Penjara Syurga Dan Kembalinya Orang Bertato

#BloggerTanahJawa

notedcupu.com

Senja yang baru saja turun ke bumi sore itu menuntun saya menuju lembah petualangan. Orang-orang kota sudah mulai kembali pulang ke peraduanya masing-masing. Jalan-jalan disesaki oleh beruk-beruk tunggangan abad modern. Siapa saja yang pernah hidup di dusun, akan merasakan keringnya kebudayaan jalan kaki memakai sendal jepit. Saya memilih menepi, bersandar pada denyut warung-warung kaki lima.

Dia datang memikul beban pada pundaknya. Apa yang terjadi padanya, sudah bukan wilayah saya memberi petuah. Saya tidak berani menuturi apa yang kadung terjadi pada hidupnya. Yang bisa saya kerjakan membuat dia merasa aman dan senang, karena saya mendengar keluh kesahnya. Baru saja dia duduk, pandangan matanya runtuh total. Aku membalas mengusap-ngusap bahunya. Tidak mungkin dia datang tanpa tiupan ‘getaran cahaya’ atas suatu kehendak dari langit.

Seteguk kopi sudah membasahi kerongkongan jiwanya. Kepalanya miring ke belakang, lalu mulutnya meludah. Rokok keretek yang baru saja tiga kali hisapan sudah di cecek ke dalam asbak. Asapnya mulai lenyap.

‘Aku menanggung lima orang anak, cak!’ katanya, “Anak ku yang dua lagi ada di Blitar.”

‘Jadi apa yang sempat aku dengar, bahwa istrimu dua itu benar, kang?’

“Bener, cak, bener. Tapi yang tahu secara resmi cuma sampean.’ Dia meludah lagi, dan melanjutkan, “Cak… nitip pesan. Tolong jangan kasih tahu ke yang lain.’

Saya membayangkan cara kerja konsep menghormati perempuan dari Kiai Kenduri: ‘Wanita itu di bentak saja menderita, apa lagi di cerai, di poligami.’ Pikiran saya terbang ke segala penjuru mata angin. Mozaik wajah-wajah adik kandung dan mbak yu perempuanku duduk di ubun-ubun kepalaku. Dada saya bergetar, mulut saya memuntahkan kritik keras, ‘Wah.. sampean bangsat tenan, kang. Tampangmu ramah. Shalatmu tertip. Dagumu berjengkot.. ternyata bangsat juga sampean, kang!”

“Ndak… cak, ndak. Sepurane cak. Sepurane,’  katanya, di susul bahunya merunduk ke depan. “Aku tobaat cak.”

Saya takjub dengan bahasa tubuhnya. Dada saya mulai longgar. Tapi ku lihat, dahinya agak berkerut, kemudian bahunya lebih sedikit agak mendekat kepadaku.

‘Cak, sampean kan tahu sendiri, seminggu sekali aku harus ke Blitar. Jenguk anak-anak ku, cak. Di sana yang ngemong, ya istri pertama ku itu, sama mbahnya. Kakeknya sudah lama meninggal. Dulu bapak mertuaku itu lurah cak.  Terus, mertuaku hidup dari dana pensiunan, Cak,”

Saya bertumpang dagu.

‘Lha sampean kesana itu, sama istrimu sampean di ajak ngomong gak?”

Dia mulai terbuka. “Ngomong kok cak. Dia sudah memaaf kan. Tapi ya itu cak, kalau aku ke sana, dia masih sering nangis cak. Aku sudah tidak tahu lagi cak, harus dengan cara bagaimana lagi aku menebus dosa-dosaku.’ Matanya  mulai berkaca-kaca. Pandangan matanya lurus dan kosong. Saya tidak ingin larut oleh duka yang bisa menyeret wibawa seorang laki-laki.

‘Syukurllah… kang, kalau sudah sama-sama akur dan rukun.’ Lalu saya kuliti seberapa jauh rasa tanggung jawabnya dalam memberi nafkah, ’Sampean kirimi berapa saben wulan?’

“Empat juta Cak. Ini barusan aku transfer ke rekening ibunya. Itu buat biaya keperluan sekolahnya. Sama jajannya anak-anak.’

Saya tidak ngomong apa-apa. Kepala saya cukup manthuk-manthuk saja. Di luar bentuk baku bahasa, gerak indah bahasa tubuh punya sejarah panjang mengenai memeluk manusia dalam keterasingan. Sebab orang-orang yang tidak pernah merasa susah hidupnya, karena telah meng-aktifkan radar ke ihklasan pada telinganya untuk mendengar keluhan apa saja. Dan itu salah satu ajaran dari Kiai Kenduri.

‘Butuh waktu satu tahun cak, aku bisa berdamai dengan istri pertamaku. Oh…, iya cak, sampean mau pesan makan apa?”

Saya memegang perut.

‘Wes… ndak usah kang, aku belum lapar. Kopi ini saja sudah cukup. Kalau sudah sama-sama saling maaf dan memaafkan, ya sudah selesai toh, wong sudah ada titik temunya. Coba sampean pikir-pikir, memaaf-kan mau di salurkan ke mana, kalau tidak ada yang minta maaf?. Kiro-kiro ngonoo kang!’

Sepasang telinganya berkedut-kedut, seolah mencerna pesan apa yang baru saja dia dengarkan.

‘Ngene ki enaknya kalau ngobrol sama sampean cak.’ Kepalanya menggangguk sebentar, dan bertanya kembali, ‘Cak, aku harus bagaimana yo cak. Aku gak pernah tenang kalau malam.’

Rahang saya mengeras. Satu kali saya menarik nafas, kemudian menatap wajahnya dalam-dalam, “Kang, dengerin omonganku iki.  Bukane setiap manusia punya jatah hitam dan putihnya masing-masing. Kita juga sudah punya jatah takdir atas kehendak-Nya. Hidup di tengah zaman seperti ini kang, lebih baik mantan orang bangsat lalu jadi orang shaleh, terus belajar agama, dari pada mantan uztad, mantan kyai, lalu jadi berandalan. Itu lebih bajingan.’

Dia memegang lengan saya dengan cengkraman yang dahsyat, ‘Terus aku kudu piye cak?’ Tolong cak. Tolong cak,’

“Cari Guru Mursyid.’ Jawabku, berlalu sambil menuju sumber suara komad waktu magrip.

Dia berjejer di samping saya, ‘Cak, saya transfer ya. Nomer rekening sampean berapa?’

“Pun mboten usah kang. Uangnya isikan ke kotak amal saja, nanti di masjid!’ jawabku resmi.

Begitulah seharusnya perjalinan persahabatan antar manusia di kerjakan. Bersandar pada ‘bilhikmah wal mau’idhatil hasanah’ saling mengantar dan menuntun pada jalur tauhid. Menuju cahaya islam, sebab jika manusia sudah menemukan kesejatian hidup dalam belajar agama, tidak ada kecenderungan lain, selain masuk ke dalam penjara syurga.

 

Iklan

5 thoughts on “Penjara Syurga Dan Kembalinya Orang Bertato

Monggo pinarak?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s