Berkawan Tanpa Kepentingan

#BloggerTanahJawa

notedcupu.com

Kadang kala, semakin lama kita tidak bertemu, tak saling tanya kabar satu sama lain, semakin kita ngempet rindu. Masalahnya kawan kita itu, dengan mendadak memberi undangan mantenan. Undangannya bukan lewat telfon, juga bukan lewat ulem-ulem seperti di desa-desa. Namun lewat pesan wasap. Dan tanpa geden-geden seperti ritus mantenan kebanyakan. Aku pun terpana juga, ketika di ujung kalimat pesannya ada sebuah pesan: “Kang, di rumah sudah di siapkan makanan enak. Ada bakso, dan kue-kue. Tapi… tolong lo kang, tolong. Aku ndak menerima buwuhan.’ Pesan itu, ialah laksana badik yang menikam kewajaran.

Tak mau sowan ke ndalem-nya dengan tangan kosong. Mereka pun menerka-nerka, kira-kira oleh oleh apa yang pas dan sangat dibutuhkan di kediaman barunya. Mereka juga bukan konglomerat. Juga bukan ahli nujum. Kipas angin rupanya lebih tepat sasaran dan lebih merakyat sebagai oleh-oleh. Semua pun setuju. Maka, pada bagda asyar setelah senja turun ke peraduannya, Gus Gus memimpin operasi pencarian ‘kipas angin’ ke pasar sore di kawasan Kapasan. Aku ku pun menyusul, karena pada waktu itu, aku baru tiba di Surabaya sesudah gelandangan di kampung Madura.

Baru sakseran aku tiba di depan gapura rumah kontrakannya Mulya, mereka berdua datang dengan bungkusan kardus besar. Kardus itu, nampak ndusel di tengah-tengah mereka yang duduk d atas motor.

“Kok gede banget kayaknya?’ aku berkomentar, ‘Harganya sesuai sama bentuknya, coe!” saut Kang mulya.

Akun bertanya kembali, “Aku bayar ke siapa, kang?”

Kurang ajar!. Justru ia malah balik bertanya, ‘Lha… duwe duwet oraaa kowe?”

‘Punyalah kang… kalau milyaran, nah itu, aku ndak punya Kang,’ jawab ku.

‘Bayar ke Gus Gus. Tadi belinya pake uangnya Mas Gus, kang!’

“Estt….estt…,’ jari telunjuk Gus Gus berada persis di depan bibirnya. Seakan memberi kode isyarat, tapi betul juga bahwa ia sedang mempersiapkan, banyolan khas komedi ludruknya. “Kayak sampean-sampean ini, bakat jadi orang konglomerat wae. Hayo…. ndang budal. Keburu adzan magrip, nanti malah kerepotann.’ Lalu ia memanggil namaku dengan mantap, “Syyu…., syyuu….” Aku pun menoleh kepadanya.

“Sampean yang di depan. Sampean kan yang tahu alamat rumahnya, Mas kunto!’

“Siapp.. bos thogut!’

Thoogut… gundolmu!’

‘Ya,.. alllah, mesra sekali mereka ini..’ saut kang Mulya.

Tiga orang dalam dua motor itu akhirnya meninggalkan gapura di jalan karang gayam komplek stadiun tambak sari. Tidak sampai waktu sepenanakan nasi, rombongan buwuhan tanpa amplop ini sudah sampai pada alamat yang di maksud. Mereka berhenti persis di depan gang 10, namun mereka tidak bisa langsung masuk begitu saja, karena gerbang tersebut dalam keadaan terkunci. Kepala kami mendongak-dongak di atas pagar seperti orang asing yang hendak merencakan sebuah aksi. Syukur… allhamdulilah… sebelum diteriaki maling oleh warga, kami justru mendapat teguran dari Mas Kunto via telfon.

“Aku sudah di depan gapura gang masuk rumahmu, kang. Kok sampean belum kelihatan, ya?” balasku, via telfon yang ku speaker.

‘Lho… sampean ini, dimana toh?’ jawab Mas Kunto.

Aku mulai protes, ‘Bagaimana bisa masuk gang, wong ini gerbangnya di kunci toh,’

Mas Kunto tertawa ngikik, “Waduh… sampean salah gang, kang.. ha-ha-ha..!’

Wajah Gus Gus mrengut, dan bilang, ‘Oh… dasar thogut.’

“Yang bener itu, gang sebelahnya lagi.’ Ceplos Mulya.

“Opo gang 11?’ tanyaku kembali.

‘Lha ini mas Kunto washaap aku. Dia bilang alamatnya di gang 11.’ Jawab kang Mulya sambil melihat kembali pesan wasap dari Mas Kunto. Lalu aku juga tak kalah ikutan, melihat pesan pendek darinya sejak sebelum berangkat tadi. Dan ternyata aku memang salah ingat. Dengan penuh tanggung jawab, ku putuskan segera untuk bersikap. Agar terhindar dari ‘suull’ adab dari kawan-kawan tercintaku. Aku pun segera melontarkan bunyi-bunyian maap, sehingga bibirku tidak jadi jontor. Asal tahu saja, mas Kunto itu bukan orang desa. Namun alangkah kagum aku dengannya. Cara ia menyambut tamu sungguh rupawan. Ia menyambut di depan gapura pintu rumahnya. Gejala-gejala seperti itu cara ia beromantisme pada desa.

