Betapa Gentingnya Pasca ‘Kultural Mudik’

#BloggerTanahJawa

notedcupu.com

Dalam adagium masyarakat jawa: tidak perlu menunggu usia senja dan sekarat untuk memilih keabadian rohani. Dan salah satu metode penginsafan adalah memaafkan diri sendiri. Berziarah dengan masa lampau. Lebaran kemarin saya sungguh tidak bisa duduk thengak-thenguk. Saya ider. Mengentuk dari pintu ke pintu ‘angon dosa’ untuk mengaku sebagai hamba yang paling durjana di tengah kerumunan masa. Bersalaman kepada seluruh warga kampung. Betapa nikmatnya mengucap maaf. Bertekuk lutut dihadapan orang tua dan sesepuh kampung yang juga bersedia me-maafkan.

Halal-bi-halal adalah satu dari sekian ‘jalan’ manusia untuk menjauh dari gerbang pintu neraka. Jika pada suatu hari, ada seseorang yang memberi cap haram dan sesat ‘kultural mudik’ ini, maka saya berdiri paling depan. Langsung pasang kuda-kuda dengannya. Boleh kita selesaikan dengan tanding pencak silat. Atau dengan main kungfu. Hehehe..

Lebaran pertama pada siang hari, untung Malaikat Jibril tidak ditugasi oleh Allah untuk meniup, terompet agung sangkakalanya. Andai fantasi itu terjadi, sudah sah. Segenap masyarakat Indonesia bisa masuk syurga  tanpa melalui metode penghisapan. Betapa enaknya hidup dalam wilayah kebudyaan ‘kultural mudik’ tanpa melalui proses timbangan. Hehehee.

Mata saya menyongsong langit hijau. Bermesraan dengan-Nya. ‘Dengan sengaja, Allah memerintah kita menjadi orang desa’. Orang jawa. Allah menyediakan, sekaligus menyiapkan, fasilitas lebaran yang kemudian secara ‘jamaah nasional’ kita pakai untuk pulang kampung.

Selain mudik secara ‘kultural gen’, Allah juga meniupkan kesadaran sangkan paran untuk mengetuk ubun-ubun kita agar menjadi lebih fitrah. Di ndalem kiyai Noto itu saya memperoleh semacam random sampling.  Bahwa  mudik sudah diposisikan sebagai sebuah ‘thoriqot’. Pengembaraan sunyi seorang hamba mencari tuhan di dalam dirinya. Di ruang teras depan yang agak jembar itu, kami membahas kelakar santri mbeling dalam menghadapi ‘zaman edan.’ Mula-mula saya tertawa lepas hingga kemudian. Saya tidak lagi sekedar tertawa, tapi kemudian saya juga tercenung dahsyat.

‘Kang ada cerita lagi, dari teman kita juga,’ katanya,

Saya manthuk… manthuk…

“Mas, sampean opo ndak isin nunut terus nek kene?’ kata sang istri kepada suaminya, di tirukan oleh suara Kiai Noto. Santri abadi yang di takdirkan sebagai tenaga pendidik itu, juga lugas dalam menjawab, ‘Nek ndonyo iki, opo lho dek kabeh seng ora nunut?,’ Sang istri tergeragap. Segera menimpali suaminya dengan pendapat yang sewilayah dengannya. ‘Ohh, iya, juga ya mas,’ Sorot matanya menyapu langit-langit. Kemudian menjawab lagi dengan kesadaran rohaninya, ‘Ya sudah disini saja, mas. Gak usah bikin rumah baru.’

Saya tertawa terguncang-guncang.

Belum reda saya tertawa, ia menyongsong lagi,

‘Anak maiyah kok di lawan,’

Ya allah, ternyata nikmat sekali hidup sebagai orang jawa. Kebudayaan ‘mudik kultural’ apabila kita kembalikan posisinya kepada satuan-satuan tema: ‘teknologi mupus’ atau di kembangkan lagi, kepada tahap, ‘puasa’ yang ada dalam berbagai peristiwa kehidupan. Maka sampean percaya saja sama saya. Di ujung sana akan ada ruang pikiran: ‘tidak ada alasan untuk bersedih, juga tidak ada alasan untuk mengeluh,’ di tengah zaman edan yang saling berdesak-desakan, saling sikut, untuk naik pohon menjarah buahnya.

Harap sampean agak ‘kreatif berfikir’ sedikit. Gusti Allah yang di atas sedang enak-enak leyeh-leyeh setengah nggletak, tiba-tiba mesem-mesem. Melihat suatu titik kecil di bumi yang memancarkan semburat ‘penjara syurga’. Penjara syurga adalah mekanisme hidup duniawi tapi di syurgakan. Lalu di perintahkan-lah Malaikat Jibril, turun dari langit, dan membawa berkarung-karung rizki ke dalam penghuni rumah itu. Apakah ada?. Bisa saja, wong saya ini sedang main-main imajiner kok,  yang lebih afdol diamini saja.

Kebijakan Sopir

Lebaran selesai. Doa-doa di gedorkan ke segenap penjuru langit, ‘ya allah semoga di pertemukan dengan lebaran tahun depan.’ Tema-tema doa sejenis semacam ini meluap.  Orang-orang yang mengaku ‘warga kota’ kembali menyambung nasip. Yang pulang sejenak ke desa kembali ke peraduan ibu kota. Orang-orang desa melambungkan lambaian salam ‘ngati-ngati nek kuto’ dengan senyum tulus kemanusiaannya. Head to head dengan ‘zaman edan’ semakin perkasa saja untuk melucuti komponen kemanusian kita menjadi binatang, kebusukan-kebusukan, atau endelisme?.

