Puasa Orang Desa Menggebuk Kultur Priyayi

#BloggerTanahJawa

notedcupu.com

Sebenarnya baru saja saya hendak menulis tema-tema isu ‘radikalisme’, toh niatan itu saya talak dalam-dalam. Di Indonesia ini apa dan siapalah identitas saya? Mana mungkin pendapat orang kampung didengarkan oleh suatu mekanisme kehidupan zaman yang menyembah, ‘kamu harus jadi apa dulu baru boleh ngomong?’ dari pada tumbuh menjadi epigon-epigon ‘pembebek’ baru, mendingan saya pergi ke sawah saja. Menjadi Pak Tani. Anggaran biaya kuliah saya pindahkan untuk membangun matahari esok pagi dari beribu-ribu lembaran-lembaran kekayaan pikiran ‘orang tua’ kami.

Di tegalan sawah sore itu, saya melihat yai Kenduri yang baru saja mengangkat sebuah karung sak dari hasil panen singkong di lahan miliknya. Saya mengamati dengan tumak-ninak, dan khusuk, akan terjadi apa dari ayunan langkah kaki pertamanya hingga ia tiba di depan rumahnya. Suatu kebudayaan bersahaja pun tercium aromanya. Di tengah-tengah perjalanan, mula-mula yai kenduri melakukan perjumaan-perjumpaan dengan petani yang lain.

‘Hasil panen, kang, besok pagi di bawa ke pasar, kang,’ jawabnya, dari seorang penanya. ‘Di buat getuk, enak itu, yai?’

Satu orang berpapasan lagi. Berhenti sebentar dan bertanya, ‘Berapa kilo, yai?

‘Wah, belum tahu kang, wong belum saya timbang,’ jawabnya sambil berhenti sejenak dan menampakan senyum tulus kemanusiaan di tengah-tengah kernyitan menahan berat pada pundakknya.

Bergegaslah ia pulang ke rumah. Menemui istrinya yang menunggu di rumah dengan perasaan bahagia karena hasil panennya akan mampu mencukupi beras dalam satu.. dua.. minggu ke depan. Bayangan bebas akan segala kesulitan kebutuhan sudah menyemburatkan simpul-simpul senyum pada wajah keluarganya. Segala konsep tatanan keluarga cemara akan menghiasi atap rumahnya. Tapi sungguh siapa sangka, Tangan Tuhan sangat berkuasa hingga ia menjelma menjadi manusia yang begitu amat radikal.

Singkong dalam sak karung yang semula menjadi jantung penghidupannya. Mendadak dengan mudah dan murahnya ia bagi-bagi kepada tetangga yang ia temui di samping rumah. ‘Wah, kok kelihatanya enak ya, yi kalau di kukus,’ kata seorang tetangga, dengan wajah berbinar-binar. Lalu yai keduri  menurunkan karung saknya dan membuka bundelan ikatannya hingga keluarlah sekian biji singkong itu berpindah menjadi milik tetangganya. Keenakan dengan memberi, terjerembablah ia kepada situasi makna hidup.  

Satu.. dua.. tetangganya yang lain juga berdatangan. Situasi kampung pada waktu itu, kadung dilanda musim paceklik panen singkong. Sehingga jenis makanan kampung itu, semakin sukar untuk di temui, dan di peroleh, barang itu menjadi sah disebut makanan mewah. Apabila yai kenduri sangat prinsipil memegang kuat konsep ideologi kepemilikan, ia akan sangat tidak bergeming dengan situasi semacam itu. Namun ia menemukan ada wajah Tuhan dibalik orang-orang yang datang mendekat. Wajahnya begitu bersahabat untuk di dekati.

‘Ini, yu, buat teman ngopi kang noto, di kukus saja,” katanya, lalu menurunkan lagi, sekian singkong dari karungnya.

‘Hujan-hujan gerimis gini, di goreng cocok, hayo silahkan sampean ambil, yu?’ katanya lagi, menawarkan kepada yang lain.

Tetangga-tetangganya pun senang bukan main.

Karung singkong yang semula munjung-munjung penuh sesak itu, tinggal menyisakan beberapa biji saja. Kepada sekelompok orang yang mengusung konsep ideologi kepemilikan — entah parpol-parpol maupun ormas — benda-benda material semacam itu, sangat begitu di sembah. Boleh jadi, sikap yai kenduri semacam itu di anggap kebodohan yang sia-sia. Terakhir, di angkatlah sak kecil itu, tidak perlu sampai di taruh di atas pundak, cukup di cangking.

