Kepolosan Gogor Menjaga Kebudayaan dan Menitipkan Kemanusian dalam Pilkada

#KiaiKenduri

#KiaiKenduri

Saat bingung menentukan sarapan pagi dengan menu apa, soto menjadi makanan yang paling enak untuk santap. Itu yang aku rasakan setelah selesai dengan sendokan terakhir. Di atas meja makan, jika kudapan semakin cepat menyisakan mangkuk-mangkuk kosong, itu artinya, rekomendasi warung makan oleh seseorang di anggap mak-nyus. Gogorlah orang yang paling berjasa, menggiring kami ke warung legendaris soto Lamongan di depan kantor kecamatan pacet.

Agenda nguntal bersama pagi itu, dalam rangka menengok saudara sedesa kami yang sedang bekerja sebagai ‘kepala’ perkebunan di sebuah perusahaan peternakan. Gogor yang terlihat badannya begitu perkasa, ternyata masih lenger-lenger di atas kursi pelastik. Sambil menampak kan wajah penuh tanya, ‘Gagi sopo seng imboh, cah?’ pandangan Gogor berpindah menatap wajah Mulya, Gus gus, kemudian saya. Seperti  perut kekenyangan, kami pun sudah nyerah, diam.

Lalu Mulya menganggkat tubuhnya, mendekat ke mbok-mbok kasir. Di susul Gus Gus ikut berdiri, sambil mengeluarkan dompet dari saku belakang, kemudian meng-genggam-nya. Beberapa lembar uang sudah dia pegang. Aku pun berdiri persis di samping Gus Gus, lalu Gogor datang mendekat. Tak mau kalah juga, gogor ikut mengeluaran dompet dan memegang uang kertas. Di kasir itulah semu sejarah di mulai.  

‘Semuanya berapa, ya bu?’ tanya Mulya, kalem.

Jika kita akrab dengan meja kasir, terdengar bunyi-bunyian ganjil, ‘Klak-klik-klak-klik’ suara merdu kalkulator. Mbok-mbok kasir berbau wangi minyak fanbo ini, menyampaikan total tagihan yang harus kami bayar. Lalu sedetik kemudian, wajahnya menengok ke arah kami, dan menjawab ’Semuanya jadi satu ya mas?’ katanya.

“Iya, bu. Iya,’ saut Kang Mulya.  

‘Totalnya, cukup tujuh puluh ribu aja, mas. Pakai uang pas aja kalau ada, masih pagi belum ada kembaliannya, Mas,”

Mereka berebut membayar seperti berbakat menjadi konglomerat habis menang di atas meja judi, ‘Wes to iki aeh, pakai uangku wae cah,’ kata Gus Gus memberi uang kepada mbok-mbok kasir, lalu dengan cepat di tampik oleh Mulya. ‘Wesssto aku aeh seng bayar, Mas, duweetmu oraaa payuu nek kene.’

‘Iyoo, simpenen meneh,’ aku ikut bersauara.

Ingatanku sudah mulai samar-samar. Atau karena saya memasuki usia senja. Jika aku tidak salah ingat, Mulya memberikan uang kertas warna merah bergambar allmarhum Pahlawan Soekarno. Lalu mbok-mbok kasir itu justru menjawab, ‘Aduh… mas-mas, ‘ dia menepuk pinggulnya, dan berkata kembali dengan wajah tegang,  ‘Serius, Mas. Gak ada uang kembaliannya mas. Uang kecil aja, toh. Ada, Mas?’ lalu di ambilah selembar pecahan uang pas lima puluh ribuan dari dalam dompet.

Gogor masih memegang uangnya dan ikut bercuap-cuap gedabrus, ‘Duwetku ora di katotne, cah?’

Suasana semakin mendekati adegan ludruk.

‘Ora usah, Gor. Ora usah. Kene iki duwet ‘mbal-balan’. Duwet ki turah-turah. Ngene iki mau yo bingung, piye carane ale ngentekne. Gek  wes tanggal tuwek, duwet kok ra entek-entek, Gor,’ jawabku, yang mulai kumat clintisan.

Dengan santai, Gogor menanggapi dan membuka lebar-lebar dompetnya, ‘Kene cah, kene, lek nyatu duwetmu podo turah-turah, lebokno dompet ku,’ jawabnya dengan penampakan wajah polos. Sungguh, jawaban tak terduga dari mulut Gogor membuat pecah suasana. Kebudayaan jawa timur kami, ‘hahahasyu dan jancuk,’ tumpah juga memberi penyedap rasa bahagia.  Gelak tawa, geli, dan rasa gemes, di antara kami adalah ekpresi yang sungguh romantis.  Keganyengan di soto lamongan itu, kenangannya membekas hingga detik ini.  

Jika mereka turun gunung, dan masuk kembali ke kota, mereka sedang menempuh jalan sunyinya masing-masing.

Di tengah-tengah situasi mereka berada di kota, yang di kepung oleh denyut perputaran waktu dari pagi berpindah ke malam. Dari tempat kerja, ke rumah, membuat gerak mereka seperti robot. Yang hidup pada abad modern. Para penghuni bumi, yang super sibuk, memburu kehidupan duniawi. Membangun megah pengakuan yang indah dan gemerlap oleh lumuran materi dan gelamorisme.  Memberi cap kepada diri sendiri, sebagai manusia yang paling mapan dari petani di sawah yang paling subur sekali pun yang ada di desa.

