Bertamu di Kampung Sendiri

#BloggerTanahJawa

notedcupu.com

Sebagai orang desa, jika ada tamu yang datang ke rumah, sudah selayaknya di sambut dengan senyum tulus anak-anak. Apapun maksud kedatangnnya, menyunggingkan senyum menjadi pemandanan yang wajib di sediakan. Orang-orang desa, kadang grapyaknya memang kebangetan. Rata-rata hati kita tidak tega, jika di atas meja ruang tamu hanya tersedia asbak dan taplak. Dari yang semula tidak ada, menjadi di ada-adakan. Seminim-minimnya, ya kopi atau teh hangat, bersanding dengan pisang goreng.

Seminggu menjelang datangnya bulan puasa ini, ada seseorang sahabat jauh, yang sowan ke ibu kota. Titik keberangkatan lahirnya dari desa yang sama, Panggul. Bedanya, sekarang dia lagi keluar dari tempat persembunyiannya sebagai seorang pejalan sunyi. Beda dari tamu yang lain, kali ini dia tidak mengetuk pintu rumah kontrakan. Tapi aku menjemputnya di depan bangunan gemebyar tempat anak-anak muda kota tua ini, pada nongkrong di tengah malam.

Terus terang ini bukan musim paceklik. Masa tanam sudah berganti menjadi masa panen. Tapi aku tidak menunggunya di tempat-tempat wuah. Sengaja aku lesehan di pinggir trotoar, duduk menyendiri di sebelah motor metik tua. Tidak lama menunggu, saat dia datang, wujudnya masih tetap sama. Jaket merah dengan rambut cepak tidak pernah berpaling dari raganya, mirip dengan mas-mas tentara yang sedang naik bus kota.

Bedanya kali ini dia punya jenggot yang di pelihara.

Aku menawarinya makan di mana pun tempatnya. Bebas mau pilih yang bagaimana. Tapi ekpresi wajahnya biasa-biasa saja. Dia masih tetap menolak dengan alasan yang cukup telak di dengar. “Sudah makan sore tadi, di rumahe Budhe Kang. Lha.., Isek warek iki.’ jawabnya, dan kita masih tetap berdiri, berjabat tangan, karena kami sudah lama belum pernah bertegur sapa secara langsung. Kawan jaim, yang sekarang menyamar menjadi tamu.

Di masa-masa gelap dulu, Duh.. Gusti…, dia sahabat karib yang pertama kali mengajak untuk pulang. Mengenalkan tentang ke ilmu agama, kepada ku, juga kepada kami paguyupan anak-anak desa di perantauan. Semasa kuliah dulu, dia lebih dulu terjun menyambangi majelis-majelis maiyah yang di pimpin oleh Emha Aninun Nadjib dan Kiai Kanjeng. Masih sama, meski pun belum lulus dari ‘miniatur’ negeri hadramaut Yaman, gaya bicaranya masih esensial. Masih murni dari bahasa hatinya.

“Lek aku dolan nang Suroboyo, garai sampean kesusahan yo kang?” dia bertanya dengan wajah yang di mrengut-mrengutkan.

Yo mesti aku kesusahan, lha lambemu kreatif kok, jarene apal dalan, endi nyatane aku seng ngarep?”

“Wes.., wes…, damai-damai.., ayo budal,’ lalu aku menghidupkan mesin, menarik gas, memimpin di depan sebagai petunjuk arah. Dan Gus Ibnu sebagai penguntit di belakang.

Sepekan sebelum dia akan sowan ke Surabaya, kami sudah membuat janji dan kesepakatan. Semesta telah bermufakat dengan konspirasinya: pondoknya yang libur, kok ya berbarengan dengan agenda Cak Nun dan Kiai Kanjeng berkunjung ke kampus terkenal di Jalan Soekarno itu. Makanya kami bisa dengan gampang berkumpul kembali di perantauan. Di sana, sudah menunggu Pido dan Mas Agus. Makanya setibanya di kampus itu, kami seperti gelandangan yang berjalan sendiri-sendiri lalu bertemu untuk reunian dengan maksud yang sama.

