Kyai Gatilut Nladung Wartawan

#BloggerTanahJawa

notedcupu.com

Pada hari libur pendek di sebuah desa Darmogandul diadakan kerja bakti. Warga dusun Darmogandul dari anak-anak, remaja, bapak-bapak sampai mbah-mbah turun serta membersihkan area perkampungan itu. Di desa itu, dihuni bermacam-macam latar belakang pekerjaan:  dari seorang lurah, guru, wartawan, pedagang. Namun yang paling banyak adalah seorang petani ‘kontrak’ penggarap sawah. Jam delapan dimulai, disepakati area kerja bakti membersihan kalenan, dan rumput liar di seberang jalan masjid Al-Asmaradhana kampung. Semua hadir pada pagi yang sejuk itu.

Ada yang membawa pacul. Ada yang membawa cikrak. Anak-anak kebagian membawa sapu kerek. Semua kompak. Tanpa adanya komando cas cis cus. Setiap warga kampung Darmogandul, sudah pangerti dan pangerten apa yang seharusnya di candak. Kok ya kebetulan sekali, Kyai Religius pagi itu paculnya bekerja maculi rumput sembukan yang ada di bawah jendela masjid sisi sebelah kanan. Sudah sebulan lebih wilayah tempat kerja yai reli itu, tidak terjamah oleh tangan-tangan ringan warga kampung. Satu jam sudah lewat. Keringat mengucur dari dahi yai Religius dibarengi datangnya segeran es degan yang dibawa oleh seorang kisanak.

        ‘Monggo, es-snya, yai?’ kata pembawa es itu, menyodorkan.

‘Oh, iyaa, Kisanak. Matur nuwun, nak.’ Jawabnya, kemudian langsung di sepurut.  Habis seketika.

Baru layeh-leyeh sebentar, terdengar suara kencang sekali dari dalam masjid. Ada seorang yang memakai kopyah. Bawah memakai sarung lurek-lurek, lalu mengambl posisi wirid. Kemudian terdengarlah firman allah itu… lha illa haillahlah… beberapa kali. Karena kesal mengenai dua bab: skala waktu dan momentumnya. Yai religius kemudian kehabisan cadangan bunyu-bunyi merdu kalimat toyyibah. Karena yai relgius melihat seorang itu adalah tetangganya yang ia arep-arep dari pagi, maka datangnya pancaran hidayah itu untuk tetangganya.

‘Pancen asuuuu iki. Dobol!’ teriaknya lalu membanting paculnya hingga dorannya patah. Kemudian ia duduk kembali thengak-thenguk.

Warga kampung darmogandul, semua tertawa terheran-heran,

Kyai Religus bertablig, ‘Hayo sopo seng ngomong dobol elek?’

Seorang kisanak, tiba-tiba ikut menanggapi, ‘Dobol gonee kentut, ya, kyai?’ jawabnya dengan wajah bersahabat.

‘Dobol kui apik opo elek?’ katanya, justru balik bertanya kepada seluruh warga kampung yang melihatnya. Sambil mengacung-ngacungkan jari telunjuk-nya ia meligitimasi argumennya. ‘Yow apik. Ora ono dobol iso sampean ngentut?. Iso sampean ngising?. Ngising kuwi seng gawe gusti Allah. Cobo sopo seng nek kene, iso ngatur jadwal ngisingmu dewe. Lak ra isooo toh?’

Tidak ada yang bisa menjawab. Wajah-wajah lugu dan polos penduduk kampung terperangah oleh jawaban itu. Lalu seorang anak usia remaja, yang kebetulan mengikuti majelisan ‘sinau bareng’ dengannya berkomentar.

‘Oh…, pancen kyai gatilut.’

Syahdan. ketegangan mereda. Semua tertawa gembira.