Negeri di bangun dari jantung para penyair, lalu hancur di tangan pejabat yang berwajah politisi. Kehidupan manusia semakin hancur karena terlalu sibuk mengejar dan memperebutkan, segala hal yang mereka inginkan. Bukan yang mereka perlukan, apalagi yang sejatinya mereka butuhkan. Kehancuran ekskalasi manusia, hampir setiap hari kita temukan. Di teve-teve para selebriti dan pejabat-pejabat negara, tak henti-hentinya mencotoh kan, menampakan gairah ekrpresinya gaya hidupnya yang bar-bar nan glamor. Kemeweahan dunia sepertinya ambisi besar yang harus di tempuh dengan berbagai cara.

Tidak hanya di situ saja. Kita menyaksikan dengan mata telanjang, di kantor-kantor, orang sibuk mengejar ambisi demi sebuah pangkat, kedudukan, jabatan hanya demi kepentingan eksistensi diri di masyarakat. Bahkan, dalam ormas-ormas ke’agaaman, lebih penting mencari pengakuan diri dari pada sibuk mencari dan berbuat untuk ‘benarnya bagaimana?’. Aku tidak habis pikir, kubu-kubu semacam ini sadar orientasi apa tidak.  Hingga yang paling dekat dengan kita: gara-gara sibuk mengejar syahwat kekuasaan, sampai tega hati mengorbankan kerukunan dan keadilan, hingga timbul retak sosial yang begitu memilukan.

Dalam rak-rak perpustakaan yang saya rintis dari nol, saya teringat pernah membaca pada suatu buku klasik. Saya berani menyebut, penulisnya kemungkinan besar adalah kekasih Allah. Betapa Sayyidina Ummar Bin Khattab yang begitu perkasa dan tangguh, ternyata mampu menangis tersendu-sendu dan hatinya nelangsa, ketika sahabat karibnya sendiri, Khalifah Abu Bakar Shidiq, menunjuk dirinya sebagai calon pengganti khalifaah.

Lantas, Syaidina Ummar Bin Khatab langsung bertanya, dengan suara yang lirih penuh adab tata-krama, ‘Jika anda benar mencintai ku, wahai khalifah, janganlah kau bebankan amanat yang luar biasa besar itu ke pundakku,’ begitu kira-kira permintaan sahabat Ummar kepada seniornya itu. ‘Masih banyak orang yang mampu dari padaku di luar sana. Umar menangis hebat. Karena di samping tanggung jawab besar, beliau kemungkinan besar, sungguh, juga membayangkan betapa kerasnya di hari penghisapan nanti.

Dengan tutur kata lemah lembut, Abu bakar mengutarakan alasan-alasannya, mengapa memilih Ummar. Antaraa lain untuk menggiring Ummar, dan untuk mengakui, bahwa saat itu, negara dan masyarakat sangat sungguh membutuhkan pemimpin Al – Qawiyyul Amien, yang kuat jasmani dan rohaninya. Sehingga dapat di percaya. Dari Al-Qawiyuul Amien inilah lahir sejarah besar memimpin yang mempresentasikan kepentingan masyarakat.

Pada pundak-pundak jabatan yang di emban ini, sangat jelas dan gamblang, jelas khalifaah, ada dua orang yang terjerumus ke dalam kubangan api neraka. Pertama, adalah orang yang nekat maju mengambilnya. Padahal dia tahu persis, ada orang di luar sana yang jauh lebih mampu dari pada dirinya. Kedua, orang yang mampu dan di minta memegangnya, namun, menolak dengan terang benderang sehingga lari dari tanggung jawab.

Di Indonesia, hampir setiap hari kita melihat bagaimana orang-orang menipu dirinya sendiri. Banyak orang pintar hidup padahal tidak pintar sekolahnya. Banyak orang sekolahan tapi tidak pintar hidup. Ujung-ujungnya, bekerja tidak bisa, di suruh dagang di pasar juga tidak bisa, jadi orang yang di percaya orang lain pun juga tidak bisa. Akhirnya, nyaleg. Menaburi seluh tubuhnya dengan gincu, bedak, dan baju-baju kepalsuan.

Pencitraan adalah manipulasi. Manipulasi adalah kepalsuan. Kepalsuan adalah kriminaltas. Dan seluruh yang terjadi di dalam kebudayaan Indonesia aslinya adalah kriminalitas. Kecuali peristiwa kebudayaan yang terjadi di wilayah desanya. Karena pusat peradaban kemajuan manusia sesungguhnya berpusat di desa. Jadi, orang abad modern, dan yang hidup dalam tatanan per-kotaan-lah, yang harusnya belajar sungguh-sungguh kepada masyarakat desa.

Masyarakat Indonesia sungguh sangat sabar dan ikhlas menghadapi apa saja di depan hidupnya. Namun, saya was-was kepada mahkluk Allah dalam dimensi lain yang tidak terima dan kemudian marah besar. Dan sudah sangat mendesak. Saya harus sowan, bersilaturahmi kepada Gogor di perkebunannya di bawah gunung, lalu membasuh jiwa dan rohani saya kepada-Nya. Juga kepada alam disekitar tempat tinggal-Nya. Sekaligus ikut mengawasi gunung-gunung bebatuan besar yang ada di sekitarnya, lalu berwirid , ‘’Al-Uhudu, jabalun yuhibubuna wa.. nuhibbuhu.’ La ilaha .. illallah.. semoga ini bukan nama lain perang Uhud pada zaman modern.

Iklan

8 thoughts on “Kepolosan Gogor Menjaga Kebudayaan dan Menitipkan Kemanusian dalam Pilkada

Monggo pinarak?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s