Riba-riba Dengkolmu Ambrol!

#BloggerTanahJawa

notedcupu.com

Baru saja saya hendak ngaso untuk merebahkan punggung di atas karpet mushola. Ujug-ujug seorang pegawai kantor sebelah yang nyambi membuka warung makan pecel kaki lima mengajak saya rembukan. Maksud ‘kaki lima’ disini bukan sejenis ‘warung cabutan’ korban sebuah budaya fedoalisme institusi seragam hijau. Melainkan warung resmi dengan izin memadai. Warungnya itu di jaga oleh istrinya. Buka sesudah ba’da asyar.

Dengan dua sumber pendapatan yang ia terima, kemapanan ekonomi keluarganya kini mampu menjamin berbagai kebutuhan. Artinya kehidupannya berjalan tenang-tenang saja. Karena pekerjaan formalnya adalah kepanjangan tangan perusahaan, maka arus rutinitas memaksanya untuk terus bergerak. Ider.. dari delaer ke dealer. Showroom ke shworoom. Bertatap muka dengan orang-orang baru. Dari kehidupan yang baik-baik saja, ada satu orang yang mebuatnya susah sore itu. Wajahnya menyeburatkan sesuatu yang tajam.

‘Kang, aku tadi ketemu orang di deaeler, ngakunya kerjanya sih dosen, terus dianya ngomong gini: ‘katanya kerjaanku tergolong riba!’

Aku yang sore itu enak-enak-santai-santai-kipas-kipas dengan peci. Terpaksa mak-tratap mengabil posisi duduk. Sesudah aku slonjoran, aku mulai merespon tahap demi tahap. ‘Terus piye, sampean diem wae cak?’ Dia mengakui dengan anggukan kepala, ‘Lha dari pada tak jawab, terus bantah-bantahan, lakyo garai ribut kang?’ ya toh?’ sebuah jawaban berwibawa, padat, sekaligus untuk menghindari bentrokan debat kusir. Debat yang hanya menyisakan ruang kalah dan menang.

‘Kalo kerjaanku di katakan riba. Sampean juga termasuk lo kang!’ dia ketawa, kemudian membanting pecinya, ‘Dadi awake dewe ki ncen senasip”

‘Ohh,, ndyasmu cak. riba-riba dengkolmu ambrol kui cuk,’ kemudian ia tertawa terjungkal-jungkal.

Sebagai informasi awal, saya dan ia bekerja pada jenis usaha yang sama: perusahaan keuangan non perbank-kan. Dimana salah satu kekuatan utama bisnis jualannya adalah membantu memberikan kredit mobil kepada calon konsumen. Maupun, memberikan kredit kapal dan alat-alat berat kepada perusahaan yang hendak melakukan kontrak pembelian. Lalu seorang dosen itu mempermasalahkan pengajuan kredit mobil dan bunganya.

Di zaman yang semakin peteng dedet ini, jika kerangka kata bunga itu di pakai: maka segenggam uang  yang kita terima realitasnya adalah tidak sah untuk dimakan?. Kita memang tidak pernah bisa lari untuk sembuyi. Dari desa ke kota, manusia di abad modern di kepung oleh sebuah mekanisme keluar-masuk uang dari bank. Dan sumber utama pendapat usahanya adalah mengembalikan uang yang di pinjam dengan jumlah terentu.

Apakah ada lembaga swadaya masyarakat, perusahaan, atau semacamnya, yang sanggup? Meskipun sanggup, apakah mampu bertahan dalam rentang waktu sekian lama?.  Apa ada yang mau? Jika kita hendak meminjam uang, lalu kita kembalikan dengan uang yang kita pinjam tanpa melebihkan jumlahnya. ‘Ya sudah seorang dosen tadi itu, suruh mendirikan perusahaan yang sama, saya pinjam lima puluh juta buat beli sawah. Lalu saya kembalikan lagi lima puluh juta.’

‘Ya mana ada yang mau kalau begitu, kang!’ jawab teman akrab saya itu.

“kalau ndak gelem berarti kor golek menange dewe,’

‘Golek urepmu dewe…!’

Atau jangan-jangan sikap-sikap semacam itu adalah bentuk kepelitan yang tersembunyi?. Kemudian saya simulasikan dengan bentuk tema yang lain lagi. ‘Kemarin saya pinja motormu buat beli makan siang, cak, di warung Mak Tukiyem,’ kata ku memberi contoh, ‘Aku kembalikan lagi motormu dalam keadaan bersih. Sudah saya cucikan. Bensin-nya sudah saya penuhi. Kalau saya seperti itu, itu namanya rasa matur nuwunku nang sampean cak. Ngono kui kudu. Wajib. Roso syukur kui wajib. Udu sodakoh kui kang. Ra sah podo mbagusi?lakyo ngono to mikire?

‘Koncoan karo sampean.. suwi-suwi aku tambah gendeng kang,’

‘Ha-ha-haa..’ aku tertawa, kemudian menyongsong, ‘Tapi meskipun edan… sampean lakyo asyik menikmati?’

‘Josslah…! Besok tak bungkusne pecel, ya. Terus waktu zaman sejarah Kanjeng Nabi… yang tema riba bagaimana kang?’

‘Sayyidina Umar Bin Khatab…. sebenarnya punya keinginan dahsyat bertanya tentang riba-riba ke Kanjeng Nabi… karena ini gak jelas.’ Jawab saya, yang terus menyesuaikan semangat antusiasmenya, ‘Ndilalah, belum sempat di tanyakan, kanjeng Nabi sudah pergi dulu menghadap Allah.., cak,’’

Ia geleng-geleng kepala, ‘Seneng aku. Seneng. Kayak begini ini enaknya ngobrol sama sampean kang,’

Yaa allah, aku memejamkan mata sebentar. Sungguh nikmat sekali berjumpa dengan orang-orang seperti ini.  Laulaka laulakha ya Muhammad.., jika bukan karen Engkau ya Muhammad, aku tidak akan mampu merasakan, menghayati, dan jatuh terjerembab oleh makna hidup.

Kyai leles,

Surabaya, 02 Oktober 2017

Iklan

2 thoughts on “Riba-riba Dengkolmu Ambrol!

Monggo pinarak?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s