Serdadu Di Bawah Bukit

#BloggerTanahJawa

notedcupu.com

Dia masih tetap misterius. Jarang sekali ada yang mengetahui apa tujuannya. Kepulanganya ke desa kali ini tanpa cangkingan kardus bekas berisi oleh-oleh. Di punggungnya gendong tas ransel. Apa yang ada di dalam tas ranselnya tetap menghidupkan tradisi jawa. Rawatlah bungkusnya, perhatikan betul isinya. Kedua tas itu bisa menimbulkan gelombang potensi harapan. Selain dia pulang kepada keluarganya, dia telah lama di tunggu juga, oleh pemilik harapan kaum serdadu di bawah bukit.

Lakon kita kali ini, dengan gampang punya nama panggilan Harjo. Terus terang, serdadu-serdadu di bawah bukit itu, adalah nama lain dari teman-teman Harjo yang seangkatan dengannya dulu. Bedanya, mereka sekolah di jurusan pendidikan lalu setelah lulus dan bergelar sarjanah. Mereka kembali ke asal muasal. Mereka mencintai hidup di desa, melakoni hidup di sana sebagai seorang guru. Baik guru kepada diri sendiri, maupun kepada sesama.

Harjo tiba di desa jam tiga dini hari. Selepas dia mendaratkan tas tarnselnya di ruangan keluarga, lalu dia pergi ke belakang, menyapa orang-orang terdekatnya. Di sana sudah menunggu. Berbarengan dengan rutinitas mata pencaharian bapak dan simboknya yang bangun sebelum ayam berkokok naik ke peraduan. Dari sinilah pagi itu di mulai, setelah selesai memasukan daging kambing ke dalam krembu – tempat penyimanan daging yang terbuat dari anyaman bambu — simboknya, membuat teh hangat,

“Mbok ya, kalo isek kesel, nanti siang di rumah saja toh leh… leh.. ndak usah kemana-mana dulu,’ ucapnya, lalu bilang lagi dengan kalem, “istirahat waeh di rumah..?” kata simbok, memberi nasehat.

Sambil nyeruput teh hangat, Haro menjawab dengan apa adanya. “Sudah kangen sama yang lain juga, toh Mak. ‘ lalu meletakan teh hangatnya di depan bapaknya yang sedang bacoki daging iga kambing, ‘’Lha ini ada pesanan, yang kudu aku antarkan pagi atau, siang nanti, Mak. Wong sudah kadong janji..!’

“Mau kemana lagi?” tanya Bapak, ‘Sampean ini kalo pulang kok ya wara-wiri terus!’ wajahnya menyimpan tanya tentang gerangan apa yang akan terjadi.

“Mau ke rumahnya, Pak Guru toh…, Pak!’

Acungan golok yang di pegang bapaknya Harjo mengayun ke udara. Lalu gagal menghantam daging iga kambing di atas telenan bongkahan kayu akasia. Kedua kaki bapaknya Harjo selonjoran. Duduknya yang membungkuk ke belakang, kembali tegak. Lalu pandangan matanya menatap dalam-dalam wajah Harjo, dan berkata. “Lha apa, apa mau ke nocoyo, Lhe?”

‘Enggeh, Pak. Bener,’ jawab harjo, lalu ikut mengemasi dagangan yang akan di bawa ke pasar.

“O.. ya…, yang rukun terus, salam juga buat Pak guru’, lalu harjo mengangukkan kepala sebagai jawabannya.

Bapaknya sudah hapal betul, arah langkah kaki anaknya setelah berpamitan. Di sanalah rumah kedua anaknya sesudah pulang. Percakapannya dengan orang tua, selalu terjadi sebelum waktu subuh tiba. Dalam tradisi masyarakat jawa, membiarkan waktu berlangsung apa adanya, adalah prinsip-prinsip ikhlas dalam berpuasa. Jika syurga adalah di telapak kaki ibu, puncak ketentraman apa lagi yang di tuju ketika kebahagiaan adalah sedekat-dekatnya dengan orang tua. Maka kepulangan ke desa adalah jalan Tauhid dengan sang pencipta.

Kepulangan harjo kali ini, punya waktu sebebas-bebasnya. Maka itu meskipun dia bebas, dia harus mengikuti irama jam kerja teman-temannya yang begitu bebas mengasuh anak-anak yang di besarkannya. Idiom ‘besar’ kali ini, bukan semata-mata karena raga dan fisiknya yang menjadi ukuran. Namun orientasinya akan berbeda dari kebanyakan, menjadikan apa yang ada di dalam dadanya, bisa menjadi cahaya dan mampu menerangi kepada sesama.

