Manusia Ketergantungan Zaman

#BloggerTanahJawa

notedcupu.com

Jika Noto itu anak desa sakti madra guna. Bisa-bisa, sewaku-waktu dia kangen pada majelis, dia bisa saja dalam satu kedipan mata menculik Harjo dan kawan-kawan yang ada di kota untuk sowan ke ndalemnya. Namun, apa daya, dia salah satu mahkluk alam semesta yang tanpa tergantung oleh ke istimewaan dari-Nya. Cukup dengan hasil-hasil kebunnya, jurus teramat canggih itu ia gerakkan. Membuat suguhan pisan goreng dan teh hangat di pagi hari. Lalu sesudah kudapan itu siap di atas meja emperan, ia foto dalam pesan singat, sambil disisipi text: “Kang, ngidulo ada makanan enak. Kita ngobrol!”

Sarapan pisang goreng dan bersanding dengan teh hangat adalah wujud tuhan yang paling nyata di muka bumi. Undangan pada hari sabtu pagi itu, amat celaka dan lancang jika di tolak semena-mena. Mak srantal, sesudah Harjo berkemas-kemas, usung-usung dari rumah ke pasar Panggul, karena harus mbantu orang tuanya jualan daging kambing, ia langsung mampir ke ndalemnya Harjo. Entah bujukan primordial macam apa, sampai di emperan ndalemnya Noto, sudah ada kang Mulya. Thenguk-thenguk di atas kursi menjalin.

‘Ini teh cap naga. Enak kang, enak!’ kata mulya, lalu mencium kepulan asapnya, “Baunya harum, kang!’

Noto menyongsong, dengan cepat, ‘Aku buatkan khusus buat sampean kang,’

‘Sampean kalau sudah nyoocot begini, pasti ada maunya toh?’

Lalu mereka berdua tertawa, ‘Ha-ha-haa.., soalnya ada yang penting kang,’ dan, sesudahnya tawa yang menggelegak itu, ada penderitaan yang menghantam dadanya.

Di antara tiga puluh hari yang ada, anak-anak desa yang masih gelandangan di kota itu, menyempatkan untuk pulang sekali ke desa. Pada kepulangan kali ini, kang Noto menyuap perut saudara-saudaranya itu, untuk urun menumpahkan ilmu dan pengetahuan yang bisa di pakai anak-anak didiknya. Sebagian besar dari mereka setelah lulus, tidak akan melanjutkan sekolah ke jenjang berikutnya. Artinya pendidikan mereka secara formal stop di tingkat SMA. Sebagai guru, kang Noto merasa bertanggung jawab penuh kepada mereka di hari depan.

‘Inilah peradaban ketergantungan kang,’ majelis pagi itu dimulai. Kang Mulya suaranya bergemuruh. Lautan generasi kita di setir dan di giring untuk tidak berdaulat dan merdeka atas dirinya masing-masing. Di puncak kematangannya sebagai manusia, mereka bukan otentik atas dirinya seratus persen. Tak pernah otentik sesuai kebudyaan asal-usulnya, dan tak pernah otentik sesuai dengan keyakinan dan agamanya. Jika pendidikan adalah jalan, maka manusia yang ada di dalamnya adalah pejalan. Bebas mau berjalan kemana saja sesuai kehendaknya.

“Kang, selama ini, anak-anak di suruh masuk sesuai kategori yang telah di rancang tanpa tahu relevansi kebutuhan yang mewadahi kehendak mereka. ’ kata Kang mulya, ‘Itu di bokong-bokong-bokong truk, dan angkot, ada sosok.. pokoknya sampean tahu sendiri lah, ‘Enak zamanku toh? nah.. nah.. itu, gambar-gambar sambil dada itu, yang mengusik ku. Bukan main keterlauannya, kang. Terutama saat ada peristiwaa yang menggilakan dunia: di desa kita ada lurah korupsi, warga yang jadi korban menggandakan uang. Apa lagi, terus yang tak ngeyam bangku kuliah, gak punya ijazah, di kira bakal suram hari depannya. Walah… nemen tenan, pokoknya kang,’

Sambil melahap sepotong pisang goreng kesukaanya itu, Harjo urun rembuk bersuara.