Seorang wartawan penghuni dusun itu, mengendus kejadian ‘jancuk dobol’ yang menggemparkan itu. Penanya membidik kejadian itu dengan ‘akurasi versinya’ bahwa: Seorang Kyai Mendamprat Orang Yang Sedang Beribadah. Sampai cerita ini saya susun, anda dan sampean-sampean semua sudah mengerti persis: bahwa kerja-kerja seorang wartawan itu tidak rangkap dalam menulis. Ia hanya menulis penggalan-penggalan. Ia hanya ‘menulis kulit’, tidak menulis sampai menembus ‘kesadaran pelok’. Kesadaran poin utama. Dimana hidangan fakta-inti-sejarah cerita itu sejatinya tidak tersampaikan kepada telinga masyarakat luas Darmogadul.

****

Pers zaman sekarang seperti penyair di zaman jahiliyah, pilar utama pembentuk opini masyarakat luas. Dulu ada seorang kyai sepuh allahyarham – Ahmad Siddiq Rais Am pengurus Besar NU tahun 84-91 – menyatakan setiap kerja-kerja wartawan adalah termasuk golongan Zuama. Pemimpin. Karena mereka termasuk pembangun opini. Pikiran dan watak masyarakat bersumber dari hidangan kerja mereka. Di desa-desa kerja kewartawanan lazim di sebut getok-tular. Dan saya besar dan hidup dari iklim semacam itu ketika desa Panggul pernah ‘ngungsi bendol kecamatan’ sesudah dihembus isu datangnya bencana tsunami pada periode tahun 1999 dan 2001.

Makhluk misterius sumber getok tular itu tidak ada yang tahu. Dan sungguh tidak ada yang bertanggung jawab dari pihak mana pun. Yang formal mau pun non fomal atas kejadian ketika tetangga-tetangga saya lari tunggang-langgang naik ke gunung-gunung membawa berkarung-karung pakaian. Di depan halaman rumah bapak, dan berjalan sepuluh meter ke gang depan, jalan besar beraspal penghubung antar desa itu memadat oleh kendaran bak truk berisi pengungsi dari seluruh warga kecamatan. Ketika suatu keadaan masyarkat terjerembap oleh budaya ketakutan masal, kecenderungan satu-satunya yang dilakukan adalah melakukan kekonyolan.

Produk-produk teknologi: media pers, televisi, internet, mengepung desa dari berbagai penjuru. Tanpa perhitungan yang rangkap, dan jeli terhadap muatan-muatanya nillainya, susunan pola bahasa komunikasinya, siapa saja bisa kenter. Seperti apa yang sudah terjadi pada rondom sampling kyai religus, siapa saja, secara kolektif bisa terpeleset oleh pikiran-pikiran dangkal kebudayaan. Produk ‘teknologi rintisan papan atas itu’ itu adalah sekolahan dan etalase utama bagi masyarakat dalam menimba berbagai jenis asupan kebutuhan lingkar pengetahuannya.

Masing-masing area wilayahnya menawarkan, menyalurkan, kemudian menyuguhkan berbagai jenis serbuk beracun. Koran adalah kedangkalan kebudayaan papan atas. Program tv adalah fanatisme sempit di ruang-ruang rumah keluarga. Internet adalah pusat badai zaman fitnah. Sekaligus mesin penggadu domba. Jalur distrubusi itu amat rapi dan tersusun melalui prime-time. Sesudah magrip hingga ba’da isyak itulah, jam-jam rawan harusnya kentongan kita bunyikan untuk diri sendiri, dan keluarga. Headline news dan beranda-beranda timline mengepung  anda-anda semua. Saban hari.

Lalu-lintas masyarakat nasional bergerak di tiga wilayah itu. Baru saja hangat beredar rekaman ceramah ‘ustatdz muda’ ‘imbalan sex penduduk syurga’ yang muncul rame di tv nasional sesudah subuh kemarin. Adalah desain yang di lakuan bertahun-tahun, kyai bikinan, ustatd bikinan, dan ulama bikinan. Kasih ‘kostum’ berupa peci dan baju koko beres. Lalu Lempar ke pasar. Sesudahnya tidak ada yang demo besar-besaran mengenai sebab dari sebuah akibat. Kasus itu redup kemudian hilang. Lalu muncul kembali jenis peristiwa-peristiwa yang tejadi di wilayah dan tempat sama.