Di tengah-tengah kecemasan berkepanjangan, Tuhan mengirimkan bala tentaranya. Di ‘giring’ kemudian di antarkanlah saya untuk masuk kesetiap tikungan zaman. Di antara ratusan, hingga ribuan kendaraan yang memusat di desa, sekarang dan sudah terjadi berdesak-desakan di jalanan menuju pusat-pusat gerak-gerik utamanya di tentukan oleh uang. Satu di antaranya, ada saya dan adek perempuan saya yang sedang mengendarai zaman, atau tercebur di dalamnya?. Kota menjadi sumber kemacetan sesudah beberapa minggu tak berpenghuni seperti kehidupan nyeyet dan pucat.

Apakah kebudayaan ‘kultural mudik’ kita bawa sampai ke kota?. Seberapa jauh, kita memegang tali kebudayaan itu… atau kita manusia ceroboh melepaskannya di tengah jalan?. Kendaaran yang kami tumpangi semua berisi orang desa yang akan mengisi sudut-sudut kota. Tiba pada puluhan kilo meter, terjadilah sebuah gejolak. Tubuh seorang anak muda di samping saya itu, dirasuki oleh ‘udara asing.’ Yang orang modern menyebutnya: masuk angin. Bibirnya nyenyet pucat. Saya menempelkan telapak tangan saya pada keningnya. Nyaris tidak ada indikasi ia mampu di sebut orang sehat.

Kewaspadaan saya terbukti pada suatu realitas,  badannya roboh dan hampir hilang kesadaran. Bapak Sopir lumayan was-was, saya menata irama mental saya agar lebih enak dan tenang.

‘Pak, minta tolong. Sepertinya saya perlu cari obat,’

‘Oh.. enggeh cak.’ Perkatannya sangat mengenakkan,  ‘Aku hapal jalan ini cak, tidak jauh di depan ada toko.’

Tidak sampai beberapa menit, Pak Sopir menginjak rem, ‘Sudah sampai cak. Itu tokonya Bu Chomsatun. Nanti sampean pindah ke belakang saja.’ Pesannya sesudah saya membuka pintu mobil, dan berjalan ke arah toko. Saya manut saja sambil mengganguk-kan kepala. Karena saya tahu maksudnya. Biar yang sedang tak enak badan ini bisa beristirahat dengan total.

Saya kembali dengan sebungkus plastik hitam yang berisi obat-obatan dan sebotol air mineral. Saya buka pintu mobil itu kembali, kemudian obat itu saya serahkan kepadanya. Sesudah saya membaca doa-doa wirid tertentu, saya meniupkan gelombang udara menyapu telapak tangan saya. Kemudian saya usap-usap kepalanya dengan hangat. ‘Waras…, waras.., waras..,’ gumam saya dalam hati. Kemudian saya pindah ke kursi belakang.

Karena tempat duduk itu penuh, sekelompok ibu-ibu itu menyambut saya, satu di antaranya menyapa, ‘Mas, ibu di tengah saja, ya. Sampean kelihatannya ngantuk, sudah tidur saja. Nanti ibu yang ngurusin,’ Ya Allah, betapa hangat sekali hati di dalam dada saya. Komponen—komponen kebudayaan desa yang ‘grapyak’ belum lenyap dari wajah-wajah lelahnya setelah ‘mudik’. Saya tergeragap, kepala saya agak saya tunduk-kan sebagai lambang kesoponan. ‘Mpun… mpun… mboten usah, bu. Ibu saja yang istirahat.’ Kemudian mobil itu melaju mengantarkan kami semua ke peradaban baru perkotaan.

Pasca Kultural Mudik

Sesampainya di kota, saya masih klayapan halal-bi-halal dari pintu ke pintu.  Ada seorang teman dengan sengaja iseng-iseng bertanya, “Lho cak, setiap hirupan nafas di kota itu, apa sampean gak merasakan defisit kadar spritualitas dan kosmologis?’ ini sepertinya mengejek saya? Apa mengejek anda-anda semua? Atau mengejek pemerintah?. Ini bukan pertanyaan main-main. Ujian untuk benar-benar lulus menjadi manusia: tulus, lugu, bersahaja, lebih berat dan akbar ketika berada di ibu kota. Lebih-lebih ketika berada di wilayah pemerintah. Tidak mengaku yang paling dosa kepada masyarakat, justru mengadakan open house.

Saya jawab pertanyaan seorang teman saya itu, yang ternyata santri sepuh di majelis asuhan kyai mbeling. “Lho, kang. Pertanyaan sampean itu lebih pas, untuk saiapa?. Siapa yang sering melakukan kebusukan-kebusukan, tipu daya, yang tidak ada di ada-adakan. Dan jenis-jenis penghiatan kepada masyarakat dan kebudayannya. Tidak minta maaf ke masyarakat, tapi justru mengundang masyarakat datang ke istana. Itu istana milik siapa?’ Ingin saya jundu mahkluk kemalasan-kebodohan kepala tuan-tuan, tapi gara-gara Tuhan memerintahkan saya menjadi orang desa, orang jawa. Saya menjadi tidak tega.

Surabaya, 21 Juli 2017

B. S. Tororaharjo

*Naskah ini di susun dari khasanah pemikiran Kyai Emha Ainun Nadjib dan kyai Kenduri

 

Iklan

Monggo pinarak?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s