Darurat ‘Top Of Mind’ Badokan Indonesia

#BloggerTanahJawa

notedcupu.com

Di desa itu jauh dari kata gemerlap. Coba lihat, anak-anak desa yang merantau ke kota itu, sebenarnya sedang study tour. Itu loh, agenda pejabat yang kelakukannya sudah mendekati tokoh pewayangan Sengkuni. Gak cuma para pejabat saja yang bisa wara-wiri. Dalam konotasi yang lain. Memang empat orang anak desa ini, jika sudah berkumpul bisa merepotkan. Apa yang dibahas di luar gedung kampus berlogo Prabu Airlangga itu, topik materinya bisa menghantam siapa saja. Padahal ‘maqqom’nya bukan dosen..,

Tapi kali ini, yang satu sedang menyamar. Mulya sedang absen, meskipun dia bukan Patkai, dia sedang berubah wujud untuk sesekali ikut menjadi kelompok manusia modern. Dari eja’an namanya saja, namanya memang lumayan kuno. Tapi setelah Harjo menanyakan keberada’annya malam itu, jawabanya bertolak belakang dari idiom kuno.

“Sampean ngajak, nongrong kok dadakan gini toh, Har-har…’ Mulya mulai protes, karena menerima kabar mendadak. “Sedetik berlalu, kalimatnya menyembul lagi dari balik telfon, “Lha ini aku sekarang di Mall loh. Di Tunjungan Plaza, lagi jalan-jalan sama anak-anak kantor. Sampean ikut, ora Har?.’ Tanya’nya, seraya mengajak dengan ramah.

Dari tawarannya saja, ekpresi wajahnya Harjo sudah terbaca. Di tengah perjalanan menuju tempat perkumpulan seperti biasanya, Harjo manggut-manggut sejenak. “Yoweslah, enakno, wae Mul. Nanti kalo acaramu wes rampung. Nyusul yoh? Tak tunggu tenan loh pokoke?”

Mulya tidak memberikan jawaban secara resmi. Jawaban’nya ngambang bagai pernyataan yang bikin mumet untuk di kutip, “Okehlah, nanti aku tak nyusul. Ya, kalo gak kemaleman.’ Lalu percakapan keduanya, terputus lantaran di seberang sana terdengar suara dentuman konser musik. Mungkin bagi sepasang telinga Mulya, ini jenis musik mewah. Biasanya dia di desa, hanya mendengar musik gamelan. Musik yang justru di dunia, hanya ada di Indonesia. Jadi sebenarnya, Indonesia itu bagian dari desa kami.

Baru setelah Harjo sampai di stasiun gubeng, Putra sudah sampai di lokasi. Dia ngetem dulu, di depan galery mesin atm. Sementara Poniman sudah mulai otewe. Putra itu, anak muda yang masih punya kearifan lokal. Belum juga sampai, dia sudah mulai grapyak, nawarin Harjo buat makan rawon Bu Jaya di depan Graha Amerta. Padahal bagi Harjo jenis makanan ini biasa. Ya, tiap pulang ke desa menjadi menu sehari-hari. Kehidupan Harjo, untuk urusan perut memang lebih mentereng dari orang kota. Maklum, wong rumahnya Harjo itu jagal hewan ternak tiap hari tak berkesudahan.

Apes. Setelah Harjo nyamperin Putra, dan bareng-bareng berangkat ke warungnya Bu Jaya, ternyata…, rawon legendarisnya sudah ludes terjual. Harjo ndak getun-getun banget, di bayangan kepalanya, sudah punya pakem, ‘Halah, paling yo enakan, rawon masakan simboku di rumah. Di sudut lain, jelas beda lagi, mungkin pakemnya Putra sudah tidak add-hoc lagi, nafsunya sudah merajai pikiranya karena rawon di jenis ini, di kepalanya sudah membentuk semacam top of mind dari makanan jenis mana pun.

Untuk urusan perut, manusia sering kali mudah dibelokan dari hal-hal gampang menjadi rumit. Padahal obatnya orang kelaparan hanya satu saja: makan dan makan. Makan makanan apa saja. Yang penting ada nasinya dulu, untuk ini-itunya masih bisa menyusul. Biasanya kalo sudah neriman, semewah-mewahnya, nasi putih di kasih telor dadar pun sudah membuat manusia kalap. Paling tidak, bagi orang desa, seminim-minimnya nasi putih di campur jangan momoh, itu sudah cukup.

Harjo dan Putra, memutuskan makan penyetan di tempat biasa. Poniman sudah datang, berjalan mendekat ke arah mereka berdua. Karena yang nge-bosi, malam ini Putra. Sekali lagi, dengan grapyaknya, Putra nawarin makan untuk Poniman. Untung saja, Poniman ini bukan jenis manusia drembo. Dia menolak halus dengan mimik muka, ‘westo enakno nehmu mangan,’ lalu dia meminta izin untuk duduk lesehan di warung biasanya.

Anak-anak desa ini, adalah anak desa yang berada di fase menemukan. Itulah kenapa, mereka tak henti-hentinya selalu berkumpul di tempat ini, malam demi malam. Membahas tentang esensinya sebagai manusia, ‘jalan sunyi’ dan kerinduan untuk terus bertemu dan berkumpul. Pantas saja, di saat mereka pulang, mereka akan menemukan suasana yang beda. Lalu hati terdalam mereka, ingin kembali pulang seperti sedia kala. Pulang ke sebuah tempat bernama titik awal ‘berangkatan’.

