Orang-orang Yang Pulang di Tengah Malam

#BloggerTanahJawa

notedcupu.com

Rindu masa-masa dulu — dimana masalah terberat hanya PR Matematikan. Boleh percaya, boleh menolak. Tapi di antara padatnya jam kerja, bisingnya suasana kota, telah merenggut kebebasan seseorang untuk mencari suasana yang tenang. Hari libur panjang menjadi pelampiasan banyak orang. Duh gusti, ada apa dengan drama besarmu ini, yang ada di bumi manusia?. Gak tanggung-tanggung, perjalananku pulang ke desa kemarin, jam tiga dini hari baru sampai di Jombang.

Biasanya yang sering terjadi, dengan perjalanan selama itu, harusnya kendaraan sudah sampai di desa. Tapi apa daya, nasi telah menjadi bubur. Macetnya ndak karu-karuan. Semua orang pengen cepat-cepat sampai di tujuannya masing-masing. Entah pulang ke desa — atau piknik ke luar kota. Rabu malam lalu, ribuan orang berangkat di jam yang sama. Pantes mawon, jalanan Surabaya – Jombang berubah menjadi lahan parkir dadakan.

Duh… duh… duh…

Lebih kasihannya lagi yang pakai mobil. Gak bisa bergerak kemana-mana. Mau maju kena, mau mundur juga kena. Tapi untungnya, bapak-bapak asongan di pinggir-pinggir jalan, selalu siaga dengan barang dagangannya. Menjaga perut dan mulut para pengendara, supaya gak keluar suara keroncongan, dan suara gegrundelan. Ada juga, mas-mas biduan jalanan yang selalu siaga nawarin hiburan seadanya. Ngetok kaca samping, lalu secara sukarela menghibur di saat situasi lagi jenuh-jenuhnya.

Sejenuh-jenuhnya juru kemudi, pada akhirnya akan mesem-mesem sendiri setelah menyumbang uang kertas bergambar kaptain patimura ke saku mas-mas biduan jalanan. Semua terjadi lantaran ke-ihklasan memberi. Di balik ngebulnya sebuah dapur seorang seniman jalanan, dari sudut hati yang mendengarkan, ada yang berhutang rasa. Lebih pasnya, hutang rasa karena jenuh berubah menjadi rasa bahagia.

Seadainya jalanan ndak macet, mungkin kendaraan kami bakalan melewati jalur resmi. Jalur kota-kota yang di pakai pada umumnya. Dan masuk kelompok populasi orang-orang linier yang akan pulang, atau berlibur. Mas Agus yang nyopirin di depan, banting setir ke kiri, setelah melewati Jembatan Peterongan yang baru jadi beberapa waktu yang lalu. Tanpa di sengaja, aku hutang rasa juga sama Agus.

Selang beberapa waktu setelah jalanan di apit oleh hamparan sawah, Agus melontarkan pertanyaan dengan nada berwibawa. ‘Piye, penak toh, jalan’nya.?’ tanyanya, sambil pandanganya melengos ke belakang, dan tangannya tetap kukuh pegang kemudi.

“Penak tenan, Mas.’ Aku mengacungkan jempol ibu jari, lalu ku jawab lagi, “Jalan’nya sepi banget. Lain kali kalo kita pulang bareng-bareng lagi. Lewat sini waeh, yoh. Biar cepet sampek rumah, kang. Iyo Ora?’

“Bereslah.. beres…’ sautnya, sambil pandangan’nya masih tetap waspada sebagai seorang kemudi.

Dari tatapan’nya yang penuh kewaspadaan, sebenarnya jalanan sepi seperti ini, kurang pas di lalui seorang diri. Tapi kok ya, ada-ada saja. Besiknya sebagai tokoh muda, penggiat pencak silat ‘Karate’ di desa memang bisa terlihat secara kasat mata. Sorot matanya yang tajam bisa membelah dua kemungkinan. Yang pertama mahkluk halus. Terus terang, kalo mahkluk jenis ini aku masih bisa menangkal. Nah, yang kedua, bila ada tukang mbegal, serahkan saja sama Mas Agus, di jamin pasti beres.

Dengan keadaan utuh, tanpa secuil apa pun, dua kemungkinan buruk yang baru kami ceritakan tadi, hanya sebatas kemungkinan-kemungkinan yang siap untuk di hadapi bersama. Hingga kami tiba di kota Kediri, semua masih berjalan baik-baik saja. Sebaik kondisi saat perut kami merasakan keroncongan, namun kami masih bisa mampir lesehan dengan makan pecel pincuk di sekitar alun-alun kota.

Jam tiga dini hari, di jalan menuju alaun-alun kota, masih banyak pedagang warung lesehan yang menjual makanan dengan satu jenis menu: nasi pecel. Di waktu yang mendekati subuh itu: kebanyakan orang sudah istirahat dengan pulas, namun ada yang masih melekan menjemput rezeki. Pembelinya pun, paling banyak orang-orang yang pake mobil dari perjalanan luar kota. Yang kebetulan sedang melintasi kota Kediri.

Ah, tuhan memang maha mengatur drama kehidupan manusia di bumi. Tanpa mengenal waktu siang dan malam. Aku jadi ngebayangin setiap orang yang hilir mudik datang di warung ini: gak pernah sapi. Jika semua orang kota menikmati pekerjannya, maka hari libur pun gak ada pengaruhnya sama sekali. Jika hari libur sepi, maka otomatis tempat hiburan, warung makan, akan sepi dari pengunjung.

Termasuk bakalan sepi juga, warung-warung lesehan seperti, pecel pincuk, karena kekurangan pembeli yang datang. Karena, pekerjaanya pun setiap hari sudah kayak liburan. Jualan tengah malam, nawarin ke siapa kalo semua terjadi bukan karena.. Maka tuhan menciptakan orang yang suka liburan lalu di pertemukan dengan orang-orang yang menyiapkan karung untuk menangkap rezeki.

Duh, nikmat betul perjalanan pulang malam hari seperti ini. Perut kenyang, dan pelengkap makan malam, segelas teh panas yang menghangatkan badan di tengah dingin’nya purnama. Sampai kami tahu, bensin sudah mau habis, dan perjuangan mencari pom bensin yang masih buka penuh perdebatan. Aku nawarin ngecer di pinggir jalan. Tapi Mas Agus menolak. Pom bensin berikutnya, ke dua, ke tiga, sudah tutup. Mas Agus masih ngenyel mencari yang belum tutup.

“Mas, mogok emboh lo iki engko?” aku mulai was-was.

“Wes toh, ora-ora. Tenang aeh!” jawabnya dengan enteng

Astaga, konspirasi apa yang datang di malam ini. Ternyata gak jadi ndorong setelah kendaraan kami, mati mesin di depan pom bensin urutan ke lima, setibanya di kota Tulung Agung. Perjalanan seperti ini penuh isyarat panjang dari Maha Pencipta alam semesta, bahwa: ‘Jangan mencintai nikmat, tapi cintailah yang memberi nikmat. Mungkin ini salah satu, perjalanan paling berkesan selama kami pulang.

Iklan

10 thoughts on “Orang-orang Yang Pulang di Tengah Malam

  1. elafiq berkata:

    kalo keteemu macet dan nggak bisa ngapa2in itu senjata utamanya nerimo.. lha meh piye meneh, mosk mabur? hehehe
    yang bikin kesel itu kalo udah ada pengendara yang ngawur atau perang klakson.. duh, bahaya mancing jengkel, ujung2e malah misuh 😦

Monggo pinarak?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s