Memimpin Menteri Kebrangas Dari Belakang

#BloggerTanahJawa

notedcupu.com

Jika kegeraman Harjo sudah sampai pada tahap misuh-misuh. Itu tandanya ada gejolak hebat di dalam isi dadanya. Gambaran protes itu, sering dia sembunyikan, bukan di khalayak umum. Namun di lingkungan yang sering dia datangi, atau di majelis-majelis yang orang-orang tahu betul bagaimana karakter dia yang sesungguhnya. Kali ini, dia misuh kepada yang duduk di kursi menteri, yang mengurusi segala aturan main tentang dunia pendidikan.

Teman-teman Harjo siang itu, hanya cuman mesem-mesem. Bener, siapa lagi kalau bukan Noto, Kusumo dan Leksono. Harjo tambah bukan main bingungnya, di saat situasi sedang di ramaikan oleh wacana yang semangatnya ganti kebijakan. Dan yang semangat nyari pengaruh dari sana sini, namun astaga. Tiga temannya yang jadi guru itu, justru adem ayem, tenang-tenang saja. Mereka ini hatinya sudah mandireng betul.

“Ber-arti kalo sampean ayem-ayem begini, berarti semua sudah beres, kang?. Dan ndak ada yang perlu di khawatirkan?’ tanya harjo kepada Noto, dengan raut muka yang begitu kaku. Tegang.

Kali ini setelah selesai mengajar di instansinya masing-masing, tiga orang ini berkumpul di padepokan Harist, atau rumah Noto. Padepokan yang asal muasal namanya di sematkan oleh guru mursyid mereka, dari jauh. Sesudah bakda d’zuhur, mereka duduk di atas tikar yang terbuat dari anyaman daun pandan tua. Di antara mereka berdua, Kusumo dan Leksono itu ahli hisab. Noto lebih dulu menjawab, sambil tangganya metengkerek,

“Kang, tenang saja, yang disini ndak ikut perintah dari pusat. Kebijakan mereka itu, cuma sama halnya asap rokoknya, Mas Leksono, dan Mas Kusumo. Mabul ke udara. Namanya juga asap, yo ra ono bekasnya.”

            Kusumo dan Leksno masih klepas-klepus.

Mendengar kabar itu, perasaan harjo mulai lega. Hatinya penuh kelapangan. Di wajahnya penuh ketentraman. Noto, Kusumo dan Leksno ini, penjaga dan perawat orang-orang yang ada di dusunnya masing-masing. Mereka adalah penerang yang memberi cahaya kepada murid-muridnya jika mereka sedang mengajar. Juga ketika mereka sedang betatap muka saling sapa dengan warga dusun di lingkungannya. Itu artinya dusun itu, benar-benar sedang di jalur yang benar, jika para guru-gurunya benar melakukan fungsinya sebagai guru. Dan sebagai manusia kepada tetangganya.

Indonesa itu, bagian dari dusun mereka. Amat jelas sekali, ketika dusun-dusun di seluruh indonesia beres. Maka indonesia dan segala macam bentuk masyarakatnya dan tatanan-tatanannya yang ada di dalamnya, akan ikut-ikut beres juga. Dan sudah saatnya, meskipun mereka duduk di kursi sebagai guru, tapi jangakuan kekuasaan mereka begitu luas adanya. Rupanya Tuhan seolah-olah menakdirkan, secara esensi kursi di pusat punya potensi untuk mengatur di bawahnya. Jadi, sesungguhnya dalam birokrasi tak apa-apa guru berada di belakang, sebab sang menteri memang harus di pimpin dari belakang.

Kang Kusumo ini juga bukan guru sembarangan. Setahu harjo, selain ahli hisab dan ahli wirid, sang guru yang satu ini, juga ahli dalam ilmu telepati. Itu terjadi saat harjo hendak menanyakan, tentang bagaimana metode, atau cara-cara mengajar kang kusumo setelah ada aturan baru mengenai kurikulum itu. Apakah mengikuti pakem atas kehendak dirinya, atau pakem dari tuan-tuan di pusat.

Sesudah mencecek bonggol rokoknya ke dalam asbak, Mas Kusumo nyeruput kopi untuk yang terakhir kalinya, lalu bersuara, untuk yang pertama kali pada siang itu, “Hem…, pas pelajaran seni. Yaaa.. anak-anak tak suruh ke belakang kelas sambil bawa pensil dan buku gambar. Terus aku ajakin duduk di pinggir sawah, tak suruh gambar alam. Terserah waeh gambar apa saja. Yang jelas, boleh di gambar yang ada pada alam, setelah mata indera mereka menangkapnya.’katanya,’ITU METODE KURIKULUMKU!” sambungnya lagi dengan penuh keyakinan.

Leksono justru ikut-ikutan menguliti apa maksud dari yang di sampaikan oleh Pak Guru Kusumo, sambil duduk bersila takzim, dia mencari tahu, “Mo, Itu cara-cara sampean mengenal kan anak-anak, tentang ilmu agama?’ Tanya Leksono, lalu batang udud-nya yang masih separo, ikutan di cecek, dan kemudian di taruhlah di atas asbak. Semua anggota majlis padepokan, menanti jawaban sang guru kusumo dengan penuh seksama dan penasaran.

