Perempuan Yang Menangis di Bawah Ka’bah

#BloggerTanahJawa

notedcupu.com

Selama ini kita di doktrin untuk hidup sukses harus bertahan di ibu kota. Entah rumus itu datang dari mana, kota menjadi ‘juru selamat’ menghidupkan impian besar anak-anak dusun?. Anak-anak sedesaku yang sekolah di kota, hampir semuanya tidak pernah kembali ke desanya.  Sesudah lulus, mereka mengembara ke kota, mendekat kepada pusaran besar jaminan-jaminan hidup yang lebih merdu dari pada suara deru mesin penggiling padi. Pada sore awal bulan Maret, sesudah pulang kerja, tembok kamar menjadi tempat yang paling enak untuk bersandar. Terdengar ada pesan washaap yang masuk.

‘Mas, ibu sama bapak ndak pengen aku kerja di Surabaya. Aku di suruh pulang ke desa, Mas.’

Saya tertegun sebentar. Kemudian membalas pesan itu.

“Duh gusti…, lha terus keputasanmu bagaimana, dek?’ saya biasanya memangilnya dek, secara ‘nasab’ dia adik kandung suadara saya, kiai Noto. [ selengkapnya baca dalam Buku kiai Kenduri ]

“Aku di tawari ngajar di salah satu sekolah SMP di kecamatan, Mas’

‘Allhamduillah… ikut seneng, dek’

Dia anak gadis dengan kekuatan sikapnya, meletak-kan darma baktinya untuk orang tua. Pada haribaan hidupnya, ada  misi untuk menyenangkan dan membuat aman orang-orang di sekelilingnya. Apa lagi jalan yang di pilihnya, selain menerima ke-ihklasan itu sendri.  ‘Sebagai anak perempuan satu-satunya, aku manut Bapak dan Ibu, mas, beliau menginginkan aku di rumah, Mas. Hari ini, uang bukan jaminan kebahagiaan ya, Mas? Meski pun jika aku ngajar di kota, ada gaji yang lebih menjanjikan. Tapi kalau ibu bapak ndak ridho, apa yang aku cari, Mas?’.

Dia adalah jenis perempuan yang sangat kalem dan penurut. Saya senyum-senyum sendiri menanggapi sikapnya. Membayangkan, andai saja skenario Tuhan memposisikan dia di selundupkan ke bumi dari proses tegang di kamar pengantin oleh bapak dan ibu saya. Kemudian terlahir sebagai adik kandung, maka oleh bapak dan Ibu saya Dia akan diberdayakan, membantu dibelakang, ‘Nduk, kamu ikut jagal kambingnya, pegang yang kenceng kakinya. Jangan sampai lepas.’ Hidup di lingkungan keluarga penjagal, dia akan tumbuh menjadi perempuan yang tomboi.

Lima bulan berselang, setelah dia menjadi guru dan bertemu langsung dengan anak-anak. Dia mulai mengalami goncangan pemikiran. Ada banyak ketidak-cocokan dengan model pendidikan zaman sekarang. Bagaimana seharusnya pendidikan menjadi tongkat estafet pengantar nilai keluhuran dari zaman ke zaman?. Tema-tema pembicaraan saya dengan dia, rata-rata membahas  budi pekerti anak didiknya. Saya dan dia punya kesamaan pandangan. Pendidikan yang didesain mengejar kepandaian atau kecerdasan tidak sanggup mengantarkan manusia menuju uswatun hasanah.

“Mas, aku kok punya impian, entah kapan… bisa punya sekolahan sendiri gitu ya, Mas?” saya membaca pesan darinya sewaktu hendak masuk ke salon untuk pangkas rambut.

Saya kaget. “Masak aku salah denger?’

Dia membalas agak geregetan.

“Aku juga gak salah ngomong mas,’

‘Hajatmu kok ya besar juga, dek. Njuk, aku juga punya mimpi yang sama loh….’ Saya mengambil posisi antrian untuk menunggu giliran tiba. Sambil duduk di atas kursi anyaman bambu, sebelum saya menjelaskan kembali, dia justru menyongsong lebih dulu.

“Impian apa, mas?’

“Jika gusti pangeran menghendaki… aku punya angen-angen buat sekolahan, dek.’

