Anak Agraris ‘Nyusu’ Metropolis

#BloggerTanahJawa

notedcupu.com

Kali ini soal pulang. Dari segala penjuru sudut perantauan ada yang telah pulang. Mudik kembali telah di pekerjakan dengan sangat ramai. Lebih dari yang sekedar kasat mata, semua tahu, siapa sesungguhnya orang desa yang sebenarnya. Semua telah pulang. Di desa, tidak ada yang pernah berubah. Orang-orang yang bermukim di dalamnya: tetap menjadi orang kecil. Orang-orang yang biasa. Di antara orang yang telah pulang, satu di antaranya bernama Harjo. Ia bertemu kembali dengan desanya. Tiba di depan gapuro, ia sambut oleh pemandangan klasik, tetangga yang sedang ngentasi  gabah.

Harjo berjalan masuk ke gang rumahnya. Gangnya lebar. bahkan dibuat main sepak bola anak sedusun pun, sangat bisa. Baru lima belas meter jalan langkahnya terhenti gara-gara ada yang menyapanya.

Weh, paijo, teko.’ Ucap Bendot, lalu membuka capil yang menutup kepalanya, ‘Pancet waeh kowe ki Jo, ora gelem lemu. Yoh, ora gelem kurus.” Katanya lagi, setelah matanya menerawang badan Harjo dari ujung jempol kaki sampai ujung rambut.

Harjo tersenyum. Sebenarnya hatinya mbatin — padahal Kalo di kota Harjo punya nama gemebyar, di pandang sebagai penulis. Harjo hanya menjawab santai, “Uwes pawakan ket biyen, Lek Ndot,’ balasnya singkat. Lalu matanya memandang gunung yang ada di sebelah barat rumahnya, “Wes ngaret urung Lek, kae lo wedusmu wes mbakk… mbek.. waeh..!” celetuk harjo, menirukan rengekan kambing piaraan.

“Halah, ketinggalan cerita kowe iki Jo. Wes ra duwe wedus. Wes tak jual ke pasar hewan, buat biaya Nedi masuk SD.’

Harjo hanya geleng-geleng kepala, sambil memasang wajah datar: ‘oooh’. Kakinya terus berjalan meninggalkan tetangganya itu. Ia anak laki-laki yang enggak gumunan belas. Juga gak gampang kagetan. Setiap kali ia pulang di luar ritus mudik, wajah desanya masih tetap setia. Juga isinya yang ada di dalamnya. Kali ini pandangan Harjo semakin menghampar. Kemampuan penglihatannya bisa menangkap yang tak kasat mata. Bahwa, kekaya’an itu hanya bungkusnya saja, sedangkan hati yang gembira itu isinya.

Meski pun pulang gak bawa oleh-oleh untuk keluarganya, ada perasaan senang di dalam dada Harjo. Untungnya dia pulang tidak dilabeli, disebut, atau ‘lemkan’ kan dengan simbol lain yang terasosiasi dengan segala bentuk kegemerlapan. Padahal beberapa bulan setelah buku karya pertamanya njebul, ia ‘mendeklarasikan’ sebagai penulis, lewat acara gendurenan, atau syukuran ingkung. Dan telah mengundang warga dusun, untuk ikut mengamini, supaya ia terus diparingi kesehatan dan waktu, agar terus bisa berkarya.

Menurut kalender, lebaran tinggal menunggu 1 kali 24 jam. Belum ada pemandangan orang membawa koper sambil mencicing kardus jalan lewat depan rumah. Senja mulai terbenam. Di pastikan, orang-orang dusun kali ini yang mudik hanya Harjo seorang. Ada yang sudah purna merantau. Ada juga yang belum mudik. Pantes saja, senja sore itu, sebelum kue apem mengetuk pintu tumah tetangga, Heleng — tentu nama alias –, merapat ke ndalem Harjo sambil tangannya mengapit rokok, lalu tenguk-tenguk di teras, klepas-klepus.

Ujung rokoknya menyala, setelah pipinya menyembulkan asap, Heleng bertanya, “Ra cocok belas kowe Lek, duwe rambut dowo.’

Lek adalah nama panggilan keakraban.

“Lha, pasrah wes, sisan gawe potong nek omah Leng’, kata Harjo, ‘Nek kuto, potong rambut ra ono seng cocok kok.!’

