Anak Dusun ‘Menyuap’ Tuhan

#BloggerTanahJawa

notedcupu.com

Sesekali anak-anak desa itu betul-betul harus diam. Mereka bukan kiai, juga bukan kelompok sufi. Intinya mereka bukan siapa-siapa di dusunnya. Yang perlu mereka  kerjakan adalah ngempet ngomong,  atawi puasa nyangkem. Tapi cara mereka nutuk, nempeleng, harus tahu rumusan, ‘Nabok Nyileh Tangan’. Sebagaimana melihat kemungkaran yang terus terjadi di tataran pemimpinnya, mereka total terus melakukan akumulasi-akumulasi nilai.

Ini bukan zaman Nabi Nuh dengan bahteranya. Tentu juga bukan zama Nabi Musa dengan tongkat saktinya, atau zaman-zaman lain, dimana Tuhan dan para Kekasihnya mengalami kontak langsung untuk ‘membuat keseimbangan baru’ akibat suatu pergeseran besar suatu kaum. Dan pergeseran besar-besaan itu, akibat kemungkaran-kemungkuran besar oleh manusia di muka bumi.

“Iki pemerintah, yo kok podo kendel, yo mas?’ Tanya Leksono, kepada kusumo di padepokan asmaradhana. Siang itu, sesudah selesai mengajar, mereka berkumpul untuk mengasah keterampilan memainkan gamelan.  Kang mas Kusumo mak njegagik, dadanya langsung tegak, “Kendel piye maksudmu, kang Leksnono?. Wong sudah jadi guru, takon-takon, kok masih ambiku-ambiku asyuuu?’

Leksono mesem-mesem sebentar, “Heuheuheu… yooo… maaf Kang Mas. Itu loh, kendel korupsi rame-rame. Kabeh sak niki podo korupsi. Wah… jan.. jan..!’ jelas Leksono lagi, lalu mengelus-nghelus dada.

‘Jama’ah itu, ternyata gak di majelis-majelis saja loh mas?” Noto ikut-ikut bersuara dengan kerasnya.  ‘Tapi korupsi kok ya juga berjamaah. Ini pemerintah kok ya buto semua,’ kali ini noto benar-benar jengkel. Jika dia sudah marah, maka salah satu ciri-cirinya menyamakan manusia dengan tokoh pewayangan yang amat rakus itu, Buto. Di saat mukanya memerah oleh energinya yang meledak-ledak, Gus-Gus mengambil kesempatan.

‘Lha terus, biar daerah kita uang buat gaji guru ndak di korupsi, sebaiknya kita ini, ngapaain sajaa ya, Not enaknya?’

‘Aku ngadu saja Gus. Ngadu pokoke,’ Kata Noto lalu matanya menerawang ke langit-langit padepokan, ‘Aku beroda terus lo Gus. Kira-kira doaku itu nyampek ke Gusti Allah gak sih, Gus?’ Tanya Noto, dengan wajah yang amat serius.

“Ohhh itu caramu ngadu ke Gusti Allah.’ Jawab Gus-gus sambil mengucir rambut belakangnya yang gondrong, lalu geleng-geleng kepala mendapat jawaban canggihnya Noto. Setelah semuanya rapi, Gus Gus kemudian menghadap wajah mereka satu-persatu, memandangi dengan tatapan penuh kasih sayang. Dan kemudian balik bertanya, “Lha… kira-kira doa sampean balik gak kang Not?’

“Lhaaa… gak’e Gus?”

‘Yaa.. kalau enggak balik, itu tadanya sampai ke gusti Allah kang Not’.

Harjo dan Mulya yang sedari tadi menyimak pembicaraan, lalu ketawa kepingkel-pingkel di lantai ubin padepokan asmaradhana.  Jawaban yang keluar dari Gus Gus cukup membuat mereka sakit perut. Padahal sakit perut yang salama ini umum terjadi di masyarakat adalah penyebab kebanyakan makan sambel. Tapi bobot kelakar Gus-Gus cukup membuat perjumpaan mereka siang itu, amat ganyeng. Dan khitmat. Mereka semua adalah lakon-lakon yang saya jumpai dan saya butuhkan untuk satuan sekala waktunya.

Sudah sangat setia mereka melanjutkan doa nabi Nuh di dusunnya. Setiap kali mereka berjuma, niat mereka adalah ‘bismillahi majriiha wa mursaaha. Inna robbi la ghofuurruohiim. Maka di hari depan, jangan sampai kaget, doa-doa mereka, dan doa-doa di majelis maiyah yang lain akan membuat rame se-isi penduduk langit. Maka saya sangat berhutang budi kepada lakon-lakon itu. Mereka terus membentuk tanaman-tanaman yang subur, di tengah-tengak negara yang tidak ada rabuknya.

Saya bergaul di tengah-tengah banyak kawan-kawan yang amat setia. Dengan seperti itu, saya sangat kewalahan di serbu oleh pengalaman-pengalaman yang menuntut haknya untuk di kemas dalam bentuk tulisan. Sudah ada yang tahu,  saya bukan siapa siapa. Dan juga bukan seorang penulis. Dalam tema level ketaatan. Diri saya sekedar menjalankan metabolisme jasmani dan rohaninya atas baktinya kepada kawan-kawan dusun. Saya  menulis karena memang kewajibannya, sebagaimana sekuntum bunga yg mekar pada suatu senja. Karena pada suatu senja, bunga di titahkan untuk mekar.

Maka saya, makan dan minum dari pengalaman hidup. Hati, kepalaa dan raganya lalu menguyahnya amat keras. Ampasnya saya lepeh dan dibuang jauh jauh. Hasil gizi, kesehatan dan energinya, saya silaturahmikan kepada kawan-kawan. Memang sekedar itulah yang mampu saya lalukan. Bekerja keras, menulis, tidak malas, sampai detik terakhir napas hidup saya. Untuk tetap tegak dan taat, saya tidak akan pernah menjadi seseorang manusia  yang putus asa. Tidak akan pernah menjadi manusia yang gagal. Untuk itu, sudah saatnya saya lempar lakon-lakon itu masuk ke dalam frame, yang lebih besar.

Lewat lakon-lakon itu,  saya akan memainkan orkestrasi ‘nabok nyilih tangan’ secara lengkap cerita pengembaraan mereka. Dan mediun itu, adalah buku tuan-tuan.

Iklan

2 thoughts on “Anak Dusun ‘Menyuap’ Tuhan

    • Bang Cup(uh) berkata:

      Dari zaman sd, sampai kuliaah, sudah berapa banyak teman yang kenal? Lalu seberapa banyak yg mampu bertahan sampai sekarang?. Carai apa penyebabnya. Matur nuhun, tanggapannya mbaaaak.

Monggo pinarak?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s