Bagi anak-anak yang terlahir dengan latar belakang anak dewan — dengan kategori mahkluk papa minta saham — minta cas cis cus ini itu, bisa cling! Langsung terkabul. Tangan saktinya bagai ilmu sihir setingkat karomah – entah karomah dari Iblis penunggu gerbang neraka lantai berapa. Pada malam yang semakin larut, ada doa-doa permintaan yang semakin membekas untuk diterbangkan ke penjuru langit.  ‘Nanti aku bisa ngajar juga di sekolahanmu ya, mas. Mudah mudahan kita di titipkan rezeki melalui buku-bukumu yang semakin banyak orang menyukai. Dan, semakin banyak yang membeli.’

‘Kayak jalan kisahnya Kiai Mbeling itu kan?’ pancing saya, sambil mesam-mesem.

‘Bener, mas.’ Katanya,  ‘Semogaaalah… semogaa. Ayuk di amini bareng-bareng,’ Lalu dia mengirimkan rekaman suara yang sangat indah dari pada suara yang lain pada hari itu. ‘Wakhina adzabanar… amin.. amin.’

Malam adalah pertemuan yang paling akbar antara kita dengan haribaan-Nya. Jika tak ada siapa pun yang mendengar cerita-cerita sunyi impian besar mereka, justru tak di ragukan lagi, seluruh suara-suara desakan doa yang berakumulasi sebagai bentuk pengakuan kelemahan. Sungguh akan menggedor pintu langit. Dan seluruh lantunan doa-doa itu, memusat pada pendengaran Allah. Dan jika Allah mendengarnya, tiada ilmu canggih penemuan manusia yang sanggup untuk menjelaskan, dari beribu-ribu pintu kedatangan Malaikat yang datang mengendari masing-masing setitik butiran cahaya terang di pagi hari.

Setelah selesai saya merapikan rambut. Beberapa detik sebelum menyalakan kendaraan. Dia telfon lagi.

‘Mas, repot gak habis ini?’ tanyanya.

‘Gaak, sih. Lha ini aku mau pulang….’

‘Nanti jam 10-an.. aku telfon ya, mas. Aku bingung mau cerita ini ke siapa?. Bisa yaaa, Mas?” kemudian satuan-satuan nada rintihan itu mengedor batin saya.

Aku menyanggupinya.

‘Oke-oke…. nanti jam 10-an, kalau sudah longgar aku washaap ya, dek,’ jawab ku. Lalu saya berusaha membelok kan tema obrolan, ‘Soalnya tadi itu pas potong rambut, mas-masnya loh nyukur pake gunting kuku, jadi harus mampir warung mbok Waljinah dulu,… beli shampo. ’

Untunglah dia tipe perempuan yang memiliki selera humor.

‘Tadi harusnya di gundul aja mas. Kan hemat, biar gak beli shampo. ’ Di atas kendaraan itulah saya juga tertawa mesem-mesem.

***

Sudah bertahun-tahun aku tidak pernah mendengar tangis perempuan. Tapi malam ini, tangisan perempuan itu menjadi bagian dari milik hidup saya. Sepanjang sejarah hidup ini, adakah tangisan perempuan yang paling merdu selain tangis sebab, seorang laki-laki yang sudah pergi?. Aku membuka persahabatan dengaan pintu-pintu semacam itu. Saya menjadi saksi utama dalam persidangan hidupnya tentang cinta yang berkumandang menjadi dzat. Dzat yang hidup di dalam dadanya. Kemudian membekas. Apakah dia bimbang dengan nama seseorang yang sekarang di anggapnya pas dan pantas untuk saling bekerja sama dalam cinta kasih?.

“Mas, tiga bulan lagi aku akan menikah.’ Di tempat yang paling sepi dan sunyi aku mendengar suaranya nan jauh di pelosok desa sana. Aku mengunci pintu kamar dari dalam. Di dalam gelap, aku tulus mendengarnya. ‘Mas aku ke Surabaya, naik trevel, mau ketemu dia?’

‘Masya Allah. Ojo dek. Ojo mrene. Tambah susah aku kalau sampean ke sini.’

Aku mewanti-wanti dengan keputusan.

‘Sampean berdua, jangan sampai ketemu. Urusan-nya bisa makin panjang.’