“Kurikulum hanya menghasilkan orang pintar, saja, nak!’ kusumo seperti seolah-olah sedang di rasuki pikiran-pikiran tua. Tapi memang apa yang perlu dipikirkan sekarang untuk menjwab kebutuhan zamannya. Di saat banyak orang tua kanak-kanakan, pikiran kita harus berfikir seperti orang tua. Tidak sembrono dalam bersikap dan bertutur. Atau, gampangan-nya mendekati kebijaksanaan. ‘Dengan begitu, pikiran mereka akan terangsang oleh apa yang di lihatnya. ‘Mereka bertiga mendengar dengan khusuk, ungkapan guru Kusumo,

‘Dengan dekat ke alam semesta, seminim-minimnya anak-anak punya kerangka berfikir, ‘Siapa sesungguhnya pencipta alam semesta ini.”

Pada satu tahap ini, Hati harjo betul-betul syujud syukur. Mendengar apa yang di katakan oleh teman-temannya. Sama persis dengan apa yang ada dalam isi kepala Harjo selama ini – yang bersumber dari para ‘sesepuh-sesepuh’ sebagai acuan kiblatnya. Pantas saja, pertemanan mereka tak lapuk di makan oleh zaman. Di makan oleh usia. Terus terang, hubungan mereka sedang berada di dua kutub siang dan malam. Tuhan bersemayam dalam diri setiap orang. Meskipun banyak dari manusia yang justru menolak kehadiran-Nya. Tapi mereka mampu mengenali gejala-Nya. Maka itu, mereka berada pada dua kutub yang saling membutuhkan.

“Kurikulum memang tidak di desain, ngurusi ahklak manusia ya, kang?” Kusumo balik tanya Ke Harjo.

Gigi rahang Harjo gemertak, rahang di pipinya tiba-tiba mengeras, “Itu yang terjadi selama ini, pendidikan hanya mampu melahirkan orang pintar. Dan tidak melahirkan manusia punya ahklak.’

Api itu tiba-tiba menyala dalam kepala. Ada yang telah tersulut. Ada yang telah berhasil merayakan kelahiran-kelahiran baru pada sifat manusia. Secara pemahaman, mereka sudah tahu, daya rusak jangkauan-nya bisa-bisa empat, atau bahkan lima kali dari apa yang telah mereka bayangkan selama ini. Tapi mereka adalah cahaya. Maka itu, mereka tidak pernah takut untuk di dekte oleh siapa saja, kecuali oleh keyakiknan dirinya sendiri.

“Kalau di lingkaran pejabat. Orang pintar, namun korupsi itu salah satu contohnya,’ saut Noto, dengan geleng-geleng kepala.

Leksono urun rembuk, menyumbangkan contoh yang lain,“Kalau di lingkaran pengguna media sosial. Orang pintar, namun mengkritik pemeritahnnya dengan caci maki. Dan sumpah serapah.’ Dadi wong iki mbok yo ra usah kagetan,’ katanya, lalu pada kalimat terakhir itu, langsung dia posting di dalam akun media sosialnya. Send... terkirim.

Setelah memandang wajah teman-temanya, pandangan Harjo tertunduk, melihat pada tikar tua yang di dudukinya, lalu dia menyampaikan sesuai dengan apa yang dia ketahui, “Jadi gini, yo kang mas. Di atas ilmu dan pengetahuan, yang kita punya ini. Satu tingkat di atasnya harus punya ahklak kang. Kalo ndak punya itu, kita raa guna sama sekali, kepada tetangga, kepada teman kerja, keluarga, atau kepada siapa saja yang harusnya kita mengabdi untuk masyarakat. Apa gunanya kalau kita, tidak ada harganya sama sekali.’

Belum ada yang merespon atas ungkapan Harjo itu. Merka masih terperangkap dalam satu kebisuan. Bia jadi, kalimatnya membuat kebangkitan energi bagi yang mendengarkan. Bisa juga kalimatnya, mengatarkan pada ingatan zamanya dulu, sewaktu menjadi anak-anak. Tapi siapa yang mau, pekerjaan mengenang adalah pekerjaan seorang pensiunan. Maka itu, mereka kemudian saling pandang barang sebentar,

“Ooo… yaaa…’ Noto sepertinya punya bakat, untuk melakukan penemuan-penemuan baru. ”hem.. hem… hem..’

Harjo bertanya, “Punya dasar apa sampean, kang Mas Notoo?’

“Seng jelas, kang. Orang tua yang ke kanak-kanakan pada saat sekarang. Adalah mereka yang dulu, saat jadi anak-anak, tidak bisa sepenuhnya menikmati masa bermainnya dulu. Lha ini kalau anak-anak di sekolah seharian. Iso-iso kebrangas kuwi engko,’

Dalam satu suku kata bahasa jawa, yang tidak akan pernah di temukan, atau bahkan tidak ada dalam kamus jawa mana pun. kebangras adalah ada pada suatu kondisi dimana, seseorang yang tidak melewati urutan-urutan dalam tahap sekala pertumbuhan hidupnya yang terikat dengan keadaan kultural sosialnya.

Padepokan, 29 Agustus 2016

Iklan

2 thoughts on “Memimpin Menteri Kebrangas Dari Belakang

Monggo pinarak?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s