Cinta Kesandung Gunung


#CintaKesandungGunung

#CintaKesandungGunung

SINOPSIS

Panggilan untuk calon penumpang Kereta Api Penataran Express pun tiba. Dari tempat duduk, ruang tunggu kursi penumpang, gue ajakin dia ngantri utuk proses chek-in yang terakhir kalinya. Setelah tiket gue mendapat ketokan stempel. Pegangan tangannya gue lepas. Lalu gue bilang dengan meletakan telunjuk tangan kanan gue persis di depan bibirnya.

“Ssssssst.…, Hunyi, nggak boleh nangis,” gue berbisik pelan di depannya, “Aku balik ke Surabaya dulu, ya?” lalu gue mengusap-ngusap poni rambutnya.

Kepalanya mengangguk pelan.

Gue kemudian memegang pundaknya, lalu memberi sebuah kepastian. “Hunyi aku janji, dua minggu lagi aku bakal balik ke sini lagi.” kata gue, dalem.

Dia tersenyum, lalu ke dua pipi yang cubi mengembang. Semburat kesedihan dari raut wajahnya pun, seperti tersapu oleh senyum dinginnya. “Huni, sudah sana berangkat,” katanya kalem, sambil melepaskan tangan gue dari pundaknya, lalu menciumnya.

“Hati-hati ya, Huni, awas jangan mabok loh. Kita telfonan kalo Huni sudah di dalam kereta?.”

Gue pun langsung membalasnya, “Siap…., bos kecil.” kata gue, sambil mengacungkan jempol. Lalu melewati pintu pemeriksaan tiket. Sebelum memasuki lorong bawah tanah menuju jalur satu, gue berhenti sejenak. Berbalik badan. Dia masih berdiri di tempat yang tadi.

Gue melihatnya sebentar, dia melambaikan tangan kanannya. Matanya mengerjap-ngerjap pelan. Lalu sedetik kemudian di susul anggukan kepala.

Mengizinkan gue untuk pergi.