Apakah perempuan itu bimbang dengan pernikahannya yang semakin dekat?. Bimbang dengan apa dan siapa?. Dan tema-tema macam apa yang dibimbangkan dari pilihannya sekarang?. Apakah bisa jadi, pilihan-pilihan yang tidak sempat di pilihnya dari masa yang lalu itu segala sumber kegundahan-nya?. Siapa sesungguhnya mantan kekasih yang dia cari dalam dua mesin waktu. Mereka berdua sudah di ikat oleh tanggung jawab akbar masing-masing. ‘Perempuan desa’ itu sudah di lamar oleh laki-laki desa sebelah. Sedangkan ‘mantan-kekasihnya’ itu juga sudah saya antarkan untuk menjawab kepada calon orang tuanya.

‘Mas, jam dua kemarin malam aku mimpi’in dia, Mas. Aku masih hutang janji sama dia, mas. Mungkin apa yang aku lakukan dulu, salah. Aku menyakitinya, Mas.’ Suaranya sangat lirih.

“Terus habis itu kamu ngapain dek?’

‘Aku langsung sholat tahajud. Shalat istiqoroh, sama wirid mas. Aku doakan dia mas. Sudah tiga hari ini mas aku kepikiran dia terus. Di jam-jam, sesudah magrip dan waktu tengah malam, pasti aku ke inget dia terus mas. Tapi ya itu mas. Aku gak kuat. Aku nangis. Lalu aku cerita ke siapa lagi, kalau bukan ke sampean?’

‘Ohh… jadi sampean kangen, sama… … …?’

Pertanyaan itu berhenti mendadak di ujung lidah. Karena tidak salah lagi, suara tangisan perempuan kepada laki-laki di tengah malam, adalah tangisan kerinduan yang paling dahsyat sekaligus paling sepi untuk memeluk rasa kehilangan. Inilah jam-jam yang paling tengik sekaligus paling istimewa dalam sejarah pengaduan-pengaduan di atas sajadah panjang kita. Ada saatnya ‘nama-nama asing’ di masa lalu, menjadi dekat dan akrab di hari ini. Kemudian, Tuhan memberi fasilitas berupa doa, yang kemudian kita pergunakan untuk menempuh perjalanan sunyi bertemu dengan-Nya.

Sudah jam satu dini hari. Nada suaranya semakin pelan.

“Heh… sudah malam lo?’

‘Tapi ceritaku belum selesai, mas,” kata-kata yang keluar dari bibirnya seolah sebentuk puisi yang mengudara.

Aku mengalihkan pembicaraan.

‘Dek, coba sekilias, apa yang sampean tangkap saat melihat wajah mantan presiden sby itu?’

‘Matanya, mas, matanya berkantung,’

“Nah… kui.. kui… orang itu kalau betah melekan, matanya gede melotot kayak onde-onde. Lambang dari seseorang yang bekerja keras. Besok pagi, kalau sampean matanya kayak gitu, daya jual kecantikanmu bisa tambah lagi. Nanti bikin repot, kalau semakin banyak laki-laki di luar sana yang serius nanyain, ‘Sampean udah nikah belum, ya dek?’

‘Gak bakal ada yang tanya kayak gitu, mas. Aku lho, besok libur ngajar.’

‘Yowes,  aku pamit duluan ya. Dada pokoknya.’

‘Dada juga, Mas.. Besok aku telfon lagi ya, mas.?’

‘Beres pokoknya..’

Saya dengan dia kembali melanjutkan kehidupan masing-masing. Saya kembali dengan rutinitas seperti biasanya. Bangun pagi, dandan dengan rapi sesudah mandi, kemudian berangkat bekerja layaknya kehidupan manusia yang normal pada umumnya. Saya banyak belajar dari kisah hidupnya. Saya hanya bisa menjalani kehidupan tanpa pernah merasakan apa yang dia rasakan. Di saat saya akan menikah nanti, tiada yang tahu, tapi yang jelas, semua ini hanya akan menunggu giliran, kepada siapa pengaduan itu nanti saya sampaikan?.

****

Ke esokan harinya, sesudah shalat magrip, di saat saya sedang enak-enaknya ngaji kitab al-hikam, yang sangat masterpice itu, dia muncul kembali melalui pesan pendek. Saya membayangkan seulas seyumnya saat dia berdiri di depan pintu rumah, lalu kemudian kehadirannya saya sambut dengan kesetiaan cinta kasih untuk nguwongke sebagai sesama orang desa. Tapi jarak desa dengan kota begitu jauh rupanya, ‘badhe ngunjuk nopo’ saya ganti dengan sikap ke arifan untuk mendengar dengan khusuk.

