Sesobek Catatan dari Desa Untuk Indonesia

#BloggerTanahJawa

notedcupu.com

Menjelang tergelincirnya waktu subuh, datanglah sepasang tamu suami istri yang sungguh tergesa-gesa. Di depan pintu yang sudah terbuka sesudah ayam jantan berkokok itu, tedengar suara ketukan, ‘tok.. tok… tok… tok’ di susul teriakan psikologis ‘kulo nuhun’ berkali kali. Sebagaimana ciri khas seseorang meminta bantuan. Simbok dan Bapak-lah yang kemudian menyongsongnya di depan pintu. Kemudian menyilahkan si tamu itu segera masuk. Simbok segera pergi ke pawon membuat suguhan teh hangat.  

‘Monggo pinarak, mas. Pinarak mas,’ terdengar suara bapak menyambut si tamu itu dengan cinta dan sikap kesemenakan.

Saya segera bangkit dari kasur yang sungguh enak itu, kemudian ikut bergabung menemani tamu dengan wajah yang agak saya sehat-sehatkan. Kondisi saya memang menurun tajam sesudah seminggu tenaga saya porsir — bagai spartan — hingga menjelang subuh. Sakit adalah kebebasan yang seharusnya saya terima. Tapi keistimewaan-keistimewaan semacam itu tidak saya pakai. Saya kadung terbiasa menindas diri saya sendiri.

Jadi siapa tamu yang datang menjelang warga desa pergi ke pasar wage itu?. Si tamu itu datang membawa bocah kecil yang masih tertidur pulas dalam dekapan gendongan kain jarek ibunya. Bocah tak berdosa ini, meresapi nikmat dan nyenyak tidurnya di saat bapak dan ibunya ngasong nasip kepada hari-hari yang tidak menentu. Kedua orang tuanya ini agak malu-malu mengenai apa-apa yang bisa dibantu. Sesudah simbok menyediakan hidangan teh hangat di atas meja, di mulailah sambat-nya.

‘Kang, tolong, pinjamkan saya uang. Untuk ongkos berangkat kerja ke kota mBatu.’

Bapak langsung menjawab, ‘Berapa, nang?’ nang adalah panggilan mengayomi orang tua kepada ‘anaknya’.

‘Terserah, kang. Untuk ongkos naik bus ke Batu kang. Aku kerja di sana mau jualan Martabak.’

Ketenangan jiwa bagai air telaga di dalam dada saya retak. Lidah saya kelu untuk ikut menjawab. Saya saling pandang dengan bapak, kemudian bapak pergi ke kamar, mengambil uang yang di perkirakan cukup untuk membereskan ongkos merantaunya sekaligus meng-cover biaya hidup beberapa hari ke depan. ‘Kalau berangkat kerja hati-hati, seng gemi, setiti, ngati-ngati. Ingat anak lan istrimu di desa, Nang,’ kata Bapak sambil menyodorkan uang dalam amplop kecil warna putih.

‘Podo wae mbah kung. Di batu juga masih desa,’ istrinya mulai bisa menyuguhkan seulas senyum.

‘Matur nuwun. Matur nuwun, yo kang.’ Ucap suaminya, lalu segera si tamu itu berpamitan dengan suka cita. Bersamaan dengan semburatnya cahaya matahari bahwa musim semi esok akan cerah.

Dan harapan akan hidup.

Saya mengambrukkan badan lagi merayakan kebebasan. Namun sejam kemudian Kang Ibnu menodong saya dalam bentuk pesan pendek, yang inti pesannya: meminta kepada saya untuk mengisi kelas dan ngemong adik-adik Man, untuk merangsang kreativitas, menghidupkan jiwa seni, dan menyalakan kepekaan sosial kepada lingkungan sekitar untuk di pindahkan ke dalam dunia kepenulisan dan karya sastra.

Ingin saya njundu kepalanya. He-he-he..!

