Mengenai Buku Ke Dua dan Pengembaraan Sunyi Orang-orang Desa

#BloggerTanahJawa

notedcupu.com

Sebagaimana orang kota yang mulai romantis pada desa. Saya juga mulai romantis pada tempat ini saat pertama kali bertemu. Menghabiskan waktu berjam-jam lamanya. Di ruangan ini, kedalam jiwa saya sedang menempuh etos kerja seorang petani. Ada tiga rumusannya: nandur. nandur. dan nandur. Ruang arsip teramat jadul ini, saya pinjam untuk melakukan proses metabolisme hidup saya sebagai bagian dari hidup sosial.

Biar agak resmi. Saya tegaskan, saya bukan seorang ‘penulis’. Yang saya kerjakan, menulis dalam arti menjalankan metabolisme peristiwa yang saya hadapi setiap hari. Sepenuhnya, energi saya, saya kuak kan untuk memenuhi hak-hak dalam menjalankan ketersambungan hati. Hak-hak itu yang harus saya silaturahmikan kepada sampean-sampean. Sebagaimana bunga yang di titahkan untuk mekar, maka, setiap hari saya makan dan minum pengalaman hidup. Tinja dan ampas-ampasnya saya buang. Sementara, gizi dan energi cintanya sebagai ‘media’ silaturahmi.

Dengan etos kerja yang amat sungguh-sungguh, dan rasa cinta sebagai wujud perlambangan kemesraan. Buku ke dua ini, rampung saya kerjakan sesuai tenggat waktunya. Kerelaan inilah yang mengantarkan sebuah energi tidak pernah bersinggungan dengan kemalasaan. Maka sepenuhnya, buku ini lahir dari warisan falsafah orang jawa, ‘Sopo seng tekun bakalan tekan,’ dalam proses penulisannya, saya di dampingi oleh prinsip-prisip yang sudah ada jaminannya itu. Dan pasti, bergaransi pula.

Agar penyampaian ini menjadi padat dan akurat. Maka tema buku saya yang kedua ini, mengakomodasi tiga wilayah. Wilayah yang pertama adalah: agama. Berikutnya adalah: desa. Dan yang terakhir adalah: pengembaraan orang-orang desa menempuh jalan sunyi. Sebagai lakon-lakonnya, maka saya memakai nama-nama gerombolan anak muda di desa Panggul. Di antara ada Noto, Kusumo, dan Leksono, mereka menetap di desa. Lalu di perantauan ibu kota, ada Gus-Gus, Harjo, Mulya, Putro, dan lainnya.

Jantung dari garis besar buku itu..

Di antara kepulangan mereka menengok desa. Pada saat tengah malam datang. Selepas isyak, mereka rutinan mengadakan majelis maiyah mau pun, majelis thareqat di ndalem Noto – di emperan depan rumah. Meskipun belum adanya sebuah deklarasi secara resmi, namun lingkaran ini tetap hidup melintasi segala jaman. Dan usia. Sejak masih bocah, sampai dewasa sekarang, persahabatan mereka melintasi segala jenis waktu. Di kota gaplek itu – begitu kata orang luar daerah bertabliq – mereka adalah gumpalan energi kerelaan yang menjemput pagi. Itulah cinta.

Persahabatan mereka dimulai ketika saling sapa di depan gapura SMP. Hingga, pada suatu masa di hari depan, persahabatan mereka telah membentuk satu lingkaran cahaya yang berpendar-pendar untuk desanya. Pada suatu sesi kesempatan, di antara jarak yang amat jauh itu, pada jam dua dini hari, Harjo iseng-iseng bertanya, kepada Noto, lewat pesan pendek,

“Kang-kang, coba sampean cari tahu, persahababatan kita, kok awet. Padahal berapa banyak teman kita sewaktu smp, sampai sekarang, yang sebatas kenal, lalu hilang?’

Jarak antara ibu kota dengan desa itu, hanya sekian detik via pesan pendek, dan ia menjawab dengan serius, ‘Nda.. nda.. persahabatan kita awet karena di ikat oleh nilai-nilai agama kang. Tak lain karena kiblat kita semua ini sama. Guru mursyid kita kang, dan, kiai-kiai kita itu.” katanya, dahsyat. Pada suatu pagi yang lain, sesudah sabtu berganti menjadi hari minggu, Kang Mas Kusumo mendorong kesadaran berfikir Harjo, ia berucap.