Malam ini agak lain, saya leyeh-leyeh sambil mendengar apa yang belum selesai.

“Ya allah… belum tidur lagi?’ tanya ku.

‘Belum ngantuk, kok Mas!’

“Kemarin sampai mana?”

‘Janji…. mas… kalau ndak salah kemarin sampean, tanya itu mas?’

Saya mengejar. ‘Terus?’

‘Mas…!’ aku mendengar suara lembutnya.

Aku menggangguk, dan mengapit bantal, ‘Hemm, terus…’

‘Ingat pas malam tahun baru itu, kan Mas?. Waktu dia dari Malang langsung ke Surabaya. Terus, saat itu juga,  sampean jemput dia di depan Royal plazza. Habis dari kosmu itu, mas. Aku sama dia jalan-jalan di pinggir danau kampus Mas. Hal ini yang paling membekas dan aku ingat sampai sekarang mas. Jari kelingkingku mengikat di jari kelingking dia, terus aku bilang, ‘Mas, aku janji kita bakalan hidup bareng-bareng terus,’

Saya belum ngomong apa-apa.

‘Aku bersalah banget Mas. Aku bingung Mas, kenapa ujian ini datang pas di saat aku mau menikah?’

Saya menghela nafas.

‘Aku harus bagaimana, Mas?’

Dengan tegas saya jawab, ‘Dek, sampean sudah ada yang jawab. Dia juga sudah aku antar jawab anaknya orang. Sampean harus tanggung jawab dengan pilihannmu. Dia juga sama, kudu tanggung jawab dengan pilihannya. Kalau cinta tidak membawa pada kehormatan kita sebagai manusia, buat apa?. Bisa-bisa hubungan persaudaraan kita bisa rusak,’ Saya serbu seluruh ruang kosong pada pikirannya, ‘Njuk, terus piye? Cinta gak bisa menabrak moral kesantunan kita, dek. Gak ada jalan lain selain teguh pada pilihan masing-masing. Bertahan pada pilihan itu kemuliaan. Kalau sampean berjodoh, pasti gusti Allah yang ngatur.’

‘Tadi siang, aku hubungi dia mas, aku pamit dan sekalian minta maaf menghapus nomer telfon, dan bbm-nya untuk sementara waktu. Gak pa-pa, ya Mas?’

‘Syukurlah..,’ Saya menghela nafas, ‘Aku doakan sampean diberi ketenangan!”

‘Aminn, mas. Aku pamit shalat malam dulu, yas Mas.’

‘Oke, dek. Allah itu, lebih tau kita dari pada kita sendiri,’

‘Terimakasih Mas, sudah buat aku tenang,’ katanya dengan suara yang berat.

Terdengar suara sesunggukan sesudah salam. Kemudian suaranya menghilang dari balik telfon. Secangkir kopi di samping tergeletak begitu saja, dan saya hanya bisa tertegun. Menatap langit-langit. Memikirkan apa yang sebenarnya sedang terjadi. Tidak ada cinta yang terlambat untuk di sampaikan, serapi-rapinya perempuan menyimpan perasaan, cinta akan mengabarkan kepada  siapa yang di cintainya. Itulah hidup, gak ada yang salah dengan semua itu.

***

Hari berlalu. Ke esokan paginya pada hari jumat bulan Maret. Hampir saja persedian kalimat-kalimat toyiban yang tesimpan pada sanubari saya over limited. Sesudah mendengar kotbah jumat yang menggerus waktu istriahat saya, hampir saja, ke arifan-ke arifan sikap sosial saya hampir digeser oleh kekesalan-kekesalan. Di jam yang sama, ada ‘tamu virtual’ yang datang. Saya duduk di warung lesehan, dan dia berkata, ‘Kang aku hiburen… tolong ajaken aku guyonan. Nanti jam-jam 7-an, jemput aku ya?. Ayo jalan-jalan,’

‘Okee.., bereslah,’ jawab ku beredia, ‘Nanti kalau aku sudah sampai depan gapuro, aku telfon yoh?’ kata saya.

Lalu dia menjawab dengan senang,

‘Sampean betul-betul tresna tenan kang.’