Tapi sungguh, batin saya takut kuwalat karena ia seorang guru yang sungguh — hari demi hari — mendarmabaktikan seluruh waktu, tenaga, dan pikirannya demi kemakmuran pendidikan. Boleh jadi, doa-doa guru yang tulus seperti ini yang menyentuh arssy-nya Allah, dan sehingga mudah dikabulkan. Tidak ada jalan lain selain bersedia dalam satuan pendaran fungsi ar-rahman dengan kawan tercintaku itu.  Tuhan hidup ini sungguh meriah.

Adik-adik kelas yang manis-manis  itu, di hari minggu pun punya berlipat-lipat kessanggupan untuk barang sebentar menggeenggam sepecik pengalaman baru. Yang kemudian menurut menteri pendidikannya sendiri, ‘Anak-anak didik kita dinilai kurang motivasinya dalam menempuh pendidikan’. Di Pelosok desa itu, untuk masuk kelas pun mereka harus mandi keringat sesudah mengayuh sepedah sekian puluh kilo meter. Itulah bau kehidupan yang paling nyata dibanding pejabat yang duduk menis-menis dibawah ruangan berpendingin.

Anak didik kita adalah semburatnya musim semi baru. Seberapa jauh Bapak dan Ibu Guru di ruang-ruang kelas kita untuk mencuri hati mereka, hingga sampai pada seberapa banyak, yang mengacungkan jari telunjuk, sambil berkata,

‘Pak Guru, tanya Pak Guru,’

Sementara itu, penyampaian materi ‘bahan ajar’ kita masih sangat elementer. Miskin teknik komunikasi, tidak jelas mau ‘menendang bola  ke arah mana’. Ekspresi wajah bapak dan ibu guru kita di depan anak-anak cenderung memasang jarak dan kurang menawarkan keteduhan. Sorot mata mereka tidak memberi pesan rendah hati. Ungkapan-ungkapan juga kurang berkharisma. Bapak dan Ibu guru kita adalah nyawa pendidikan yang tidak punya kesaktian sosial dalam menghitung strategi determinasi psikologis lawan bicaranya.

Secara keseluruhan ruang-ruang kelas kita ‘atmosfernya’ terlalu bernafsu menyuruh anak-anak didik kita pandai tapi tidak memperhitungkan ahklak yang menuju uswatun hasanah. Oleh sebab itu, sering kali kita mendengar. Jika sekolah adalah segala-galanya bagi negeri ini, tentulah sudah beres masalah dari awal pendidikan itu berdiri. Sekolah-sekolah harus menimba ilmu kepada kakak kandungnya yang lebih dulu merawat peradaban kehidupan masyarakat. Yakni, pondok pesantren.

****

Baru saja saya selesai menjawab pertanyaan adek-adek kelas kita, telfon masuk berdering tiada henti dari pegawai rendahan hirarki abad modern. Tamu jauh seorang satpam bank itu menyudahi saya untuk bertemu dengan adek-adek kelas. Di di hari yang seharusnya saya dan ia begitu bebas dan bahagia itu, ia justru semakin terhimpit oleh problem-probem sosial yang menimpa hidupnya. Gaji bulanan yang sangat di harapkan itu, belum juga cair di saat mertuanya sedang membutuhkan segenggam uang untuk menebus ongkos pengobatannya. Masya Allah.

Saya hanya mampu untuk bersedia berbagi cinta dan menemaninya. Duduk berjam-jam mendengar kisahnya. Dengan jarak yang begitu jauh itu, tidak mungkin saya langsung berkunjung ke rumahnya dan mengusap-ngusap bahunya. Telfon saya tutup dengan uang yang sungguh tidak seberapa. Maka saya hampir marah ketika ada yang memfitnah saya, sebagai penulis yang kaya raya. Saya susah sekali untuk marah karena sudah terikat oleh mahabbah. Saya hanya kebetulan sebagai penulis daden-daden karena tidak ada yang mau melakoni apa yang saya tempuh….

Menjelang peringatan hari buruh yang tinggal beberapa hari. Ke esokan paginya tamu berikutnya datang lagi. Saya di kagetkan oleh selembar surat yang di tulis dengan indah oleh pegawai klining servis pada suatu insititusi swasta. Surat itu menempel di meja saya yang saban hari saya pakai untuk mempermudah pekerjaan saya.  Ia mengutarakan niatnya dengan cara tidak menemui saya. Masya Allah, saya sangat bahagia membaca surat yang kemudian kehadiran saya dipentingkan untuk membantu hidupnya.