“Kok cepet banget, baru kemarin sampean-sampean datang. Tau-tau hari ini sudah balik lagi?” pertanyaan semacam ini mencengkram kepala. Gambaran perasaan gundah yang terbaca dari lisannya.

Di ibu kota, anak-anak dusun yang merantau itu mulai romatis pada desa. Simbol dari keakraban lama yang telah hilang. Pertanyaan ini merupakan gejala klimaks kemana sesungguhnya retak sosial manusia dikembalikan. Sebuah bukti itu terlihat sewaktu anak-anak desa di ibu kota itu berkumpul, membentuk lingkaran dusun, dan bermajelis. Saat pembahasan memasuki perbincangan yang amat serius, Harjo mengakhirinya dengan sepihak,

“Wes buyar yo, Nda. Sudah pagi. Kan besok kita semua harus kerja. Wes jam dua loh ini?’

Gus Gus menyongsong, dan badannya berdiri tegak, “Ya allah, pokoke mesti goro-gorone kowe, Jo,’ tangannya menunjuk muka Harjo dengan bola matanya yang amat mencengkram, ‘Lho ini lagi seru-serunya Jo, mesti sampean seng garai buyar,’ katanya lagi, dengan aksen kedesa-desaan.

Lewat majelis, mereka bertumpu pada cinta dan romanitsme berdusun-dusun.

Maka tema besar buku ini, rata-rata akan bercerita tentang itu. Mengenai perubahan zaman dan manusianya: Saat kita bertemu dengan tempat tinggal baru. lingkungan baru. dan bertemu dengan teman baru. rasanya ingin kembali kepada yang pernah kita akrapi. Sesungguhnya hati ini tidak akan pernah tentram ketika kita tercerabut dari akarnya. Dari desanya.’ Di antara tiga wilayah itu: islam, desa, dan majelis, dimanakah sesungguhnya bahan baku ketentraman itu berada?. itulah kitab ketentraman yang sesungguhnya mereka cari dan curi dalam pengembaran jalan sunyi.

Di tengah jarak 261 Km, antara desa saya di Panggul dengan ibu kota Surabaya. Kota ini sungguh-sungguh kemilau lampu metropolitan. Di dalamnya, telah hidup ajang yang menantang kepandaian bercatur memperebutkan uang, kehidupan dan harapan. Setidaknya banyak pemuda desa saya yang berlarian ke sana, mendulang jaminan hidup yang lumayan. Menawarkan janji-janji masa depan yang lebih merdu dibanding sawah yang paling subur sekalipun. Maka saat merampungkan buku ini, saya minggir dan menepi dari kubu-kubu eksklusivisme dan materialisme.

Jika mengikuti sebuah konsep, ada bangunan-bangunan pemahaman pada bagian-bagin bab buku ini. Di dalamnya ada goncangan pemikiraan, ketika menemukan di mulai dari mencari. Ada satu bagian, dimana saat saya belajar kepada Noto, saya harus menertawakan diri saya sendiri. Tidak lain, saya telah di seret masuk ke dalam kepungan badut-badut drama kehidupan. Ternyata, saya telah terlempar jauh menjadi manusia dengan berganti wajah di depan umum. Dengan belajar kepada, sahabat saya di majelis, dan guru-guru kami, saya sangat kewalahan di serbu oleh pengalaman-pengalaman yang menuntut haknya untuk saya tulis.

Semoga dari pengalaman dalam buku ini, bisa menjadi alat, atau semacam lentera yang bisa di fungsikan sebagai penerang. Tentu dengan kadar yang berbeda-beda, sesuai tingkat relevansi pada jarak pandang kita menangkap kebutuhan di tenga-tengah perjalanan pengembaraan spiritual. Cahaya itu, adalah titik pusat kita, ialah panutan agung Nabi Muhammad SAW.

Di ujung penulisannya, naskah ini selesai saya tulis di desa kami, Panggul. Genap dua minggu yang lalu setelah tulisan ini saya unggah, naskah itu sudah masuk dapur penerbitan. Informasi mengenai tanggal terbit, ‘Kiai Kenduri Si Pencuri Kitab Ketentraman,’ diperkiran di bulan Novermber akhir. Adapun tempat-tempat jangkauannya, bisa di dapat di rak-rak toko buku, bisa di temui setelah semuanya rampung. Dan akan menyusul informasinya.

Melalui upaya penerbitan buku ini, mudah-mudahan bisa sampean-sampean terima dengan senyuman dan kelapangan cinta.

 

Iklan

Monggo pinarak?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s