Mengobral Pemimpin Uring-Uringan

#BloggerTanahJawa

notedcupu.com

Ini bukan di jawa. Pemandangan fisik gedung-gedung yang megah itu menjadi pusat perhatian saya yang amat besar. Di sekitar gedung-gedung institusi itu: kiri, kanan, depan, dan belakang tiada berserak rumah rumah penduduk yang kuyu dan suram. Setiap hari, dari jam delapan pagi hingga senja di sutu sore, penghuni gedung itu terperagkap dengan setelan jas dan berdasi di iklim yang tropis. Bagaikan muntahan barang-barang busuk dari mulut abad modern yang indah gemerlap dan kejam tanpa ampun.

Kalau saya minggir dan menepi menyusuri jalanan kota yang panas terik dan berdebu. Tentu akan ada yang muring-muring dengan saya. “Hei, kamu hambaku yang dari desa, aku ciptakan dunia alam semesta ini dalam satuan kosep. Kenapa kamu tidak melacaknya. Kenapa kamu hanya melacak dalam hitabbulllah. Temukan keberadanku di dalam gejolak apa saja yang kau rasakan. Karena ayatku salah satunya berbunyi, aku ada dalam prasangka hamba-hambaku,’

Tentu pengalaman hidup saya tidaklah lengkap, jika jiwa saya berpaling. Abad modern adalah hutan rimba belantara. Dimana tatanan dunia nilai binatang niscaya dari awal sampai akhir akan tetap sama. Sekedar contoh, seekor kambing pergi ke padang ilalang memakan rumput sesuai apa yang ia butuhkan. Kalau sudah kenyang, ia akan mandek. Tidak mungkin ada fenomena, kambing merumput dan di punggungnya gendong kerumbu berisi damen kering.

Maka beruntunglah hewan ia hidup dalam ke istimewaan yang sudah pasti dan terjamin sifat gerak lakunya. Itu dan itu saja setiap hari. Lain halnya, di institusi-intitusi manapun di Indonesia, gejala-gejala dan kecenderungan perilaku manusia yang penuh kebintanangan. Kegilaan-kegilaan pada pangkat dan kedudukan, dan kursi-kursi yang ia tempati, maupun busana dan segala tutur komunikasinya adalah watak dari isi kepalanya.

Saya tidak akan marah-marah melihat fenomena seperti itu. Buat apa saya buang-buang energi yang tidak perlu dan tidak sepantasnya saya tumpahkan. Lebih penting mana, marah-marah apa menyelesaikan masalah?. Tegas ada tempatnya. Kelembutan juga ada tempatnya. Jangan di campur aduk. Lain halnya kalau marah-marah, seperti fenomena yang sering kita saksikan pada pemimpin-pemimpin kita saban hari di teve-teve. Di kantor-kantor tempat kita bekerja juga ada budaya marah-marah.

Kadang kangen juga lho, tak ada ungkapan nada suara yang marah-marah. Bunyi-bunyian nyaring yang memekak kan telinga. Seperti dibekas tempat kerja saya itu, sore-sore sehabis teman-teman divisi saya melakukan kunjungan ke rumah konsumen.., yang macet kredit mobilnya. Jam enam sore belum ada yang balik kantor. Saya dan rekan supervisor saya sudah di kantor lebih dulu. Lalu, sang atasan sebagai kepala itu, datanglah ke meja saya.

Punggunya membungkuk, wajahnya menghadap saya, ‘Mana anak-anak, kok belum ada yang balik?’

“Masih di jalan Pak,’

Wajahnya merah terbakar, “Jam berapa ini masih di jalan. Kalau susah di atur, saya keluarkan saja, ganti dengan orang baru semua.’ Nada suaranya meledak.

“Loh.. loh.. kan di luar hujan deras Pak. Ya, kondisional lah Pak,’ saya menyongsong hp genggam di sebelah saya, lalu menodongkan kepada rekan saya itu. Si Rekan di sebelah saya yang sebagai supervisor itu, langsung melacak keberadaan teman-teman yang ada di lapangan, satu per satu bergantian. “Ndang bali rek.. ndang bali rek, sudah di tunggu atasan. Aku kesel rek denger Atasan marah-marah. ’ dan suara itu, seolah komando yang mutlak harus di penuhi.

Sesudah kejadian itu, ramantisme itu kian berjarak. Si Atasan masih saja di kepung oleh energi mencela tanpa henti. Menyalahkan tanpa dasar. Saban hari tiada jeda, ada saja yang ia lakukan, memanggil setiap jajaranya masuk ke ruanganya. Entah pola percakapan apa yang ditempuhnya. Pilihan apa yang di ambil dari sebuah sikap meredam dan memadamkan api. Namun, saat ada wajah yang keluar dari ruangan atasan, semburat wajah amuk masa terpancar dari guratan dan lipatan di keningnya. Juga sorot matanya yang amat tajam, seoleh hendak menghantam.

Saya mencium dan mendengar bisikan tentang rencana amuk masa oleh jajaranya. Jika saya biarkan, saya menderita dua kerugian. Pertama, jika saya acuh, alangkah tulinya hati saya dalam peran sosial. Kedua, jika posisi saya memihak kebenaran orang banyak, apa bedanya saya dengan kompor. Menjadi bagian dari kepulan amarah yang justru menyulut ledakan. Sebelum ada yang di terpukul. Bergegaslah saya naik ke atas, pada suatu sore tanpa ada yang tahu. Sebelum si atasan di pukul banyak orang. Mending saya hantam duluan alam pikirannya.

