Fenomena ‘Kegenitan’ Ulama Perkotaan

#BloggerTanahJawa

notedcupu.com

Jam lima sore Harjo keluar dari gedung kantor tempatnya bekerja dengan wajah jengkel. Lengan bajunya ngeluntung sampai siku-siku. Baju kemeja abu-abunya luput dari sentuhan rapi setrika cap jago. Saya tidak tahu sebab-sebabnya. Apakah bentuk pelayanan ekpresinya itu karena ulah berita ‘bad news’ koran sore dari yang dia baca?. Atau-kah, kepala dia terbakar oleh ‘postingan-postingan umup’ di media sosial yang dia santap?. Atau kemungkinan yang terakhir: kepalanya sudah terlanjur di taburi oleh penceramah-penceramah ‘jembut jagung’ abad perkotaan?. Apa yang membuatnya rahangnya mengeras?. Sampai-sampai kepalan tangannya juga ikut mengepal bagai hendak menyikat Abu Jahal.

Dalam situasi semacam ini, tidak mungkin air yang mendidih ‘blekutukan’ saya biarkan tumpah. Mana mungkin juga, saya ajak dia bersantai main dagelanan. Haha-hihi ketawa-ketawa. Bisa-bisa kepala saya benjut di tempeleng olehnya lalu tersungkur ke parit. Itu pun dengan sayarat, hem..  kalau dia berani dengan saya. Jelas, dia mana mungkin berani kepada orang yang di sungkaninya. He..he..he. Lantas yang dia kerjakan. Datang klunah-klunuh tanpa kabar. Dia berhasil mengelabui keterbatasan radar indra penciuman Kiai Kenduri, sehingga bau wangi parfumnya tidak sampai terbang di sapu oleh arah angin. Tapak kakinya juga tiada suara nyamar-nyandung.  

Mak mecungul, dia menyusul Kiai kenduri di tengah sawah. Satu langka dari tempat duduk kiai kenduri, si harjo berhenti. Mengambil duduk dibelakangnya. Dan menepuk pundaknya,

‘Yai – yai, istirahaaat to, yi?’ tanya Harjo, pecicilan.

Jelas Kiai kenduri kaget mendapat sapaan dadakan seperti itu, ujung garan paculnya hampir saja bersikap kuda-kuda bagai menerjang pauskan Abu jahal.

‘Sampean ini, datang jebas-jebus, Jo… jo….’ Kiai kenduri mengelus-ngelus dada, seolah sudah hapal betul sikap nyeleneh santri kalong yang satu ini. Kurang ajar tapi ekpresinya penuh dengan cinta.  

Harjo dan Kiai kenduri akhirnya duduk lesehan di atas daun pisang. Kedua mahkluk yang sama-sama mencintai ini, bincang-bincang sore menikmati segar dan indahnya pemandangan sawah dari sebutir pecahan Nur Muhammad. Penampilan Harjo masih lengkap dan utuh. Dia berkemeja tanpa memakai dasi. Turun ke bawah, ada busana dengan celana bahan, dan kedua kakinya masih memakai sepatu mengkilap. Simbol budaya kemewahan dunia perkotaan. Sementara Kiai kenduri, hanya memakai celana kolor, dengan kaos lengan pendek. Di kepalanya, berhias caping gunung dengan hiasan gambar palu… dan kebo.

‘Bukannya selesai kerja, terus pulang ke rumah, sampean malah ke sawah?’ Kata Kiai, lalu meletakkan capilnya ke tanah. Dan bertanya lagi, ‘Wajahmu biasanya murah senyum. Ada apa, Jo? Kok masih mrengut begitu?’

‘Lha ini… sudah sumringaah lagi, kiai,’ Dia menoleh kepada Kiai, lalu menyibak kembali bentangan setitik syurga yang ada di depan matanya, ‘Gara-gara lihat sawah, sumpeknya sudah hilang kiai. Apa lagi ketemu kiai, mangkelnya juga ikutan hilang,’

Kiai Kenduri justru balik berkomentar,

“Sikapmu tadi siang itu, sudah pas.’  

Istmewa sekaligus sungguh ajaib, seolah kiai yang hobi pergi ke sawah dan macul ini mahfum betul membaca peristiwa dan suasana hati seseorang dengan begitu gampangnya.

Harjo gelisah, ‘Saya takut dosa, kiai. Saya takuutt,’

Yai kenduri melempar senyum.

‘Sampean marah-marah dengan penyampaian wanti-wanti dan lugas, itu sudah sah, Jooo. Coba sampean pikir, sampean pertimbangkan. Lebih berat manakah takaran antara menerima pahala tidak marah-marah, dengan dosa karena tidak menjaga atau tidak mampu memelihara ke rukunan bebrayan sosial di lingkunganmu?’

‘Yang penting, aku jangan sampai di ureng-ureng gusti Allah?. Maksud, yai begitu?’ Kata Harjo, terkagum-kagum, dan menocba mengajak dialog kembali.

