Berdialog Dengan Perdana Mentri

#BloggerTanahJawa

notedcupu.com

Harjo senang berada di tempat baru. Seminggu penuh disana dia melakukan puasa. Puasa fungsinya luas, yang dilakukan Harjo tentu puasa ucapan dan tindakan. Di hadapan’nya berderet wajah-wajah baru yang cukup asing. Untuk mengenal sekian banyak orang baru, dalam satu ruangan, harjo harus puasa. Atau ngempet. Harjo punya dua wajah. Yang satu di pakai untuk diri sendiri. Satunya lagi di pakai untuk orang banyak. Selayaknya, setelah mengenal orang baru, selain berjabat tangan dengan hangat, Harjo juga menambahkan dengan menyunggingkan senyum.

Begitulah Harjo, tidak pernah menipu dirinya sendiri sebagimana wajah indonesia di belahan bumi yang lain. Ramah.

Dengan begitu, dia punya presisi untuk memahami siapa saja yang baru di kenalinya. Harjo datang ke sana, menyamar sebagai orang yang tidak tahu apa-apa. Hanya wajah penuh kelakar, dan punya sense humor yang sangat tinggi yang dia tampak kan. Tanpa tahu lebih banyak untuk masuk ke dalam, Harjo bisa di anggap anak muda yang tidak pernah serius. Dan banyak omong. Di tempat barunya, orang bercakap-cakap setiap hari sudah tampak mendekati urakan. Padahal lisan yang sudah keluar dari cangkem sudah tentu menjadi milik umum.

Selama sepekan harjo lebih banyak diamnya, mengamati terus apa yang akan berlangsung secara alamiah. Begitulah cara Harjo memasuki hutan, yang penuh dengan macam-macam penghuni warna manusia. Manusia-manusia baru kenalan harjo ini, punya sense humor spontan, nyablak, dan sarkastik. Tanpa adanya sebuah rem dan batasan-batasan, lisan yang di sampaikan bisa meninju hati seseorang. Memang bukan saja tempelengan yang bikin memar.

Lingkar otak manusia memang berbeda-beda. Macam-macam, semua itu tergantung apa yang di kehendaki oleh-Nya. Yang punya rujukan, asalkan meletakan pada tempat dan situasinya, apa pun itu, lisan, perilaku, dan lain sebagainya…, akan terasa enak di pandang dan nyaring di dengar. Harjo pernah mengalaminya sendiri. Jadi dia sudah gaprukan dengan apa yang di pelajarinya. Namanya juga manusia dengan segala kekuranganya, ada kejadian, sewaktu Harjo di tanya, tentang pekerjaaan yang di embannya.

“Jo — Harjo,’ kata Kentung, di sebelahnya.

Lalu ia melanjutkan kembali, “Itu, konsumenmu yang namanya Pak Sugimen kok belum bayar. Lha, piye toh?. Wah lolos ini?” tanyanya dengan nada datar.

Lalu badannya terbenam ke dalam kursi kerjanya.

Dengan logat jawa timuran, Harjo menjawab, “Wong ra duwe duwet piye meneh, cak.’

Harjo berkomentar, “Di kiro mobil ki, mobile mbah’e terus karek gawe ngono opo?. Terus ra gelem bayar.’ Harjo memaki-maki kepada penyelewangan yang sedang terjadi, “Wah, sontoloyo kui, menungso’.

“Wah, alesan sampean. Kamu nangani telat ini!’ sanggah rekan kerja di sebelahnya lagi. Lalu tawanya menyusul… ger.

Harjo ndak menggubris.

Sak, unimu wes, tumbuh-tumbuhan.”

