Novel Baswedan dan Kisah Wali Subuh

 

#BloggerTanahJawa

notedcupu.com

Harjo tidak bisa bersenda gurau. Sebagian tenaganya, ia sisisih kan kepada masing-masing ekpresi kegeraman. Sepanjang jalan menuju ke surau bersama Kiai kenduri, mulutnya diam seribu bahasa. Tidak ada keceriaan di waktu menjelang tergelincirnya matahari. Wajahnya sungguh tidak sedap di pandang. Jika wajah Rosuluwllah terkenal dengan wajahnya yang bassam. Tersenyum ramah. Wajah sebal itu, berada jauh ribuan kilo mater dari wajah ramah, Kanjeng Nabi Muhamad S.A.W

Harjo berjarak lima langkah dari Kiai kenduri. Beliau di depan dan Harjo di belakang. Mereka berdua mengalungkan sarung di lehernya dengan memakai kopyah khas merah putih. Untuk menuju surau yang berada di pinggir hutan itu, mereka harus melewati hamparan sawah milik petani desa setempat. Melewati padatnya rimbunan ilalang, hutan bambu,  dan yang terakhir menyebrangi sungai sedalam lutut orang dewasa.

Di antara jalan pematang sawah yang penuh lumpur itu, sendal jepit milik Harjo tergelincir di tengah lumpur. Ia tidak jadi terpleset setelah mengeluarkan adegan salto, yang kemudian memaksanya kedua sendalnya terlempar di sisi Kiai harjo. Ia bangkit lagi dengan kedua tangannya yang kotor. Kiai Kenduri memungut sepasang sandalnya lalu membawanya pergi. Harjo dan Kiai Kenduri tidak mengucap apa-apa.  

Langkah kaki kiai kenduri bagai di kejar pasukan thoguts.

Harjo berusaha mengejar dengan tambahan beberapa knot tenaganya. Namun dibalik jalan setapak yang membelah padang ilalang itu. Sarung hitam yang biasanya mobat-mabit dibawa oleh angin pun tidak terlihat ujung benangnya. Hanya ada dua jejak kaki yang masih basah. Dan bau wangi yang bertebaran di udara. Itu adalah pertanda. Dalam pergaulan hidup sehari-hari, pernahkah sampean mempelajari bagaimana mengenali seseorang lewat bau parfum yang di kenakan?.

Bau-bau khusus semacam itu mendukung makhluk Allah untuk sukses dalam bebrayan sosial. Bau wangi semacam itu merangsang pergaulan antar sesama untuk mudah mengetahui eksistensi gerak-gerik manusia selain, nama itu sendiri. Setibanya harjo memasuki semak belukar hutan bambu, antara santri dan kiainya itu, tak kunjung saling jumpa.

Di ujung jalan kakinya semakin sering bersalaman dengan kerikil. Bunyi-bunyian gemercik air sudah mulai dekat. Sesudah melewati kumpulan pohon bambu yang ringsek mengikuti arus air, harjo tiba… dan meilihat Kiai kenduri berdiri tegak. Ia terguncaang melihat kaki kiai mengapung di atas alilaran air sungai. Persis di samping kirinya, ia melihat batu besar warna putih, dimana di atasnya tergeletak sepasang sendal jepit putih bersih yang menyala seoalah-olah memancarkan cahaya.  

Sebelum mulut Harjo mengucap apa-apa. Kiai Kenduri lebih dulu menyerbu.

‘Sandalmu sudah bersih, Nak. Ayo jalan lagi keburu ketinggalan sholat subuh berjamaah,’ katanya, kemudian Kiai Kenduri jalan menyebrangi sungai. Warga dusun setempat paham, di musim penghujan volume air lebih deras dan dalam dari biasanya.

Harjo mengambil alas kakinya, dan menjawab, ‘Enggeh kiai, pelan-pelan kiai batunya licin-licin.’

Dengan tenangnya kiai kenduri itu berjalan. Badannya tetap tegak. Wajahnya sama sekali tidak menengok ke belakang, namun pertanyannya penuh selidik, khas bukan kiai sembaragan.

‘Wajahmu kok kelihatan mrengut begitu. Apa Apa?’

‘Gara-gara habis baca koran pagi kemarin, kiai,’ jawab Harjo sambil mencincing celana pendeknya.

‘Oh… yang di kepala berita koran pagi itu?’ katanya, memastikan. Kiai kenduri yang tinggal di pelosok dusun ini, sepertinya tahu beban ‘dosa nasional’ yang baru saja menimpa bangsanya.