Penglihatan Heleng memandang jari kanan’nya, lalu berhitung, “Siji…, loro.. telu.., papat.., tak etung wes empat minggu kowe ndak potong rambut. Jajale salah opo bener, Lek?”

Harjo masuk sejenak ke dalam rumah. Mungkin mengambil asbak.

Heleng bukan anak muda yang menyamar sebagai para normal. Juga bukan anak muda yang doyan judi klotok. Kepalanya bekerja berdasarkan catatan sejarah di masa lalu. Ia orang yang sepenuhnya merdeka, saking merdekanya, sedikit keahliannya, ia infaq-kan untuk bisa bantu merapikan rambut warga dusun di desa mereka. Sudah tidak dihitung lagi, hampir semua warga di dusun, pernah menyerahkan ‘kepalanya’ ke salonnya. Heleng bukan mahasiswa, hanya tamatan SMP, tapi apa yang di kerjakan sudah bikin dapurnya ngebul. Pendapatannya bukan lagi kategori anak desa nyusu metropolis. Tapi anak desa ‘nyusu’ dusun.

Sebelum ia mendirikan salon di depan rumahnya, beberapa tahun yang lalu ia bertindak sebagai juru pangkas seadaanya. Hanya bermodal gunting, sisir rambut, dan sapu merang, sering kali ia menjadi tukang pangkas non salam tempel. Namanya juga sedekah, orang yang punya hajat pangkas rambut, ya harus ke ndalem rumahnya Si Heleng. Sebagaimana tata-kerama, orang yang meminta pertolongan. Tanpa pamrih, tapi yang datang justru wujud lain. Tenaga dan keterampilannya, sering kali di tukar dengan rokok sak udutan.

            Harjo berjalan keluar membawakan sebuah asbak, dan menaruh di depannya.

“Iki Leng, asbaknya.’ Katanya, kalem, “Sampean memang sudah canggih. Prediksimu jan ndak pernah meleset.’

“Yo maklum, Lek,’ tangannya mematikan rokok ke dalam asbak, lalu menjawab lagi, ‘Wong aku sudah hapal, sampean ke rumahku, buat pangkas, dua minggu sekali toh. Yo kuwi, dari situ aku iso ngerti.’ Ucapnya mengenang masa lalu.

“Wah, sampean pancen ngeten, Heleng!” jawab Harjo, sambil mengacungkan jempol kanannya.

Lewat obrolan senja itu, Harjo mendapat perlakuan khusus untuk memangkas rambutnya. Heleng datang ke ndalem Harjo, bukan tanpa tangan kosong. Ternyata ia sedang ada niat untuk bersedekah. Juga sedang ada niat untuk betul-betul melayani. Dari dalam saku celana kempolnya, ia mengeluarkan gunting lipat. Dan beserta seperangkat alat pangkas dalam satu wadah berbentuk kapsul. Pengalamannya membuatnya sakti mandra guna, dari jauh ia sudah bisa mencium bau khas rambut pelanggannya yang telah lama pergi — yang kini baru saja tiba di dusun.

Bendot telah balik ke peraduannya beserta mengamankan stok gabah dari hasil panennya sebagai petani gurem. Sementara Heleng, sedang melakukan tugasnya, bernostalgia dengan Harjo di teras depan rumah. Heleng memangkas dan Harjo mengaca. Tangannya Harjo sesekali memandang kepalanya lewat pritilan kaca spion yang di peganggnya. Ada yang bekerja, ada yang menengok pekerjannya sesuai selera.

Namun kemudian apa yang di lakukan Bendot dan Heleng, adalah metode untuk meruntuhkan dinding berhala yang selama masih hidup di kepala banyak orang. Juga, selama ini yang sudah menjadi pakem masyarakat luas: bahwa untuk memenuhi kebutuhan hidup, atau mendapat pekerjaan, anak desa harus merantau ke kota. Kita telah berhutang budi, pada mereka yang telah berhasil menghajar dan menggeser apa arti urbanisasi, tidak selamanya anak desa harus ‘nyusu’ ke kota metropolis untuk mendapat sesuap nasi.

 

 

Iklan

One thought on “Anak Agraris ‘Nyusu’ Metropolis

Monggo pinarak?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s