Kisah Kebudayaan Alhamdulillah Mementung Si Hanya

#BloggerTanahJawa

notedcupu.com

Saya sedang enak-enaknya menyantap kudapan di lantai teratas sebuah institusi. Si tamu yang datang itu bebarengan dengan sebutir nasi terakhir yang baru saja lenyap saya bersihkan. Bayangkan, andai saja ia datang di awal-awal sebelum saya makan siang, kisahnya bisa senasip dengan lalapan godong kates putrowali yang amat, maaf — pait nyetak. Toh, meskipun rasanya pahit tetap saja dibutuhkan karena hidup berada di dua wilayah itu. Enak dan tidak enak.

Kali ini saya harus terus terang saja. Tidak semua hal dan realitas yang saya jumpai bisa saya kisahkan lewat tulisan. Mungkin hanya seperempat bagian yang mampu saya ungkapkan. Di depan ada rambu nilai yang tidak mungkin saya terbobos. Di tingkat primer ada etika sosial khas budaya jawa yang wajib kita jaga. Di deretan yang paling belakang dan nyempil, ada unsur ‘inferioritas budaya penguasa.’ Dan sungguh, jika itu saya ungkapkan, saya telanjangi dengan tulisan, saya bisa di pasalkan pencemaran-nama-baik.

Kita sungguh belum lulus dalam menentukan startegi  aplikasi dari filosofi demokrasi. Atau yang dalam agama di sebut: …Qulil haqqa walau kana nurran. Katakan yang benar meski pun itu pahit. Hal semacam itu membuat kita sering terpaksa diam-diam menyembunyikan kejahatan. Melindungi kebusukan, atau malah tindakan konyol menutup-nutupi kekejaman tangan-tangan dingin penguasa. Terkait yang prinsipil saja.. undzur maa qala wala tabdzur man qala.. kita tertinggal jauh tidak mempelajarinya.

Tapi tolonglah jangan malas, kemudian hayati kedalaman kandungan nilainya.  Apa yang saya ungkapkan ini, jangan di anggap kerja-kerja bau kentut. Atau kerja-kerja bunyi letupan senjata api seperti yang anda saksikan dan dengar lewat bau hangat kertas koran di pagi hari. He-he-he. Boleh saja langsung dilek tanpa harus di kunyah. Di untal langsung pun juga boleh. Asal tulisan ini memenuhi syarat penyajian: padat, ringkas, dan berisi muatan-muatan nilai dalam menentukan strategi taktis menghadapi hidup. Itu sah baru di sebut ‘saripati’ nilai.

Mengenai Si tamu yang datang kepada saya itu, adalah kepala rumah tangga yang di dera problem penindasan dan tekanan batin yang membuat wajahnya pucat. Tapi saya tulis cukup intinya saja. Anggap saja dari kisah ini kita sedang ‘sinau bareng’ bertukar pengalaman hidup. Toh semua manusia hidup punya problem masing-masing. Dan siapa tahu juga, ada yang mengalami problem yang sama. Tetapi bingung mau di sambatkan kemana? Kepada siapa? Oleh sebab itu posisi tulisan ini sebagai sikap ngancani.

To the point saja. Si tamu itu di timpa ‘gluduk’ besar rasionalisasi industri di kantor tempatnya bekerja. Beliau itu seorang kepala rumah tangga yang baru saja mengajukan progam pensiun dini karena menolak di mutasi keluar wilayah jawa. Ia datang dari kepala sebuah departemen khusus yang menangani ribuan orang-orang bermasalah terkait gagal bayar akibat sebuah arus dahsyat pola ‘gaya hidup mapan’. Orang dusun menyebutnya: ora gelem bayar utang.

Kisahnya singkatnya, beliau mengapdi selama dua pulu tahun. Sesudah mengajukan surat cinta pengunduran diri, yang garis besar isi suratnya adalah meminta hitung-hitungan dana pensiun. Sebulan kemudian surat balasan pihak manajemen yang berada di kantor pusat merespon. Hitung-hitungan terkait angka-angka dana pensiun tentang seberapa besar yang di terima membuat hatinya terguncang. Nilai rupiah yang keluar jauh dari perkiraan, harapan, bahkan cita-cita kebudayaan alam pikirannya. Sehingga, uang yang masih belum di cairkan itu, ia  terima dengan wajah yang sungguh nyenyet bagai manusia yang mati suri.

Masalah lain lagi muncul tak kalah deras menyiksa batinnya. Hal itu bagai banjir bah derita yang menyeretnya masuk ke dalam kubangan penderitaan. Sesudah kehilangan sumber mata pencaharian utamanya, seorang istri satu-satunya yang ia cintai dengan keras menolak uang dana penisiun yang di anggapnya sangat sedikit itu. ‘Sama istri saya, uang ini di suruh mengembalikan kang, 20 juta terlalu kecil,’ katanya, tanpa tenaga di depan saya. Di umur yang sekitar 40 tahun itu, dalam sambatnya, ia takut akan di ceraikan oleh istrinya jika sudah tidak bekerja lagi. Lalu ia memutuskan ‘rezeki dadakan’ itu untuk sementara waktu ia simpan.