Sebelum benda dalam tas ransel itu di serahkan. Terjalin kesepakan melalui pesan pesan pendek, hendak kemana Harjo dan teman-temanya akan bertemu. Teman-teman Harjo ini, orang besar yang justru kebesarnnya tidak mau menjadi siapa-saiapa. Tapi mereka tetap bermanfaat. Entah kelihatan, entah tidak, yang penting ada yang lebih berwenang untuk menulisnya. Dengan rasa hormat, Harjo menamai mereka dengan Panggilan, Noto, Kusumo dan, Leksono.

Kisaran jam dua siang, mereka baru selesai menunaikan tugas mulia di instansinya masing-masing. Betul, mereka semua adalah guru. Pertemuan lebaran yang lalu menyisakan pembahasan yang belum selesai. Dan, kelanjutannya, tersambung dalam majelis siang itu. Tibalah…, .., ruang keluarga bagian ndalem harjo mulai sepi, setelah Harjo mendatangi tempat perjanjian seperti biasanya. Jika di Yogya dulu ada universitas Malioboro, maka di Panggul mereka punya Univeritas Pinggir Segoro. Harjo pergi dengan tas ranselnya itu, memondongnya dibagian punggung. Dari sini, harapan itu dibawa.

Di antara Noto dan Kusumo, Leksono itu anak muda yang paling penuh birokrasi. Padahal ‘maqqom’nya bukan pejabat dalam pendopo kecamatan. Anehnya, saat hendak ngumpul, maka yang harus maju duluan ke ndalem Leksono, justru Noto. Entah pendekatan primordial macam apa yang dipakai, cukup seklebat, sudah bisa menginzinkan Leksono pergi dari hadapan istrinya. Wajahnya Noto memang punya bakat jadi orang serius. Mungkin tuhan sudah berkehendak sebelum dia lahir, bahwa wajahnya gampang dipercayai orang.

“Pokoknya, ngajak aku itu gampang, Mo.’ Dia menepuk pundak Kusumo, dan melanjutkan’ ‘Apalagi kalo yang ngizinkan ke istriku itu si Noto.. walah-walah….’ kata Leksnono, setelah menghampri kami di depan gapuro rumahnya.

“Seandainya istrimu semudah istriku, pasti ndak perlu perizinan, No.. noo..,’ gurau Kusumo dengan kepala yang di tunduk-tundukan agar terlihat penuh tata kerama terhadap teman seangkatannya sebagai guru.

Leksnono berterus terang lagi, “Katanya istriku, kalo yang ngajak itu, Noto. Pasti ndak neko-neko!’

“Raa jowo…, ternyata istrimu punya bakat jadi orang terhormat, Mas.’

“Maksudnya opo, kang?” tanya Noto. Semua mata memadang wajah dingin Harjo.

Harjo menarik napas, ada satu hal penting yang akan keluar dari mulutnya, dan tibalah, aku bilang, “ Maksdnya.., ya, jadi pejabat, Kang. Wong protokoler begitu istrinya. Nah, kowe ki Not, punya peran sebagai ajudannya.’ Lalu mereka tertawa, misuh-misuh, ‘asu…, asu..,’ namun tidak pernah misuhi orang.

Saat mereka bersama, mereka kembali seutuhnya sebagai mana kodratnya hidup sebagai manusia. Selain Harjo, mereka semua adalah guru-guru yang sangat terhormat di instansinya. Namun guru itu, hanya sebatas fungsi dan satuan perangkat tugas, jika di dalam lingkungan instansi. Keluar dari satuan masa ‘jam’ kerjanya, mereka kembali lagi menjadi orang biasa. Tanpa perlu saat pergi bersama, ada yang memangilnya, “Pak Guru, hendak kemana?’. Sopan dan santun tidak perlu di mutlak-mutlakkan. Persahabatan mereka mendekati saudara karib, di sebabkan oleh cinta dan romantismenya kepada sesama.

Setibanya di tempat persinggahan: univerisitas pinggir segoro. Mereka mampir di warung simbok Yani. Harjo yang memesan minuman legendaris di warung itu, es degan gula jawa untuk mereka semua. Hampir tidak ada pengunjung yang datang ke wahana wisata, siang itu, entah apa penyebabnya. Namun dengan kedatangan mereka berempat, cukup membuat ombak, angin, dan penunggu laut selatan, ikut mendengar obrolan mereka. Seminim-minimnya ya, sekaligus bisa mengamini. Wong sama-sama mahkluk alam semesta cipta’an gusti Allah.