Di koran-koran memberitakan korupsi menitik-beratkan pada jumlah angka-angka statistik. Media juga ‘sekolahan’. Manusia indonesia hanya di didik untuk sebatas sampai, mendengar bunyi tembakan pistol oleh sebuah institusi. Tanpa pernah melacak sejarah, siapa pemilik pistol itu? Siapa yang berperan menarik pelatuknya?. Lingkar pemberitaan nasional hanyalah peta sempit daya jelajah moral sejarah bangsa. Jauh dari kebudayaan martabat untuk saling mengamankan harga diri satu sama lain. Dan jauh dari perambahan pembahasan bangsa apa, memimpin siapa di Indonesia. Aku duduk di tikungan zaman. Hari ke hari semakin banyak menemukan pemimpin yang kenyang perutnya sesudah membuang baju kehormatan martabatnya.

Sop buntut, kostum-kostum, bedak-bedak adalah tipuan abad modern. Ini adalah zaman talbis. Teruskan saja, kami di takdirkan sebagai orang jawa, di jajah dan di miskinkan sekejam apa pun, kami tidak pernah menderita dan justru malah balik bertanya: ‘Lhoo, empun, tho?’ ayo nambah lagi?’ Saya sudah beberapa tahun puasa dan sungguh menjauh dari proram-progam siaran televisi. Tuhan sepertinya mengajak ikut berdialog. Niatan saya puasa di dukung oleh rusaknya tv yang ada di kamar. Karena ketika terjadi penjarahan, martabat dan uang masyarakat, ada sebuah utusan yang memberi kabar siapa pemilik pistol itu.

Jangan di kira kami hidup sendirian di alam semesta ini. Ada makhluk- makhluk Allah yang ikut menjaga Indonesia yang sungguh tidak terlihat oleh pandangan manusia. Kami semua mempercayainya, tapi mereka tidak. Ceritanya kami menggelandang dari mejelis ke majelis. Di setiap tempat dan waktu ketika ayat-ayat Allah hendak di dengarkan, semua Malaikat datang dan ikut mendengarkan dengan khusuk. Sebab, mereka wujud tanpa ikatan volume ruang dan rentang  waktu. Di mejelis yang sangat tua usianya ini, kami semua menemukan kunci-kunci dari setiap tikungan zaman.

Kami semua sedari kecil di didik oleh ‘sekolahan-sekolahan’ media, televisi – dan pagar regulasi yang tidak jelas — yang tidak mempromosikan ekosistem yang subur kepada generasi hari depan. Kami semua keluar dari wilayah ekosistem yang kebanyakan manusia hidup di dalam sana. Maiyah adalah membuat eksositem baru. Membentuk Lingkaran kecil — lingkaran kecil, tapi benar-benar punya nilai yang di pegang. Karena jangan berharap pohon nangka bisa berbuah tumbuh begitu saja, karena maiyah adalah menjadi biji dari pohon yang besar.

Kyai Gatilut dan sampean semua pasti akan berjumpa dengan pengalaman-pengalaman yang sama. ‘Santri-santri’ maiyah di manapun tempatnya menjadi sumber cahaya kelembutan islam, membuka ‘jalan keluar’  dari setiap permasalahan zaman. Karena kami semua dekat dengan Allah… ‘In lam takun ‘alayya ghodhobun fala ubali…  asal Tuhan tidak marah, aku tidak peduli apa yang terjadi kepadaku.’

*Naskah ini di susun dari Majelis Masyarakat Maiyah

Surabaya, 07 Agustus 2017

B. S. Totoraharjo

 

 

Iklan

One thought on “Kyai Gatilut Nladung Wartawan

Ngecuprus?. Boleh. Untuk pempermudah kolom komentar, langsung aja klik logo akun media sosial di pojok kanan bawah, biar gue bisa ngelihat siapa aja yang nyimak notedcupu gue. Semuanya akan gue baca kok, terserah mau komen apa, gak tatakrama bakal gue hapus. Matur Nuhun.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s