Islamkah Aku?

#BloggerTanahJawa

notedcupu.com

Mereka itu mewakili siapa sebenarnya? Atau jangan-jangan ada doktrin lain. Dan berasal dari paham yang mana?. Aku juga belum tahu. Bagi umat islam, al-khairu kulluhu fittibaa”ir Rosul S.A.W, yang terbaik dan yang paling baik adalah mengikuti jejak dan perilaku panutan agung, Kanjeng Nabi Muhammad S.A.W. Dan itu merupakan perintah Allah.

Kegenitan para ‘ustadz-atau-ulama-dan-sepantarannya’ orang pintar baru yang umumnya dari perkotaan itu. Juga sering kali di sertai dengan munculnya banyak buku, majalah, brosur dan lainnya. “Mengajarkan” atas nama amar makruf nahi munkar, atau lebih populernya atas nama pemurnian syariat islam di rumah besar Indonesia. Ku dengar, ini gaya baru dari ciri khas orang pintar yang naik daun.

Orang pintar baru, atau kalau aku singkat berbunyi OKB, di samping silau dengan paham-paham dari luar, boleh jadi juga akibat terlalu tinggi menghargai diri sendiri dan terlalu kagum dengan pengetahuan barunya. Lalu menganggap pendapatnya yang paling benar. Pendapat yang berbeda di pasti salah, dan yang salah pasti di anggap jahanam. Dan harus di musnahkan.

Apakah mereka tidak mengenal lebih dalam? Bahwa, islam datang begitu sunyi, di mulai dari Kanjeng Nabi Muhammad SAW, lalu menyebar ke keluarga terdekat-Nya. Aku tidak bisa habis pikir dan mengerti, jika ada yang mendaku paling islam sendiri. Memakai simbol-simbol agama islam, mengkafir-kafirkan sesama saudaranya. Bahkan ada yang berlaku tidak toleransi kepada kepercayaan yang lain.

Apakah mereka tidak tahu?. Tindakan tidak intoleran, dan kasar, yang rame belakangan ini, sangat berlawanan dengan strategi dakwah kanjeng Nabi Muhammad S.A.W, Fabima rahmatin minallahi linta lahum walau kunta fazhzhan ghaliizhalqalbi lanfadhdhuu min haulika… maka di sebabkan rahmat dari Allah, engkau lemah lembut kepada mereka. Seandainya engkau berwatak sangar dan berhati kasar, niscaya mereka menjauhkan diri dari sekelinglingku…

Maka aku tidak bisa mengerti bilamana ada kelompok-kelompok, yang mengatasnamakan islam, dan mengaku umat Nabi Muhammad S.A.W tapi berlaku kasar, bertutur keras, dan kejam. Dan mengkafir-kafirkan sesama. Mengadili iman seseorang secara terang benderang dimana-mana dan menyebarkannya di media sosial. Seperti sudah besanan saja dengan gusti allah. Jangan-jangan orang-orang semacam ini memang belum tahu, atau memang betul-betul bodoh, media sosial bukan dunia maya. Pemiliknya adalah manusia yang digerakan oleh alam pikirannya masing-masing. Dan itu bukan robot.

Mau sampai kapan kemungkaran di perangi dengan kemungkaran yang baru, yang justru menimbulkan masalah yang baru?. Ku kira jika mereka tetap saja berlaku seperti itu. Sampai menjelang kiamat kurang dua hari pun, mereka akan tetap tidak mau intropeksi diri dan jauh dari sikap mengasihi. Aku tidak perlu sebut, siapa-siapa saja mereka, sampean-sampean yang mendengar kabar dari berandamu masing-masing dan mengunakan pendengaran batin, pasti sudah paham.

Di zaman seperti sekarang ini, mungkinkan saja kita akan rindu dengan kiai-kiai kita di desa-desa, yang mendarma baktikan seluruh hidupnya untuk kepentingan masyarakat. Di tempat asal muasal kita di sana, di desa-desa, kiai di tunjuk oleh makmum atau masyarakat yang telah percaya kepadanya. Tapi di teve-teve, di pusat kota metropolitan, gelar agung dan suci semacam itu di tunjuk oleh kepentingan.