Utuk pengalaman hidup dalam tema membina rumah tangga, tentu saya tidak ada apa-apanya dibanding sejarah eksistensi beliau, jelas saya memilih diam. Saya tidak berani memasuki wilayah yang bukan bidang saya. Toh saya juga belum menikah. Jadi tidak ada pengalaman empiris untuk berkomentar mengenai jenis pilihan sikap istrinya itu. He-he-he… Lagi pula saya tidak berani menasehati beliau. Semua manusia Indonesia tahu, dari yang muda sampai yang tua, mengambil mana yang baik, meninggalkan mana yang buruk.

Mungkin inilah sebab kenapa, Qais Bin Hazim pernah melihat Abu Bakar menarik lidahnya sendiri dan berkata penuh muhasabah kepada dirinya sendiri: ‘Daging inilah yang menyebabkan banyak masalah.’ Sebuah pesan budaya keluhuran agar kita semua lebih behati-hati dan waspada kepada setiap satu huruf yang keluar dari mulut kita, apakah mengandung laba perbaikan demi perbaikaan atau kerugian?.

Tapi kalau ada pertandingan untuk setia kepada nilai, setia kepada prinsip kehidupan yang lebih gairah, dengan parameter yang jelas: hidup itu mbok ya jangan krasan berpikiran sempit. Kalau sedih serendah-rendahnya sikap ya jangan susah. Paling tinggi menyikapinya dengan rasa syukur. Itu namanya kerja-kerja islam di alam semesta. Alatnya amin. Pelakunya mukmin. Doanya allhamdulillah. Untuk lipatan-lipatan rumus yang semacam itu dalam menjalani, saya terus berjuang untuk tidak kalah dengan yang tua-tua.

Langsung saja saya memperagakan adegan beberapa tahun yang lalu. Di depan beliau saya langsung membanting dompet warna hitam tua itu ke lantai. Beliau langsung kaget setengah njumbul, hingga kursi duduknya kemudian mundur satu langkah. Dengan wajah yang bertanya-tanya itu kemudian saya mencuri pusat perhatiannya. Di kepala yang kosong itulah, saya ajak beliau untuk kembali menemukan keberada’annya sebagai manusia ‘sekolah’. Berjalan, bergerak, bekerja, berdoa, mencari, dan mencoba menemukan.

Karena timeing-nya sudah pas, kemudian saya bertablig amat keras: ‘Kowe kui kertas, benda mati, dapuranmu kuwi sopo? ora sah jajah aku kowe ki. Aku seng kuasa nek donyo iki. Udu kowe iki. Paham?. Okeh, sitik, ndak masalah, dudu ukuran kebahagian dan ketentraman. Ora iso dapuranmu njajah aku. Aku ciptaane Gusti Pangeran, dapuranmu ciptaane menungso. ’ teriak saya, memaki-maki dompet yang hampir saja saya injak-injak itu.

Spontan beliau tertawa lepas, ‘Ha.. ha.. ha. Wes-wes… stop kang yi, stop. Maksudnya sampean langsung allhamdulillah. ‘Udu lha kok sakmene?’

Sungguh, spontan juga saya menjawab dengan senyum tulus kemanusiaan, ‘Yai ndiyasssmu.’

‘Pancen cah mbeling…’ sautnya lagi tanpa senyum pura-pura.

‘Pak, Laak yo dari dulu, wong Gusti Pengeran itu, suka memberi jaminan, kok,’ jawab saya, kemudian sesudah pikiran yang agak loading itu saya meneruskan, ‘Inna Ma’al ‘Usri Yusro…. sesungguhnya, sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Gitu toh, maksudnya Allah itu?” beliau kemudian geleng-geleng kepala. Senyumnya mulai luwes. Guratan wajahnya mulai enak di lihat. Kedua tangan saya di jabat sungguh amat erat. Untung saja, beliau tidak menodong saya, ‘Mas, saya pasrahkan anak putri saya, ke sampean, ya?’ he-he-he.

Surabaya, 20 Agustus 2017

B. S. Totoraharjo

 

 

 

 

Iklan

8 thoughts on “Kisah Kebudayaan Alhamdulillah Mementung Si Hanya

  1. jejakandi berkata:

    Hahahaha yai ndiasmuuuuu!

    Godong kates itu enak, Pak! Apalagi kalau ada sambel bumbu kelapanya. Kalau di tempatku, kates dinamai dengan ‘gandul’ entah karena gondal-gandul atau gimana.

    Hemmmm. Kadang menulis memang harus langsung mengena pada intinya, Pak. Apalagi di zaman yang serba cepat ini. Zaman ketika orang membaca hanya sepintas lalu, ‘screening’ saja. Kadang aku sering kepikiran, jika bisa menyampaikan sesuatu dengan hanya 5 kalimat saja, mengapa harus 1000 kata? Agar tulisan terlihat lebih berkualitas? Ah entahlah! Hidup kok terlalu banyak entah begini ya? Heran!

Monggo pinarak?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s