Saya tidak tahu entah ia dari gank yang mana kelompoknya. Entah dari bendera kuning? Gank toak truk puso? Atau gank penerus perjuangan allmarhum Marsinah?. Atau apalah. Seberapa dekat kampanye-kampanye pilkada di ibu kota menampung aspirasi nasional mereka?. Kemudian sekurang-kurangnya meng-cover ongkos pembelian susu untuk anak-anaknya di rumah?. Kepentingan masyarakat tidak pernah hadir dan dibicarakan serius oleh ‘buruh kontrak’ lima tahunan itu. Bupati, Gubernur, DPR, sampai Prisiden adalah buruh kontrak yang hidup dari bos bernama masyarakat.

Jangankan di sentuh. Di sapa pun tidak.

Sungguh saya sedang tidak marah kepada siapa-siapa. Saya hanya ingin membagi kebahagian saya kepada sampean-sampean semua betapa lebih bidup – hidup ini – ketika bergaul dengan bermacam-macam manusia, terutama bergaul dengan pegawai-pegawai rendahan. Satpam, petugas kebersihan, sopir-sopir, bahkan adek-adek sekolah yang manis-manis itu. Orang-orang yang dikalahkan oleh suatu fragmen dekadensi sosial, adalah tangggung jawab saya secara moral-ahklak di hadapan Tuhan.

Saya hanya ingin membenahi pemahaman kita bagaimana inferioritas budaya di ibu kota lahir dari gurita investasi yang sangat kapitalis – dan menggasak kebudayaan berdusun-dusun. Rumah-rumah megah dengan pagar tinggi nan menjulang sampai ke atap, dan pintu tertutup, adalah ciri khas kebinatangan manusia yang sungguh mementingkan hidupnya sendiri. Lebih menyempit lagi kita akan mengenal senyawa: egoisme. Dekadensi sosial adalah pruduk dari sumber kekuasaan.

Seberapa jauh  mereka yang terpinggirkan oleh ‘egoisme kelompok’ bisa  melanjutkan kehidupan dari kesunyian sosial?. Itu sebabnya awal mula, terjadi kehidupan masyarakat yang tidak tahu asal-usulnya. Dan orang-orang yang merasa ngeri di dalam hidupnya, tidak ada kecenderungan lain selain melakukan tindakan paksa berupa kriminal. Maka jangan heran, jika di pelosok-pelosok desa, sepi dari kasus-kasus kriminalitas. Maka sejatinya kriminailias adalah lahir dari kebudayaan ‘kota yang gemerlap.’

Ada tangan-tangan sakti untuk menolong mereka-mereka yang terdesak di tengah gegap gempita zaman yang semakin primitif. Jangan berlama-lama berdiam diri di kota. Lekas-lekasnya barang sebentar menengok ke dusun dan menginap di desa. Bapak dan Simbok sudah menunggu di depan pintu yang dibuka lebar-lebar dengan sikap kesemenakan. Sebagaimana, sikap Kanjeng Nabi Muhammad saw, kepada Sahabatnya untuk menjaga silaturohmi kepada warga sekitar.

‘Siapa di antara sampean-sampean yang hari ini memberi makan orang miskin?’ semua terdiam, kecuali Abu Bakar Al – Shiddiq, yang kemudian menjawab dengan wajahnya yang sangat bersahabat, “Aku.., yyaaa Rosuluwllah.’ Tentu redaksional pecakapan ini, saya ubah menggunakan dialog masyarakat dusun. Perlambangan dari jantung kehidupan yang sah dan sportif: mau kemana dan menjadi apa dalam kehidupan ini?.

Surabaya, 05 Mei 2017

B.S. Totoraharjo

Penulis buku: Cinta Kesandung Gunung dan Kiai Kenduri

Iklan

2 thoughts on “Sesobek Catatan dari Desa Untuk Indonesia

Monggo pinarak?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s