Antara Hati yang Lembut dan Hati yang Rapuh

#BloggerTanahJawa

notedcupu.com

Selain kafe Herlijk di museum perpustakaan Bank Indonesia, jalan darmo itu. Tempat nongkrong kami, sering nomaden, pindah-pindah tempat. Tapi yang paling sering dikunjungi, kami yang tergabung dalam paguyuban Rojali: maksudnya bukan rombongan janda liar, lo. Tapi rombongan jejaka-jejaka melankoli. Rombongan anak muda perantau di ibu kota ini, sering sowan ke warung lesehan kaki lima, di depan kampus B Unair.

Gak ada istilah, tanggal tua dan tanggal muda. Semua kebutuhan terasa cukup, karena wujud kami, biasa saja, gak pernah bersentuhan dengan konsep BPJS. Dimana yang akrab mampir ke telinga banyak orang — Buged pas-pasan tapi jiwa sosialita. Zaman sekarang, ngasih suport kaki lima agar terus ngebul mudah. Ya, tongkrongin saja warung lesehannya. Hal-hal gampang semacam itu, bisa dibilang berbagi. Wong setiap rizki yang masuk ke dompet kita, ada jatah rezeki orang lain untuk segera dibelanjakan. Paradok.

Aku dan Pido, datang lebih dulu, memesan menu legendaris seperti biasanya. Susu jahe dua porsi. Pido makan dengan nasi bungkus yang di jajakan oleh pemilik warung ini. Sementara, aku memesan mie sayur dari Bapak-Bapak penjual keliling yang kebetulan mampir di depan kami. Mudahnya menemukan suasana yang bersahaja, sejalan dengan beberapa sahabat yang datang. Mas Poniman datang setelah kami nambah satu muk wedang susu jahe. Lalu di susul Alek. Dengan segera, dia ikut duduk lesehan di sebalahku.

Musim hujan di tahun ini, menyisahakan udara yang lembab di malam hari. Pertanda cuaca malam ini, akan baik-baik saja, angin datang untuk merayakan hari libur yang penuh dengan jiwa-jiwa merdeka. Semua tahu, kami segerombolan anak muda yang duduk membentuk lingkaran, masih asyik bertahan duduk lesehan. Bergantian saling berbicara dan mendengarkan — satu sama lain. Udara malam yang mulai dingin, mendatangkan cerita tentang hangatnya tradisi masyarakat jawa.

Di jalan Airlangga, dongeng cerita tentang orang-orang yang datang dan pergi tak pernah habis untuk dibahas.

Hanya butuh sekali mengedip, aku memulai percakapan. “Kang, menurutmu masyarakat kita di Panggul itu, dermawannya minta ampun yoh, padahal situasinya sedang di rundung duka loh,” aku memulai topik baru, atau jangan-jangan menjadi topik yang terakhir kami bahas malam ini. Malam juga sudah berganti, cahaya purnama mulai menyelimuti ibu kota. Dan, entah sampai seberapa lama, obrolan ini akan selesai pada waktunya.

“Mbok jangan ambigu gitu, kalo cerita, jelase piye, woek?’ jawab Poniman, dengan penampakan wajah kesemek akibat mencercap kopi yang masih berasap.

Obrolan malam ini sudah mulai mendekati miniatur maiyah. Segala sudut pandang memberikan cahaya atas pemikiran-pemikiran yang sempit. Pido itu anak muda yang paling semangat kalo jadi pendengar. Faktanya, dengan satu kali kedipan mata, dia tipikal anak moderat yang antusias, “Terus-terus, kang?”. Anak melankoli yang satu lagi belum bersuara. Namanya Alek, loh. Ekpresi wajahnya datar, sorot bola matanya sayu, seolah matanya menutupi kepedihan.

Dengan sekali sruputan susu jahe, aku mulai ngomong lagi, ‘Ngene loh, kang. Ngeneee,” aku mulai ketagihan buat ngomong panjang-lebar. “Bayangin toh, abis ada pengunguman.., inalillahi di masjid kampung, terus kita pergi ngelayat toh mas, yo… do, lek,‘ lekas-lekas, aku memandang wajah mereka bergantian, satu-persatu, “Nah, pas ngelayat kita pergi ke makam. Ada yang bersihin jalan, ada yang gali tempat makam, pokoke ngelayat lah intine. Habis acara selesai, kita malah di bayar. Pulangnya malah di kasih uang amplop. Kan gak cocok dengan situasinya, bener ora?”

Mas Poniman seperti kerasukan arwah hakim agung, celutakan’nya seolah memberi mandat atas datangnya sebuah kepastian, “Sebenere, Bener tenan…, omonganmu, cah.’ Dia masih menyelonkjorkan kakinya, bibirnya yang belum tertutup, lalu datanglah sebuah kalimat susulan, “Uang bedah bumi, namane kuwi. Hopoo nek, Panggul tok, yo. Jajale nek mahmu enek ora, Lek?”

“Mestine enek, wong mae podo ndesone kok, Mas,’ saut Pido seraya bertumpang dagu, ‘Kan kita ini masih satu rumpun, jadi, ehm….!’ Dia masih menggali ide, setelah hilangnya kerutan di dahinya, Pido ngomong lagi, ‘Wong jelas-jelas, sama-sama orang desa kok.’ Sambungnya lagi, sambil ikut menyelonjorkan ke dua kakinya yang pegel-pegel habis mengantarkan seorang teman’nya balik ke Malang lewat terminal Purabaya itu.