Pada suatu point of view karya tesis, atas sebab kejadian itu, budaya katresnan sedekah pun telah mendarah daging pada suatu kehidupan di perkampungan. Dan terakhir, saat berlangsungnya praktek pola perhubungan sosial seperti itu, sunguh sukar menemukan sekurang-kurangnya orang yang kekuraangan beras. Kemanapun saya pergi wirid saya antara lain berbunyi. ‘Telo… telo… teloo….,’

Di warung-warung yang menempati ruang-ruang etalase bergengsi di ibu kota, saya di tarik klayapan untuk sekedar menikmati program buka puasa bersama. Rumah-rumah makan yang saya temukan itu ahistoris dengan riwayat kaki lima yang biasanya saya jumpai.  Yang sebelum-sebelumnya tidak pernah saya jangkau. Di atas meja, puluhan jenis-jenis hidangan dari yang sekedar kelas ringan  sampai kelas berat pun tersedia.

Segala desain tatanan urutan makannya hingga perlatan yang dipakai pun kadar kriterianya sudah cukup untuk di sebut hidangan orang modern. Dengan sembunyi-sembunyi, pisau yang berada di pinggir piring pun terpaksa saya sisihkan terlebih dahulu. Tangan saya menjangkau entong nasi yang kemudian saya hanya menggambil sekepal nasi, untuk mengganjal perut agar tidak kosong. Kepada Malaikat di samping kanan dan kiriku, aku bertanya kepada Engkau, ‘Bukankah semakin enak posisi kami akan semakin kehilangan kreatifitas untuk mengolah logika moral-empati kekayaan agama-Mu?

Menjadi halalkah kehidupan kita dengan makan bersama dan berpelukan di tempat yang mahal dan dengan biaya konsumsi yang menyinggung perasaan jutaan saudara kita yang menjadi korban ketidakadilan sosial – jika mereka mengetahui?. Menjadi halalkan eksistensi historis kita? Sementara ribuan anak-anak di luar sana, di dera kewajiban atas keterpaksaan sosial untuk menjadi pengasong atau pengemis di pinggir jalan?.

Saat saya hendak keluar dari area pakir, diperempatan jalan, sekelompok bapak-bapak tukang kayuh becak itu dengan lahapnya memakan nasi kotak entah datang dari mana. Mereka makan di atas becak, muluk, dan sesekali menjilat-jilat ujung jarinya. Pikiran dan hati saya terguncang. Makanan di perut saya yang semula anteng, mendadak ingin saya muntahkan.

Saya harap sampean-sampean tidak keberatan untuk menyemprit diri sendiri. Dalam hal ini saya punya kepentingan pribadi. Melihat diri sendiri secara total dan radikal, agar tidak show ‘membeli reputasi sosial’ di tengah-tengah zaman yang semakain tidak tahu mana puasa mana hari raya.

Halalkah posisi hidup saya, jika saya buka puasa dengan presiden, lembaga-lembaga pemerintah, maupun petinggi-petingi parpol yang dalam acara-acaranya merangsang untuk di snapshot-kan?. Di enggel kan dalam koran-koran. Untung saya belum mendapat undangan semacam itu. Toh, pentingkah orang kampung macam saya, dan anda semua, di undang ke rumah-rumah yang secara struktur hirarki adalah rumah milik kita sendiri.

Kepentingan saya hanya satu. Saya hanya ingin membenahi pemahaman kita. Semakin manusia menjauh dari kebudayaan desa, semakin banyak menemukan orang yang sudah ‘kambil’ tapi berfikir ‘beluluk’. Boleh jadi, yang menuntut berlebih yang pertama-tama adalah lidah. Perut tidak menolak untuk disantuni dengan jenis makanan cukup seharga sepuluh ribu. Tetapi lidah mendorong kita harus mengeluarkan seratus ribu atau terkadang sejuta rupiah?.

Saya hanya ingin meng head line news kan puasa dari kisah yai kenduri dan wirid telo…telo.. yang baru saja hangat dan hadir menyapa kedalam ruang-ruang kosong batin kita. Puasa itu sekolahan. Kurikulumnya dari terbitnya subuh hingga adzan magrip. Salah satu mata pelajarannya: mengekalkan kesadaran untuk benar-benar mengerti keperluan. Dalam bahasa Al – Qur’an: Hubudunnya… .. ..,’

 

Surabaya, 19 Juni 2017

*tulisan ini di olah dari dakwah Ehma Aninun Nadjib dan Kyai Kenduri

 

 

 

Iklan

Ngecuprus?. Boleh. Untuk pempermudah kolom komentar, langsung aja klik logo akun media sosial di pojok kanan bawah, biar gue bisa ngelihat siapa aja yang nyimak notedcupu gue. Semuanya akan gue baca kok, terserah mau komen apa, gak tatakrama bakal gue hapus. Matur Nuhun.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s