Setelah rombongan duduk lesehan menghadap ke laut, Noto tanya kepada Harjo, “Teko omah jam piro tadi, kang?’

            “Subuh kang.., subuh tadi pagi…’ jawab Harjo, kalem.

‘Bagaimana jadi guru sekarang kang..,’ Harjo kembali bertanya, singkat. Namun uraian atas jawabannya, membuat mereka semua menjadi khusuk untuk mendengarkan. Noto betul-betul guru yang bisa menyatukan kehendaknya dengan kehendak sang pencipta. Artinya, apa yang dia kerjakan, sungguh-sungguh dia akhiratkan. ‘Sudah di minta ngajar pun, aku syukur allhamdulillah kang. Aku bisa mengabdikan ilmuku dari cak nun, dan dari guru mursyidku.’ Pandangan matanya bercahaya, lalu melanjutkan lagi,

‘Kang, gini loh…, kalo aku ngajar, terus orientasiku adalah gaji besar. Maka di tengah perjalan aku akan banyak godaan. Banyak penyakit yang tampak. Bila godaan yang tampak, adalah rasa ndak ihklas, karena penyebab bayaran enggak seberapa. Akhirnya aku nanti tetap bisa kerja, tapi gak iklas, karena tujuanku adalah materi. Kalo kerja tidak ihklas, wah… wah…. bisa bahaya kang. Apa lagi yang aku, ‘ Dia berhenti sejenak, lalu memandang wajah yang lain…

‘Ada kang Leksono, dan Kang Mas Kusumo. Kita ini tiap hari menghadapi adek-adek kang. Bagaimana aku bisa merasakan nikmatnya mengabdi ke masyarakat, jika di dalam hatiku tidak ada kerelaan. Adek-adek belajar hadroh pun, aku temani sampai sore kang,’ Noto mengelus-ngelus dadanya sambil menggumamkan lafal allah. Mendengar apa yang di sampaikan Noto, pikiran Harjo seperti terbakar. Tapi sungguh, pikiran juga bukan bejana yang selalu untuk di isi, tapi ada saatnya untuk dinyalakan dengan api.

Mata harjo memandang wajah Leksno dan Kusumo, “Mendengar ceritanya Noto. Aku kok jadi pengen ngajar anak-anak mas.’ Sorot matanya menerawang ke arah laut, lalu melanjutkan kembali, ‘Tapi… yo ndak mungkin mas, sampean semua tahu sendiri latar belakang pendidikanku bukan sarjanah pendidikan. Untuk ngajar dan jadi guru, ndak harus di sekolah. Dimana pun bisa, kang. Piye, Mas?’

“Lha wong begini saja, kita ini sudah sama-sama belajar kok.’ Saut leksnono, lalu menyeruput es degan. Yang kemudian di timpali suara cempreng mas Kusumo, “Awake dewe ngene iki uwes maiyahan loh, dab.., dab.’ Aksen logat yogyanya ikut bermain, ‘Bayangno toh, urep ngene tok wae wes nikmatnya luar biasa, Nak.’ Katanya seraya memberi petuah. Di antara para siswa penghuni universitas pinggir segoro, Mas Kusumo usianya jauh di atas kami. Dia sudah dikaruniai seorang putri. Namun Harjo sangat yakin, teman-teman gurunya di desa ini sedang menempuh jalur etos kerja Nabi Muhammad.

 Wajah Mas Kusumo, mendadak tegang, “Maksudmu rezeki melingkar..?”

Semua sudah paham betul mengenai istilah itu, “Pantes bojoku meteng enom badanya sehat, seger, terus satu lagi?’

            Noto menyaut dengan cepat, “Opo mas?’

Oraa…, pernah moreng-moreng pokoke. Sabarnya menghadapi aku.., jan jan.., sabar tenan. Beda sama zaman kita pacaran dulu,’

Harjo kembali ingat pesan-pesan dari wejangan kiainya, “Nandur-nandur mas, faltandzur nafsun ma qaddamat lighad..’ lalu mengeluarkan sebuah benda pesanan dari dalam tasnya. Benda itu bertuliskan huruf abjad besar-besar pada sampul depannya, ‘Sedang Tuhan Pun Cemburu,’ karya Emha Ainun Najib.

Padepokan, 18 Agustus 2016

******************************

Iklan

One thought on “Serdadu Di Bawah Bukit

Monggo pinarak?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s