Mengetuk Pintu Langit


#BloggerTanahJawa

notedcupu.com

Pada hari libur sabtu dan minggu yang lalu, allhamdulillah, aktivitas bangun pagiku di penuhi oleh kemerdekaan hidup. Sesudah membersihkan badan, pagi itu, aku asyik mengurung diri di dalam rumah. Aku larut dalam kenikmatan, memanjakan diri dengan membaca buku dan di temani secangkir kopi. Sinambi leyeh-leyeh, aku terus membolak-balikan halaman buku terbarunya mbah kakung sujiwo tedjo, ‘Tuhan Maha Asyik’. Jika di rasa-rasa, bacaan ku melelahkan dan agak berat. Aku pun menggantinya dengan menyimak novel karangan Mas Phutut terbaru, ‘Para Bajingan Yang menyenangkan’. Baca lebih lanjut

Berkawan Tanpa Kepentingan


#BloggerTanahJawa

notedcupu.com

Kadang kala, semakin lama kita tidak bertemu, tak saling tanya kabar satu sama lain, semakin kita ngempet rindu. Masalahnya kawan kita itu, dengan mendadak memberi undangan mantenan. Undangannya bukan lewat telfon, juga bukan lewat ulem-ulem seperti di desa-desa. Namun lewat pesan wasap. Dan tanpa geden-geden seperti ritus mantenan kebanyakan. Aku pun terpana juga, ketika di ujung kalimat pesannya ada sebuah pesan: “Kang, di rumah sudah di siapkan makanan enak. Ada bakso, dan kue-kue. Tapi… tolong lo kang, tolong. Aku ndak menerima buwuhan.’ Pesan itu, ialah laksana badik yang menikam kewajaran. Baca lebih lanjut

Dadi Wong Apik Opo Dadi Wong Lanang?


#BloggerTanahJawa

notedcupu.com

Siapa yang tidak khetar-khetir. Seorang teman yang di tindih geluduk besar ‘persoalan’ doa restu oleh calon mertuanya tak kunjung menemui kepastian. Di antara siang dan malam, hati kami di sekap oleh rasa was-was. Teman teman kita di desa, hampir setiap hari menanyakan kabarnya kepadaku. Aku pun merasa kebingungan juga. Dan hanya bisa memberi jawaban yang itu-itu saja setiap hari: ‘masih susah di kontak kang, pesan dan tefonku belum juga ada jawaban.’ Orang tua, orang tua angkat ini, kekhawatirannya nyaris mendekati kecurigaan besar. Baca lebih lanjut

Yang Terhormat Utusan Rindu


#BloggerTanahJawa

notedcupu.com

Sudah lama kita tidak duduk bersama. Di antara gerbong kereta api malam yang lewat itu, sudah tak ada dua insan yang saling curi pandang. Mereka belum binasa. Tapi rindu itu membawa utusan untuk tetap hidup di masa yang lain. Kangen rasanya. Rindu itu mahkluk Allah yang tergolong paling romantis. Ia adalah mutiara jiwa, atau api yang bisa menghidupkan batin. Baca lebih lanjut