‘Pokoknya aku nanti di traktirlah…’ saya memanfaatkan peluang.

‘KFC apa M’cd kang?’ dia menawarkan dua pilihan. Padahal dia juga tahu kalau saya tidak terlalu suka ‘nguntal modern.’

“Emoh…. penyetan wae!’

Deal.

Sepulang kerja, tanpa mandi, tanpa ganti baju, saya langsung ‘mak weng’ nyamperin ‘Kang Desa’ itu di rumah kontrakannya. Saya menggeber motor metik tua kumus-kumus itu membantu dalam rangka ‘angon kebahagiaan.’ Dia naik motor saya dengan memakai jens dan tas slempangan kecil yang saya prediksi berisi bundelan beratus-ratus ribu dari jerih payahnya jualan jasa operasi bedah tulang dari ke-kota-ke-kota seantero Nusantara. Dari tas dompet mungil itu, atas kesalehanya kemudian dia mentraktir saya dengan membeli tiket pertunjukan film.

Kami sudah berdiri di depan meja kasir.

‘Mau kursi yang mana, mas? tanya mbak-mbak kasir.

Kang Desa menunjuk kursi kosong, ‘Ini mbak, yang tengah aja. Lebih pas,’

‘Oke, yang tengah yah. Tot…’ belum selesai ngomong, saya memotong begitu saja.

Ragatnya berapa, mbak?’

“Enam puluh ribu Mas,’ katanya, sesudah mendapatkan tiket kami masuk studio.

Di pintu masuk studio seperti biasa, setiap penonton melewati mbak-mbak bersanggul yang bertugas mengecek dan meminta tiket kita. Dan hanya dengan satu kali sobekan, dengan sangat cekatan, ‘mbak-mbak bersanggul’ itu kemudian mengarahkan pusat cahaya senternya kepada deretan kursi yang di pesan. Kami pun mengikuti arahannya hingga sampai akhirnya duduk unyu sambil menikmati beberapa tayangan iklan yang lewat. Karena film belum juga di mulai, saya pun membuka obolan, ‘Kang kemarin Si Dia wasap aku. Coba lihat,’ saya menyodorkan layar henpon ke depan matanya.

‘Dia cerita apa, kang?’ tanyanya.

‘Semuanya. Intinya, dia nyari’in sampean, kang.’

Badan saya dan dia bersandar pada kursi warna merah.

‘Tolong sampean tuturi kang… mungkin dia lagi bimbang,’ jawabnya singkat, dengan penuh tatapan kosong.

Sekelebat kilau cahaya lampu bioskop melewati mukanya, siluet cahaya memperjelas kedua matanya berkaca-kaca. Saya terdiam beberapa detik. Dia juga terdiam. Dia mengelap keringat pada dahinya, mungkin pikirannya sedang bekerja keras, memantapkan sebuah pilihan. Saya tahu, ini situasi yang sangat tidak enak untuk dibahas. Lalu Kang Desa melanjutkan kembali, “Kita doakan saja, ya kang, semoga diberikan ketentraman oleh Allah. Dan mudah-mudahan calon suaminya laki-laki yang pantas.’ Dan sampai detik saya bisa merasakan, datang ke acara nikahan mantan itu, sangat tidak di perbolehkan. Apalagi kepada sebuah nama yang masih meluap-luap dalam sejarah hidup kita.

Surabaya, 28 Mei 2017

B. S. Totoraharjo

Iklan

3 thoughts on “Perempuan Yang Menangis di Bawah Ka’bah

  1. jejakandi berkata:

    Kalau cinta tidak membawa pada kehormatan kita sebagai manusia buat apa?
    Jleb banget kui. Pak!
    Selalu suka dengan tulisan-tulisan njenengan.
    Beli bukune njenengan di mana? Biyen pernah tak cek belibuku atau tokobuku yo tidak ada. Pengen pesen siji sasi ngarep, di tanda tangani njenengan. Bisa bisa bisa???

Ngecuprus?. Boleh. Untuk pempermudah kolom komentar, langsung aja klik logo akun media sosial di pojok kanan bawah, biar gue bisa ngelihat siapa aja yang nyimak notedcupu gue. Semuanya akan gue baca kok, terserah mau komen apa, gak tatakrama bakal gue hapus. Matur Nuhun.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s