Saya giring hatinya untuk bertamasya dalam dialog.

Lalu kepalanya saya letakan sebagai orang tua. Saya junjung hatinya untuk mendalami keluhuran. Ungkapanku melesat satu persatu. Kita di sini sama-sama nunut nyari sesuap rezeki. Jajaran dan atasan hanya dalam fungi konsep kerja. Saya datang ke sini tidak sedang bertugas. Saya orang biasa, kita akan punya titik temu jika kita melepas atribut formal. Lalu, saya dorong ia untuk memproduksi kepuasan batin, dengan berterus terang. “Pak, nanti sore kumpulkan semua di rungan rapat. Apa yang paling luhur, selain kejujuran meminta maaf dan berterus terang. Jujur adalah kelapangan cinta yang mempersatukan.’ Setelah selesai, saya langsung menyalaminya, ‘Insya allah beres.’ Kataku, lalu saya pergi. Dan di sudut matanya berkaca-kaca.

Cara kita marah. Cara kita bergembira. Cara kita memilih pemimpin. Dan cara kita dalam hal apa saja. Secara terang-terangan, adalah sungguh mencerminkan tingkat mutu budaya bepribadian kita dalam bermasyarakat. Baik tatanan dalam wilayah perkantoran. Di desa-desa. Maupun dalam perkotaan. Allah pun tidak rugi, jika khalifahnya tidak beriman kepadanya. Dengan setia, Allah akan tetap menghidupkan matahari apakah manusia mensyukurinya atau tidak.

Sebagaimana siang dan malam. Karena kita hidup dalam satuan konsep ciptannya. Kebaikan dan keburukan akan ada dan abadi sepanjang jaman. Di tempat lain, di institusi yang berbeda, saya kembali lagi bertemu dengan situasi apa yang saya lalui dibekas tempat kerja, saya yang lalu. Jika saya menggunakan komunikasi dengan cara budaya orang ludruk pasti saya sudah nunjuk-nunjuk ke langit, sambil malang kerik. ‘Wah, duh gusti, goda saya sampean?. Di sana sudah selesai. Ini ada lagi. Oo.. ya sudah manut, ooo itu, maksud sampean. Enggeh empun-empun saya bantu bereskan.’

Lalu di tempat baru itu, dari lantai satu, saya berjalan menaiki tangga ke lantai dua. Di sana, tujuan saya adalah meja atasan. Satu tingkat di atas, atasan saya. Lima langkah, sebelum saya mengentuk pintu ruangannya — konspirasi macam apa yang terjadi — ia lebih dulu membuka pintu. Dan seolah tahu maksud kedatangan saya. Ia menyambut saya, dan sudah menyediakan tempat duduk dengan longgar dan lapang. Saya belum ngomong apa-apa, tapi ia sudah membuat saya terkaget-kaget.

‘Kita ini di sini sama-sama buruh. Gak ada atasan dan bawahan. Kita sama-sama ikut orang. Mas,’

“Tanpa perlu saya ngomong banyak. Sampean sudah tahu Pak. Air telaga yang tenang takan bergejolak jika di dasarnya tak ada guncangan. Dan sampean sudah tahu sumber masalahnya, letaknya ada dimana.”

“Oke.. oke…, besok saya panggil dia. Biar kerja kalian enak. Rukun.’

Lalu saya pamitan. Berbeda dengan fenomena sebelumnya, atasan yang ini tampaknya mesam-mesem, dan sudah amat jauh membaca watak saya sejak pertama kali bertemu. Saya mulai curiga, jangan-jangan ia menguasai ilmu pranoto mongso. Tapi kecurigaan saya membentur tembok kepastian, saat mata saya menyadari, ini bukan mimpi. Ini bukan mimpi di siang bolong. Dan ini bukan zaman orde baru.

Bentuk-bentuk kejadian itu contoh kecil. Kita sedang menarik rentang panjang, ada dimana posisi kita?. Dan orientasinya dari posisi itu, sedang condong ke arah mana sebenarnya?. Tegak berdiri, atau sedang jatuh karena salah memilih jenis moral budaya. Selama ini, kita selalu gagal cara mememilih calon memimpin kita. Seperti dawuh mbah yai di dusun itu: aku hidung di tengah-tengah orang yang hampir buta untuk memilih, siapa tokoh, siapa idola, siapa ulama dan, siapa memimpin.

Renungkanlah: untuk menggerak-kan manusia saja, seorang memimpin tidak menemukan rumusan bentuk yang pas dan pantas. Renungkanlah: betapa sesungguhnya dibanyak ruang dan tempat memimpin gagal mendidik sebangsanya. Tentang bagiamana cara bertutur dan berbudaya. Semoga, tulisan ini mengantarkan kita untuk senantiasa mengasah budi luhur.., wa qul ja’al-haq wa zhaqal-bathil…, jika kebenaran maka sirnalah kebatilan. Yang menjauhkan kita dari gegap gempita zaman yang penuh pilihan sikap kebinatangan.

Iklan

6 thoughts on “Mengobral Pemimpin Uring-Uringan

Monggo pinarak?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s