Penjara Hidup Dan Kekerdilan Manusia

kiiai-kenduriTamu yang datang ke ndalem-nya bapak pagi itu dari dusun sebelah. Dusun desaku bernama Pinggir. Sedangkan dusun sebelah namanya Sorondolo. Belum siang, waktu masih jam sembilan pagi. Bapak, simbok, dan aku, masih duduk lesehan di atas kursi sofa ruang tamu. Bapak merokok klepas-klepus lalu di susul ngunjuk wedang kopi hitamnya, dan berkata, “Kalau di rumah cuma dua hari… mbok ya ora usah pulang toh, nang. Opo gak, kesel di jalan?”

Sambil makan pisang byar kukus (orang luar daerah menyebut pisang tanduk), aku jawab. “lha iki balunge wong enom, Pak-pak. Ojo di padake balunge wong tuwek,’ balasku, agak membangkang tapi dengan tutur kata yang lembut. Moment asyik dan santai di pagi hari itu,  mendadak sirna, setelah seorang tetangga sebelah, datang memikul suket lalu meletak kan di gang rumah. Bapak pun keluar rumah, berdiri di teras depan, dan menawari untuk ikut lesehan. “Monggo pinarak… monggo pinarak, Kang. Mlebuoo,’ ucapnya, kepada Lek Ponijan.

“Aku bikinkan kopi, yow lek?’ saut simbok menawari.

‘Lha bar ngopi to yu, esuk mau wisan. Teh aeh lek ngono,’ lalu simbok berjalan ke dapur menyiapkan unjukkan.

Aku ndak tau dalam rangka apa Lek Ponijam datang ke ndalem bapak dengan membawa sak pikul suket. Karena aku juga kangen dan lama ndak saling bercakap-cakap setelah lebaran kemarin. Lek Ponijam pun, menanyakan seputar pekerjaanku yang sekarang, sebelum berkata, matanya memandang foto-foto wisuda di dinding rumah, lalu beliau berkomentar, ‘Anakmu kok podo wes manggon kabeh yo, kang. Pancen sregep-sregep. Gek kabeh podo sekolah duwur-duwur. Krungu-krungu sampean kerja di bank, nang?’

Aku pun segera menangkis pertanyaan yang kurang pas itu, “Mboten Lek, mboten.’ Kataku, agak lembut dan kalem, ‘Kerjoku buruh toh… lek..he-he-he,” dalam hati sebetulnya aku ingin mengatakan, ‘buruh korporat’ tapi sungguh, aku tidak mau memakai bahasa-bahasa yang susah di pahami.  Dengan segenap kelapangan cinta, ku jawab dengan apa adanya, ‘Seng penteng kerjo… ngono wae lek wes penak too lek.’

‘Enak sampean, nang. Kerjaan di carikan, masmu. Sampean masuk bank ada yang bawa. Ngono kuwi to lek duwe dulur okeh kek,’ katanya lagi, entah kepolosan yang mana lagi yang akan Lek Ponijan tunjuk kan. Aku makin takjub saja dengan keterus-terangan orang-orang desa semacam ini. Ajang yang menantang bersilaturahmi dengan membawa apa yang dia punyai. Artinya, dia tidak mau datang ke ndalem tanpa tangan kosong.

Aku pun bercerita dengan sesuai apa yang aku alami. ‘Sak-estu Lek. Tenan, aku kalau soal pekerjaan. Yooww… cari-cari sendiri. Tanpa bantuan sopo-sopo kecuali, yoww yang mbantu yo Gusti Allah.’ Berbeda dengan bapak yang anaknya tujuh, Lek Ponijan dikarunia dua orang anak. Anak pertamaanya perempuan, dan sepantaran dengan adik wedok ku yang kini sedang makan bangku kuliah. Bapak dan Lek Ponijan sama-sama pedagang dalam wilayah yang tidak sama satu sama lain. Simbok datang dengan membawa nampan dan unjukan teh panas. Meletakkan di atas meja, dan berkata,

            “Opo raa tau nang malang. Lek?”

