisi yang suka mengumbar kata-kata konspirasi ketika ketangkap basah sedang korupsi. Tapi kali ini, alam semesta seolah-olah sedang bermufakat secara diam-diam. Ada isyarat yang tersampaikan dari balik keramaian kota. Isyarat agar hendak menjenguk, dan menengok tentang indahnya suasana desa. Jumat siang, aku berangkat ke suatu tempat, dengan membawa peralatan tempur.

Isinya berbagai jenis peralatan yang melanggar pakem penduduk jawa dalam bepergian. Bukan kardus indomie, tapi tas ransel berisi pakaian, dan alat-alat tripot buat rekaman. Yang biasanya, mbah-mbah zaman dulu punya pakem, hidup mapan kuncinya: sandang, pangan dan papan. Aku, sebagai cucu generasi penerus, nuhun sewu, aku revisi menjadi. Sandang, pangan, papan, dan internet. Makanya, tas ranselku berisi leptop buat selancar di dunia maya.

Setelah aku sampai di bawah kaki bukit gunung panderman. Keadan’nya di sana masih baik-baik saja. Petani masih bisa pergi berkebun membawa pacul dan ganco, tanahnya yang subur, tempat sempurna untuk menanam sayur dan berbagai buah lokal, dengan cara inilah orang desa bisa dengan mudah melanjutkan hidup. Pohon-pohon di sekitar kaki gunung panderman, masih terjaga dengan sempurna.

Biarpun di kaki gunung panderman bukan desa, kampung halamanku. Sebagai penududuk yang sementara bermukim di kota besar Surabaya. Batu adalah desa yang terkonsep menjadi area wisata pemandangan alam. Untuk itu, mari kita tunggangi konsep itu, untuk kepentingan pribadi. Kepentingan pribadi yang ternyata — tanpa sadar – juga kepentingan penduduk di sana. Pangan dan papan, yang kita beli sementara saat berkunjung, sama halnya, membantu memakmur kan masyarakat di sana.

Dan aku, sebagai mantan anak petani gurem yang mencoba menanam kata-kata di dunia maya. Senjataku bukan pacol dan ganco, tapi sebuah mesin ketik. Dan lahanku bukan sebuah kebun dan sawah, tapi internet yang maha luas. Wahai anak muda, calon generasi penerus yang akan menjadi ‘mbah-mbah’ pada masanya, zaman boleh berganti, tapi hati selamanya akan tetap sama. Mencintai kampung halaman, desa dan seisinya.

Iklan

5 thoughts on “Oleh-Oleh dari Gunung Panderman

  1. Gara berkata:

    Semoga perjalanan ke Gunung Pandermannya membawa hikmah dan bahan cerita yang banyak buat dibagi di sini ya Mas :hehe. Tetirah di gunung memang semacam membuka katup-katup otak. Pulang-pulang jadi lebih segar dan lebih siap menghadapi semua dinamika kehidupan. Jadi ingat nih kalau saya juga butuh tetirah serupa :hehe. Padahal kemarin baru habis mudik :haha.

Monggo pinarak?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s