Dadi Wong Apik Opo Dadi Wong Lanang?

#BloggerTanahJawa

notedcupu.com

Siapa yang tidak khetar-khetir. Seorang teman yang di tindih geluduk besar ‘persoalan’ doa restu oleh calon mertuanya tak kunjung menemui kepastian. Di antara siang dan malam, hati kami di sekap oleh rasa was-was. Teman teman kita di desa, hampir setiap hari menanyakan kabarnya kepadaku. Aku pun merasa kebingungan juga. Dan hanya bisa memberi jawaban yang itu-itu saja setiap hari: ‘masih susah di kontak kang, pesan dan tefonku belum juga ada jawaban.’ Orang tua, orang tua angkat ini, kekhawatirannya nyaris mendekati kecurigaan besar.

“Kang.. kang…, tolong sampean cek ke terminal. Ke stasiun, atau ke jalan-jalan. Jangan-jangan Kang Wanto ini gek wes kalungan kumplong,” Kata noto kepadaku tiga hari sebelum pulang ke desa. Aku pun dengan gaya ngeludruk, menjawabnya ceplas-ceplos. “Mesisan kalungan kumplong kang. Pomo kalungan kumplung. Ale goleki tambah penak. Aku njujuk ke dinas penampungan orang-orang ‘berperilaku khusus’ pasti ketemunya.’ Begitu jawabku agak iseng-iseng juga.

Ketahanan mental dan pilihan sikap sosial orang desa ini amat tepat. Bagaimana mereka bisa babak belur di hantam zaman, sedangkan mereka saja bisa dengan mudah berkelakar ditengah kecemasan.

Keyakinan besar ini akan berlaku juga kepada kang Wanto. Ia bagian dari orang jawa yang darah dagingnya dibesarkan di desa. Atas pilihan-pilihan setiap jengkal langkah pada akalnya, sudah di pertimbangkan dengan bobot rasional tertentu. Ia sadar betul akan posisinya. Pada saat ini yang ia butuhkan adalah ‘mendiaknosis’. Berbicara kepada dirinya sendiri. Kita sama-sama tahu, setiap ada kesulitan, orang desa akan mengupayakan segenap pertolongan kepada sesamanya. Pertolongan itu, bisa juga ia upayakan untuk mengangkat dirinya sendiri dari geluduk besar permasalahan.

Tentu saja, saudara-saudaranya di majelis taranam yang bagian ngerem-ngerem hatinya.

Tapi apa yang mau di ngerem-ngerem saat masalah yang menindih hidupnya lebih besar dari kelapangan batinnya. Hidangan pola-pola komunikasi saat ia sedang bertutur untuk menyampiakan keluh kesahnya tidak ada bau-bau kecurigaan, yang mendekati ke palsu-palsuan. Tadi malam, saat kang wanto duduk di teras ndalemnya Kang Noto, semua ikut menyimak dengan seksama. Apa yang tampak dari wajahnya adalah ketangguhan jiwa untuk tidak mau di himpit oleh penderitaan. Di saat rasa pahitpun ia masih amat mudah untuk tetap berwajah manis. dan mesem-mesem.

“Lhaa iyow… yang sewaktu sampean ke malang kemarin nekani wisudanya dia toh, Kang. Terus, sampean ketemu sama bapak lan mboknya?’ Kejar kang mulya.

‘Yow… ketemu kang,’ jawab kang wanto.

“Sampean salaman?’ Harjo ikut mengejar.

Semua mendengarkan dengan khusuk.

“Salaman sama bapaknya, kang. Tapi wonge meneng. Belas ora muni. Terus aku di tinggal ngaleh kluyur—kluyur… ha-ha-ha,”

Bagaimana ia tidak perkasa mentalnya, melipir ‘kluyur-kluyur’ itu sebenarnya sungguh membuat remuk bagi orang-orang yang biasa. Apa lagi orang-orang yang di luar wilayah endonesia. Tapi ia masih saja bisa berkelakar dengan bahan baku hidupnya. Artinya, sudah pilu tapi plis lah, engkau air matamu jangan ikutan membanjiri air telaga yang tenang. Kalau rugi cukup sekali. Sedih? Oke sedih. Tapi jangan di tambahi dengan kemurungan yang semakin memberatkan. Sedih seperlunya. Amat jelas, pilihan garis hidup yang ia tempuh: sakmadyo. Yang sedang-sedang saja.