Ia memang pernah bersentuhan dan bersinggungan dengan sebuah desa di Panggul. Orang-orang di desa masih mengajarkan kewajaran hidup. Dengan siapa saja sampean bertemu. Ada orang-orang tua. Ada para pemuda maupun anak kecil. Selalu menyapa kita dengan dakwah yang sungguh mulia. ‘Monggo pinarak! Monggo pinarak. Saestu pinarak, Mas.’ Dan begitu ayunan kaki sampean tiba memasuki rumah, apa pun saja yang mereka suguhkan, pasti mereka hidangkan. Di desa seperti itu, mana mungkin ada gelandangan. Kalau pun ada yang sedang mendapati kesulitan, semua orang yang mengetahui akan terlibat mengusahakan pertolongan. Dan letak posisiku, aku satu wilayah dengan budaya desa semacam itu.

Dalam agenda yang lain, seminggu sesudahnya, kami menyapa desa kembali. Kita semua kedatangan tamu istimewa dari luar daerah. Kawan kita itu, sama-sama merantau dengan kita di Ibu kota. Sebenarnya kami satu warna dalam baju identitas sebuah asal-usul, tapi berbeda tanah kelahiran. Ia punya gairah untuk mengenal desa kami lebih dalam. Dan layak kita sambut dengan acungan jempol. Nukilan-nukilan usahanya yang ia gelorakan, berujung pada pembuatan surat cuti yang ia sampaikan kepada manajemen di tempatnya bekerja. Kami pun menyambutnya untuk pulang dengan mengendarai sepedah motor.

Di tengah perjalanan kita pulang ke desa, entah di sengaja atau tidak. Putro adalah sesosok anak muda moderat yang penuh humoris. Guyonan-guyonan yang ia suguhkan kepada kami di perjalanan, penuh canda dan tawa. Kadang-kadang setelah aku telisik, muatan-muatannya bukan candaan remeh-temeh. Lagi pula, kadar bobotnya berguna untuk mengetahui peradaban desa kita pada abad modern. Guyonan itu, laksana muntahan abad modern yang menurut ‘baju-demokrasi’ adalah pencapaian besar kemegahan pembangunan sebuah tatanan dan impian.

“Oe… kang. Ini indomaret terakhir belum ya?’ katanya, cengengesan.

“Lha.. ini masih di Trenggalek kota, Tro.’ Aku membuka kaca helmku, dan menoleh ke belakang, ‘Sabar… Tro… sabar. Sebentar lagi sampai,’

‘Emangnya berapa jam lagi?” Putro mengejar.

“Paling sejam lagi tro….!”

Ia nyengir, lalu menajwab, “Ah.. kau ini. Lambemu surplus’.

“Sejamnya orang desa, dengan orang kota beda, coe. Pasti masih jauh kan?’

“Pokoknya nanti lihat aja sendiri… sampean ndak bakalan rugi.!’

Sudah garis takdirnya, desa kami punya posisi yang strategis dalam berhubungan dengan Tuhan. Untuk menuju ke sana, rumah kami berada dibalik bukit-bukit, dan lipatan gunung-gunung. Perjalanan dari pusat kota ke kecamatan kami di Panggul, adalah petualangan panjang menemukan simpanan kekayaan alam semesta. Dari berbagai segala penjuru, rumah-rumah kami di kelilingi oleh ‘pagar-rasa-kecintaan-kepada-pemberi-nikmat’. Dimana sejauh mata memandang, di situlah wajah tuhan berada. Ia bersemayam dibalik hutan, gunung, sawah, sungai dan lautan.

Sudah tidak terhitung lagi Purto menyebut nama sang pencipta ketika rentang waktu 60 menit, 60 Km. Puncaknya, ketika kami sudah sampai di depan rumah, ia tidak tergesa-gesa untuk masuk ke dalam rumah. Ia merubuhkan tubuhnya di atas lantai teras rumah ku. Hidungnya mengembang bebas penuh kemerdekaan. Matanya meredup sejenak. Ia hayut untuk menghirup udara dalam-dalam. Sapuan udara di desa, membuat wajahnya bercahaya, dan berkata, ‘Kang, di apartemen mewah Jakarta bagian mana yang jendela dan pintu rumahnya, setiap pagi dan sore, ada pemadangan mewah begini?. Kalau malam bisa main api-unggunan, sejuk tanpa AC?

“Baguslah… kalau begitu. Bagaimana desaku?’

“Cocok, kang. Cocok. Kalau liburan lagi, mbok ya… ajak-ajaklah aku ke sini lagi, kang!’ balasnya, dahsyat

 

Iklan

7 thoughts on “Berkawan Tanpa Kepentingan

Monggo pinarak?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s