            “Yow arang-arang, yu. Lek wes telung sasi kadang tak endangi,’

            ‘Hee..  syukur gek krasan yow nek Malang,’

Sesudah meladeni percakapannya dengan simbok, aku baru tau, kalau putrinya Lek Ponijan ini sedang kuliah di Univeristas Brawijaya dengan jurusan fisika. Aku pun berandai-berandai jika di hari depan nanti, anak wedoknya itu akan menjadi ilmuwan.  Barang kali ini sejarah, berpuluh tahun lamanya, baru kali ini ada seorang anak se-desaku yang kuliah di jalur penelitian. Setidaknya ia berangkat dari desa, perlambangan tempat tinggal sejuk damainya kehidupan. Dan kota, adalah ekpresi dari kekerasan, kekejaman dan kekeringan budaya?. Perpindahnya dari desa menuju kota, ia sudah menjadi ilmuan sosial untuk dirinya sendiri.

‘Satu bulan yang lalu, dia minta di belikan leptop?’ kata Lek Ponijan.

Aku malah balik bertanya, ‘Terus wes sampean belikan Lek?”

“Uwesss nang. Uwes.’

‘Pas leptopnya aku anterin ke sana. Dia lunjak-lunjak seneng banget… terus nangis. Yow jenenge aeh cah wedok toh nang-nang,’ Matanya Lek Ponijan memandang langit-langit, ‘Sakdurunge kuwi nang. Sewulan aku kerja di Surabaya, nang. Yow hasile gaji sebulan kuwi mau, aku belikan leptop. Wong aku di Surabaya jadi tukang kok, nang. Pas kerjaan beres, nerima gaji, aku langsung budal ke Malang. Leptopnya aku beli di Surabaya. Ternyata, letop iki regane larang yow, nang. Sampean lak tau sendiri, bapake ki nyekolahne anak kor bondo nekat. Penggawean opo wae tak kerjakne.” Tutup cerita Lek Ponijan dengan santai.

Ujuk-ujuk simbok menimpali, ‘Lha umbah-umbah mobil lak yo isek rame ae to lek?’

‘Yoww sabendinone enek ae, jane yuuu,’ neng kudu golek sampingan liyane.’ Contone yow ngaret iki mau. terus tak terke nang sampean… kang, hehehe… ‘ Lek Ponijan lalu tertawa polos seraya merayakan kehidupannya yang sewajarnya. Dalam konsep hidupnya beliau punya prinsip besar: rezeki Allah yang ngatur, tapi seberapa siapkan manusia menyiapkan karungnya untuk menyambut dan menampung rezeki tersebut. Ah, luhur sekali gaya hidupnya.

Bahu bapak agak miring sebentar, tangannya merogoh dompet dibagian kantong belakang. Jari-jemari tangannya lalu mengampit uang kertas beberapa lembar, lalu menyodorkan kepada Lek Ponijan, “Iki kang, opae gawe ngaret mau. Gawe tuku rokok… opo-opo kono, towo gawe sangune anakmu yow kenek. Besok-besok kesini lagi, jangan kapok lo, kang.’

Atas kejadadian tadi pagi, pikiranku terus mencari-cari tahu. Betapa ketidak-tahuan itu dekat dengan kita setiap hari, bahwa diri kita tidak tahu, hidup kita masih di dalam penjara. Terjebak kepada hal-hal baku, bahwa rezeki akan lebih dekat kepada seseorang yang menciptakan kesempatan, dan rezeki akan lebih dekat lagi kepada peluang yang kita buat dan jemput sendiri. Sebagaimana, kita terjebak ukuran cantik dan rupawan berdasarkan ukuran-ukuran dari luar. Bukan berdasarkan ukuran kita sendiri dan kemudian menyadarinya.

Bahwa: kaya, miskin, hitam, putih, mrongos, dan pesek, tetep sama-sama bagusnya karena semua ciptaan gusti Allah. Saat sudah paham mengenai konsep penjara itu tadi, lalu ada hinaan yang datang, dengan ucapan, ‘miskin atau mrongos’ kau tidak akan marah, sebab itu sudah konsep gagasannya gusti Allah. Menghina hama-hambanya, sama dengan menghina tuhan. Karena islam adalah agama anugrah cinta kasih. 

Iklan

4 thoughts on “Penjara Hidup Dan Kekerdilan Manusia

Ngecuprus?. Boleh. Untuk pempermudah kolom komentar, langsung aja klik logo akun media sosial di pojok kanan bawah, biar gue bisa ngelihat siapa aja yang nyimak notedcupu gue. Semuanya akan gue baca kok, terserah mau komen apa, gak tatakrama bakal gue hapus. Matur Nuhun.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s