Kiai Kenduri Si Pencuri Kitab Ketentraman


 

#KiaiKenduriSiPencurikitabKetentraman

#KiaiKenduriSiPencuriKitabKetentraman

SINOPSIS

Secangkir kopi  yang tertutup lepek keramik belum terjamah oleh udara. Asapnya masih mengepul bebas. Dan obrolan malam ini membuat mereka betah berlama-lama. Hal-hal semacam ini yang membuat pertemanan mereka melewati segala zaman. Karena apa yang mereka cari kerelaan untuk belajar. Dan kerelaan dekat dengan cinta. Sesungguhnya, mereka berada di jalan tauhid. Dimana titik tujunya adalah agama. Konsepnya, bagi mereka agama adalah jalan sedangkan manusia adalah pejalan.

Harjo membuka obrolan kembali. “Bisa jadi itu Trooo. Dia…, hmmm…, dugaanku lho ya. Cowoknya yang sekarang, bisa kasih apa yang gak bisa kamu kasih. Makanya dia pergi mendadak. Apa lagi, besoknya dia sudah dapet kekasih baru, Tro. Piye..?’

“Wuih, shek.. shek…shek,’ aksen jawanya keluar, ‘Kadang-kadang omonganmu ada pentingnya juga di dengerin, yai!” jawab Putro, cengengesan.

Wajah Harjo melengos memandang jalan raya, dan berkata, “Ho…, ancen, assuuu…., sampean Tro-Tro.’ Lalu aku berkata kembali, ‘Pokoknya aku bukan kiai loh! Kan aku sudah ngumpat. Jadi batal yaaa, gelarnya…!’

Selera humor mereka begitu tinggi. Semua tertawa lepas di antara kopi yang mulai dingin. Mereka paham, bukan letak nada umpatannya yang anarki dan penuh caci maki. Tapi…, ada pada tempat dan waktunya. Bagi orang-orang di desa-desa, umpatan hanya sebagai menyedap rasa agar suasana menjadi hangat dan romantis.

Maka… dalam tradisi masyarakat jawa, dialog percakapan itu disebut ganyeng.

Iklan