‘Iyaa Kiai, betul. kulo maos dari koran, sepulang shalat subuh dari masjid, dengan biadab ada yang menyiram air keras pada wajah Pak Novel. Saya takjub kiai. “Kepala harjo geleng-geleng, ’Pak Novel itu, punya stok berdrum-drum keberanian dan punya tingkat spiritualitas tertentu pada ruhaninya sehingga mampu menindas ketakutannya.’

‘Beliau itu menghidupkan agama di dalam konsep kerjanya. Jika seluruh suara kesengsaraan batinnya memusat ke pendengaran gusti Alllah, hati-hati lah kepada hamba hamba Allah yang sedang menempuh wasillah. Dan Jika Allah sudah mendengar seluruhnya, siapa saja yang mencelaka kan hidupnya, kejadian subuh kemarin itu, ‘menyatakan perang kepada Allah,’ katanya,  

Asal anda tahu saja: jika tempat bekerjanya adalah rumah pelayanan untuk masyarakat dan di letakkan sebagai wasillah tanpa henti, itu merupakan ke ladang ke istimewan dan kemuliaan. Wasillah itu sebagai sarananya. Ghoyah-nya ya, nga-Alllah. Menuju gusti Allah. Betapa mulia di dunia dan betapa cerah rumah di syurga jika sumpah darma baktinya dilakukan terus menerus. Menumpas dosa besar beban nasional yang sengaja dilakukan oleh ‘jamaah korupsi dan pelaku hubudunnya..

‘Ayo, Nak.. jalanya agak cepat,’ kemudian Kiai kenduri beridiri di sebrang sungai. Menunggu Harjo.

Harjo menerjang derasnya air sungai.

‘Tunggu kiai, tunggu, sedikit lagi sampai,’ ia melebarkan langkah kakinya sehinga air membasahi celana pendeknya.

‘Sudah kiai.’ Balas, Harjo,  sambil memandang heran celana pendek Kiainya  yang tak setetes air pun nemempel pada baju dan ke dua kakinya. Batinnya teriak dalam sunyi, ‘Astaga…. ampuni hambamu yang kotor ini, ya Allah,’ 

“itu, suraunya sudah dekat. Sepertinya kita telat, Nak.’ Katanya kemudian berjalan agak kencang, ’Kalau ketinggalan shalat subuhnya ndak apa-apa, Nak. Nanti kita bisa shalat berdua saja. Asal masih kebagian mendengar ceramah guru saya, ada cerita-cerita hikmah yang di sampaikan setiap habis shalat subuh.. nanti sampean boleh langsung salaman,’

‘Kiai kenduri saja sakti seperti ini apalagi gurunya.’ Batinnya.  

‘Wah… mana mungkin saya berani kiai,’ 

‘Tidak apa-apa, Nak, Jo. Buat nambah orang tua. Bisa nambah teman menghadapi hidup,’

Surau itu perisis di dinggir hutan. Di belakangnya pohon-pohon besar yang semakin menawarkan kesunyian spritualitas. Sebagai pusat penerangan hanya ada lampu teplok di teras depan yang mengantung di tiang menyangga. Dan satunya lagi, hanya ada lampu petromak khas zaman kerajaan mataram kuno, yang berada di dalam surau. Baru saja rombongan dua hamba Allah itu tiba di depan surau. Kiai kenduri langsung mendatangi padasan di samping surau. Mengambil air wudhu yang terbuat dari gentong tanah liat.

Harjo masih tertegun di depan surau. Keringat dinginnya keluar. Nafasnya deg-degan. Ia duduk di teras, memandangi sendal jepitnya yang masih putih bersih. Pandangan matanya kemudian terlempar ke segala penjuru teras surau. Sepertinya memang telat, seorang guru yang di maksud Kiai Kenduri, sudah tidak ada di dalam. Di teras depan, hanya ada dua santri yang memakai sarung dan peci warna putih. Duduk tumak-ninak dalam posisi wirid dan membaca bacaan tertentu. Di atas pecinya ada simbol ‘sendal’ terompah Nabi. Entah datang dari mana orang-orang ini.

Kiai kenduri menghampiri Harjo, dan berkata, ‘Sepertinya kita berangkat agak kurang pagi, Nak. Oh iya, sudah di tunggu padasan, airnya dingin sekali. Seger.’