Ada yang menyambutnya dengan senyum dan tertawa. Ada yang menyambutnya dengan muka sensi, “wah omongannya kasar sekali di dengar’. Dari titik koordinat ini, sebenarnya sudah bisa di ketahui, respon sampean-sampean masuk kategori, golongan manusia yang mana. Yang suka becanda dengan segala cinta dan romantismenya, apa yang suka, maaf dikit-dikit kok ya, sensian dengan segala kesempitan-kesempitannya. Ger…

Dengan dialog Harjo semacam itu. Dia sudah membangun rumusan kedekatannya dengan siapa saja. Bagi yang dangkal, hal ini bisa anggap menjilat. Ya allah, begitulah klaim sepihak yang membawanya pada kesesatan cara berfikirnya. Guyonan memang bisa mendekatkan dari yang berjarak menjadi tanpa sekat. Romantisme dan kedekatan memang metodenya, ya harus ganyeng. Tapi namanya juga hidup di dunia, beres yang satu, muncul lagi ujian di baliknya lagi. Berlapis-lapis.

Kedekatan akhirnya membawa pada kebersamaan dan kekompakan. Kali ini harjo agak kaget bukan main. Tanggal muda telah lewat, segala proses jatuh bangun memeras keringat di ganjar oleh rezeki yang menyamar dalam bentuk gajian di tanggal tua. Semua penghuni ruang kerja Harjo, mayoritas wajahnya sumringah. Maklum, uang bisa bertindak apa saja kepada hamba-Nya. Ada yang terperdaya sebagai budak perut, ada yang terperdaya sebagai budak kelamin…, ya allah, Harjo agak wagu untuk menyebutkannya, dia adalah sebangsa gemerlap dan penuh remang-remang.

Harjo sangat menghormati dan mengajeni sebuah kebersamaan. Tapi dia sudah cukup selesai dengan pengalamannya.

“Ya, masak toh Jo, ndak ikut konco-konco. Alah, gini wae lo, Jo, sampean nanti main bilyard saja,yo kang? Mau toh,’ bujuk rekan harjo, pada suatu tempat di lahan parkir, di bawah senja ibu kota.

Tak tanggung-tanggung, bujukan yang lain datang lagi. Kali ini yang datang dari teman dekatnya Harjo, yang biasanya saling tukar cerita.

‘Bener jo, ngancani tok kok. Biar tim kita itu kompak.’

Harjo belum menjawab. Sementara wajahnya masih senyum-senyum tak bergeming.

Kali ini energi dasyat itu, datang mendekat. Iblis jenis apa lagi yang datang dengan kekuatan yang lebih dari biasanya. Kuat sekali auranya. Topinya miring ke kiri, jalanya bergaya parlente, penuh lenggak-lenggok. Dari pandangan Harjo, mungkin dia adalah anak yang kemarin sore — yang baru saja kambon nakal. Telapak tangannya sudah terbuka, siap menerima ‘sumbangan’, lalu berkata,

‘Jo, ikut ndak ikut ini harus urunan loh. Ini urunannya, satusan.’ Katanya, tanpa ada ekpresi apa pun yang tampak di wajahnya.

Wajah harjo tertunduk diam penuh bisu. Bukan main, kali ini hati Harjo beringsut total. Marah, angkara murka dan menangis pilu berada dalam satu ruangan yang sama. Hati harjo penuh segala campur aduk perasaan. Di dalam dadanya bergejolak tanpa henti. Harjo manusia biasa, bagaimana harjo bisa tentram, ketika pandangan matanya masih menemukan orang yang menderita. Yang tercerabut, terusir dari kebersihan batinnya.

Pikirannya masih berjalan sendirian. Batinnya yang menjelma menjadi raja, berbisik pelan, jangan pernah menunggu kehancuran itu datang, baru kau insaf. Wakil Allah, datang tak kenal waktu, ia adalah kematian yang begitu misterius, Jo. Lalu akal harjo, menjawab, membentuk pagar dan batasan, “Allah tidak, menuntun kita putih bersih sewaktu kita berada di tengah lautan yang kotor, kumuh dan busuk airnya. Juga di tengah arus yang kuat, kita tidak di tuntut untuk mampu melawannya. Karena, untuk tegak bertahan saja pun sudah amat terpuji.

            Harjo lalu berjalan pulang beserta kesunyiaannya.

 

Iklan

Monggo pinarak?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s