Kapitalis sekali ketika kita mendekat kepada-Nya justru karena ada kepentingan duniawi. Ataukah mereka tidak mengenal pimpinan agung kita yang berbudi luhur itu? Ya Allah, aku menyebut diriku muslim saja, sungguh aku tidak berani. Apa yang kau cari dari hidup dalam masa konrak. Pujiankah? Kemuliaankah? Keluhurankah?. Atau sebutan lain yang dalam bahasa indonesia tidak mampu untuk menjangkaunya. Hidupku yang oleh-Nya terbatas waktu ‘kontrak’ di dunia ini masih dalam perjalanan ‘tunjukan aku ke jalan yang lurus,’ ihdinas sirotol mustaqim..

Ya allah, musliminkah, atau mukmininkah aku?.

Iklan

23 thoughts on “Islamkah Aku?

  1. Yaso berkata:

    Connected sekali dgn ini. Jujur spiritualitas saya yg masih sangat pandir bikin saya sedikit banyak kebingungan liat hal begitu. Salah atau gak pemahaman saya. Sedih dan gak terima kalo agama yg bikin saya jatuh cinta dikesankan keji begitu.

  2. kicaucamar berkata:

    Ya Allah, aku menyebut diriku muslim saja, sungguh aku tidak berani.
    sungguh kalimat yang sangat mengganggu, bagaimana mungkin orang yang sudah bersyahadat menyebut dirinya muslim tidak berani.

    Setiap orang yang lahir di muka bumi ini pada dasarnya adalah muslim, sehingga tidak perlu melakukan syahadat ulang. Dalam aqidah Islam, tidak ada orang yang lahir dalam keadaan kafir. Sebab jauh sebelum bayi itu lahir, Allah SWT telah meminta mereka untuk berikrar tentang masalah tauhid, yaitu mengakui bahwa Allah SWT adalah tuhannya.

    Di dalam Al-Quran Al-Kariem, hal ini ditegaskan sehingga tidak ada alasan untuk mengatakan bahwa bayi lahir itu dalam keadaan kafir.

    Dan, ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka, “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab, “Betul, kami menjadi saksi.” agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan, “Sesungguhnya kami adalah orang-orang yang lengah terhadap ini. ” (QS Al-A’raf: 172 )

    Selain itu, Rasulullah SAW juga telah bersabda bahwa setiap manusia itu lahir dalam keadaan fitrah. Dan makna fitrah itu adalah suci, lawan dari kufur dan ingkar kepada Allah SWT. Barulah nanti kedua orang tuanya yang akan mewarnai anak itu dan menjadikannya beragama selain Islam. Misalnya menjadi Nasrani, Yahudi atau Majusi.

    Dari Abi Hurairah ra. bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah, kecuali orang tuanya yang menjadikannya Yahudi, Nasrani atau Majusi.” (HR Bukhari 1296)

    isyhad bi anna muslimin

  3. muhiba89 berkata:

    Islamkah aku? Karena itu, umat Islam dituntut untuk terus belajar dan mendekatkan diri dengan Tuhannya. Bukankah wahyu pertama yang diturunkan kepada Rasul adalah perintah ‘membaca’? Itu bisa jadi simbol bagi umat agar senantiasa belajar.

    Maju terus mas blognya! Bagus banget, saya harus banyak belajar nih dari blognya… hehehe

    * oia ini saya ada masukan meski ga esensial sih tapi biarin hehehe :

    pada kalimat : “Apakah mereka tidak tahu?. Tindakan tidak intoleran, dan kasar, yang rame belakangan ini, sangat berlawanan dengan strategi dakwah kanjeng Nabi Muhammad S.A.W, Fabima rahmatin minallahi linta lahum walau kunta fazhzhan ghaliizhalqalbi lanfadhdhuu min haulika…”

    tertulis “Tindakan tidak intoleran” mungkin seharusnya “Tindakan intoleran” atau “Tindakan tidak toleran” karena bila ditulis “tindakan tidak intoleran” itu maknanya jadi “toleransi”

    begitu kali ya kira2.. hehe

    salam ukhuwah dari bloger newbie di bandung.. maju terus

Monggo pinarak?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s