Sepanjang perjalanan baru kali ini harjo bisa melihat wajah Kiai kenduri. Rona wajahnya perpaduan antara jawa dan arab sungguh menawarkan kewibawaan. Tidak hanya mulutnya saja yang tersenyum. Pandangan matanya teduh. Aksen gerak wajahnya sungguh begitu ramah. Kumisnya yang hitam mulai menyusul warna putih pada helai janggutnya. Segala macam bentuk gerak-geriknya lebih dari memenuhi konsep unggah-uggguh tata-krama.

Harjo meletak kan sarungnya di teras depan. ‘Enggeh kiai,  kulo bahde wudhu rumiyen,’

‘Aku tunggu di dalam, nanti sampean yang khomad,’ katanya lalu berlalu masuk ke dalam surau.

‘Dengan senang hati, kiai,’ balasnya seraya meruduk kan bahunya.

Sesampainya wudhu. Sesampainya shalat berjama’ah. Bias cahaya matahari pagi mulai tergelincir memasuki celah jendela yang berada di samping surau. Remang-remang cahaya mulai datang. Kiai kenduri memimpin membacakan doa doa tertentu. Doa doa itu, hanya sebagai sarana membersihkan hati yang setiap hari berkarat. Pengembaraan subuh itu, di tutup oleh wirid-wirid sesuai dengan kebutuhan dan tanggung jawab sebuah jalan thariqot.  

Sesudah selesai. Harjo slonjorkan sambil bersandar pada dinding surau yang terbuat dari kayu jati.

Kemudian kiai kenduri berdiri, meminta izin. ‘Aku ke belakang dulu ya, nak, Jo. mau buang air kecil,’ katanya.

‘Monggo kiai. Monggo,’ balasnya, agak lesu.  

Sepuluh menit. Lima belas menit berlalu. Hingga Tiga puluh menit sudah lewat  tapi yang di  tunggu-tunggu,  Kiai Kenduri, tak kunjung datang juga. Terserah, sampean mau percaya atau tidak, kejadian ini sungguh ganjil. Kemudian harjo  berdiri dan berjalan ke teras depan surau. Aneh, tidak ada siapa-siapa di luar. Kemudian ia duduk lenger-lenger di depan pintu masuk surau.

Harjo mulai heran sejadi-jadinya mana kala ada santri kalong yang menghampirinya. Ikut duduk  slonjoran di sampinya dan berkata, “Apakah sampean Mas Harjo,’

Harjo menggangguk, setengah tak pecaya.

‘Kiai kenduri tadi nitip pesan pada saya mas, di suruh menyampaikan ini ke sampean. Di dalamnya ada sendal, dari Mbah Kiai, ‘ katanya sambil memberi kan sebuah bingkisan, ‘Jika sewaku-waktu perjalanan pulang nanti sendal sampean putus di jalan, ini bisa buat gantinya, mas.  Terus ada lagi mas, ini ada sepucuk surat dari mbah kiai.’

Harjo mengejar, ‘Apa boleh di buka sekarang mas?’

‘Boleh mas,’ jawabnya.

Di bacalah surat itu.

‘Nak, jangan hanya gara-gara koran sampean jadi benci dan sebal kepada sesama. Air sungai yang baru saja kita lewati tidak pernah memilih dan memilah mana yang akan di hanyutkan. Ia menerima berbagai macam kotoran dan bangkai apa saja, kemudian tetap setia menghanyut-kan-nya ke laut. Maka apa saja yang datang kepadamu, tirulah sifat air tadi,’ Santri kalong yang sepantaran dengan Harjo ini kemudian berdiri, ‘Mas, saya tak izin melepas sarung dulu, mau pamit ke belakang. Buang air kecil,’ ungkapnya seperti menambah keganjilan demi keganjilan.

Bertubi-tubi melihat fenomena ‘asing’ menerpanya, tidak ada angin tidak ada hujan, Harjo kemudian jatuh pingsan. Badannya jatuh ke lantai surau. BruukkkSemaput. Kemudian, pada dimensi alam mimpi yang panjang itu, saya terbangun. Saya duduk menghadap ke kiblat. Dada saya ded-degan di sertai dengan keringat dingin. Batin saya bersuara di dalam sunyi, ‘Ayo terus, rampok terus, sampai perut engkau menjorok maju menutup gerbang pintu neraka.. heuuheuhe..’

Iklan

One thought on “Novel Baswedan dan Kisah Wali Subuh

Monggo pinarak?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s