Usai jaim bareng dengan berjabat tangan dan saling menanyakan kabar masing-masing, kaki kami berjalan, mendekat ke arah lampu terang yang bertuliskan, ‘pojok ilmu,’ yang di kerumuni oleh anak-anak muda dari berbagai latar belakang. Aku dan Mas Agus berdusel ikut membeli sebuah peci ‘beraksen’ sinderklas. Entah datang dari mana dan siapa mereka? Itu tidak penting!. Yang penting, hanya ada niat untuk kembali ke yang esensial, yang satu…, belajar agama. Jika agama dalah jalan, maka kami adalah pejalan.

Panggung maiyahan malam itu menghadap ke danau buatan. Berdiri di depan bangunan kampus yang megah. Tapi apa yang ada, tidak pernah di buat-buat. Kami duduk di depan panggung, duduk bersila takzim dengan siapa saja di atas karpet merah, tumplek blek menjadi satu. Mendengarkan musik gamelan dan tadabburan bersama-sama. Sungguh inilah salah satu rahmat yang amat kami syukuri yang tak ada habis-habisnya. Bahwa Allah Yang Maha Agung senantiasa melapangkan jalan bagi kami untuk tetap menjadi orang kecil, orang yang biasa saja. Astaga.!

Saat selesai maiyahan, ada yang pulang ke kediamannya masing-masing. Ada yang masih tetap bertahan di lingkungan kampus. Tapi kami memilih untuk men-charger energi dengan mencari warung makanan yang enak — makanan akan tambah enak jika di makan saat perut sedang kelaparan. Kebetulan tempatnya sudah di rekomendasikan oleh Mas Agus, setelah berhenti di lampu merah pertama depan kampus, Mas Agus Menunjukan lokasinya, ‘Di jalan Dharmawangsa, ada warung enak. Warungnya lesehan, kesana wae yoh?’

Mas Agus di depan sebagai petunjuk jalan. Lalu kami menguntitnya dari arah belakang. Sebentar lagi warung ‘enak’ itu akan kedatangan tamu dari anak-anak desa ini. Tamu asing yang pertama kali akan datang menemuinya, untuk saling bertukar karena kehendak-Nya. Karena sama-sama punya hak – hak untuk membeli makanan’nya dan hak untuk memulihkan energi kami yang mulai menipis. Inilah gambaran dari siklus hidup, bahwa apa-apa itu, serba numpang mampir. Tapi siklus alam berkata lain…

Di tengah perjalanan, hujan datang dengan deras di penghujung bulan Mey.

Aku menepi sejenak dan mengisi bensin shachetan di Jalan Mulyorejo itu. Setelah memastikan semuanya beres dan berukut, pandanganku terlempar ke depan. Kosong dan sepi. Astagaa, jalanan seperti kuburan di tengah hutan. Handai taulan bertiga telah melaju cepat di depan, entah jarak berapa kilo meter aku tertinggal. Jam sudah memasuki waktu dini hari. Dugaan-ku sementara, ku kira teman-teman tadi memang tidak ada yang membawa jas hujan. Lalu mencari tempat untuk berlindung dan berteduh.

Tidak ada yang perlu di takuti. Kemudi ku masih tetap berjalan dengan stabil. Jalan ini sudah cukup akrab sejak zaman dahulu kala — dimana hiduplah seorang anak desa yang pernah terjebak oleh masa yang gelap. Bayanganku mereka menunggu di depan sana. Entah dimana titik koordinatnya. Di saat aku sedang memacu gas dengan menambahkan kecepatan, dari samping kiri, ada teriakan seseorang memanggil namaku. Setelah ku toreh…, Mas Agus sedang berdiri di mini market, pertigaan sebelum ke arah hotel Sampoerna itu.

Tangan’nya ngawe-ngawe ke arahku, “Hoee.., Boed?”. Ah, lega juga, lalu aku mengikuti suara itu. Ikut berlindung dan berteduh.

Di balik datangnya hujan, dan gagalnya kami bertamu ke sebuah warung makan. Kami akhirnya duduk melingkar, memakai satu meja dan empat kursi duduk yang belum berpenghuni. Hujan masih belum menunjuk’kan tanda-tanda kapan akan reda, dan energi kami sudah cukup pulih kembali dengan makan makanan kecil seadanya. Hidup memang, semau-maunya apa kata yang dia atas. Hingga pagi pun, menjelang subuh kami masih mampu bertahan di sini. Tetap menjadi orang kecil, orang biasa.

Dan…, orang desa yang bertamu tanpa kepalsuan hidup.

 

Iklan

2 thoughts on “Bertamu di Kampung Sendiri

Monggo pinarak?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s