Dengan senyum tulus anak-anak, mood-nya Alex mulai cair. “Nah, itu maksudku, mas Pan. Kalo gak salah, di desaku namanya juga uang bedah bumi. Tapi aku gak ngerti sekarang masih ada apa enggak, wong dari kecil, aku di ajak bapak-ibu merantau, keluar Jawa,” katanya dengat raut wajah seadanya, lalu badannya tiba-tiba ringkih, rebahan di sebelahku.

Orang-orang yang meninggalkan desa. Akan meninggalkan juga semua ingatan lama, yang dulu pernah di akrapinya. Alangkah paradoknya moment-moment yang terjadi di depan mata kita. Tawa dan sedih datang di waktu yang sama. Sama seperti kejadian malam ini. Obrolan hangat di Jalan Airlangga — di warung kopi lesehan — akan berlalu dan ditinggalkan karena purnama semakin gelap. Dan dua hal yang akan selamanya abadi, dan tidak bisa kita hindari: masa-masa indah dan kenangan yang pergi.

Kami pulang ke peraduannya masing-masing. Sering kali, perantauan adalah rasa kerinduan untuk bertemu lagi dengan teman-teman yang berasal dari kampung halaman yang sama. Di antara kami berempat, hanya Aku dan Pido yang masih belum kos. Alek ngekos dekat kantornya, sudarjo. Kalo pas main ke Surabaya, rasanya udah kayak merantau. Dan Mas Poniman, kos di dekat kantornya juga, dekat pelabuhan Tanjung Perak. Aku curiga, jangan-jangan dia kosnya di dalam kontainer bareng tumpukan pakaian bekas. Gembel.

Malam berjalan lebih cepat dari keinginan untuk bertahan. Lalu anak-anak perantauan di pertemukan kembali dengan gerbang-gerbang besi pintu komplek yang sudah karatan. Pemandangan lumrah yang terjadi di setiap pemukiman di kota-kota besar. Tapi menjadi tidak lumrah, ketika terjadi satu insiden, sewaktu aku sampai di depan gerbang. Gerbang tertutup rapi, dan satu gembok besar melingkar di tengah pagar besi. Malam ini, aku jadi gembel, gak bisa masuk rumah, penguncian gerbang lebih awal dari kedatanganku malam itu.

Aku meminta bantuan Pido. Dari balik telfon aku meminta izin, menginap di kamarnya lantai tiga. Kamarnya cukup lebar untuk di tempati dua orang. Tapi aneh sekali, sampai di sana, baru masuk di gang rumah Pak Lek-nya, yang kebetulan banget, rumah itu bersebelahan dengan stadion tambak sari. Dia malah keluar juga, sambil bawa helm dan celana training lengkap dengan setelan jaket hangat untuk penangkal angin dingin di malam hari. Setelah tanya-tanya sebentar, kita senasip. Lantai tiga penuh, di huni oleh saudarnya yang datang dari Malang.

Setelah rundingan sejenak, kami memilih telfon Mas Poniman, tapi apes juga loh. Telfon kami gak di angkat-angkat juga. Niatnya memang hendak numpang semalam buat merem dan istirahat. Tapi sepertinya dia sudah mendengkur keras, sampai-sampai suara deringan telfon kami gak kedengeran. Bisa jadi lebih keras dari dengkuran ngoroknya. Anehnya, kami juga gak kawatir. Cukup dengan satu panggilan keluar, Alek sudah bisa mengangkat telfon kami. Dan Alek tahu, kalo kami sedang butuh tumpangan.

Tapi yang lebih aneh lagi dari ini. Nyaris jam tiga dini hari kami tiba di kosnya Alek. Luar biasa, badan sudah terlalu lelah, tapi badan gak pernah merasa keletihan. Yang terjadi, kami hanya bisa numpang tidur selama sejam saja. Bangun-bangun buat subuhan, bergantian rame-rame lantaran ruangannya gak cukup untuk makmuman. Yang gak bisa habis pikir, setelah subuhan selesi. Oo… walah besar kemungkinan ini maksud yang di atas, menyuruh kami untuk menemani Alek. Dia baru saja, menerima pesan pendek dari seorang perempuan yang akan di nikahinya, ’Mas, kita sampai sini saja, ya?’

Air matanya jatuh di antara teduhnya sajadah. “Lapangkan dadamu, Lek!’ tutur Pido, sambil duduk di depannya. Sekali lagi, kami duduk bersila takzim seperti malam kemarin. Sementara aku, ikut nyumbang ngasih kebangkitan untuk hidupnya, ‘Nangis ada dua Lek. Antara yang hatinya lembut. Dan hatinya rapuh. Dan sampean, termasuk golongan yang terakhir.’

Wajahnya mulai sumringah. Lalu senyum tulus anak-anaknya mucul kembali. “Aaah.., untung tadi malam sampean-sampean datang ke sini. Aku jadi enggak sendirian!’.

 

 

Iklan

12 thoughts on “Antara Hati yang Lembut dan Hati yang Rapuh

  1. DollyPR berkata:

    Tulisanmu yang kedua aku baca. Dan sepertinya aku mulai jatuh cinta dengan gayamu.
    Unik, panjang seperti tidak ada arti, tiba-tiba meruncing menuju satu pesan sederhana yang dalam.

Ngecuprus?. Boleh. Untuk pempermudah kolom komentar, langsung aja klik logo akun media sosial di pojok kanan bawah, biar gue bisa ngelihat siapa aja yang nyimak notedcupu gue. Semuanya akan gue baca kok, terserah mau komen apa, gak tatakrama bakal gue hapus. Matur Nuhun.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s