“Iki Mulya, ra teko-teko. Ra kangen mrene opo?’ tanya Putra kepada, Harjo dan Poniman.

Mereka sudah duduk melingkar di atas terpal. Mukanya Harjo menunduk, dan beberapa kali ibu jarinya, bersentuhan dengan layar ponselnya, naik-turun, lalu menjawab. “Lha iki, Mulya ngabari. Katanya ndak ehmm.., pokok’e gak ke sini loh, mau langsung pulang, anu…, anu.., ibunya mau telfon bahas penting untuk di sampaikan ke Bulek dan Paklek-nya.’

Poniman memandang wajah Putra. “Wes to santai waeh!’ lalu mulutnya melahap sepotong sate usus.

“Wah, aku di sana itu, punya kenangan waktu jalan sama mbak’nya itu.’ Putra mengais-ngais ingatan lama, tapi dia bukan pengemis. “Makan apa, nonton Put?’ tanya Poniman mengejar.

Belum juga menjawab, Harjo malah ikutan nambahi pertanyaan. “Wah, kaya tenan kamu, Men!. Aku saja tahunan jadi temanmu, belum pernah sampean ajak makan di tempat-tempat wah.”

Putra geleng-geleng kepala, “Untung-utung?” lalu kedua tanganya mengelus dadanya pelan-pelan.

Poniman balik mengejar. “Lha kok malah untung?” Harjo kaget.”Lha untung kenapa, toh Put?”

“Semua tempat makan yang terkenal sudah semua aku datangi di sana, waktu masih jalan sama mbak’nya itu. Memang makanan’nya enak. Sebelum makan menu utama, ada makanan pembuknya. Habis makan ya, gitu, ada makanan penutupnya. Serba lengkap lah, Yai. Minumnya apa lagi satu gelas, edan…, harganya selangit. Aduh, sekali aku makan sama mbak’nya, biayanya bisa sebanding dengan biaya kamar kosku.’ Putra geleng-geleng untuk yang kesekian kalinya.

‘Untuk urusan makanan, kenikmatan apa yang sebenarnya kita cari, kang?”

Poniman mengejar lagi, setelah berhasil mendinginkan kopi panas di depannya. “Lebih enakan kita duduk lesehan disini, Put?”

Putra belum juga menyentuh gorengan yang terhidang di depan’nya. Tatapan wajahnya masih serius. Seserius obrolanya yang penuh campur tangan Tuhan. Dia nyampekin dengan penuh wibawa. Katanya, setelah kejadian itu, aku jadi tahu. Kalo aku masih jalan sama mbak’nya, dan tiap minggu jalan, lalu makan di tempat seperti itu. Astaga, bisa kembang kempis keadaan dompetku. Bisa gak sehat. Mana aku bisa nabung. Aku malah gak jujur. Aku bisa membohongi keadaan ku, kemampuanku sendiri. Makanya dari dulu sewaktu jalan dengan dia, aku ingin memulai dengan benar… apa daya. Untungnya, Gusti Allah punya rencana lain.

Harjo mengelap mukanya dengan telapak tangan. Lalu bertumpang dagu, pandanganya terlempar ke arah terpal, tempat lesehan, lalu menjawab. “Kalo boleh aku nambahi, Put. Zaman sekarang itu, banyak yang hidup dengan konsep BPJS. Bujet Pas-pasan tapi Jiwa Sosialita. Jangan sampai kita jadi seperti itu, cukup pengalaman orang lain saja yang jadi pegangan buat kita, kang?” Harjo berhenti sejenak, matanya terpejam sejenak. Lalu melihat ke arah Poniman. “Piye menurutmu, Kang. Ada tambahan?”

Poniman yang gagal jadi guru ini, mulai menyikapinya dengan wajah yang teramat serius. Mungkin imajenasinya sedang bermain, berdiri di depan murid-murid dalam ruang kelas, sampai sampai, terlunjuknya mengangkat ke udara, lalu berkata, “Garis besarnya, adalah kita ini, mbok…, apa adanya saja. Makan lesehan seperti ini saja sudah nikmat, lalu apa lagi yang sebenarnya kita cari?’

Seketika hati harjo bergetar hebat. Isi dadanya bergejolak. Tiba-tiba, angin datang menyapu wajahnya. “Yang kita cari, mereka yang berada di pinggiran jalan, Kang. Kalo bukan kita yang menjenguk mereka, lalu siapa lagi. Mereka menjauh dari gemerlap di dalam gedung megah. Mereka warung-warung ini, apa adanya. Hati saya bersama mereka. Minggir menjahui kemegahan dari atribut-atribut apa pun. Di situ, ada kejujuran dan kebenaran, di situlah kita harus ada.

Putra wajahnya mulai tersenyum kembali, “Untung wae, aku putus sama mbaknya!” dia mengelus dada lagi.., berkali-kali, “Selamet-selamet’…, lalu Harjo dan Poniman, tertawa lepas beserta suara pengunjung yang memesan kopi dan mie rebus. Malam yang larut, yang saling mengisi dan melengkapi untuk sama-sama memberi pedoman.

Iklan

One thought on “Darurat ‘Top Of Mind’ Badokan Indonesia

Monggo pinarak?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s