‘Nah, itu maksudku, Jo. Banyak orang melalui berbagai jalan tertentu, menemukan dan mencintai kebesaran Gusti Allah. Sekarang itu, bagaimana caranya juga gusti Allah mencintai kita,’ Kiai Kenduri mengelus-ngelus beberapa helai janggutnya, lalu melanjutkan kembali, ‘Lhaa.. maunya gusti Allah itu, bagaiamana, aku juga masih mencari-cari jalannya. Supaya aku masuk juga golongan di cintai oleh-Nya. Wong kita itu pulang mudik ke kampung ilahi tidak membawa kepandaian maupun harta benda, tapi yang wajib kita bawa adalah ketulusan taqwa yang sejati,’

Sepasang bola mata harjo menerawang ke angkasa, lalu kemudian bergumam.

‘Masya Allah…, langsung padang pikiranku, yai,’

‘Iya, itu bukan karena omonganku tadi…, Jo, tapi karena sampean krasan lihat sawah,’ Kiai Kenduri menatap wajah dingin Harjo, ‘Iyaa toh?’

Harjo geleng-geleng dan melempar senyum tulus kemanusiaan.

‘Ya allah, untung aku bisa ketemu sampean kiai, kalau tidak mungkin aku masih mrengut.. he.. he… hee.. ,’

Kiai kenduri menyongsong.

‘Yowes, ayo kita pulang, sudah sore…, Jo,‘  mereka lalu pulang ke kediamannya masing-masing jalan beriringan layaknya antara anak dengan bapaknya. Layaknya dengan orang yang di cintai dengan kekasihnya. Di persimpangan jalan, kedua hamba Allah itu berpisah melanjutkan kehidupannya masing-masing. Pengalaman konkrit semacam ini membuka kedalaman mata batin kita: tanpa kiai dan segala budaya kearifan kedesaan-nya, peradaban perkotaan sungguh tidak ada semburat warna yang mampu memancarkan keteduhan dan kelembutan. Itulah alasan kenapa kiai-kiai dan pondoknya itu, jauh dari kota?.

Saya hanya ingin memberi kabar. Harjo adalah sahabat karib saya. Dan kiai kenduri jelas tidak mungkin sata sebutkan siapa sesunggunya beliau itu. Yang perlu saya dan sampean ketahui, ia baru saja membenahi strukur pondasi-pondasi bangunan nilai-nilai yang selama ini semakin jauh dalam kehidupan bermasyarakat. Yang baru saja dia lakukan adalah mencacah sebuah kekacuan sistem otak atasan dilingkungan tempatnya bekerja, ‘Aku tadi di kantor, hanya pidato: tau sampean menghargai pekerjaan teman-teman?, mengayomi mereka?. Mengucapkan maaf dan terimakasih kepada mereka,’ katanya, dengan aksen suara yang sangat di pidatokan bagai kesamber semangat alm. bung Tomo.

Tentu, hampir semua kejadian retak sosial tidak mungkin berdiri sendiri. Fragmen fokus cerita ini bukan pada letak Harjonya pada sekala lingkungannya. Melainkan satu kesalahan keputusan  dalam satu menit, bisa mengakibatkan keburukan-keburukan besar dan berkepanjangan yang akan terus hidup dalam sejarah dimensi waktu. Sebuah dosa akan semakin dekat kepada tangan-tangan seseorang yang mempunyai kedudukan secara hirarki di masyarakat. Namun, melalui susunan perjalanan waktu dosa itu bisa membawa kemudorotan besar dan serius.

Di tengah kebudayaan hidup dalam abad perkotaan. Seorang kiai sungguhan semakin diminggirkan perannya dalam menyangga kawah kehidupan bermasyarakat. ‘Pemuka-pemuka agama islam’ yang muncul di prime time selama ini tidak jauh dari produk-produk suguhan telivisi yang sungguh dalam sejarah desain perancangan programnya, memprioritaskan konsep ‘pasar oriented.’ Yang ‘ngajinya’ belum apa-apa tapi sudah disemati, distempel sebagai ustadz, ulama dan sebangsanya. Lebih pasnya, kita memasuki sejarah dimana banyak ustatdz ulama bikinan.

Maka untuk mendatangkannya kiai yang sungguh-sungguh kiai itu, kita harus benar-benar mendatangkannya  dari desa. Tempat ia menjaga benteng peradabannya di desa.  Kemudian, melihat dan mendengar segala tutur-katanya, perilakunya, untuk sebagai rumusan menghadapi hidup dalam dunia yang semakin kokoh gejalanya memburaman mata batin. Di pelosok-pelosok desa, kiai menjadi pusat berbagai pengaduan-pengaduan segala macam bentuk kekusahan dan kesumpekan masyarakat. Bisakah ‘produk manusia’ zaman perkotaan, semakin berumur, semakin menemukan kesejatian apa dalam hidupnya?.

 

Surabaya, 09 Juni 2017

 

Iklan

2 thoughts on “Fenomena ‘Kegenitan’ Ulama Perkotaan

Monggo pinarak?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s