Senjakakala Gemebyar Pengantin di Kota Tua

#RitusPernikahan

#RitusPernikahan

Manusia dimana pun berada sama-sama punya persamaan. Baik di kota, mau pun di desa. Sangkaan orang biasanya muncul akibat adanya sebuah pilihan. Lebih-lebih, memilih pilihan yang jatuhnya seumur hidup dalam sekali. Ritus pernikahan memang sekali dalam seumur hidup. Tapi di dalam pesta pernikahan ini, banyak sangkaan yang berubah menjadi buah bibir.

Di desaku, ritus pernikahan, menjadi kegembiraan penduduk sekampung. Apa lagi pas lagi musim mantenan, undangan yang datang ke rumah, buat bapak dan simbok, dalam sehari bisa delapan uleman. Semakin banyak undangan, artinya semakin banyak uang ampol yang harus di setorkan setelah selesai makan sego rames..,  orang desa menyebutnya mbecek.

Kenanganku sewaktu nganterin simbok, untuk mbecek, sebelum berangkat biasanya, sibuk ngebagi-bagi lembaran duwit sumbangan untuk banyaknya undangan yang datang di waktu yang sama. Teori dari belahan bumi yang mana, orang-orang desa, memang anti muka tembok. ‘Meskipun sumbangnya gak banyak, sungkan kalo gak datang.’ Komentar ini yang akrap di telingaku, ketika seorang anak mengajukan pertanyaan polos, ‘Untuk apa mbecek?

Jika aku mengatarkan simbok mbecek naik motor, menghadiri undangan mantenan di luar desa, aku masih bisa menyaksikan pesta nikahan yang masih seragam. Di depan rumah, acara duwe gawe itu di adakan. Terop menjadi peneduh bagi tamu yang datang dan pergi. Janur kuning, sebagai dekorasi untuk ucapan selamat datang. Ritus pernikahan di sore itu, musik kosidahan bersenandung menjadi lagu wajib untuk di putar.

Untuk undangan yang dekat-dekat, yang masih lingkup satu kelurahan. Gak cuma rombongan pejabat yang tour ‘de java’, tour study banding, yang punya kelompok paguyuban guyup rukun. Biasanya simbok, dan, para tetangganya yang se-uleman, berangkat bareng-bareng sambil bawa ember berisi beras yang tertindih gula dalam beberapa kilo. Biasanya di antara penggerak kelompok tadi, satu di antaranya ada yang paling vokal, ‘Budal,  sore-sorean waeh yo, Yuuu..?’

Saling memberi menjadi sesuatu yang lumrah. Berangkat dan pulang, ember masih tetap berisi. Jika di buka taplaknya di atas meja ruang dapur, isinya beberapa nasi bungkus dari daun jati, baunya harum. Lengkap dengan irisan semur daging sapi, dan jajanan pasar. Makanan jenis ini menjadi enak dan nikmat karena jarang di jumpai, jika bukan di musim pernikahan.

Zaman ketika acara mantenan masih mengunakan halaman depan rumah, sebagai tempat pestanya. Dan undangan di jawab gak sekedar uang amplop, hal-hal yang seperti itu yang membuat ke akraban sesama warga, selain hari lebaran. Halaman yang luas, membuat tamu undangan gak perlu antre buat masuk area hajatan, maklum saja, kedekatan memang muncul saat enggak ada jarak. Hadirin masih di sapa dengan hangat, lalu nuansa personal itu terasa masih hidup.

Wajah ritus pernikahan itu semakin, bergeser, berubah, dan muncul warna lain ketika ada hal yang telah bergerak. Sama seperti perpindahan langkah kecil, dari desa ke ibu kota. Tapi perpindahan eksodus ku beberapa tahun ini, telah membawa cerita baru untuk simbok dan orang-orang di desa. Sangkaan itu, telah berwujud menjadi fakta sosial yang membuat kita jadi merenung.

Senja sore itu, telah berganti menjadi gelap. Di zaman yang sama, namun berbeda dalam hal jarak dan lokasi. Di ibu kota, ritus pernikahan seorang anak pejabat, belum lama ini, menggelar acaranya di gedung besar. Tamu yang datang, entah dari tetangga yang mana. Antrian itu, meletus hingga membuat undangan berdesak-desakan seperti sedang antri sembako.

Salaman dengan yang punya hajatan menjadi hal yang langka. hadirin yang tidak betah antri, terpaksa keluar gedung.., bukan tidak mungkin bekas kaki yang ke injak-injak, merahnya bisa sampai di hati.

Sudah bukan menjadi hal tabu, pernikahan yang gemerlapan, hal yang lumrah di ibu kota. Resiko dari sebuah pergeseran. Tempat yang mewah, undangan yang tersebar, hanya orang tua pengundang yang sebetas kenal. Boleh jadi, semua itu, undangan untuk mengesahkan tentang simbol pencapaian atas suksesnya sebuah kemapanan. Bagi banyak orang, merayakan sebuah pencapaian,  sebuah kewajiban.

Bagi sebagian orang, yang memilih untuk bersahaja, pemandangan pernikahan yang gemerlapan, tanpa peka terhadap kewajiban sosial adalah lunturnya kebaikan dan bekunya empati. Kewajiban sosial di antaranya, kurang memenuhi zakat, tidak pernah membayar pajak, dan hal lain yang sejenisnya.., yang mendorong untuk mengasah kepeka’an hati.

Jika sama-sama harus memilih. Bebas, mau memilih menerima sangka’an,  sampai menjadi buah bibir, atau mengambil pengalaman ritus pernikahan orang lain untuk memperkaya kepribadian. Bersahajanya kenangan indah di desa sedang cemburu dan asyik bertanya sambil duduk di bawah janur kuning, “Sampean, berada di zaman yang salah, atau jalannya yang salah?’

Iklan

2 thoughts on “Senjakakala Gemebyar Pengantin di Kota Tua

Monggo pinarak?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s