‘Kang.. kang, wah.. aku kok ke ingat pesan dari mbah yai kita itu, ‘Hubbud Dunya ra’su kulli khati’ah.., yang artinya berlebih-lebih mencintai dunia, adalah sumber segala masalah. Sumber segala malapetaka… kalau wong jowo bilang, urep kui mbok sak madyo waeh..’

‘Besok senin, aku tak ndawuh ke anak-anak di kelas, kang. Orang yang lulus kuliah itu, mereka yang meneruskan sejarah. Tapi… yang tidak kuliah, atawi yang kuliah lalu memutuskan mandek dan memilih mencintai belajar sampai akhir hayat, itulah mereka yang menjebol sejarah. Ada Emha Ainund Nadjib, ada mbah Sujiwotejo.., lalu ada lagi..,’ sesaat, pandangan Noto melirik tajam wajah saudara di sebelah kirinya itu. “Ada kang…, B. S. Tot–. ‘ Kang noto menyeruput tehnya kembali, dan berkata, ‘Mereka nama-nama tadi itu kang, adalah manusia yang gagal tergantung pada geilaan-geliaan dunia, jabatan, dan materalisme.’

Harjo menimpali dengan penuh tenaga. Inilah jaman yang terbagi menjadi dua wilayah. Ada yang membawa diri membusungkan dada pada abad 20-21. Abad modern dalam perjalanan umat manusia menjalani ngelmu khaton. Dan orang-orang tua pada jaman ini, dan anak-anak muda turunannya, sangat terkagum-kagum pada ngelmu khaton. Terpenjara dengan bangga oleh ketakjuban kepada matrealisme. Mereka ini, mahkluk yang amat dangkal, kerdil, dan terbodoh dari peradaban yang ada dalam sejarah manusia.

‘Dan wilayah yang satunya lagi,’ kata Harjo masih melanjutkan. Tentu manusia sebelum abad 20 ke bawah. Dimana ia bisa membawa diri pada peradaban, berjalan, terus bergerak, terus mencari apa yang ia bisa kerjakan, dan berdoa untuk senantiasa mencoba menemukan. Maka dari itu, peninggalan-peninggalan mereka terdahulu amat menajubkan, dan di butuhkan oleh zaman sesudahnya. Walau pun, dengan sangat gamplanganya kemudian di singkirkan.

Dan landasan mereka, hanya satu yang mereka pakai dan yakini, orang yang hidup hanya di ikat oleh mencari sesuap nasi, bukan di ikat oleh keenakan mengerjakan pekerjaan, amat sukarlah merasakan bahagia. Tetapi kian lama, kian mundur tenaganya, dan kian kecewa hatinya.

Noto menyisingkan lengan bajunya.

‘Ternyata sampean sudah tamat juga, kitabnya Buya Hamka, kang?’

Mulya memotong pembicaraan.

‘Oh… ya.. ya.. aku tahu mantra bagus itu.’ kedua bahunya terangkat naik sejajar, “Itu, kan, yang sampean tuntaskan di kitab ‘Tasawuf Modern’’

Sampai pisang goreng di atas piring itu tandas, beserta teh hangatnya, tanpa di sengaja, Noto sudah menemukan apa yang sesungguhnya ia cari. Pisang dan teh, dua objek yang tergabung dalam satu wilayah di atas meja. Sebagaimana, wilayah kepala manusia, kesempitan dan kedangkalannya adalah sumber kedangkalan, dan kebodohan yang mudah dibenturkan oleh apa saja, dan siapa saja. Maka itu, manusia membutuhkan cahaya sebagai penerang dari segala ketergantungan jaman, dan penerang itu tak lain adalah kesetiaan pada ilmu dan pengetahuan.

 

Iklan

4 thoughts on “Manusia Ketergantungan Zaman

  1. Gara berkata:

    Saya bersimpati dengan pandangan yang bilang kalau pendidikan tinggi belum tentu mengubah manusianya, hehe. Pelajaran sejatinya bisa diperoleh di mana saja, dan tidak ada jaminan bangku pendidikan tinggi akan selalu menjadikan pelajar di sana lebih baik dibandingkan sebelum masuk. Lebih baik lagi kalau bisa menyebarkan ilmu baik ke semua orang, alih-alih hanya mengecap ilmu yang baik itu, hehe.

Monggo pinarak?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s