Kenekatan untuk mendekati calon mertuanya memang sudah lama ia upayakan. Masih di tempat yang sama. Kami masih menyimak, dan kang wanto seolah seperti mendakwahkan tentang ayat ayat kehidupannya. Lebaran tahun lalu, ia sempatkan sowan ke ndalem calon mertuanya itu. Berangkatlah ia dengan setelan khas dandanan anak muda. Atas memakai batik. Dan bawahan dengan celana jens. Jika di telisik dengan muntahan abad modern, simbol sandangan yang ia kenakan adalah perlambangan anak muda yang sudah mapan. Klemis dan rapi.

“Habis aku salaman, belas ndak tanya apa-apa. Aku tanya balik. Jawabnya juga seadanya, kang. Terus di ruang tamu, aku di tinggal ngaleh kang. Aduh.. aduh iki piye toh jane?” ia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. “Ya.. allah.. ya allah…”

Kang Mulya yang semula diam ikut aktif, “Lho, bukanya biliau itu guru agama kang?”

“Iyo tapi kan bukan jaminan… orang itu baik, Nda. Sikap sosial kita harus tepat pada tempatnya. Menilai orang itu terletak pada perilakunya.’ celetuk Harjo.

“Wah… ya sudah ndak usah di hakimi kang. Tur yo jangan, benci nanti malah tidak bisa berbuat adil. Malah kita sendiri yang repot. Ayo bareng-bareng di doakan saja kang. Dan, tetap kita hormati saja sebagaiamana orang tua.’ Kali ini, Kang Mas Kusumo sebagai yang paling sepuh, memberi ‘pagar’ agar sikap kita tak keblablasan.

Ku dengar, bahkan pekerjaan kang wanto pun, gajinya sudah di haram-haramkan. Sikap yak-yao ini yang harus di semprit.

Jika sudah masuk urusan stabilitas pemenuhan hajad hidup orang banyak. Terutama isi perut yang harus segera di pertanggung jawabkan. Kalau saja ada yang memaksakan kehendaknya, dan mengharam-haramkan. Aku bersedia pasang kuda-kuda. Ayo, boleh dengan cara kungfu, atau pencak silat. Riba-riba, haram-haram, setiap saat orang di sekitar kita berkata: mencari uang haram saja susahnya minta ampun. Apa lagi yang halal?. Dimanakah tempat-tempat.. institusi-institusi.. yang tidak terjajah oleh sistem-sistem, mekanisme ketidakadilan, penindasan, atau kebrobrokan?.

Allah tidak menuntut kita putih bersih manakala kita berada di tengah lautan yang kotor. Kumuh dan busuk airnya. Juga di tengah arus yang kuat, kita juga tidak di tuntut untuk mampu melawannya. Sebab untuk tegak bertahan saja pun, sudah amat terpuji. Sering kali, kedangkalan dan kesempitan membuat siapa saja mudah dibenturkan, dan dikerdilkan. Yang membawanya kepada sumber dari segala macam kebodohan akal dan kemandekan rasa akan kalbunya. Istilah yang lain, pandangan mata hatinya jauh dari rasa kasih sayang kepada sesama.

Di tengah malam itu, tema-tema pembahasan kita pun, lebih untuk menghibur diri dari pada menanggapi suatu hal yang tidak perlu di tanggapi. Betapa indahnya, saat ku dengar dari teman-teman di majelis, yang biasanya wajahnya begitu adem dan tenang, namun orang-orang ini justru malah bisa melucu dengan spontan. Boleh jadi dengan adanya perkara kang wanto ini, canda tawa kami malah lebih hangat. Itu terjadi saat kang Noto melempar satu pertanyaan, “Usulmu piye buya gondorng?”

“Lek usulku ngene iki. Di santet aeh wes. Ben gek bar… dadi awakmu iso rabi karo dek’e.”

 “Alah… masak alah…’ saut Kang Wanto… ‘Ha..ha..ha..’

“Wah.. cocok dadi dukun iki..!’ lalu semua hadiri tertawa kepingkel-pingkel..

Belum juga tertawa kami mereda, Kang Mulya malah.. nyeletuk.

Wes tengno aeh… mesti engko sampean di olehi rabi kang!

“Haa.. ha… haaa,”

Inilah wajah-wajah yang sebenar-benarnya cinta. Yo mosok rek, wajah siji cuma di buat yang kaku, dibuat mikir terus. Namanya hidup, juga harus jangkep toh?. Monggolah… boleh-boleh saja menertawakan diri sendiri dan menertawakan kelucuan kita. Itulah kebersamaan kita, jauh dari kepalsuan dan kepura-puraan. Aku mulai mengendus jika ada yang mengkritik gaya keakraban kita, tanpa tahu mengenal lebih dalam. Biasanya, orang yang berlebihan sebal terhadap mereka yang sok suci, sering kali kemudian sengaja berlaku sok kotor. Sama soknya. Sama tak aslinya.

Tak ada geluduk. Juga tak ada petir yang gemlegar. Entah siapa yang ngasih kabar, Mbah Yai Tresno yang biasanya kami temui di tanah rantau, muncul begitu saja di depan rumahnya Kang Noto. Kiai antik itu, datang dengan sepeda ontel tuanya, bersarung dan berkupluk bundar melingkari kepalanya. Setelah menyandarkan ontelnya di pinggir pagar, Ia menyalami kami satu persatu. Sambil membungkukkan punggungnya, dan bertanya, “Tadi ada santriku yang kebetulan lewat sini, Mas. Dan tahu sampean-sampean semua pada kundur ke desa. Enggeh, mak cekekal aku berangkat ke sini… loh.. bakne bener.”

“Enggeh belum lama, mbah yai. Lha ini wedangnya masih separuh..’ jawab, Kang Kusumo.

 ‘Ohh… iya.. ku dengar kabar dek wanto mau melamar anak Pak Guru Agama?”

 Mbah yai Tresno ini, seperti weroh sakdurunge winarah..

‘Maksudnya panjenengan, bagaimana mbah yai?” lalu untaian kata-kata hikmah betebaran di udara.

“Tadi ada santriku juga yang ngasih tahu, Mas. Kebetulan rumahnya masih tetanggaan dengan calonmu itu. Zaman ku dulu itu, kalau melamar anak orang, cuma satu pertanyaannya. “Bisa ngaji apa tidak, sampean nak?’ sudah itu saja cukup. Kalau bisa ngaji, langsung dinikahkan. Takut kalau ndak bisa ngasih makan, itu sudah menghina gusti pangeran. Gusti Allah kok di waduli urusan ukhrawi ngono kuwi.. yow remeh banget.” Tutur katanya lemah lembut. Kiai kharismatik itu, setiap kata yang terucap membawa pengaruh kedamaian. ”Sampean, sowan ke ndaelmnya saja, Mas. Usulku cuma satu?”

“Nopo, mbah yai…, Nopo?” Kang Wanto mengejar dengan tergesa-gesa.

“Sampean pilih. Dadi wong apik? Opo dadi wong lanang?.’ Dari jawaban biliau, semua yang hadir merasa mendapat petuah yang sangat berharga. Khususnya bagi yang menegakkan prinsip dan menjaga martabat — biliau sampaikan dengan metode cerita. dan ‘outputnya’ adalah dekonstruksi pemikiran.

“Enggeh… mbah yai,’ jawab kang Wanto, lalu hadirin semua ger-geren.

Mata biliau melirik jam dinding.

Lhadalah… kok ya sudah malam… saya tak pamit, Mas. Sudah di tunggu santri-santri di pondok.’ Kemudian biliau menyalami kami seperti saat biliau datang.

Nasehat biliau seolah-olah meniupkan ilmu ikhlas. Boleh jadi, pesan itu, untuk mengetuk pintu kalbu. Tersedia dua pilihan untuk bisa diterapkan secara budaya. Dadi wong apik opo dadi wong lanang?. Jika memilih dadi wong apik pergilah kepada orang tuanya dengan penuh tatakrama. Ketuk pintu rumahnya dengan adab. Utarakan niat engkau untuk melamar anaknya. Pasti jawabanya akan ada dua. Di izinkan, atau tidak. Dan, terakhir. Andai saja pinangan itu tidak diperbolehkan, maka engkau harus menjadi laki-laki. Artinya, “Perempuan, di dunia nggak cuma satu. Masih ada yang menyambut dengan cinta di luar sana.’ Tegas dan lembut. Inilah salah satu ajaran mengenai keramahan kiai, memandang permasalahan dengan kaca mata kasih sayang. Fabina rahmatin minallaahi linta lahum walau kunta fazhzhan ghaliizhalqalbii lanfadhduu… min haulika… maka di sebabkan atas rahmat Allah, kau lemah lembut kepada mereka.

 

Iklan

5 thoughts on “Dadi Wong Apik Opo Dadi Wong Lanang?

Monggo pinarak?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s